"PERJODOHAN" adalah kata yang tidak jamannya lagi tapi itulah yang karina alamai sekarang.
orang tua karin mendojodohkannya dengan duda anak satu, banyak hal yang terjadi dalam hidup karin setelah menerima perjodohan itu.
"alisya sayang Bunda".
kata yang selalu membuat karin merasa bahagia dan bertahan dengan pernikahan perjodohan itu.
masalah silih berganti dalam rumah tangganya, kesabaran, keikhlasan dan setiaan karin di uji.
seiring berjalannya waktu, karin bisa mencintai suami dan anaknya dengan tulus. kasih sayang yang karin berikan pada alisya melebihi dari apapun.
suatu ketika saat karin melahirkan anak, hal yang tidak terduga terjadi yaitu anaknya meninggal karena dalam keadaan prematur.
kehidupan karin seketika runtuh dan hatinya sakit melihat anaknya pergi untuk selamanya. separuh dari nyawa karin hilang begitu saja.
karin bisa bangkit dari kesedihannya karena dukungan suami, anak dan keluarganya. mereka semua yang membuat karin bisa lebih baik dan semangat lagi dalam menjalankan kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Memei Melita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
***
sore hari...
"mas, ibu belum datang juga ya?". berkali-kali aku menanyai ibu pada mas bram.
"belum sayang, sabar ya". jawab mas bram.
"bunda, alisya tidur sama bunda ya". ucap alisya.
"gak boleh sayang, bundakan lagi sakit". mas bram mendekati alisya.
"alisya mau tidur sama bunda, papa jahat". alisya ngambek.
"sayang, bukannya papa jahat loh. bunda lagi sakit, alisya lihatkan adiknya mau keluar. nanti kalau alisya tidur sama bunda, adiknya gak jadi keluar". ucap mas bram.
alisya terdiam mendengar ucapan mas bram, sesekali dia melirikku dan air matanya jatuh.
mungkin alisya rindu karena sudah lama aku tidak tidur dengannya. aku merasa bersalah pada alisya karena kurang memperhatikannya selama aku hamil.
"sayang, sini peluk bunda". hatiku sedih ketika melihat dia meneteskan air matanya.
alisya langsung memelukku dan menangis kencang.
"papa jahat". ucap alisya sambil menangis.
"papa gak jahat sayang, papa sayang sama alisya. alisya mau lihat adiknya keluar kan?".
alisya menganggukkan kepalanya dengan air matanya yang terus menetes membasahi pipinya.
"jadi, alisya malam ini tidur sama bi nina dulu ya, nanti kalau adiknya sudah keluar, alisya baru tidur sama bunda lagi. bunda janji, setiap hari alisya tidur sama bunda". ucapku untuk membuatnya tenang.
alisya menghapus air matanya
"bunda janji".
"janji sayang". aku memeluk erat alisya.
"jadi alisya gak marah lagi kan sama papa". ucap mas bram.
alisya menggelengkan kepalanya dan memeluk mas bram juga.
"ohh sayang anak papa". mas bram juga memeluk alisya dengan erat.
ddrttt... ddrttt... handphone mas bram bergetar.
mas bram langsung mengambil handphonenya dari saku celananya.
"ibu, sayang". mas bram menunjukkannya padaku.
"angkat mas, mungkin ibu sudah sampai".
"iyaa sayang, hallo ibu". mas bram langsung mengangkatnya.
"bram,dimana ruangannya karin, ibu dan ayah sudah di lobi rumah sakit".
"ohh iya bu, ibu tunggu di lobi saja biar aku datang menjemput ibu".
"baiklah". ibu langsung mematikan teleponnya.
"sayang, tunggu sebentar ya. aku mau jemput ibu dan ayah di lobi". ucap mas bram.
"iya mas".
"alisya ikut pa". rengek alisya.
"ayo sayang". mas bram langsung menggendong anaknya.
"orang tua non sudah datang?". tanya bi nina.
"iya bi, nanti aku kenalkan sama ayah dan ibu". jawabku sambil tersenyum pada bi nina.
"iya non. non mau makan buburnya? biar bibi ambilkan mumpung lagi hangat non".
"boleh bi". aku perlahan untuk duduk.
"ini non, dimakan buburnya. non harus banyak makan karena non membutuhkan tenaga yang kuat untuk melahirkan nanti". bi nina memberikanku sepiring bubur buatannya.
"iya bi, terima kasih buburnya bi". aku perlahan langsung memakan buburnya.
tak lama kemudian, aku mendengar suara mas bram dan ayah berbicara di luar.
"itu mereka bi". aku langsung senang mendengar suara ayah dari kejauhan.
ibu yang pertama membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.
"karin". ucap ibu dan mendatangiku.
"ibu sudah sampai".
"kamu sehat-sehat aja kan nak". ibu memeluku.
"iya bu, ayah mana?". aku tidak melihat ayah ikut masuk bersama ibu.
"ayah lagi ngobrol sama bram dan alisya". jawab ibu.
"oh iya bu, kenalkan ini bi nina yang bantu aku dirumah sekaligus sudah seperti keluarga bu". aku memperkenalkan bi nina pada ibu.
"ohh iya salam kenal ,saya ibunya karin". ibu menjabat tangan bi nina.
"salam kenal kembali ibu,saya sudah banyak mendengar cerita ibu dari non karin". jawab bi nina.
"wahh sepertinya cerita buruk ya tentang ibu". ibu melirik ke arah ku.
"ahh ibu".
"hahahaha iya sayang, ibu kan cuma bercanda". ibu memelukku.
bi nina yang melihat aku dan ibu ikut tertawa.
"ibu beruntung banget punya anak seperti non karin, udah cantik, baik hati ,ramah dan penyayang lagi". ucap bi nina pada ibu.
ibu yang mendengar ucapan bi nina merasa senang dan tersenyum sambil mengelus kepalaku.
"iya bi, karin ini dari kecil sudah membuat saya bangga. karna dia anak saya satu-satunya, jadi saya harus berhasil mendidiknya dengan baik. apa lagi perilaku dan sopan santun menghargai orang lain itu penting kan bi?". tanya ibu pada bi nina.
"iyaa bu, benar sekali itu".jawab bi nina.
"ibu udah dong, jangan cerita tentang aku lagi". aku menarik tangan ibu.
"hahahaha iya iya sayang".
"ini bi". aku memberikan piring bubur pada bi nina.
"udah selesai non makannya, mau tambah lagi". tanya bi nina.
"gak bi, aku udah kenyang. terima kasih bi".
"iya non sama-sama". bi nina membawa piring kotor ke kamar mandi.
"kamu harus makan yang banyak sayang, jangan di tahan-tahan kalau pengen makan sesuatu, bilang aja". ucap ibu.
"iya bu".
"oh iya, bukannya kemaren kamu bilang letak bayinya melintang, kenapa bisa melahirkan normal?".
"waktu itu kan usia 6 bulan bu, setelah itu aku melakukan gerakan sujud yang di anjurkan dokter jeff dan syukurnya letakknya bisa berubah bu". jelasku pada ibu.
"syukurlah, ibu lega dengarnya". ibu mengelus dada.
"tapi bu, bayi nya bakalan lahir prematur karena belum cukup bulan". aku merasa sedikit sedih saat cerita dengan ibu.
ibu mendekati ku dan merangkul ku
"sayang, jangan sedih ya. kita berdoa aja semoga bayinya lahir dengan selamat, dan kamu jangan memikirkan lagi tentang kejadian tante kamu ya. ibu gak mau trauma kamu makin besar, yang penting sekarang kamu fokus aja dengan bayi kamu".
"iya ibu, aku bersyukur ibu ada di samping ku di saat situasi seperti ini". aku memeluk ibu dengan erat.
"wahhh ada apa ini pada pelukan gitu". ucap ayah yang masuk ke dalam ruangan.
"emang gak boleh kalau ibu peluk karin". jawab ibu.
"boleh dong, ayah juga mau di peluk sama anak ayah". ayah ikut memelukku juga.
"bram, lebih baik kamu pulang saja. istirahatlah di rumah sama alisya, kasihan dia kalau harus ikut tidur di rumah sakit juga". ucap ibu.
"tidak apa-apa bu, alisya nanti pulang dengan bi nina". jawab mas bram.
"mas, bener kata ibu. kamu istirahat aja di rumah. dari pagi sampai sekarang kamu pasti capek jagain aku terus. lagian ada ayah dan ibu yang bisa jagain aku di sini". sambungku.
"gak karin, gimana aku bisa biarkan ibu yang baru datang untuk jagain kamu. sebaiknya ibu dan ayah saja yang istirahat,aku akan tetap di sini sama kamu". mas bram tetap kukuh ingin nemani aku di rumah sakit.
"ya sudah, kalau kamu maunya gitu. biar ibu dan ayah sama alisya nanti pulang untuk istirahat". jawab ibu.
"alisya mau pulang sama bunda". ucap alisya.
"iya sayang, alisya pulang dulu nanti sama kakek dan nenek. papa dan bunda besok tidur di sini dulu, besok baru pulang.oke sayang ". aku mengelus kepala alisya.
saat kami sedang mengobrol, terdengar suara ketukan pintu.
tookk... ttook... ttokk...
"permisi ibu bapak, saya akan melakukan pemeriksaan kepada ibu karin". ucap suster.
"baik suster, silakan masuk". jawab maa bram.
"gimana ibu? apa sakitnya makin sering".
"iya suster, sakitnya semakin sering dan seperti akan keluar". ucapku.
"itu Bagus ibu kalau sakitnya sudah mulai sering, itu tandanya kepala bayinya semakin turun dan jalan lahirnya akan semakin terbuka dan bayinya akan segera keluar". jelas suster itu padaku.
"iya suster, tapi kadang saya gak tahan saat sakitnya datang".
"atur nafas saja bu, tarik nafas dari hidung dan buang dari mulut lakukan itu perlahan-lahan agar rasa sakitnya stabil. tapi kalau ibu masih sanggup untuk bangun dan berjalan, ibu bisa lakukan gerakan jalan dan sesekali berjongkok untuk mempercepat proses persalinannya". suster itu memberikan saran untukku.
"ohh iya suster, saya akan lakukan". jawabku.
"baiklah bu, saya permisi dulu kalau butuh bantuan segera hubungi kami". suster itu pergi keluar.
"jangan di paksakan kalau kamu gak sanggup nak". ibu datang mendekatiku.
"iya bu, aku masih sanggup kok". aku mencoba untuk duduk dan berdiri.
"sini, biar aku bantu sayang". mas bram langsung memegang tanganku.
"tu.. tunggu mas, sakitnya datang". aku merasakan perutku bergerak dan tegang.
"pelan-pelan aja sayang, kalau gak sanggup tiduran aja". ucap mas bram
"gak apa-apa mas, aku sanggup".
aku mulai berjalan perlahan-lahan mengitari ruangan dengan mendorong-dorong tiang infus yang aku bawa. aku berjalan beberapa langkah lalu aku selingkan dengan berjongkok sesuai dengan anjuran suster tadi.
mas bram yang siap siaga berada di samping untuk menjaga ku agar tetap aman dan langsung membantuku jika terjadi sesuatu.
ibu dan ayah yang duduk di sofa terus menatap ku dengan rasa khawatir di wajah mereka.
"mas berhenti dulu, perut ku sakit". aku langsung berjongkok.
"istirahat aja ya sayang, jangan di paksakan".mas bram menggenggam tanganku.
"karin, istirahat aja nak". ucap ayah.
"pelan-pelan aja sayang, naik aja ke tempat tidur lagi ". ibu merapikannya.
mas bram menuntunku untuk naik ke atas tempat tidur dan aku merebahkan tubuhku.
"tidurnya miring aja nak, biar cepat turun kepala bayinya". ibu membenarkan posisi tidur ku.
"semakin sakit bu".
"iya nak, tidak apa-apa malahan Bagus. kalau capek miring sebelah sini, kamu bisa balik badan dan miring ke sisi lainnya ya". ucap ibu.
"mas, eluskan pinggangku". aku merasakan sakit juga di pinggang.
"aah iya sayang". mas bram langsung melakukannya apa yang aku minta.
"non, saya mau permisi dulu bawa non alisya pulang". ucap bi nina.
"oh iya bi, hati-hati di jalan ya bi". jawabku sambil menahan rasa sakit.
"sudah telpon pak Ahmad bi untuk jemput". ucap mas bram.
"sudah tuan, pak Ahmad sudah menunggu di parkiran". jawab bi nina.
"ibu dan ayah sekalian saja ikut bi nina pulang dan istirahat". ucapku.
"baiklah, ibu dan ayah akan pulang bersma alisya. biar ibu temani dia tidur dan kalian jika terjadi sesuatu segera hubungi ayah atau ibu ya".
"iya ibu".
"ayo alisya, kita pulang dan istirahat. alisya mau pulang sama kakek?". tanya ayah pada alisya.
"iya, mau kakek". alisya menggandeng tangan ayah.
"bunda dadah". alisya melambaikan tangannya padaku.
"bye sayang" jawabku.
"jangan nakal ya sayang, harus dengar kata nenek dan kakek". ucap mas bram pada alisya.
"iya papa".
"jangan khawatir, ibu akan jaga alisya. ibu pulang dulu ya". ibu mengecup keningku.
"hati-hati bu".
ayah, ibu, alisya dan bi nina mereka telah pulang, hanya ada mas bram yang menemaniku.
"mas, kalau lelah istirahat aja". aku melihat wajah mas bram yang lelah.
"gak sayang, aku masih mau nemani kamu".
"kamu mau makan sayang". ucap mas bram.
"gak mas, aku sudah makan bubur yang bi nina bawa mas.mas belum makan ya? ini sudah malam mas".
"iya sayang, aku baru teringat kalau belum makan dan tiba-tiba perutku laper banget". mas bram memegang perutnya.
"ya sudah, mas pergi makan aja dulu. nanti mas sakit kalau gak makan".
"tapi kamu gimana sayang, kalau aku pergi makan". mas bram khawatir padaku.
"tidak apa-apa mas, kan ada suster. udah buruan pergi sama mas".
"baiklah sayang, aku pergi makan sebentar ya. aku janji gak akan lama, aku akan segera kembali". mas bram memegang tanganku.
"iya mas". aku merasakan rasa khawatir di wajah mas bram.
ruangan terasa sepi saat hanya ada aku seorang, rasa sakitnya semakin sering dan semakin kuat. jika perutku mengalami kontraksi ,aku merasa tidak nyaman dan rasanya seperti bayinya akan langsung keluar.
seperti ini perjuangan seorang ibu, merasakan rasa sakit yang begitu sakitnya untuk melahirkan seorang anak. aku mengerti sekarang, kenapa seorang ibu akan sakit hati jika anak yang di lahirkan melawannya, karena perjuangannya itu sungguh berat antara hidup dan mati.
"semoga kamu jadi anak yang baik ya nak, dan bisa menghargai orang lain". ucapku sambil mengelus-elus perutku.
aku mencoba menarik nafasku dalam-dalam saat rasa sakitnya datang dan itu membuatku sedikit tenang dalam menghadapi kontraksinya.
30 menit kemudian mas bram kembali dari makan malamnya.
"sayang". ucap mas bram saat masuk ke dalam ruangan.
"kok cepat banget mas makannya". tanyaku.
"aku tidak nyaman sayang kalau makan lama-lama, aku kepikiran kamu terus karena aku tinggal sendirian". mas bram mengelus-elus kepalaku.
"aghh". aku mengalami kontraksi rahim lagi.
"kenapa sayang? apa perlu aku panggil dokter". mas bram terlihat panik setelah melihat aku kesakitan.
"gak usah mas". aku menggenggam erat tangan mas bram karena menahan rasa sakit.
"mas, tolong usap-usapkan perutku".
"seperti ini sayang". mas bram langsung mengusap lembut perutku.
"iya mas". aku merasa nyaman saat mas bram mengelus perutku.
"gimana sayang". tanya mas bram.
"nyaman mas, rasa sakitnya sedikit berkurang". jawabku.
"mas, kalau capek istirahat aja. besok mas kan harus ke kantor". aku merasa kasihan pada mas bram yang kelelahan mengurusku.
"gimana aku bisa istirahat sayang, kalau istri ku sedang berjuang melawan sakit untuk melahirkan anakku". ucap maa bram.
sungguh sungguh dan sanggat sungguh beruntung aku memiliki suami seperti mas bram. dia tidak pernah menunjukkan rasa lelahnya di depanku hanya untuk menyemangati ku.
.
balik mampir dukungan kk