NovelToon NovelToon
Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Single Mom / Hamil di luar nikah
Popularitas:48.8k
Nilai: 5
Nama Author: Restviani

Sebut saja dia Mawar. Seorang kembang desa yang berniat mengubah nasibnya di kota metropolitan. Namun, rudapaksa yang menimpanya, membuat dia memutuskan untuk menjadi seorang wanita malam.

Akankah Sang Primadona Malam menemukan hidayah di bulan suci yang penuh berkah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jebakan

Selesai makan malam dan membereskan kembali peralatan makan yang kotor, Niram kembali ke kamar untuk menunaikan shalat isya. Setelah selesai shalat, Niram pun mulai membereskan map yang berisi surat lamaran kerja. Rencananya hari Senin besok, dia akan mencoba mencari pekerjaan lagi bersama kawan barunya, Magdalena.

Tok-tok-tok!

Ketukan di pintu kamar, terdengar begitu nyaring.

"Niram, apa Tante boleh masuk?" tanya Imas dari balik pintu kamar Niram.

Niram mengernyitkan keningnya. Kok tumben tante Imas mau datang ke kamarku, kata Niram dalam hatinya.

"Niram, apa kamu sudah tidur?" lanjut Imas bertanya.

"Belum, Tan. Masuk saja, pintunya tidak dikunci, kok," jawab Niram yang sebenarnya merasa heran dengan kedatangan sang bibi ke kamarnya.

Ceklek!

Pintu terbuka. Imas memasuki kamar Niram. Dengan susah payah karena kehamilannya yang sudah semakin membesar, Imas duduk di atas dipan. Tanpa sengaja, mata Imas terkunci pada sebuah amplop besar berwarna coklat.

"Apa itu CV kamu, Niram?" Dagu Imas menunjuk amplop besar yang berada di samping Niram.

Niram melirik benda yang ditunjuk Imas seraya berkata, "Iya, Tan."

Tidak! Dia tidak boleh mencari pekerjaan lagi. Kalau tidak, usahaku akan sia-sia, batin Imas, menatap tajam benda tersebut.

Melihat tatapan aneh sang bibi pada benda yang berada di sampingnya, Niram pun merasa heran. Dia kemudian mencoba mengalihkan perhatian bibinya.

"Oh iya, Tan. Apa Tante perlu sesuatu? Emh, mungkin mau dibikinin teh atau kopi?" tanya Niram.

"Eh, tidak Ram," jawab Imas sedikit kaget. "Tante kemari cuma mau menyampaikan sesuatu sama kamu," lanjutnya.

Dahi Niram kembali berkerut. Sedikit heran dengan sikap bibinya yang bertutur kata beda dari biasanya.

"Menyampaikan apa, Tan? Apa Tante sudah mendapatkan pesan dari paman Halim tentang hasil interview Niram?" terka Niram.

"Bu-bukan, Ram! Bukan itu yang mau Tante sampaikan," jawab Imas sedikit tergagap.

Niram semakin menautkan kedua alisnya. Dia benar-benar heran melihat sikap Imas yang berubah menjadi baik.

Hmm, mungkin tante Imas sudah merasa bosan bersikap judes terus, batin Niram tersenyum geli.

"Kok kamu cengengesan gitu, Ram!" ucap Imas, ketus.

"Eh, enggak Tan. Niram enggak cengengesan, kok," bantah Niram.

"Terus, kenapa senyam-senyum kek gitu?" tanya Imas, menyelidik.

"Enggak apa-apa, Tan. Niram hanya merasa senang, karena Tante mau ngobrol sama Niram," jawab Niram, mencoba mencari alasan agar tidak melukai perasaan bibinya.

Huh, kalau bukan demi duit, gue enggak bakalan sudi ngobrol sama lu. Jangankan ngobrol, nyapa aja gue ogah! dengus Imas dalam hatinya.

"Kamu ini ngomong apa sih, Ram. Kamu itu ponakannya bang Halim, dan bang Halim itu suami Tante. Ya, otomatis kamu juga ponakannya Tante. Masak sama ponakan sendiri harus jutek-jutekan, 'kan kita harus rukun," tutur Imas, lembut.

"Iya, Tante benar," timpal Niram, "emh, memangnya apa yang mau disampaikan, Tan?" lanjut Niram.

"Tuh, sampai lupa, 'kan. Begini, Ram ... Tante cuma ingin ngasih tahu kalau mulai besok, kamu enggak harus nyari kerja ke sana kemari lagi," tutur Imas.

"Maksudnya, Tan?" Niram semakin tidak mengerti.

"Jadi gini ... Tante sudah menemukan pekerjaan yang cocok untuk kamu. Ya, bukan pekerjaan kantoran sih, tapi gajinya lumayan untuk ukuran ijazah yang kamu miliki," lanjut Imas.

"Pekerjaan apa, Tan?" Niram terlihat antusias.

"Emh ... ja-jadi pelayan," jawab Imas, terbata. Dia sendiri bingung karena tidak mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan yang dilontarkan Niram.

"Pelayan apa, Tan?" Niram kembali bertanya.

"Pe-pelayan ..." Untuk sejenak, Imas tampak berpikir, "emh, anu Ram ... pe-layan kafe, ya itu! Pelayan kafe," sahut Imas, meyakinkan.

"Di mana, Tan?" tanya Niram lagi.

Ish, banyak kali pertanyaan nih bocah!

Di dalam hatinya, Imas kembali menggerutu kesal.

"Pokoknya di daerah Jakarta Pusat, Ram. Enggak jauh kok, dari kantor paman kamu. Makanya Tante tawarin sama kamu. Biar nanti, kamu bisa pulang dan pergi sama paman Halim," tutur Imas yang mulai lancar berbohong.

Niram tersenyum senang mendengar penuturan bibinya. Bagi Niram, entah faktor disengaja ataupun tidak. Namun, ini adalah kebetulan yang luar biasa. Dengan begitu, pamannya tidak harus mencemaskan keadaan dirinya lagi.

"Gimana, mau enggak?" tanya Imas, harap-harap cemas karena takut Niram menolak tawarannya. "Kalau kamu mau, besok Tante anterin kamu ke orang yang nawarin pekerjaan itu," lanjut Imas, membujuk Niram.

"Teman Tante?" ulang Niram, "maksudnya gimana ya, Tan? Jujur saja, Niram enggak ngerti," imbuhnya.

"Jadi gini loh, Ram. Kafe itu milik temannya Tante, dan dia butuh karyawan baru untuk menjadi pelayan di kafenya. Karena kafenya itu cukup banyak dikunjungi pengunjung," papar Imas.

"Oh, begitu ... emh, jam berapa kita pergi ke sana, Tan?" Sepertinya Niram mulai tertarik dengan pekerjaan yang ditawarkan Imas.

"Setelah Rayyan pergi sekolah saja, Ram," jawab Imas.

"Apa tidak akan kesiangan, Tan. Takut kafenya sudah buka," timpal Niram.

"Tenang aja, Ram. Itu kafe para kawula muda berkumpul. Jadi, bukannya siang hari," jawab Imas.

"Oooh, gitu ya," ucap Niram seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Senyum penuh misteri tersungging di bibir Imas. Setelah melihat jebakannya hampir berhasil, Imas pun segera pamit untuk menghindari pertanyaan yang lebih melebar lagi.

"Ya sudah, sekarang kamu tidur, biar besok terlihat segar. Besok, 'kan kamu sudah mulai bekerja, jadi harus kelihatan bugar. Tante mau istirahat dulu," kata Imas seraya berusaha untuk beranjak dari tempat duduknya.

Karena perutnya sudah begitu buncit, Imas pun kesusahan untuk berdiri. Melihat hal itu, dengan sigap, Niram berdiri untuk membantu bibinya.

"Biar Niram bantu, Tan!"

.

.

"Cukup Karen! Kamu tidak bisa menyalahkan aku terus tentang keluarnya Natasya dari rumah ini!" teriak seorang pria bertubuh tegap.

"Lantas, siapa lagi yang bisa aku salahkan, Brama? Kalau bukan karena kediktatoran kamu dan ambisi kamu menjadikan Tasya sebagai penerus, dia tidak akan mungkin kabur dari rumah!" ucap Karen, tak kalah berteriak lantang menjawab perkataan suaminya yang bernama Brama.

Brama mencengkeram kedua rahang istrinya. Dia merasa kesal karena Karen sudah mulai berani berteriak kepadanya.

"Lancang kamu menyalahkan saya, Karen! Asal kamu tahu, Natasya tidak akan pernah memberontak dan keluar dari rumah jika kamu tidak memaksanya untuk menikah. Itu! Itulah yang membuat anak kamu minggat dari sini! Perjodohan, pernikahan ... apa kamu tidak sadar jika dia masih terlalu kecil untuk membina rumah tangga, hah!" bentak Brama seraya mendorong kasar tubuh Karen hingga wanita itu terjerembab ke lantai.

Tanpa mereka sadari, sepasang mata sudah berkaca-kaca mendengar perdebatan mereka dari balik pintu utama.

"Padahal, aku sudah bersusah payah untuk membujuk anaknya pulang. Huh, menyebalkan!" gerutu Ahsan seraya memegang bahu Karen yang mulai limbung menyaksikan pertengkaran orang tuanya.

"Tolong antarkan aku kembali ke kost-an, San," pinta lirih Natasya.

"Are you sure?" tanya Ahsan.

"Absolutely sure!"

1
Titin Kartini
bagus banget cerita ini,bikin penasaran dan makan hati
falea sezi
karma itu tante sialan akirnya mati
Durga Takur
Mana lanjutannya Thor??
sy suka, sy menuggu....
youlie
good
Adam
gila emang, bapaknya si imas
Viani
sebenarnya Magdalena sama Natasya itu orang yang sama bukan sih, thor
Sani
nah dilabrak nih
Sani
gila emang Alfaruk ini
Sani
yah, ketahuan dong
Sani
ohmaygat
Sani
duh, eling niram...eling
Sani
astaga Halim, ponakan kamu dijual ma istri kamu tuh
Sani
nah bener ini. lupakan masa lalu
Sani
wah ketemu orang enggak bener nih
Sani
ah, ngayal lagi nih ...
Sani
ya Tuhan... jadi seperti ini alasannya
Sani
semoga selamat, Niram
Sani
kasihan banget
Emak Femes
haaaah sungguh malang nasibmu niram
itu.pemuda siapa sih
bapakmya si baby G jangan2
Emak Femes
haaaah si niram.masuk kandang buaya dah nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!