"Aku tak peduli dengan kau dan pernikahan ini. " - Luvenia Leonora
"Akan aku lihat sampai mana kamu akan terus menerus menolak pernikahan sialan ini? - Sergio Cullen
- Kenapa aku harus menjadi orang ketiga di dalam rumah tangga orang lain - Joana Larkin
Luvenia Leonora yang memiliki penyakit mematikan sempat memaksa suaminya menikahi adiknya. Namun sang suami menolak dan memastikan semuanya akan baik baik saja.
Tapi satu kejadian besar yang di lakukan Sergio membuat rumah tangganya bersama Venia terguncang. Kehadiran Anna membuat hubungan mereka semakin rumit.
Mampukah Venia bertahan hidup dan menjaga keutuhan rumah tangganya atau menyerah dan memberikan semuanya pada Anna??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu andita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Keinginan Venia
Di Mansion
Si kembar saat ini berada di dalam kamar mereka, tengah mengganti baju. Venia kini berada di ruang tamu menemani suaminya. Sergio saat ini mengobrol dengan sang mommy di telepon. setelah selesai pria itu menyimpan ponselnya ke dalam saku celana.
"Sayang, bagaimana kalau kamu dan anak anak ikut aku bertemu dengan mommy dan daddy? " tanya Sergio dengan lembut pada istrinya.
Venia terdiam. Wanita itu masih mengingat bagaimana mommy mertua merendahkan dirinya dulu. Melihat perubahan ekspresi dari istrinya membuat Sergio merasa bersalah.
"Baiklah aku tak akan memaksa jika kamu belum siap menemui mommy dan daddy. " ujar Sergio mengalah.
"Pergilah ajak anak anak saja tapi jangan biarkan orang tuamu merebut si kembar dari aku. " ujar Venia dengan tegas. Wanita itu lantas bangkit, dia meninggalkan suaminya di ruang tamu.
Venia menaiki tangga dan pergi ke kamar si kembar. Melihat kedatangan sang ibu membuat si kembar berhenti berdebat.
"Sayang, kalian turunlah ke bawah dan ikutlah Daddy. Daddy akan membawa kalian bertemu dengan oma dan opa kalian. " ucap Venia dengan lembut.
"Apa mommy tak ikut? " tanya Finn. Venia menggeleng pelan, si kembar mencium pipi ibunya secara bergantian setelah itu pergi ke luar. Sementara dia memilih kembali ke kamarnya.
Sergio menghela nafas berat, dia merasa kecewa dengan penolakan istrinya. Dia lantas mengajak si kembar ke luar dan masuk ke mobil. Mobil hitam itu pergi meninggalkan kediaman Venia.
Vemia kini berendam dalam jakuzi sambil menyantap buah strawberry. Wanita cantik itu benar benar ingin bersantai tanpa di ganggu siapapun.
"Aku harap mas Gio bisa menjaga si kembar dengan sangat baik. " gumam Venia penuh harap. Wanita itu pun hanya tak ingin teringat masa lalu di mana sikap mertua yang sering membuatnya sakit hati.
Untuk kali ini dia tak akan egois, lagipula dia tak membiarkan siapapun merebut si kembar darinya. Venia memejamkan mata sebentar, tubuhnya terasa rileks saat ini.
Setengah jam berlalu Venia ke luar mengenakan jubah. Dia pun mengambil pakaian santai nya kemudian memakainya. Dering ponselnya menyita perhatian perempuan itu. Venia langsung menyambarnya kemudian duduk di atas sofa.
"Halo Sofia, ada apa? " tanya Venia dengan lembut.
"Acara pembukaan butik akan di adakan besok siang miss, Anda bisa datang 'kan? " tanya Sofia.
"Ya aku pasti datang Sof, kamu pastikan semuanya berjalan dengan lancar. " ucap Venia.
"Oke miss Venia. "
Venia menaruh ponselnya di sebelahnya. Tentu saja dia akan berusaha mewujudkan impiannya yang dia inginkan selama ini. Wanita cantik itu bangkit, mulai menguncir rambutnya. Dia langsung duduk di meja riasnya, mengambil kertas dan pensil.
Dua jam berlalu dia berhasil menggambar desain gaun sederhana namun cukup elegan. Venia tampak puas dengan hasilnya. Dia menaruh hasilnya itu ke dalam laci kemudian bangkit dan ke luar dari kamar.
Duduk santai di ruang tamu sambil memegang sebuah majalah. Venia tampak serius membuka lembar demi lembar majalah yang dia pegang. Dia tentu saja terkejut melihat kabar mengenai Winna sekarang.
"Jadi model. " gumam Venia dengan senyuman miringnya.
"Sepertinya aku perlu memberi sedikit pelajaran untuk Winna. " ucap Venia sambil tersenyum penuh makna. Dia kembali membuka majalahnya lagi.
Di Kediaman Cullen
Mommy tampak berbicara dengan putranya. Wanita paruh baya itu ingin bertemu dengan Venia. Sergio menghela nafas panjang, dia tahu jika sang mommy telah berubah saat ini.
"Mommy ingin sekali bertemu dengan istrimu, Gio. " ungkap Mommy dengan tatapan sendu nya.
"Maaf mom, Venia sendiri belum siap bertemu dengan mommy dan
daddy. " sahut Sergio dengan santai.
"Baiklah kami pamit pulang dulu mommy. " pamit Sergio.
"Kalian tak menginap di sini saja nak, mom dan dad masih merindukan si kembar. " bujuk mommy Amira penuh harap.
Sergio menggeleng, dia menjelaskan jika dirinya telah berjanji pada Venia. pria itu lantas bangkit, memanggil si kembar lalu mengajaknya pulang.
Tuan Daffa menatap sendu kepergian anak dan kedua cucu kembarnya itu. Pria paruh baya itu bangkit dan bergabung bersama istrinya di ruang tamu. Nyonya Amira mengusap lengan suaminya, paham akan apa yang di rasakan sang suami saat ini.
"Bersyukurlah Dad, setidaknya kita masih bisa bertemu Felix dan Finn. " ucap mommy Amira sambil tersenyum
"Iya mom, Venia begitu hebat membesarkan si kembar hingga keduanya menjadi anak yang cerdas dan pintar. "seru Tuan Daffa.
Sementara Sergio dan si kembar telah sampai di mansion Venia. Mereka bertiga turun dari mobil dan segera masuk ke dalam. Felix dan Finn berlari menghampiri sang mommy. Keduanya menjelaskan pembicaraannya dengan oma dan opa nya pada sang mommy.
"Kalian suka di rumah opa dan
oma? " tanya Venia pada kedua putranya itu.
"Suka mom, opa dan oma begitu sayang pada aku. " ungkap Felix dengan nada serius. Venia bernafas lega mendengar pernyataan putranya. Wanita cantik itu mengusap kepala kedua putranya secara bergantian.
"Ayo Felix, kita ke kamar. " ajak Finn pada saudara kembarnya. Felix menggerutu kesal menuruti keinginan adiknya. Si kembar pun langsung meninggalkan orang tuanya berduaan.
Sergio langsung mendekat, memeluk istrinya dari samping. Venia pun bersandar di tubuh sang suami dan keduanya mengobrol. Dia langsung memberitahukan suaminya mengenai kesibukannya besok.
"Sepertinya aku akan mencari pengasuh untuk menjaga si kembar selama satu minggu ke depan. " ungkap Venia pada sang suami.
"Tak perlu sayang, kita titipkan saja si kembar pada mommy dan daddy atau kita undang mereka ke sini! "
Venia terdiam lagi. Dia merasa was was bila kedua mertuanya itu ingin mengambil alih hak asuh si kembar darinya. Terdengar suara jelas nafas berat, dia berusaha mengontrol dirinya agar tetap tenang.
"Aku enggak setuju! "
"Apa alasan kamu tak setuju Venia? " tanya Sergio dengan kening berkerut.
"Aku takut orang tua kamu merebut hak asuh si kembar. Aku bisa kehilangan apapun namun tidak dengan Felix dan Finn. Mereka berdua belahan jiwaku, keduanya alasan aku bisa bangkit. " ungkap Venia dengan serius.
Sergio tentu saja tertegun mendengar alasan istrinya. pria tampan itu berusaha meyakinkan sang istri namun Venia tetap pada keputusannya. Sergio mengusap wajahnya kasar, dia merasa keberatan dengan keputusan sang istri.
Pria itu melepaskan pelukannya. Keduanya sama sama diam, membuat suasana terasa hening dan dingin. Venia menoleh, menatap lekat kearah suaminya.
"Itulah yang aku rasakan dulu saat semua orang tak percaya dengan ucapan aku mas! "
"Padahal jelas jelas aku tak sengaja mendorong Winna namun semua orang menyalahkan aku termasuk kamu dan kedua orang tua kandungku! "
Deg
Hati Sergio merasa tercubit mendengar sindiran halus dari istrinya. Pria itu mengangkat wajahnya, menatap sang istri dari dekat.
"Maaf! " Hanya itu yang bisa dia ucapkan pada istrinya.