Namaku Alia Sharlyn, aku adalah seorang siswi SMA. Hari ini di sekolahku kedatangan guru baru, yang sangat muda dan tampan.
Oh ya, kalian pasti tau bukan, bahwa jodoh itu sudah ada yang mengatur. Kalian gak akan menyangka, bahwa aku adalah wanita yang sgt beruntung bisa menikahi guru baru tersebut. Jika kalian penasaran dgn kisah cintaku, kalian bisa baca cerita ini sampai detail.
Aku fikir saat aku menikah muda dengannya, hidupku akan bahagia. Tapi ternyata aku salah. Dalam berumah tangga, banyak sekali ujiannya.
Pasti kalian gak akan percaya, jika aku mengatakan, aku menikah lagi di saat statusku masih menjadi istri dari guru yang mengajar di sekolahku.
Gila! Ya aku gila, tapi ini bukan rencanaku. Aku pun juga tak mau seperti ini. Lalu apa aku bisa mengelak dari takdir yang sudah di tetapkan padaku?
Kadang aku merasa takdir begitu kejam, aku ingin marah tapi kepada siapa? Kisah cintaku begitu rumit. Rumah tangga yang aku jalani juga tak kalah rumitnya. Haruskah aku menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evi Tamala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siap Berangkat
Setelah 20 menit menunggu akhirnya Kevin pun selesai juga, ia pergi ke kamar Alia. Di sana Alia juga sudah selesai berpakaian dan juga sudah siap semuanya. Alia hanya membawa tas kecil yang berisi hp, dompet, make up dan juga perlengkapan baju syari besera hijabya dan juga kaos kaki serta daleman (BH dan CD) juga.
"Sudah selesai dek?" tanya Kevin.
"Sudah bang." jawab Alia.
"Iya udah ayo." Kevin dan Alia pun pergi ke ruang tamu dimana Dimas menunggu. Melihat Alia dan Kevin datang, Dimas segera mematikan hp nya dan menaruhnya di saku celana.
"Sudah siap?" tanya Dimas.
"Siap berangkat." jawab Alia dan Kevin bersamaan.
"Sip. Ayo."
Mereka bertiga pun segera pergi, sebelum pergi, Kevin terlebih dahulu mengunci pintu rumahnya agar tidak kemalingan atau ada orang yang masuk tanpa izin. Setelah memastikan pintu terkunci semua, barulah mereka beranjak.
"Dek, kamu duduk didepan ya." ujar Kevin tersenyum.
"Kog di depan sih bang, aku di belakang aja, biar abang sama kak Dimas aja yang di depan." ucap Alia.
"Gak ah, aku lebih suka di belakang aja sambil tiduran." ujar Kevin padahal ia sengaja ingin di belakang karena tak ingin mengganggu mereka berdua.
"Sudahlah Al, kamu di depan aja biar Kevin yang di belakang." ucap Dimas.
"Tapi kak........"
"Kamu gak mau duduk di samping aku?" tanya Dimas.
"Bukan gitu kak tapi.....ya sudahlah. Aku yang duduk di depan." jawab Alia mengalah. Kevin pun tersenyu senang begitupun dengan Dimas.
Sepanjang jalan, Kevin sengaja gak mengungkit ungkit masalah Dimas dan kedua orang tuanya yang akan berkunjung ke rumahnya untuk melamar adeknya karena ia tak ingin membuat Dimas malu dan merasa tak nyaman. Sehingga Kevin memilih tidak tau apa apa walaupun dalam hati ia merasa geli sendiri.
Di sepanjang jalan, mereka bertiga memilih diam dan hanya berbicara seperlunya aja. Kevin sibuk dengan game nya dan Alia sibuk bikin cerita di Noveltoon. Sedangkan Dimas fokus menyetir dan hanya sesekali melihat ke arah Alia yang hari ini terlihat cantik dan imut. Bahkan ingin rasanya Dimas mencubit pipinya yang terlihat cubby itu namun ia tak punya keberanian untuk melakukannya karena ia sadar siapa dirinya dan ia masih belum berhak untuk menyentuh wanita yang belum halal untuknya walaupun itu hanya berpegangan tangan.
Jarak rumah Alia ke pantai tak terlalu jauh dan hanya memakan waktu 90 menit. Setelah sampai di pantai, Dimas pun segera memarkirkan mobilnya dan setelah itu mereka bertiga pun turus.
"Astagfirullah, aku lupa sesuatu." ujar Alia mengagetkan Dimas dan Kevin yang ada di sebelahnya.
"Ada apa sih dek?" tanya Kevin.
"Aku lupa beli cemilan. Gimana dong, aku juga lupa membawa karpet pantai dan yang lainnya." ucap Alia sedih.
"Gak perlu hawatir, aku sudah bawa semuanya. Lengkap, jika nanti kurang kita bisa beli di sekitaran sini." ujar Dimas tersenyum dan itu membuat Alia yang tadinya murung langsung ceria seketika.
"Ada dimana?" tanya Alia.
"Itu di bagasi. Ayo bantuin aku bawa." ujar Dimas. Kevin dan Alia pun mengangguk.
Kevin dan Alia pun membantu Dimas membawa barang barang dan setelah itu mereka berjalan ke arah dekat pantai dan menghamparkan karpet pantai di atas rumput hijau. Alia hanya membantu merapikannya dan menaruh barang barang itu di atas karpet.
"Bagus ya pemandangannya dari sini." ujar Alia.
"Iya, aku kalau lagi gak ada kerjaan dan kesepian pasti ke sini biasanya sih sore hari setelah pulang kerja. Aku gak suka kalau di bawah, banyak orang dan aku gak terlalu suka bising. Jadi aku milih tempat ini, memang jarang ada yang ke sini mengingat harus naik ke atas dulu. Mungkin mereka takut jatuh padahal disini itu enak dan pemandangannya pun cukup bagus." ucap Dimas.
"Kalau aku di suruh memilih, aku lebih suka di bawah karena bisa cuci mata apalagi ceweknya sexi sexi." ujar Kevin yang di tatap tajam oleh Alia.
"Oh gitu, mau aku bilangin mama. Mau?" Ancam Alia.
"Apaan sih, aku cuma bercanda. Ya udah aku ke sana dulu ya, cari hiburan. Kalian kalau mau disini, disini aja gak papa. Aku sebentar kog." ucap Kevin yang sengaja ingin memberikan waktu untuk mereka berdua ngobrol.
"Jangan deket deket ma cewek gak bener." ujar Alia.
"Siap bos." ucap Kevin, ia tau maksud cewek gak bener adalah cewek yang gak bisa menutup auratnya dan malah suka mengumbar umbar di depan banyak lelaki hanya karena ingin mendapatkan sebuah pujian. Alia memang tak suka jika kelak mempunyai kakak ipar yang genit dan gak menutup aurat. Alia berharap kelak kakak iparnya adalah wanita sholehah yang bisa menutup aurat dan faham akan agama agar kedua abangnya itu bisa mendapatkan kebahagiaan. Karena wanita yang sholehah setelah menikah maka ia akan menjadi istri yang sholehah dan istri yang sholehah tak akan pernah menyakiti suaminya, dia akan selalu tunduk dan menaruh hormat selama suaminya berada di jalan yang benar. Istri yang sholehah akan selalu membuat hati suaminya senang, tentram dan damai. Beda dengan wanita yang tak mengerti agama, suatu saat ia bisa menjadi istri yang membangkang. Untuk itu, Alia selalul mewanti wanti kedua abangnya agar hati hati dalam memilih pasangan terutama dirinya juga, yang harus pintar pintar dalam memilih calon suami karena Alia berharap kelak ia hanya menikah sekali seumur hidup untuk itu Alia tidak boleh tergesa tesa dan salah dalam mengambil keputusan atau salah dalam memilih pasangan hidup.
Setelah kepergian Kevin, Alia dan Dimas duduk santai sambil melihat ke arah pantai.
"Kamu senang di sini?" tanya Dimas.
"Seneng banget kak, terimakasih ya udah bawa aku ke sini." jawab Alia tersenyum.
"Terima kasih juga sudah mau menerima ajakan aku dan Kevin. Nanti uangnya aku transfer." ujar Dimas.
"Uang apa ya kak?" tanya Alia.
"Bukankah sekarang aku lagi membeli waktumu. Bukankah kamu yang bilang, perjamnya itu seratus ribu." jawab Dimas mengingatkan.
"Aih kakak mah, aku tuh cuma bercanda. Sudahlah tak perlu di bahas. Aku aja sudah seneng banget di bawa ke sini, masak iya aku masih minta bayaran." ucap Alia.
"Yakin gak mau di bayar?" tanya Dimas.
"Yakin banget kak, toh bentar lagi aku juga sudah jadi istri kakak kan? Yang artinya uang kakak, uangku juga." ujar Alia konyol.
"Kamu bilang itu, aku jadi gak sabar segera meminang kamu. Andai papa dan mama ada di sini mungkin nanti malam, aku akan membawa mereka ke rumahmu. Sayangnya mama dan papa masih ada urusan yang harus di selesaikan dan setelah itu baru mereka pulang. Aku benar benar gak sabaar untuk bisa menghalalkan kamu walau pun hanya nikah sirri tapi paling tidak, aku susah sah jadis suami kamu." ucap Dimas membayangkan betapa bahagia dirinya jika berhasil meminang wanita yang kini berada di sampingnya.
"Tapi ucapan kakak bisa aku pegang kan kalau kakak gak akan meminta hak kakak selama aku masih sekolah." ujar Alia.
"Iya kamu bisa pegang janji dan omongan kakak, kalau kakak gak akan pernah meminta hak kakak sebagai suami sampai kamu lulus sekolah dan kamu siap untuk memberikanna kepada kakak."
"Memberikan apa kak?" tanya Alia.
"Kehormatanmu hehe."
"Aih kakak, sudah nyampek ke sana aja fikirannya."
"Hehe tapi nanti kalau kita sudah halal, boleh kan aku memegang tangan kamu, sekedar peluk cium? Kan yang penting aku gak minta itu nya dulu." ujar Dimas.
"Iya deh, boleh."
"Asyiikkkkkkk....Ah jadi gak sabar nunggu mama dan papa pulang." ucap Dimas tersenyum. Sedangkan Alia juga ikut tersenyum melihat sikap Dimas yang seperti anak keciil.
Setelah cukup lama berbincang bincang, Kevin pun kembali. Dan mereka pun ngobrol bertiga lalu mereka makan makanan yang di bawa oleh Dimas.
Setelah jam menunjukkan pukul satu siang, mereka pun bergegas untuk membersihkan semuanya. Dan setelah itu membawanya ke mobil. Mereka bertiga memutuskan untuk pulang. Namun di perjalanan Kevin dan Dimas memutuskan untuk singgah di masjid dan menunaikan kewajiban mereka yaitu sholat dhuhur. Sedangkan Alia menunggu di dalam mobil karena dirinya yang masih halangan dan belum suci.
Setelah Dimas dan Kevin kembali, Dimas pun melanjutkan perjalanannya menuju resto miliknya dan mereka pun makan bersama. Selesai makan, Dimas mengantarkan Alia dan Kevin pulang sampai depan rumah. Sebenarnya Alia sedikit menyesal karena dirinya tidak main air padahal ia sudah menyiapkan semuanya di dalam tas tapi ia juga senang karena bisa mengobrol dengan Dimas sampai puas.
Setelah keperigan Dimas, Alia dan Kevin pun masuk rumah mereka segera membersihkan dirinya lalu tidur siang di kamar masing masing.
ȷძ mᥲᥣᥱ ᑲᥲᥴᥲᥒᥡᥲ🤧
orang ke gitu mah g bisa menghargai karya orang lain,dikira bikin novel itu gampang.
smngat thor jngn dengerin orang yg cuma bisa ngomong💪🏾💪
lha ini uniknya ilang karena lupa ingatan
kalaupun di balikin keunikan nya ga nyambung juga soalnya lupa ingatan dan di vonis ga bisa balik ingat lagi soalnya ingatan nya...
mungkin ini penyebab like mu menurun