CERITA PERTAMA - END
"Aku hanya memainkan bagianku, cinta yang akan menyempurnakannya" - Nara
CERITA KE DUA - END
"Aku tetaplah sama, berdiri di sudut tersembunyi, menunggumu sampai akhir nafasku." - Liana
Ardian Rahardja tidak percaya lagi kepada cinta, setelah gagal menikahi Nara. Desakan orang tua membuatnya terpaksa memilih Liana Devi Saraswati, sahabat Nara sebagai istri untuk menghindari perjodohan yang dibuat oleh orang tuanya.
Ardi yang mengetahui bahwa Liana memiliki perasaan untuknya, memanfaatkan hal itu untuk mengatur istrinya sesuka hati dan memaksa ia bersandiwara seolah pernikahan mereka sangat bahagia.
Apakah waktu akan membuat Ardi menjadi luluh? Ataukah Liana harus menerima kenyataan bahwa laki-laki itu tidak akan pernah mencintainya sampai kapanpun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tirza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asisten Pribadi Presiden Direktur
“Aku mau belajar untuk mengenal suamiku. Maukah kakak belajar mengenali istrimu?” Nara mengingat kembali momen di mana ia menanyakan hal itu kepada suaminya.
Pagi ini, Nara terbangun dengan perasaan kecewa dalam hati. Rendra tidak menjawab permintaan gadis itu. Semalam, Rendra hanya menatap Nara dengan tatapan yang sulit didefinisikan. Pikiran laki-laki itu juga sepertinya sedang melayang-layang ke udara.
Rendra bukan tidak bisa menjawab. Laki-laki itu hanya merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Nara. Rendra merasa bahwa Nara cukup banyak menuntut akhir-akhir ini. Sementara, ia bersikap seperti seekor kerbau yang dicucuk hidungnya. Laki-laki itu menjadi sangat penurut dan tidak bisa menolak apa saja yang diminta oleh istrinya.
Rendra memang merasa bersalah kepada Nara, namun bukan berarti bahwa itu menjadi sebuah titik lemah yang bisa dimanfaatkan begitu saja oleh gadis itu, demi mendapatkan apa saja yang ia mau. Laki-laki itu juga berjanji akan memberi kesempatan pada pernikahan mereka, tetapi bukan berarti bahwa gadis itu akan mengendalikan semuanya.
Rendra memberi kesempatan kepada Nara waktu itu karena ia yakin ia tidak akan berpaling dari Sari. Laki-laki itu sebenarnya hanya perlu bersabar selama satu tahun. Setelah satu tahun berlalu, ia akan menagih janji yang diucapkan sendiri oleh gadis itu. Ia akan meminta Nara mundur dan kemudian segera mempersunting Sari, kekasih yang begitu ia cintai. Rendra mematrikan dalam dirinya bahwa rencana perpisahan ini tidak boleh gagal, apalagi jika kegagalan itu disebabkan oleh hatinya yang melemah.
Rendra cukup fair untuk mengakui bahwa Nara memang memiliki daya tarik yang kuat. Beberapa kali ia jatuh dalam pesona gadis itu. Oleh karena itu, ia harus lebih waspada dan tidak boleh mudah terlena.
Ia tidak perlu bersikap membenci tetapi juga tidak boleh terlalu dalam menaruh perhatian kepada Nara. Itu sebabnya ketika Nara mengucapkan permintaannya semalam, Ia memilih untuk diam. Diam adalah sikap yang paling aman.
Mengapa diam? Pertama, Rendra menyadari bahwa ia memiliki mulut yang cukup pedas dan menyakitkan. Ia tidak ingin merasa bersalah lagi karena melukai Nara dengan ucapannya, jika ia tidak sependapat dengan gadis itu. Kedua, ia lebih suka memberi waktu kepada Nara untuk menyimpulkan sendiri dan membiarkan gadis itu tenggelam dalam anggapan yang dibangunnya sendiri, sehingga jika suatu saat Nara salah memahami sikapnya, dia tidak perlu mempertanggungjawabkan semua karena ia tidak pernah mengatakan apapun.
----------------
Hari-hari berlalu dengan begitu cepat. Tidak terasa Nara sudah bekerja di perusahaan Rendra selama satu minggu. Tidak cukup banyak yang bisa dilakukan gadis itu, mengingat seringnya Rendra terjun langsung mengurusi segala hal yang menyangkut perusahaan. Meski demikian, beberapa urusan kecil yang diserahkan kepadanya, selalu bisa diselesaikan dengan baik oleh gadis itu. Keberhasilan Nara tentu tak luput dari peran sekretarisnya yang bernama Cintya.
Cintya adalah salah satu orang kepercayaan Rani, yang selama ini membantu mengurus perusahaan yang ada di Jepara. Rani memindah-tugaskan wanita itu untuk membantu Nara. Cintya dan Nara rupanya cukup banyak memiliki kecocokan. Jadi, mereka tidak sulit bekerja sama.
Hari ini Rendra berniat untuk mengevaluasi kinerja Nara berdasarkan data-data yang diberikan kepadanya. Rendra meminta Arifin, sekretarisnya untuk meng-update segala kebijakan yang diambil oleh Nara selama satu minggu ini.
Rendra terlihat sedang duduk di balik meja untuk mempelajari data kinerja Nara yang baru saja ia terima. Beberapa kali laki-laki itu mengangguk-anggukan kepala. Kebijakan-kebijakan yang dibuat Nara cukup berani namun sangat logis dan terukur.
Sejauh ini, Rendra tidak dapat menemukan kesalahan dalam keputusan-keputusan yang diambil oleh gadis itu. Rendra melanjutkan kembali kegiatannya mempelajari data itu, hingga ia tidak menyadari bahwa ada seorang wanita masuk ke dalam ruangannya.
“Sayang, sedang apa?” Sari menghampiri Rendra dan mencium pipi laki-laki itu.
Sari mendapatkan keistimewaan semenjak Rendra mendengar bahwa beberapa karyawan mempergunjingkan mereka. Sari bisa langsung menemui Rendra di kantor tanpa perlu memberi tahu petugas resepsionis lagi. Ia bisa langsung naik dan menemui Arifin, sekretaris Rendra untuk memberi tahu kedatangannya atau bahkan bisa langsung masuk ke dalam ruangan Rendra, jika laki-laki itu tidak sedang menerima tamu.
“Aku sedang membaca laporan kinerja Nara,” balas Rendra sambil membolak-balikkan kertas-kertas laporan itu.
“Bagaimana hasilnya?” Sari bertanya penasaran.
Wanita itu sebenarnya sangat marah ketika Rendra mengatakan bahwa ia tidak bisa mencegah Nara bekerja di perusahaannya. Rendra menceritakan bahwa ia tidak mampu menyanggah argumentasi gadis itu.
Sari merasa tidak terima dengan alasan yang dikemukakan Rendra. Dengan arogan, wanita itu menyampaikan bahwa ia meragukan kemampuan Nara. Ia juga sempat bertaruh dengan Rendra, bahwa Nara pasti akan banyak melakukan kesalahan konyol nantinya. Itu sebabnya sekarang ia sangat penasaran. Ia berharap dugaannya benar dan Rendra menyesali keputusannya.
“Aku puas dengan kinerjanya. Nara ternyata cukup cerdas. Ia bisa diandalkan,” jawab Rendra dengan jujur kepada Sari.
“Apakah sehebat itu?” Sari mulai kesal karena Rendra memuji Nara.
“Aku merasa dia bukan hanya hebat. Dia sungguh-sungguh melakukan tugasnya. Aku sering melihat Nara membaca banyak buku untuk menambah wawasannya. Beberapa kali juga aku mendapatinya masih bekerja hingga larut malam, saat sudah berada di apartemen. Gadis itu juga bisa berbahasa Inggris, sehingga ketika aku membawanya menemui klien asing, ia bisa mengimbangi obrolan kami,” tutur Rendra menjelaskan beberapa hal yang ia amati tentang Nara.
Tidak lama kemudian, penjelasan Rendra itu terhenti karena Arifin menghubunginya dan mengatakan bahwa Nara ingin bertemu. Laki-laki itu pun mengijinkan Nara masuk ke dalam kantornya.
“Maaf, mengganggu. Saya tidak tahu bahwa anda sedang menerima tamu. Saya bisa kembali nanti,” kata Nara dengan sopan saat sudah berdiri di hadapan Rendra dan hendak membalikkan tubuhnya.
Gadis itu memang sengaja berbicara dengan formal dan sopan ketika berkomunikasi dengan suaminya di kantor. Ia bahkan menyapa Rendra dengan sebutan ‘Bapak’ untuk menjaganya tetap terlihat professional.
“Tidak perlu. Apa yang ingin kamu sampaikan? Katakan saja di sini! Tidak ada yang aku sembunyikan dari Sari,” balas Rendra dengan santai.
“Saya mendapatkan sebuah informasi yang menurut saya sedikit mencurigakan. Salah satu distributor kita mendadak tidak mau menerima lagi supply barang dari kita. Saya sudah cek ke bagian Customer Service untuk mendapatkan info mengenai complain mereka, namun ternyata tidak ada,” ucap Nara dengan serius.
“Distributor yang mana?” Rendra mengerutkan keningnya.
“Yang di Malaysia, AHF International. Saya semakin merasa ini adalah sesuatu hal yang aneh, saat mengetahui ternyata mereka sudah cukup lama bekerja sama dengan kita. Apakah pendapat saya ini benar atau saya terlalu berlebihan?” Nara menyampaikan analisanya.
“Pasti ada kekeliruan. Biar nanti aku saja yang akan mengecek langsung ke mereka,” jawab Rendra memberikan solusi.
“Baiklah!” Nara masih berdiri di tempatnya sambil menatap Rendra. Gadis itu sepertinya ingin menyampaikan sesuatu, namun ia ragu-ragu.
“Ada apa lagi?” Rendra menatap Nara yang tidak segera beranjak dari posisinya.
“Em, tidak apa-apa. Aku sebenarnya ingin mengajak kakak makan siang bersama. Apakah kakak ada waktu?” Nara mengubah cara bicaranya karena mereka sedang membicarakan hal di luar pekerjaan.
“Aku dan Rendra akan keluar makan setelah ini. Iya kan sayang?” Sari memotong pembicaraan Nara.
“Maaf, Nara. Aku sudah memiliki janji dengan Sari,” tolak Rendra dengan halus.
“Aku mengerti. Mungkin lain kali. Baiklah Pak! Saya permisi dulu,” jawab Nara dengan sebuah senyuman kecut tersungging di bibirnya.
Nara keluar dari kantor Rendra dengan kecewa. Gadis itu segera kembali ke ruangannya dan duduk merenung. Saat melihat Sari, Ia sebenarnya tahu bahwa Rendra akan menolak ajakannya itu. Namun, ia tetap mencoba dan berharap laki-laki itu akan memilih makan siang bersama dirinya. Sekarang, Nara hanya bisa menertawakan diri sendiri.
-------------
“Aku tidak suka kamu berbicara lembut dengannya, apalagi memuji-muji perempuan itu. Ia tidak pantas Ren,” ucap Sari ketika mereka berdua sedang menikmati makan siang di sebuah restaurant.
“Kamu kenapa? Apa aku harus marah-marah terus padanya?” Rendra menggelengkan kepala. Ia tidak menyangka Sari menjadi sangat kekanak-kanakan.
“Sayang, aku sungguh-sungguh takut sekarang,” kata Sari sambil memegang tangan Rendra. Laki-laki itu pun menghentikan aktivitas makannya dan membalas memegang tangan Sari.
Sari mengucapkan kalimat itu dengan sungguh-sungguh. Setelah bertemu dengan Nara dan melihat penampilan gadis itu, Sari merasa tidak tenang. Nara begitu menarik. Tidak menutup kemungkinan, Rendra bisa jatuh hati pada gadis itu kapan saja. Dia harus melakukan sesuatu.
“Takut apa? Apa yang mengganggumu?” Rendra bertanya dengan lembut.
“Aku takut kamu akan tergoda oleh Nara dan melupakanku,” tutur Sari dengan wajah yang sedih.
“Itu tidak mungkin, sayang. Aku bersikap baik padanya bukan berarti aku menyukai dia. Kamu tahu bagaimana perasaanku padamu,” jawab Rendra dengan sungguh-sungguh.
“Tapi kalian bisa saja menjadi dekat dan siapa yang bisa menjamin kamu tidak akan menyukainya,” balas Sari dengan nada manja.
“Apa yang harus aku lakukan supaya kamu percaya? Aku hanya tertarik padamu dan hanya mencintaimu,” ucap Rendra dengan lugas.
Sari sudah menunggu pertanyaan ini. Ia memanfaatkan pertanyaan Rendra itu untuk mencapai tujuannya.
“Kalau kau mau aku tidak marah, jadikan aku asisten pribadimu!” Sari menatap Rendra dengan tajam. Ia tidak sabar mendengar jawaban kekasihnya.
“Asisten pribadi?” Rendra terkejut mendengar permintaan Sari.
“Iya, asisten pribadi yang bisa kamu bawa kemanapun kamu pergi,” balas Sari sambil tersenyum penuh maksud.
“Kamu yakin? Bukannya kamu tidak suka berada di kantor lama-lama?” Rendra bertanya karena tidak percaya.
“Aku yakin, Ren. Aku sangat mencintaimu dan aku tidak bisa kehilanganmu. Ijinkan aku menjagamu dari pengaruh wanita itu. Aku tidak peduli meski aku harus berada di kantor ini seharian penuh,” desak Sari kepada Rendra. Laki-laki itu merenung beberapa saat.
“Kapan kamu ingin mulai bekerja?” Rendra sepertinya akan mengabulkan keinginan Sari.
“Minggu depan bisa. Aku mohon padamu,” ucap Sari dengan wajah yang memelas.
“Baiklah! Minggu depan kamu sudah bisa bekerja di sini sebagai asisten pribadiku,” kata Rendra yang tidak bisa menolak permintaan kekasihnya itu.
---------------
Selamat membaca. Jangan lupa beri dukungan teman-teman untuk cerita ini!