Victoria yang baru saja lulus dari kuliah S1 nya harus menerima kenyataan pahit ketika tau orang tuanya telah dibunuh oleh seorang Mafia yang bahkan tak pernah ia jumpai sama sekali.
Dan hal lain yang lebih mengejutkan pun terjadi, sang ketua mafia yang membunuh kedua orang tua Victoria ternyata ingin menjadikan dia sebagai istrinya.
Lalu bagaimana dengan kehidupan Victoria selanjutnya? siapa sebenarnya si Mafia yang telah membunuh kedua orang tua Victoria? Akankah Victoria bisa membalaskan dendam atas kematian orangtuanya? atau justru dia akan jatuh ke dalam lubang cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiyah Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 26. Kebohongan Besar
...Halo semuanya author kembali 🤗 Nah karena author udah lama gk up ini cerita, mungkin buat kalian biar gk bingung bacanya, bisa baca eps 25 lagi ya....
...----------------------------------------------------------------...
Victoria membulatkan matanya, tubuhnya bergetar tak percaya setelah mendengar perkataan Kai barusan, apa maksud dari perkataan yang baru saja Kai katakan itu.
Disaat Victoria masih diam membeku, dan mencoba mencerna apa yang sedang terjadi, kalimat-kalimat Kai selanjutnya semakin membuatnya terluka.
"Mengapa kau masih bertanya Victoria?" Dengan wajahnya yang terlihat tidak peduli, perlahan Kai mulai melangkahkan kakinya ke arah Victoria yang masih disandera oleh Jake.
"Bukankah sejak awal kau sendiri sudah tau? Bahwa kau hanyalah alat untukku! Tak pernah ada posisi lain untukmu di Lucchese Family selain menjadi alat yang dapat ku gunakan kapan saja!" ucap Kai dengan suara yang besar.
Victoria yang mendengar hal itu terdiam, benar-benar terdiam. Saat ini dia benar-benar sulit untuk memahami, dan juga mengerti dengan semua hal yang Kai katakan.
Victoria terdiam cukup lama, dia menatap Kai yang berjalan perlahan ke arahnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Victoria mampu untuk menahan semua emosinya yang sedang bercampur aduk.
Ketika jarak Kai hanya tinggal beberapa langkah saja dari Victoria, Victoria pun akhirnya bersuara.
"Diam disitu!" Dengan suara yang besar, Victoria berteriak kepada Kai untuk menyuruh Kai agar tidak semakin mendekat ke arahnya.
Victoria kembali diam beberapa saat, dia mengambil napas dalam-dalam sebelum akhirnya kembali berbicara.
"Jabatan Consigliere ku, pernikahan kita, dan juga ...," ucap Victoria dengan suara yang lirih, tubuh yang bergetar, dan tangan yang terus mengepal. "P–perasaan cinta yang telah kau berikan s–selama ini, itu semua p–palsu?" lanjut Victoria bertanya dengan kondisi yang sudah semakin parah.
Matanya yang terus berkaca-kaca sedari tadi, kini telah menumpahkan air mata. Victoria menatap Kai dengan sendu, dan menunggu jawaban dari Si Pria itu.
"Kau benar! Itu semua palsu, dan ku lakukan hanya untuk menambah rasa kepercayaan mu," jawab Kai tanpa ragu.
"Huft ...." Mendengar hal itu Victoria langsung menghela kasar napasnya, kemudian secara perlahan dia mulai menghapus air matanya itu.
Victoria yang awalnya terlihat sedih, tiba-tiba saja tersenyum dengan lebar. "Terimakasih!" ucap Victoria, dan membuat Kai bahkan Jake juga Deresta yang mendengarnya menjadi bingung.
"Selama ini aku telah menahannya Kai, karena kupikir kau adalah orang yang baik. Kau berhasil membuatku percaya, bahwa kau bukanlah pria jahat yang telah membunuh kedua orang tuaku."
"Setiap saat aku selalu ragu untuk melakukan aksi balas dendam karena sikap baikmu itu. Namun akhirnya hari ini, kau telah menunjukkan dirimu yang sebenarnya. Jadi hari ini aku tidak akan ragu-ragu lagi, Kai Lucchese!"
Victoria mengucapkan semua itu dengan menekankan setiap kata-katanya, dia juga berbicara dengan nada yang sedikit berteriak, terutama di dua kata terakhirnya.
Setelah cukup membuat semua orang bingung dengan kata-katanya, Victoria kembali membuat semua orang yang ada diruangan itu kaget tak percaya dengan aksinya.
Victoria yang sedari tadi terlihat tidak dapat melawan, dan tidak dapat melepaskan dirinya sendiri dari Jake, tiba-tiba saja berubah 360°.
Dengan cepat Victoria menaikan sikutnya hingga mengenai dagu Jake dengan keras. Lalu saat Jake masih kesakitan, Victoria langsung mengambil pistol yang ada di tangan Jake.
Gerakan Victoria pun benar-benar sangat cepat, bahkan bisa dibilang itu bukanlah gerakan seorang amatir, melainkan gerakan seseorang yang sudah sangat ahli.
Dalam sekejap mata, Victoria bisa membalikkan keadaan. Kini bukan Jake lah yang menodongkan pistol ke arah Victoria, melainkan Victoria lah yang menodongkan pistol ke arah Jake.
"Kai Lucchese! Saat dirimu menganggap diriku hanya sebagai alat, maka di saat itulah kau salah besar. Aku Victoria adalah orang yang akan merenggut kebahagiaanmu!" teriak Victoria dengan suara yang benar-benar besar.
Selang beberapa detik setelah dia mengatakan kalimatnya itu, Victoria menarik pelatuk pistol yang dia pegang, dan—
DDOOORRRR ...
Victoria menembak Jake tepat di kepala pria yang sempat menyanderanya itu. Melihat hal tersebut semua orang dibuat kaget.
Wanita yang terlihat lemah tak berdaya beberapa waktu yang lalu, kini berubah menjadi monster yang tak takut untuk membunuh siapa saja.
"Deresta Cosa Nostra!" Victoria beralih dari melihat Jake yang telah berlumuran darah, ke Deresta yang masih diam karena aksinya.
"Y–ya?" Dengan sedikit kaget Deresta pun merespon Victoria yang memanggilnya. Victoria yang mendengar itupun perlahan berjalan ke arah Deresta.
"Apakah ada ruang kosong di Cosa Nostra Family?" tanya Victoria saat dirinya sudah berdiri tepat di depan Deresta.
"Selalu ada tempat di Costa Nostra Family untuk mereka yang punya tujuan dan tekad," jawab Deresta dengan cepat.
Mendengar hal itu Victoria tersenyum, "Kalau begitu bolehkah aku bergabung? Aku ingin menghancurkan Lucchese Family yang telah merenggut nyawa kedua orang tuaku. Apakah dengan tujuan seperti itu cukup?"
"Sebenarnya aku tidak ingin menjadi seorang mafia lagi setelah semua kejadian ini. Namun kurasa tak masalah, jika aku bergabung dengan keluarga mafia yang dimana pemimpinnya tidak akan mengkhianati anggotanya," lanjut Victoria menjelaskan dengan nada bicara yang menyindir.
"Hmm ...." Deresta diam selama beberapa saat untuk menentukan keputusannya mengenai permintaan Victoria barusan.
"Baiklah, jika kau ingin masuk maka aku akan sangat mempersilahkan wanita hebat sepertimu untuk bergabung dengan kami!" ucap Deresta setelah cukup berpikir.
Lalu kemudian Deresta menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Victoria, sebagai tanda bahwa mereka sama-sama sepakat.
Namun belum sempat Victoria membalas jabatan tangan itu, tiba-tiba saja Kai berteriak dengan marah.
"Deresta! Apa-apaan kau? Apa maksudmu?!" Kai yang sedari tadi diam melihat interaksi antara Victoria dengan Deresta, akhirnya kembali bersuara.
Mengetahui Kai yang marah, Deresta langsung mengalihkan pandangannya dari Victoria, dan beralih melihat Kai dengan tajam.
"Kenapa kau marah? Wajar bukan jika saat ini Victoria ingin bergabung dengan keluarga mafia ku? Kau telah menyakiti wanita ini! Bahkan aku pun juga benar-benar tidak percaya, bahwa kau telah berbuat sejahat itu kepada wanita yang telah mempercayaimu!"
"Kai Lucchese yang ku kenal adalah orang yang terhormat, namun ternyata setelah semua ini, kini aku tau bahwa kau tak lebih dari seorang pria brengsek! Kau bahkan ingin mengorbankan seorang wanita!"
"Jadi kali ini biarkanlah Victoria menentukan sesuatu yang menurutnya benar. Jika kau tak terima dengan semua ini, maka Cosa Nostra Family siap untuk menjadi lawanmu."
"Dan jika kau marah karena aku mengambil Victoria darimu, maka segeralah berkaca dan lihat apakah kau layak untuk marah karena hal itu!"
Dengan suara yang tegas dan juga sangat jelas, Deresta mampu membuat Kai langsung terdiam.
Semua kalimat-kalimat yang panjang dari Deresta itu membuat Kai semakin marah, namun anehnya dia juga tidak tau harus marah karena apa.
"Arrgghhh!" Kai meraung karena kesal, dia menatap Deresta dengan penuh amarah, kemudian beralih menatap Victoria dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Semuanya! Kita pergi dari sini, tujuan kita sudah tercapai!" teriak Kai kepada semua anggotanya yang ada di dalan kamar Jake itu.
Dan dengan diri yang masih diselimuti oleh amarah, Kai beserta seluruh anggota dari Lucchese Family mulai meninggalkan kediaman Juerlo Family.