NovelToon NovelToon
BATAS KESABARAN RENATA

BATAS KESABARAN RENATA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eys Resa

Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.

​Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
​Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.

Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Cerita Rena dengan suara lirih, menahan sesak di dada. "Suami saya ada, tapi dia sangat abai. Jangankan memberi nafkah lebih, untuk biaya pendaftaran sekolah anak saya yang berusia tujuh tahun saja dia menolak memberikan uang. Ibu mertua dan adik ipar saya juga selalu memperlakukan saya dengan buruk di rumah. Saya tidak punya tempat mengadu, Bu. Saya harus berjuang sendiri demi masa depan anak saya."

​Wanita paruh baya itu terdiam mendengarkan penuturan Rena. Perlahan, gurat ketegasan di wajah tuanya melunak, digantikan oleh rasa iba yang mendalam. Sebagai sesama wanita dan seorang ibu, dia bisa merasakan kepedihan yang luar biasa dari sorot mata Rena.

​"Ya Allah, kasihan sekali nasibmu, Nak," ucap wanita itu, kini nadanya berubah menjadi sangat lembut dan keibuan. Dia mengulurkan tangan, menepuk-nepuk punggung tangan Rena dengan hangat. "Suami macam apa yang tega menelantarkan pendidikan anaknya sendiri. Sudahlah, jangan menangis lagi. Dengar, nama saya Ibu Lastri. Kamu tidak usah bingung lagi, besok pagi kamu langsung datang saja ke rumah anak saya. Ini alamatnya."

​Ibu Lastri merogoh tas belanjanya, mengambil secarik kertas dan pulpen, lalu menuliskan sebuah alamat dengan cekatan sebelum menyerahkannya kepada Rena. Rena menerima kertas itu dengan tangan gemetar, seolah memegang sebuah harta karun yang sangat berharga.

​"Terima kasih banyak, Ibu Lastri. Terima kasih..." ucap Rena tulus, air mata syukurnya mulai menetes. Namun, dia teringat sesuatu yang sangat krusial. Dengan perasaan tidak enak yang membuncah, Rena kembali menatap Ibu Lastri. "Tapi, Bu... jika boleh, saya memiliki satu permintaan."

​Ibu Lastri menaikkan sebelah alisnya. "Permintaan apa, Nak?"

​"Apakah... apakah boleh jika gaji saya untuk bulan ini dibayar di muka hari ini?" Rena menundukkan kepala, merasa sangat malu karena mengajukan syarat yang tidak biasa. "Pendaftaran sekolah anak saya akan ditutup minggu ini, Bu. Uang pangkalnya harus segera dilunasi. Saya berjanji tidak akan lari dan akan bekerja dengan sangat giat setiap hari."

​Suasana sempat hening selama beberapa detik, membuat jantung Rena berpacu tak karuan karena takut permintaannya akan ditolak dan kesempatan ini lenyap begitu saja. Namun, dugaan Rena keliru. Ibu Lastri justru menghela napas panjang seraya tersenyum tipis.

​"Tentu saja boleh, Nak. Kebetulan saya membawa uang tunai yang cukup di tas ini," kata Ibu Lastri tanpa ragu. Dia membuka dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu, lalu menghitungnya sebelum menyerahkannya ke tangan Rena. "Ini untuk uang pangkal anakmu. Masuk sekolah itu penting, jangan sampai tertunda karena masalah orang tua."

​Rena menatap lembaran uang di tangan-nya dengan pandangan tidak percaya. Dadanya bergemuruh hebat oleh rasa syukur yang luar biasa. Jalan keluar yang dia cari dengan memutar otak sejak tadi akhirnya terbentang lebar di depan mata berkat kebaikan wanita asing ini. Dipeluknya uang itu erat-erat ke dadanya, sementara matanya beralih menatap Dio di kejauhan dengan senyum kemenangan yang baru bermekaran. Kali ini, dia akan membuktikan pada Aris dan ibunya bahwa dia bisa berdiri di atas kakinya sendiri.

"Bu, apa saya boleh mengajak anak saya bekerja? soalnya dia di rumah sendirian. Kalaupun ada neneknya, saya takut memperlakukan anak saya dengan tidak baik. Karena selama ini anak saya tidak terlalu dekat dengan neneknya. "

Bu Lastri menatap anak kecil yang sedang bermain prosotan yang tak jauh dsri mereka duduk. Dia lalu tersenyum menatap anak itu.

"Tentu saja, ajak saja. Asalkan tidak menganggu pekerjaanmu."

Mendengar itu, Rena merasa sangat senang, dia yakin Dio bisa diajak kerja sama dan tidak mengganggu pekerjaannya. Karena Dio sangat penurut dan selalu mendengarkan ucapannya.

"Terima kasih bu, saya janji Dio nggak akan nakal. lagipula, setelah masuk sekolah, saya akan bekerja sendiri. Dio nggak akan ikut. "

"Ya sudah. Besok ibu tunggu di rumah ya. Ibu pergi dulu. "

"Iya, bu. Hati-hati dijalan. "

Setelah Bu Lastri pergi, tak lama Rena juga mengajak Dio untuk pulang. Karena matahari juga semakin meninggi.

Rena melangkah masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang membuncah. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, seulas senyum tulus terukir di bibirnya. Di dalam saku dasternya yang lusuh, lembaran uang ratusan ribu dari Ibu Lastri terasa begitu nyata dan hangat. Langkah kakinya terasa jauh lebih ringan saat menuntun Dio masuk ke dalam kamar tidur mereka yang sempit.

​Ketika mendapati ruang tengah yang sunyi, Rena bisa bernapas lega. Sepeda motor Siska tidak ada di halaman, dan sandal jepit Bu Broto pun tidak terlihat di keset depan. Artinya, ibu mertua dan adik iparnya itu belum pulang dari agenda jalan-jalan mereka. Setidaknya untuk beberapa saat ke depan, telinga Rena tidak harus mendengarkan ocehan dan makian yang selalu merusak ketenangan jiwanya.

​"Dio sayang, ganti baju dulu ya, Nak. Habis itu Dio boleh main di kamar atau gambar-gambar lagi," ucap Rena lembut seraya mengusap rambut putranya.

​"Iya, Ibu. Ibu mau tidur?" tanya Dio polos melihat gurat kelelahan yang masih menggelayut di wajah ibunya.

​Rena mengangguk pelan sembari merebahkan tubuhnya di atas kasur kapuk yang sudah mulai menipis. "Ibu mau istirahat sebentar saja ya, Nak. Pegal semua badan Ibu."

​Rena memilih untuk beristirahat sebentar sebelum menyelesaikan pekerjaan rumah yang tersisa. Mengayuh sepeda ontel di bawah terik matahari dan menahan gejolak emosi sejak pagi tadi benar-benar menguras energinya. Namun, kedamaian di rumah itu ternyata hanya bertahan sekejap mata. Baru saja Rena memejamkan matanya dan hampir terlelap, suara pintu depan yang digebrak dengan kasar seketika mengejutkannya.

​Benar saja, itu adalah tanda kedatangan badai. Detik berikutnya, ibu mertuanya datang dengan ocehan yang tidak ada habisnya, langsung menggema memenuhi seisi rumah.

​"Rena! Rena! Mana sih ini orang? Jam segini malah tidur! Rumah berantakan begini, jemuran belum diangkat, lantai belum disapu lagi! Dasar menantu pemalas, kerjanya cuma tidur saja!" teriak Bu Broto dari ruang tengah, suaranya melengking tinggi, disusul oleh suara dentingan barang-barang yang sengaja digeser dengan kasar.

​Rena menghela napas panjang di dalam kamar. Jantungnya sempat berdegup kencang karena kaget, tetapi kali ini ada yang berbeda. Rasa takut dan sedih yang biasanya langsung menyergap, kini berganti menjadi rasa hambar. Rena melirik Dio yang langsung merapat ke sisinya dengan wajah cemas. Rena memeluk bahu anaknya, memberi isyarat agar Dio tidak perlu takut.

​Rena tetap berada di dalam kamarnya, tidak keluar sama sekali. Dia memeluk bantalnya erat-erat, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Dia sama sekali tidak berniat untuk bangkit, apalagi keluar kamar untuk meladeni ocehan ibu mertuanya yang tidak ada habisnya itu. Rena sudah tahu polanya, semakin dia keluar dan meminta maaf, maka Bu Broto akan semakin menjadi-jadi menindasnya.

​Biarkan saja, pikir Rena dalam hati. Kalau capek, pasti berhenti sendiri.

1
vania larasati
lanjut
Mefiani
kuat rena...sabar dulu suatu saat kebahagian akan datang kepadamu..💪💪
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!