Giselle mengira menikah dengan Gibran adalah pilihan terbaik dalam hidupnya. Sosok pria yang mau menerima kekurangannya dan melengkapinya. Akan tetapi, semua angan dan impian Giselle berubah menjadi pahit, ketika dia tinggal satu atap dengan mertuanya.
"Jadi wanita bisanya cuma bekerja, gak tahu dapur, gak tahu kerjaan rumah tangga. Sudah begitu, kamu menikah lama dan tidak memiliki anak. Jangan-jangan kamu mandul, Sell?"
Perkataan pedas, tudingan miring, ditambah dengan ketidakberdayaan Gibran kian menambah runyam suasana. Dapatkah Giselle bertahan dengan konflik batin yang dia alami setiap harinya? Akankah pondok mertua yang tak indah ini perlahan-lahan menjadi rumah yang bisa menerimanya dan memanusiakannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Tergesa-gesa
Giselle dan Gibran masih terengah-engah berdua. Pun Gibran yang menyadari kenapa selama ini hubungan bercinta mereka hanya sekadar rutinitas semata. Seakan ada yang baru saja Gibran sesali.
"Luar biasa, Sayang ... aku meledak. Namun, ada yang aku sesali kenapa di rumah, kita melakukannya sembunyi-sembunyi. Kenapa kita tak bisa merengkuh kenikmatan yang seperti ini?"
Ada perasaan tidak enak di hati Gibran. Ya, di dalam rumah mereka melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Dalam lampu yang padam. Tidak perlu melakukan fore-play terlalu lama. Asal masuk, dan tuntas. Beres. Lama-lama itu menjadi rutinitas keduanya kala bercinta.
Giselle yang masih berbaring di sana dan tubuhnya hanya tercover selimut pun tersenyum perlahan. "Ya, mau gimana mau lagi, Mas. Kondisi di rumah seperti itu. Kalau sudah jam 22.00 dan lampu di dalam kamar belum padam, sudah diketuk-ketuk pintunya sama Ibu."
Yang dikatakan Giselle pun benar adanya. Setiap jam 22.00 malam, dan ketika lampu di dalam kamar mereka belum padam, selalu ada ketukan dari luar dan suara dari sang ibu.
"Jam 10 malam. Ayo, tidur. Besok bangun pagi. Bekerja!"
Awal-awal tinggal di rumah suaminya, Giselle juga bingung. Namun, bukankah sebagai pendatang baru Giselle yang harus menyesuaikan diri. Maka, Giselle yang harus menyesuaikan diri. Terkadang, ketika Giselle harus lembur, juga dia mengerjakan dalam kegelapan. Hanya mengandalkan sinar dari laptop selain itu, untung saja keyboard di laptopnya bisa menyala. Sehingga, dia tidak kesusahan menemukan tuts-tuts di papan keyboard.
"Sebaiknya kita juga mengubah kebiasaan kita, Sayang. Tadi benar-benar nikmat. Aku tahu reaksimu, dan kamu tahu reaksiku bukan? Sangat indah. Kehidupan percintaan juga harus diperbaiki kualitasnya," ucap Gibran.
"Ya, itu benar, Mas. Namun, selama ini kan kita melakukan semua dalam gelap. Tidak akan bisa menyalakan lampu," balas Giselle.
Gibran menghela napas panjang. Pria itu menatap wajah Giselle yang tepat berada di depan wajahnya. Kemudian tangannya terulur dan memberikan belaian di sisi wajah Giselle. Ketika, Gibran membelai sisi wajah Giselle, terlihat Giselle memejam matanya sesaat. Menikmati sentuhan suaminya di wajahnya.
"Maaf ya Sayang ... hidup bersamaku tak seindah kenyataan," ucap Gibran kemudian.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku memang tidak mendapatkan hati mertuaku. Namun, aku berharap aku mendapatkan hati suamiku. Ketika mertuaku menyudutkanku, aku berharap ada Mas Gibran yang bisa membelaku," jawab Giselle.
Giselle juga mengungkapkan perasaannya dengan jujur. Dia datang ke rumah itu kan karena Gibran. Jika, Gibran sudah tidak membelanya, maka untuk apa juga Giselle bertahan di sana. Maka dari itu, Giselle berharap bahwa suaminya bisa membelanya.
"Aku akan membelamu semampuku, Sayang. Hanya saja, jangan berpikir untuk meninggalkan aku. Jika berani kepada Ibu, aku tidak akan melakukannya. Namun, aku akan berusaha memberikan Ibu pengertian," balas Gibran.
Giselle hanya bisa merespons dengan menganggukkan kepala. Suaminya sejatinya adalah anak yang taat dan berbakti. Sementara itu, Giselle juga tidak meminta Gibran untuk berani, Giselle hanya meminta haknya kepada istri yaitu dilindungi oleh suaminya sendiri, mendapatkan rasa aman.
"Kalau aku nanti sudah hamil, mungkinkah nanti Ibu bisa sayang kepadaku ya Mas?" tanya Giselle.
"Semoga saja ya, Sayang ... kita harus kita melakukan kegiatan produksi, Yang. Biar segera jadi babynya," balas Gibran.
Namun, sekarang Giselle menggelengkan kepalanya. "Jangan, Mas ... kata Mbak Naya tadi sebaiknya tidak setiap hari. Menunggu kualitas sper-ma terbaik. Itu yang baik malahan," balas Giselle.
Mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Giselle, Gibran pun menganggukkan kepala. "Baiklah, aku akan melihat di handphone nanti kualitas terbaik itu setiap berapa hari. Sama aku akan makin kecambah, biar subur," ucap Gibran lagi.
Sekarang, Giselle terkekeh perlahan. Suaminya itu bisa bercanda juga. Walau sebenarnya juga Gibran jarang bercanda. Pembawaannya tenang dan kalem.
"Mandi sekarang?" ajak Gibran sekarang kepada Giselle. Itu juga karena sudah hampir setengah jam berlalu.
"Iya, Mas. Sudah bisa bertahan setengah jam. Di rumah, biasanya selesai gak nunggu lama langsung mandi," balas Giselle.
Pria itu tersenyum. "Tunggu dulu, Sayang ... aku gendong aja. Malam ini kamu ratunya."
Giselle tersenyum. Andai suaminya bisa memperlakukannya dengan baik seperti itu. Pastilah dia sangat senang. Sehingga, Giselle mau-mau saja ketika suaminya itu menggendongnya menuju ke kamar mandi. Itu juga sebenarnya Giselle sekarang sudah kurus, sehingga pastilah suaminya kuat untuk menggendongnya. Kalau dulu, dengan berat badannya sebanyak 90 kilogram, pastilah sulit dan membuat Gibran tidak kuat.
Keduanya pun mandi bersama. Berdiri di bawah shower box. Menikmati waktu berdua yang menurut Gibran sangat berkualitas itu. Terlebih sangat jarang juga mereka mendapatkan kesempatan seperti ini.
"Tidak usah memakai baju, Sayang," ucap Gibran dengan tiba-tiba.
"Eh, Mas ... risih tahu," balas Giselle.
"Mumpung kita tidak di rumah. Menikmati malam berdua. Ada selimut, aku juga akan memeluk kamu. Flashback malam pertama kita dulu," pinta Gibran.
"Dosa enggak Mas?" tanya Giselle kepada suaminya.
"Enggak, yang penting usai berhubungan itu mandi, Sayang. Seperti mentahirkan diri. Kalau tidak mandi, itu dosa. Jadi, kalau malam ini lima kali ya kita lima kali mandinya," jelas Gibran.
"Berarti yang melakukan hubungan dan tertidur sampai pagi dan enggak mandi itu dosa ya Mas?" tanyanya.
"Dosa, Sayang. Kalau misal usai bercinta, salah satu pasangan meninggal akan berdosa banget tuh. Tidak membersihkan dirinya terlebih dahulu."
Gibran menjelaskan semua itu kepada istrinya. Sekaligus Giselle pun juga belajar. Sebab, tidak dipungkiri banyak hal yang salah kaprah selama ini. Padahal seharusnya agama lah yang dipakai, diterapkan, dan diamalkan.
"Sudah mandi, sudah bersih, jadi ... waktunya tidur," ajak Gibran sekarang.
Pria itu bahkan yang membersihkan lagi tempat tidur itu lagi, dan juga mengambili pakaian mereka yang berserakan di lantai. Kemudian, membaringkan Giselle dengan ranjang dan menyelimutinya dengan selimut putih yang tebal itu. Setelahnya, barulah Gibran berbaring di samping Giselle. Tidak perlu menunggu lama Gibran menelusupkan tangannya, membiarkan Giselle menggunakannya sebagai sandaran. Usai itu, Gibran memeluk Giselle dengan erat.
"Rasanya seperti waktu bulan madu," ucap Gibran dengan tersenyum dan memejamkan matanya.
"Dulu, aku masih ndut, Mas," balas Giselle.
"Tidak masalah, Sayang. Cintaku tulus, tidak berkaitan dengan berat badanmu. Karakter dan kepribadian kamu itu yang utama. Lihatlah, kamu sekarang lebih cantik dan langsing, lebih dan lebih cantik di mataku," ucap Gibran.
Perlahan Giselle tersenyum, dia mendekatkan kepalanya di dada bidang suaminya. Biarkan malam membuinya dalam pelukan. Esok hari terakhir berada di hotel, dan setelahnya akan kembali lagi ke rumah. Semoga saja, tadi ada benih yang bisa berenang dan mencapai rahimnya. Semoga, Allah percayai keduanya untuk menjadi orang tua.
sedih kalo berada di posisi Gisel semuanya serba salah