Ashilla tidak pernah menyangka jika di hari itu ia harus merelakan masa lajangnya, menikah dengan sosok yang tidak pernah ia kenal sebelumnya hanya karena ancaman dari sang paman yang akan menghentikan pengobatan adiknya yang tengah berjuang dalam masa kritisnya.
Hidupnya hancur, semakin hancur ketika ia mengetahui fakta sebenarnya mengenai alasan mengapa laki-laki itu memilih menikahinya.
Mampukah Ashilla menjalani biduk rumah tangga yang jelas-jelas tidak ada kata cinta didalamnya?
IG : reinata_ramadani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Memaksakan Diri
°°°~Happy Reading~°°°
Damian menatap layar ponselnya dengan tatapan tak biasa. Shilla, perempuan yang biasanya sangat ingin diperhatikan itu kini tampak berbeda. Bahkan perempuan yang selalu menunggu kepulangannya kini terkesan tak lagi menginginkan kedatangannya.
Apa sikapnya keterlaluan? Apa mencampakkan perempuan itu berbulan-bulan lamanya terlalu menyakitkan?
Ahhhh, cukup Damian.
Dia hanya istri sirimu. Bahkan setelah melahirkan nanti, kamu juga akan menceraikannya, bukan?
Damian kembali berkutat dengan pekerjaannya. Ia berusaha membuang jauh-jauh segala pikiran buruknya. Masa bodoh dengan keadaan istri sirinya. Perempuan itu bukan apa-apa untuknya.
Sejenak laki-laki itu teralihkan. Kontrak triliunan rupiah itu pun telah berhasil ia bubuhkan tanda persetujuan. Hingga hati kecil itu kembali berbisik.
Aapa perempuan itu kini membencinya?
Membuat Damian sontak bangkit dari duduknya. Menyaut jas yang ia sampirkan di kursinya, laki-laki itu melangkah cepat meloloskan diri dari ruang kantornya.
"Cancle pertemuan hari ini."
Sekretaris itu termangu. Sudah berbulan-bulan lalu pertemuan itu dijadwalkan, dan laki-laki itu dengan seenak hati membatalkan?
Perjalanan yang biasa memakan waktu 3 jam kini terpangkas hanya 2 jam saat mobil itu melaju cepat membelah jalanan. Damian yang biasanya mempercayakan sang supir untuk mengemudi, kini bahkan berangkat seorang diri.
"Tuan--"
Carl dibuat tak percaya saat mendapati sosok Damian kini tengah melangkah cepat memasuki villa. Kapan laki-laki itu tiba? Apa Damian berkendara seorang diri tanpa ditemani sopir?
Damian tak sedikitpun memperdulikan panggilan sang asisten. Bola matanya hanya terfokus pada pintu kamar di lantai dua dimana sang istri biasanya mengistirahatkan diri.
"Shilla... ."
Ruang kamar itu tampak kosong. Bola matanya kemudian mengedar, menatap pada lambaian tirai yang tersapu oleh hembusan angin karena jendela yang dibuka lebar.
Damian kemudian melangkah mendekati jendela kamarnya.
Terlihat sosok perempuan dengan perut buncitnya kini tengah mengistirahatkan diri di atas kursi kayu dengan sesekali mengusap perutnya yang membuncit.
"Adek senang disini? Disini sangat segar bukan?"
Damian menghentikan langkahnya, memilih bersembunyi di balik tirai. Laki-laki itu seolah ingin tau, apa saja yang perempuan itu bisikkan pada calon anaknya.
Apa perempuan itu akan menjelek-jelekkan dirinya?
"Apa adek tau kalau ayah sangat tampan?"
"Ya, bunda berharap kamu akan seperti ayah. Pasti akan sama tampannya."
Damian mengernyit, apa maksud Shilla sebenarnya? Bukankah anak mereka perempuan?
"Adek semangat sekali kalau bunda cerita tentang ayah. Kalau bunda bercerita hal lain, adek ngga mau nendang-nendang. Bunda jadi sedih. Adek pilih kasih sama bunda."
"Adek kangen ayah ya?"
Hela nafas itu terdengar berat. Damian dapat mendengarnya dengan jelas.
"Adek sabar sebentar lagi ya. Ayah, mungkin masih sibuk. Nanti setelah pekerjaan ayah selesai, ayah pasti kesini lagi, heummm. Adek kan kesayangannya ayah."
Suaranya bergetar, dari balik tirai putih yang tipis itu Damian dapat melihat perempuan itu tengah mengusap wajahnya yang sepertinya basah akan isaknya.
Lama tak terdengar lagi suara sang istri, membuat Damian akhirnya keluar dari persembunyiannya. Laki-laki itu melangkah mendekati Shilla yang kini menatap kosong di kejauhan.
"Shilla... ."
Membuat perempuan itu sontak menoleh. Wajahnya berbinar, namun sekian detik kemudian perempuan itu tampak tak tertarik.
"Mas... ."
Perempuan itu memilih bangkit, kemudian mencium tangan sang suami penuh takzim. Bagaimanapun, Damian adalah suami yang harus ia hormati.
"Mas sejak kapan?"
"Baru saja." Laki-laki itu sedikit heran, biasanya Shilla akan langsung berlari merengkuhnya. Tapi kini, bahkan binar senyum itu tak lagi ia dapatkan.
"Katanya mas sibuk? Tidak apa-apa kalau mas tidak bisa kesini, tidak perlu memaksakan diri."
"Jadi kamu mengusir saya?"
"Bukan begitu. Shilla hanya takut mas kelelahan. Kalau mas sakit bagaimana?"
"Saya khawatir Shilla. Bagaimana dengan baby?"
Tangan besarnya kini bertengger di perut buncit Shilla. Seketika tendangan besar ia dapatkan. Membuat Shilla sedikit mengernyit. Sedikit sakit, tapi perempuan itu hanya terkejut. Tendangan sebelumnya tak pernah sekuat ini.
"Apa sakit? Dia menendang cukup keras." Damian tentu saja khawatir. Bahkan dulu--dua bulan lalu, tendangannya tak sekuat ini, hanya gerakan-gerakan kecil yang terasa menggelitik.
"Adek sepertinya senang ayah datang ya?" Senyum lebar itu akhirnya menyungging di bibir Shilla. Namun nyatanya, senyum itu bukan untuk Damian.
"Kita ke dalam saja. Anginnya sudah mulai dingin."
Damian menuntun Shilla untuk kembali ke kamar. Laki-laki itu kemudian mendudukkan Shilla di atas ranjang.
"Maaf, baru bisa kesini."
"Tidak apa-apa mas. Bukankah Shilla sudah katakan Shilla baik-baik saja?"
Bahkan nada bicaranya tak semanja dulu. Terkesan dingin dan tak perduli.
"Berkunjunglah jika mas benar-benar memiliki waktu luang. Jangan memaksakan diri."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕