Pernikahan selama sepuluh tahun tidak bisa membuat dirinya mengandung walaupun dengan melakukan inseminasi buatan.
Karena keluarga suami yang menginginkan ahli waris akhirnya menyingkirkan dirinya dengan memberikannya sebuah perusahaan sebagai kompensasi perceraiannya dengan sang suami.
Bagaimana kelanjutan hidupnya setelah diceraikan oleh suaminya?
Apakah Nikita menemukan kembali cinta dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Chapter 28
Dokter siap membantu Nikita melakukan persalinan. Tuan Kenzo sedikitpun tidak ingin meninggalkan Nikita. Ia ingin melihat sendiri perjuangan Nikita melahirkan putranya.
"Apakah anda suaminya Tuan?" Tanya dokter Amanda.
"Iya dokter!"
"Nona Nikita, apakah anda sudah siap melahirkan putra anda?"
"Siap dokter!" Ujar Nikita menahan sakit yang sangat luar biasa.
"Ok, Dalam hitungan ketiga, anda harus mengejan!" Sekarang tarik nafas panjang lalu mengejan!" Titah dokter Amanda.
Kenzo mengecup bibir istrinya untuk memberikan kekuatan. Nikita memanjatkan doa untuk keselamatan putranya dan juga dirinya.
Dalam beberapa menit Nikita mengejan sekuat tenaga hingga darahnya sudah hampir habis karena wajahnya sudah berubah seperti mayat hidup. Ini sudah ketiga kalinya ia mengejan namun bayinya belum bisa diselamatkan.
"Kita coba sekali lagi ya nona!" Pinta dokter Amanda.
Setelah hampir satu setengah jam berjuang akhirnya Nikita bisa melahirkan juga putranya. Dokter langsung memperlihatkan jenis kelamin bayi Nikita kepada orang tua yang sedang berbahagia itu, namun Nikita ternyata pingsan.
"Nona Nikita!" Panggil dokter Amanda seraya memeriksa keadaan pasiennya.
"Ada apa dokter?" Tanya tuan Kenzo panik.
"Sepertinya istri anda mengalami pendarahan akut. Kami harus melakukan transfusi darah untuk menyelamatkan nyawanya." Ucap dokter Amanda lalu memerintahkan dua suster untuk mengambil kantong darah untuk pasien.
"Nikita sayang bertahanlah demi putra kita, dokter lakukan yang terbaik untuk istriku." Ucap tuan Kenzo sedih.
"Kami akan menangani pasien sesuai prosedur tuan Kenzo!" Ucap dokter Amanda menenangkan wali dari pasien.
"Tuan silahkan tunggu diluar supaya kami bisa mengurus istri anda!" Titah salah satu suster.
Tuan Kenzo meninggalkan ruang bersalin itu dengan langkah gontai. Wanita yang ia sayangi dan juga ia mulai benci karena sikap Nikita yang tidak bisa menunjukkan rasa keibuan pada bayi mereka.
Tuan Kenzo menghubungi asistennya dan menceritakan apa yang saat ini sedang terjadi pada istrinya.
"Tuan, sepertinya nyonya Nikita tidak pernah menunjukkan perasaannya pada anda karena gengsinya begitu tinggi.
Tapi jauh dari dalam hatinya, ia sangat mencintai bayi itu dengan membuktikan sendiri kepadamu, bagaimana ia sudah berjuang hingga ia pingsan bukan." Ucap asistennya.
Tapi, dia selalu keras kepala kepadaku dan dia tidak mempersiapkan semua pernak pernik untuk bayinya menjelang melahirkan."
"Bukankah suaminya sangat cepat tanggap dalam keadaan apapun. Dia tahu kamu akan memborong satu konter pakaian bayi yang ada di pasar raya, makanya dia tidak begitu mempedulikan hal-hal seperti itu."
"Tapi setidaknya, ia mengajak aku untuk membeli kebutuhan bayi kami."
"Sudahlah Tuan!" Semakin Anda menuntutnya menjadi istri yang sempurna di mata anda, nyonya Nikita makin tidak mengindahkan perkataan anda. Mungkin selama hamil, hormonnya tidak bisa mengendalikan prilakunya sebagai ibu yang bijak, apa lagi istri yang manis untuk anda."
"Dari tadi kamu selalu membelanya, seperti kamu sudah mengenal kepribadiannya lebih dulu daripadaku."
"Nona Nikita wanita yang baik, hanya saja masalalunya yang merubah dirinya menjadi seperti itu. Orang yang telah dilukai batinnya akan sulit bangkit untuk menerima cinta orang lain dalam hidupnya.
Nona Nikita butuh waktu yang cukup lama untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya. Dia juga harus banyak belajar sifat anda, dengan begitu ia akan lebih siap menghadapi anda dalam situasi apapun tuan Lorenzo."
"Baiklah terimakasih nasehatnya, mungkin aku belum siap untuk menerimanya lagi. Aku ingin membawa bayiku pulang ke Paris hari ini juga." Ucap tuan Kenzo serius.
"Apa maksudmu Tuan?" Mana mungkin anda tega memisahkan bayi itu dengan ibu kandungnya. Apakah anda tidak takut jika ada apa-apa dengan bayi itu, bagaimana anda mengatasinya tuan Kenzo?" Tanya asistennya dengan perasaan kuatir.
"Aku lebih tahu apa yang harus aku lakukan kepada bayiku." Maaf, aku mau melihat bayiku dulu." Ucap tuan Kenzo mengakhiri perbincangannya dengan asistennya.
Seorang suster keluar dari ruang bersalin. Tuan Kenzo buru-buru menghampiri suster itu untuk menanyakan keberadaan bayinya karena dari lahir dia belum sempat melihat bayinya.
"Bagaimana dengan putraku suster?" Aku belum mendengar laporan kondisinya dari kalian." Tanya tuan Kenzo pada suster yang sempat membawa bayinya untuk dimandikan pasca dilahirkan oleh istrinya Nikita.
"Anda bisa ke ruang bayi tuan. Di sana ada suster yang akan menjelaskan kondisi putra anda." Ucap suster Rena.
"Baik suster terimakasih untuk informasinya." Tuan Kenzo berjalan cepat menuju ruang bayi karena belum sempat melihat wajah putranya.
Di ruang bayi, Kenzo ingin memberikan nama untuk sang putra karena ia sudah menyiapkan jauh-jauh hari. Ia menamakan bayinya yaitu Aldich yang artinya pemimpin yang bijaksana.
"Suster, saya ingin melihat bayi saya, bayi dari nona Nikita Celia." Ujar tuan Kenzo.
Suster itu membaca satu persatu nama ibu bayi yang ada di boks kaca itu. Dan putra Tuan Kenzo sedang menghisap jarinya sendiri.
"Tuan!" Ini bayi anda. Dari seluruh bayi di sini, bayi anda yang paling tampan dan paling tenang." Ucap suster Yana.
Kenzo menggendong bayinya dengan penuh kelembutan." Suster berapa berat dan panjang tubuh bayi saya?"
"Panjangnya sekitar 56cm dan beratnya sekitar 4kg. Mungkin bayinya terlalu besar membuat ibunya sulit melahirkannya. Semoga nona Nikita segera siuman dan bisa menyusui bayinya." Ucap Suster Yana.
"Aku tidak akan membiarkan bayiku disusui oleh wanita kejam itu. Daddy akan segera membawamu ke Perancis sayang karena ibu kandungmu tidak akan menyusuimu. Kita akan meninggalkannya." Ucap tuan Kenzo membatin.
Tuan Kenzo tidak main-main dengan ucapannya. Tanpa melihat lagi kondisi isterinya yang saat ini sedang berjuang hidup dan mati pasca melahirkan putranya, tuan Kenzo membawa pergi bayi Nikita ke Paris Perancis dengan pesawat jet pribadi miliknya.
Perlakuan tuan Kenzo ini membuat dokter Amanda dan beberapa suster hanya termangu mengetahui kekejaman tuan Kenzo pada Nikita.
Mereka tidak bisa berbuat apa-apa ketika melihat tuan Kenzo membawa bayi Nikita.
Setibanya di bandara, Kenzo menaiki pesawatnya dengan membawa bayi yang baru berumur satu hari itu.
Tidak lama berselang tuan Kenzo pergi, Meilan dan bibi Ijah menjenguk Nikita di rumah sakit. Meilan menanyakan keberadaan bayi Nikita namun suster hanya diam membisu.
"Suster, kami ingin melihat bayi nona Nikita." Pinta Meilan dengan wajah ceria dan juga penasaran.
"Suster kenapa kamu dia saja?" Bukankah bayi Nikita masih di sini?" Ibunya saja berada di ruang ICU, berarti bayinya masih di sini kan?" Tanya Meilan dengan nada gusar.
"Maaf nona!" Ayah dari bayi itu sudah membawanya pergi. Mungkin sekarang mereka sudah terbang ke luar negeri.
"Apa....?" Tidak mungkin suster. Tuan Kenzo sangat mencintai istrinya dan dia tidak mungkin melakukan hal yang sangat tercela seperti itu." Ujar Meilan sambil menggelengkan kepalanya karena tidak percaya dengan perbuatan Kenzo.
Meilan mencoba menghubungi ponsel Kenzo, namun tidak ada jawaban sama sekali. Air mata Meilan mengalir tanpa sadar. Ia merasa sangat sesak dengan apa yang terjadi kepada bos sekaligus sahabat dekatnya itu.
"Nikita!" Nasibmu sangat sial sayang. Sekarang kamu baru merasakan bagaimana murkanya tuan Kenzo jika sudah sangat terluka dengan ulahmu yang keras kepala dan egois." Ujar Meilan lalu jatuh lemas di bangku ruang tunggu pasien.
"Mbak Meilan, berarti kita tidak bisa melihat bayinya nona Nikita?" Tanya bibi Ijah.
"Bayinya sudah dibawa pergi bibi, bahkan bayi itu belum sempat mendapatkan ASI pertama dari ibunya." Meilan terisak.
"Apa yang harus kita jawab, jika nona Nikita sudah siuman mbak Mei?"
"Entahlah bibi, aku makin bingung menghadapi kedua orang itu." Meilan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Hatinya benar-benar terpukul dengan kejadian yang sangat mendadak ini.
"Harusnya nona Nikita itu bersyukur bisa memiliki keturunan setelah sekian lama tidak dikaruniai momongan ketika bersama tuan Aryo. Sekarang setelah mendapatkan suami tampan dan tajir dan bisa memberikannya keturunan, kelihatannya nona Nikita tidak begitu mencintai tuan Kenzo.
Mereka selalu saja bertengkar untuk hal-hal yang sepele dan anehnya, nona Nikita lebih cerewet dan keras kepala ketika menghadapi tuan Kenzo. Beda sekali saat bersama dengan tuan Aryo, nona Nikita lebih banyak mengalah dan terlihat tenang setiap kali tuan Aryo memperlakukan dirinya dengan buruk." Ucap bibi Ijah. pada Meilan.
Meilan menyimak cerita bibi Ijah mengenai sifat sahabatnya itu yang bertolak belakang dengan dua suami yang berbeda." Bibi Ijah, apakah sikap Nikita seperti itu karena hormon kehamilannya?" Tanya Meilan dengan wajah serius.
"Bisa jadi mbak Meilan. Bibi perhatikan semenjak nona nikita hamil, ia cenderung membenci tuan Kenzo, tapi saat jauh dengan tuan Kenzo, ia sangat merindukan suaminya itu seakan tidak ingin jauh dari tuan Kenzo." Ucap bibi Ijah yang sedikit mengerti bahwa sifat egois dan keras kepalanya Nikita hanya pengaruh kehamilannya saja.
"Nikita, apakah kamu akan berubah setelah melahirkan?" Bagaimana perasaanmu setelah mengetahui suamimu yang tampan dan tajir itu sudah membawa pergi putramu?" Meilan memijit pelipisnya karena sangat pusing dengan pertanyaannya sendiri.
Meilan memeriksa email yang masuk. Ia kemudian membaca satu persatu pesan dalam email itu. Betapa terkejutnya Meilan ketika membaca pesan dari Tuan Kenzo.
"Meilan, tolong sampaikan kepada Nikita, aku sudah mengirimkannya surat perceraian kami. Aku juga menerima sepuluh perusahaan aku yang ada di Indonesia sebagai hadiah karena ia telah melahirkan putraku yang sangat tampan. Dia lebih peduli harta ketimbang aku dan putraku. Terimakasih. Salam untuknya dan jangan berharap dia akan mendapatkan putranya." Tulis Kenzo dalam pesan email-nya