Aku kira setelah, aku berhasil kabur dari sebuah desa yang sangat membingungkan dan penuh dengan keanehan hidupku akan lebih baik dan tidak mengalami hal-hal yang sangat membuatku takut tapi nyatanya aku salah besar, aku dan ketiga temanku malah terjebak kembali di sebuah desa tua yang lebih menakutkan dan mengerikan, yang paling aneh semua orang di desa itu menatap kami berempat dengan tatapan yang mengerikan, kecuali pada Erlangga mereka menatap Erlangga dengan senyum indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilmara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nayla
Aku yang sudah penasaran dan tidak tahan akan, tingkah orang-orang di desa ini dengan sangat terpaksa, keluar menyelinap di malam hari tanpa sepengetahuan siapapun.
Aku berjalan mengendap-endap keluar penginapan, sepertinya malam ini sedang berpihak padaku, jujur saja rasa takut pasti sangat aku rasakan.
Demi mengetahui semuanya aku terpaksa menyembunyikan rasa takutku yang telah hadir tanpa diminta pun.
"Siapa disana?" tanyaku pada diri sendiri saat melihat seperti beberapa orang yang sedang melintas di sebelah penginapan.
Dengan hati-hati aku mendekat ke tempat yang membuatku sangat penasaran.
"Au,..." ringisku saat tak sengaja menyandung batu yang entah sejak kapan terletak di sana, aku segera membungkam mulutku untuk tidak mengeluarkan suara lagi, aku hanya takut ketahuan dan orang-orang itu bisa menemukanku, aku tidak tahu nasibku jika mereka mengetahui diriku sedang bersembunyi di dekat pagar ini, karena apa? di desa aneh ini ada sebuah peraturan jika tidak ada tamu yang diperbolehkan keluar saat malam hari, aku juga tidak tahu kenapa ada peraturan seperti itu di desa ini.
Huh, itu sih terserah penghuni desa ini saja, mereka yang tinggal mereka juga yang merawat.
Aku merasa diriku sudah lebih aman, segera mengintip di balik pagar apa yang sedang terjadi di desa ini saat malam hari.
Betapa terkejutnya aku saat melihat dua orang yang sedang memakan daging kambing mentah.
Ralat itu bukan orang melainkan makhluk yang sangat begitu menyeramkan, tanpa tangan keduanya terus melahap daging kambing mentah itu degan sangat lahapnya, sedangkan aku yang melihat hal itu secara langsung, hanya bisa menahan mual yang sudah masuk ke dalam perut ku, bau amis langsung tercium diindar penciumanku.
Aku kembali dibuat terkaget dalam hati, kala ingin pergi dari tempat itu, aku benar melihat hal ini dengan nyata atau hanya halusinasiku saja? bagimana bisa kaki mereka tidak menempel dengan tahan.
Aku mencoba meyakinkan diriku, jika yang aku lihat saat ini hanyalah, khayalanku saja, tapi tidak nyatanya aku sudah berulangkali menoleh kakiku dan kaki mereka sangat berbeda aku hampir bisa menghentakan tanah dengan kuat menggunakan kakiku, sedangkan mereka benar-benar tidak menyentuh tanah sama sekali.
Mual yang kembali datang membautku haru cepat pergi dari tempat ini, aku hanya berharap satuhal saat ini, jangan sampai mereka mengetahui keberadaanku saat ini juga. Aku takut tubuhku akan disantap hidup-hidup juga dengan mereka, seperti nasib kambing malang tadi.
Aku terus melaflakan mantra dalam diriku. "Aku mohon jangan sampai aku ketahuan" itulah mantra yang sedari tadi aku laflakan.
"Huh" aku menarik nafas lega kalau sudah berada di dekat jendela kamarku, tanpa menunggu lama lagi aku segera masuk ke dalam kamarku agar merasa lebih aman.
"Argh....!" teriakku saat melihat seperti ada orang yang berdiri di depan jendela kamarku yang terbuat dari kaca.
Karena sudah sangat ketakutan aku menutup jendela dan hordeng jendelaku secepat kilat, sambil menutup mata ku, sungguh aku sama sekali tidak berani membuak mataku, jika membayangkan apa yang baru saja aku lihat, aku hanya berharap malam ini dan besok baik-baik saja, hanya itu yang saat ini aku inginkan.
Ketenangan yang sangat aku butuhkan saat ini. "Lebih baik aku segera tidur" gumunku.
Aku merasa tubuhku sudah sangat ketakutan dan bergetar hebat, karena tak kuasa untuk meneruskan langkahku, aku terpaksa duduk di sofa yang sudah di sediakan di kamar ku.
Lama aku melamun di sofa itu sambil memutar kembali otaku apa yang sudah terjadi akhir-akhir ini padaku.
"Huff" keluhku, aku tidak bisa berbuat apa-apa sekarang.
"Jika aku benar terjebak di alam yang berbeda dengan alam manusai, kenapa Arin dan Dika juga? lalu Erlangga?" aku bertanya-tanya pada diri sendiri apa yang sebenarnya sudah terjadi saat ini.
Kuputar kembali otakku saat berdua bersama Erlangga, aku mengingat sesuat jika saja aku membahas tentang hal-hal seperti tentang keberadan makhluk selain manusia pasti Erlangga akan selalu menolaknya.
Contohnya saja saat aku menceritakan yang sebenarnya tentang desa tempat tinggal paman dan bibi, dia selalu mengelak jika hal-hal seperti itu tidak ada.
"Ada apa sebenarnya?" tanya ku lagi, tentu saja pada diri sendiri, tidak ada siapa-siapa bukan disini selain aku seorang. Aku kembali mengulang pertanya yang sama. Kenapa aku meras bisa sekacau ini.
"Lalu Erlangga" gumumku saat terus memutar kenagan bersama Erlangga, seperti ada yang menganjal di dalam hati dan fikiranku.
Aku ingat satuhal saat akuengajaknya pergi dari desa yang sangat menyeramkan itu dia malah menatapku sendu dan sorot matanya yang dia tunjuka padaku seperti sorot mata orang yang sangat bersalah.
Lama aku merenugi semuanya sampai aku bosa karena tidak mendapatkan titik terang, yang ada hanya bayangan orang aneh di desa tadi yang sedang melapah daging kambil mentah tanpa rasa jijik.
Dengan langkah malas aku berjalan menuju tempat tidurku, untuk beristirahat sejenak, memberikan sedikit kesegaran pada diriku, agar menemukan titik terang dengan semua ini.
"Bagaimana aku bisa tertidur jika seperti ini" keluh ku, aku hanya bergulang-guling kesan kemari di atas kasurku, entah kenapa aku merasa sangat kurang nyaman.
Dengan usaha keras ku, akhirnya aku terlelap juga di dalam tidurku, ya walaupun hanya sebentar saja.
Aku rasa tadi aku tidur jam 02 : 30 dini hari baru bisa memejamkan kedua kelopak mataku dengan sempurna.
Aku sedari tadi tidak bisa tidur sama sekali, karena masih terbayang-bayang apa saja yang aku lihat di malam ini, terutama saat aku melihat seperti ada sesuatu yang berdiri tepat di depan kaca jendelaku tadi.
"Huh" aku mendengus kesal saat diriku tak kunjung menjemput alam mimpi.
Tapi saat pukul 2 : 30 dini haru sepertinya itu sangat membantuku, karena setelah itu aku merasakan kantuk yang sangat menyerang, sekali memejamkan mataku, aku sudah menjemput alam mpimpiku sendiri.
Walapaun saat aku tidur selalu melihat hal-hal aneh di dalam mimpiku, entahlah apa yang sebenarnya terjadi.