"Diterima ya, Mba. Dijalani saja dulu, banyak shalat dan baca Qur'an. Semoga tugas akhirmu, lekas selesai. Insya Allah, ini keputusan yang baik, Mba. Sepertinya Mas Akbar, anak yang shaleh."
"Iya, Pak, Bu. Saya jalani. Makasih restu dan doanya."
Aku berdiri, pamit. Masuk ke kamar. Kututup pintu, segera sujud syukur kepada Pemilik Semesta.
"Bismillah, semoga aku bisa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilinur m, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa
Bagaimana Rasanya?
Persiapan pernikahan Akbar dan Sekar sudah hampir selesai. Hari ini, sudah memasuki tanggal muda pada bulan ketiga di Kalender Masehi.
Sekar selalu ditemani oleh Alina, sepupu kesayangannya. Sahabat dari Jogjanya tidak bisa datang, karena mereka sudah mendapatkan pekerjaan di tempat kerja. Mereka sudah mengirimkan kado. Tinggal menunggu saja, kata Sekar kepada sahabatnya.
"Eits sekarang tanggal 2 ya, yeay, aku gajian." Sorak Sekar gembira.
"Mbak Sekar, sadar dong, sudah mau nikah, kok kayak anak-anak." Sahut Alina, yang baru datang di rumah Sekar.
"Bukan begitu, Alina sayang. Mbakmu ini, mau mentraktir kamu dan Mas Fatih makan mie ayam di Warung Mba Sri."
"Serius Mba?"
"Memang aku pernah bohong?"
"Pernah."
"Kapan?"
"Waktu Mba Sekar bilang katanya mau makan sate, terusnya besoknya Mba berangkat ke Jogja." Cengir Alina khas.
"Tapi kan, sudah aku ganti, sayang. Aku mengajakmu ke tempat istimewa." Ujar Fatih yang masih berdiri di belakang Alina.
Alina kaget. Lalu memutar ke arah Fatih. Keduanya lalu berhadapan.
"Wah, ada pasangan baru ini. Alin, kalau begitu, aku saja yang meminta pajak jadian kalian, bukan begitu, Mas Fatih?"
"Sejak kapan Mas Fatih memanggil Alin sayang?" Tanya Sekar beruntun.
"Baiklah, Nyonya Zafran. Akan aku jelaskan." Terang Alin, disambut anggukan Fatih.
Alin menjelaskan, bahwa Fatih memiliki rasa kepadanya. Kemudian Alin menjelaskan bahwa Alin bukan hendak pacaran, tetapi langsung mencari pasangan hidup. Kalau memang serius, Fatih ditantang Alina untuk menemui kedua orang tuanya.
Awalnya, Fatih ragu. Setelah bercerita dan meminta izin kepada orang tuanya, akhirnya, Fatih memberanikan diri menemui orang tua Alina.
Hubungan Fatih dan Alina, tidak semulus Akbar dan Sekar. Orang tua Alina, sudah menjodohkan Alina dengan pilihan mereka.
Banyak rintangan yang dihadapi. Dengan kekuatan doa dan kemantapan hati, Fatih, berhasil lulus melewati ujiannya.
Bahkan sampai detik ini, Fatih dan Alina tetap berhubungan baik dengan orang yang akan.dijodohkan oleh orang tuanya.
"Jadi begitu ceritanya, Mba Ipar."
"Kalian keren sekali. Dapat nilai berapa Mas Fatih?"
"Maksudnya Mba?"
"Lho, katanya sudah berhasil melewati ujian kan, jadi dapat berapa?" Tawa Sekar.
"Mba Sekar, belum minum obat ya?" Tanya Alin, sambil menempelkan punggung tangannya ke dahi Sekar.
"Enak saja ya kalian. Lihat saja, kalau Rajaku sudah pulang." Kata Sekar sambil berkipas dengan karton yang akan dibuat tulisan.
"Aduh Mba, ini nanti rusak tulisannya. Aku sudah berjam-jam membuatnya." Teriak Fatih.
"Gampang, nanti buat lagi. Rajaku kaya." Ujar Sekar cengengesan.
"Mbakyu sontoloyo, orang kaya ya gitu. Rusak beli, tidak memikirkan keadaan rakyat yang sangat kekurangan ini." Keluh Fatih.
"Hei, kalian para orang kaya. Berhenti bersandiwara. Ingat ini jam berapa!" Teriak Alina pada Sekar dan Fatih yang sedang memainkan lakon.
"Memangnya mau kemana, Permaisuriku?"Tanya Fatih lembut.
Sekar yang mendengarnya hanya tertawa, ia segera merekam di gawainya dan menjadikannya di status medsosnya. Pasti seru.
Ting. Ting.
Gawai milik Alina dan Fatih berbunyi.
"Aku ke kamar dulu, siap-siap." Kata Sekar menahan tawa sambil berlari masuk ke kamar.
Segera dibuka notifikasi yang muncul. Lalu terdengar suara lakon yang khas oleh keduanya.
"Mba Sekar, awas kamu Mbaaa....."
Sekar tertawa bahagia di balik pintu kamarnya.
Di kantor Akbar sedang serius. Bunyi notifikasi membuyarkan konsentrasi penuh Akbar. Segera diambil gawai miliknya.
Akbar tersenyum senang melihat status yang dibagikan oleh adiknya, Fatih.
Fatih mengunggah foto Alina dan Sekar yang sedang makan mie ayam. Tentu saja Fatih mengunggahnya satu-satu. Ia memang mempunyai tujuan lain. Hihi.
"Kamu bahagia sekali. Tambah cantik, De." Ucap Akbar sambil memandang layar gawainya.
Akbar aktifkan screen capture pada layar gawainya. Kemudian, ia jadikan sebuah unggahan di media sosialnya, dengan caption 'bunga hati'. Segera ia mematikan suara gawainya.
Mahasiswa Akbar segera membalas unggahan tersebut. Dosen tampan itu jarang sekali mengunggah sesuatu di media sosialnya.
Terima kasih sudah membaca cerita ini, serta terima kasih atas apresiasinya. Sehat selalu, aamiin.