IG. suliani_cucu
Warning 18+
Kekurangan harta membuat Aldo rela menjadi pemuja Nyai Ratu, siluman ular hutan terlarang.
Semua terjadi karena sebuah penolakan yang terjadi saat Aldo ingin meminang kekasih hatinya, pak Didi bukan hanya menolak lamaran dari Aldo. Namun, dia menghina dan mencaci maki Aldo yang memang hanya orang biasa.
Akankah dia mendapatkan kebahagiaan dengan cara sesat yang dia tempuh?
Yuk kepoin kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemukan Mangsa
Aldo terlihat menepikan mobilnya, kemudian dia keluar dari dalam mobilnya dan menghampiri gadis muda yang sedang duduk seraya memasukkan botol bekas ke dalam karung tersebut.
Gadis muda tersebut nampak mendongakkan kepalanya ketika melihat Aldo yang kini berdiri tepat di hadapannya.
"Kakak mau apa? Mau membeli hasil aku memulung?" tanya gadis muda itu.
"Tidak, aku hanya ingin duduk dan bertanya kepada kamu. Boleh?" tanya Aldo.
"Sangat boleh, ini jalanan umum. Aku tidak berhak melarang Kakak," jawab gadis itu seraya terkekeh
Aldo tersenyum kala mendengar penuturan dari gadis itu, kemudian dia duduk tepat di sampingnya.
"Sudah lama mulung?" tanya Aldo.
"Lumayan lama, sejak lulus SD." Gadis itu menjawab tanpa menoleh ke arah Aldo.
"Kenapa harus mulung diusia yang masih sangat kecil?" tanya Aldo.
Untuk sesaat gadis itu terlihat menghentikan aktivitasnya, kemudian dia menolehkan kepalanya ke arah Aldo.
"Karena hidup itu tidak gratis, perlu biaya yang banyak. Aku harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupku dan juga kebutuhan adikku," kata gadis itu.
Aldo terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.
"Sepertinya kamu sangat lelah, apa kamu sudah sarapan?" tanya Aldo.
"Belum, aku masih mengumpulkan barang bekas ini untuk dijual. Nanti kalau sudah banyak, barulah aku bisa membeli makanan," kata gadis itu.
"Bagaimana kalau aku membelikan dua porsi makanan untuk kita sarapan? Kebetulan aku pun belum sarapan," tawar Aldo.
Gadis itu kembali terdiam, dia masih memandang wajah Aldo dengan lekat.
"Kenapa Kakak mau membelikan aku makanan? Padahal kita tidak saling mengenal, bukan?" tanya gadis itu.
"Karena ingin," jawab Aldo singkat.
Karena merasa lapar, tanpa pikir panjang gadis itu pun langsung menganggukkan kepalanya.
"Baiklah! Aku mau, aku tunggu di sini sambil mengemas barang-barang bekas yang sudah aku pungut," kata gadis itu.
"Baiklah! Tunggu di sini, aku akan membelikan dua porsi makanan untuk kita sarapan," kata Aldo.
"Hem," jawab gadis itu.
Aldo tersenyum manis, lalu dia melangkahkan kakinya menuju warung nasi padang yang berada tidak jauh dari sana.
"Uda, nasi bungkusnya dua. Pakai ayam goreng sama sambel dan lalapan," pesan Aldo.
"Iya, Kak. Tunggu sebentar, saya akan siapkan."
Hanya menunggu delapan menit saja dua bungkus nasi pesanan Aldo sudah siap, Aldo langsung membayarnya dan langsung pergi untuk menghampiri gadis itu.
"Cuci tanganmu, kita makan dulu." Aldo memberikan satu bungkus nasi kepada gadis itu.
"Terima kasih, Kak." Gadis itu nampak mencuci tangannya lalu mulai makan.
Terlihat sekali jika dia sangat kelaparan, hanya dalam waktu sebentar saja gadis itu sudah menghabiskan makanannya.
"Kenyang tidak?" tanya Aldo.
Bukannya menjawab, gadis itu malah terlihat memamerkan deretan gigi putihnya. Aldo tertawa, lalu dia memberikan makanan miliknya.
"Makanlah lagi, aku akan membelikan air mineral untuk kamu," kata Aldo.
"He'em," jawab gadis itu.
Gadis itu langsung melahap nasi bungkus milik Aldo, sedangkan Aldo langsung membeli dua botol air mineral dan membeli kue getuk.
Karena di sana ada seorang ibu-ibu yang terlihat menggelar dagangan berupa kue tradisional di pinggir jalan.
"Minumlah!" kata Aldo seraya menyodorkan sebotol air mineral.
"Terima kasih," kata gadis itu.
Gadis itu terlihat meminum air mineral yang disodorkan oleh Aldo, sedangkan Aldo terlihat memakan kue getuk yang sudah dia beli.
"Oh iya, nama kamu siapa?" tanya Aldo disela kunyahannya.
"Meli," jawab gadis itu sambil terus mengunyah.
"Sepertinya kamu membutuhkan banyak uang, aku bisa memberikannya. Asal kamu mau datang ke rumahku untuk bersih-bersih," kata Aldo.
Aldo sengaja berkata seperti itu agar gadis itu tidak curiga kalau Aldo ingin menumbalkan dirinya kepada Nyai Ratu.
"Memangnya Kakak mau memberikan pekerjaan kepadaku?" tanya Meli antusias.
"Ya, aku akan memberikan kamu banyak uang. Yang terpenting kamu harus ke rumah aku nanti malam selepas maghrib," kata Aldo.
Untuk sesaat Meli nampak terdiam, kenapa harus malam hari pikirnya. Kenapa tidak siang hari saja? Bukannya itu tidak wajar?
"Kenapa harus selepas maghrib?" tanya Meli.
"Karena aku ada di rumahnya selepas maghrib," jawab Aldo beralasan.
"Baiklah, aku mau. Tapi beneran, aku dikasih duit yang banyak, kan?" tanya Meli.
"Iya, pasti aku kasih uang banyak." Aldo berdiri lalu dia melangkahkan kakinya menuju mobilnya, dia mengambil segepok uang dan kembali menghampiri Meli.
"Ini uangnya banyak sekali, Kak. Ini asli?" tanya Meli.
Aldo terkekeh mendengar penuturan dari Meli, dia menyerahkan segepok uang tersebut ke pangkuan Meli.
Meli yang baru satu kali ini melihat uang yang begitu banyak, terlihat membuatkan matanya dengan sempurna.
"Ambillah! Itu uang untuk kamu, jumlahnya sepuluh juta." Meli tersenyum lebar.
"Ini gajiku selama berapa bulan, Kak?" tanya Meli.
"Pokoknya ambil saja, nanti aku akan memberi kamu uang lagi. Buat adik kamu juga, biar dia bisa sekolah dengan layak." Aldo tersenyum hangat.
"Ya ampun, Kakak baik sekali. Nanti malam aku pasti datang," kata Meli.
Aldo tersenyum senang karena akhirnya dia mendapatkan apa yang dia mau, tumbal perawan untuk Nyai Ratu.
Aldo sangat yakin jika Meli masih perawan, karena jika dilihat dari umurnya saja, anak itu terlihat baru berusia sekitar lima belas tahun.
"Oiya, kamu tinggal di mana?" tanya Aldo.
"Di sana, Kak. Di belakang gedung besar itu, di sana ada rusun kumuh. Di situlah aku tinggal dengan Arya, adik aku," jawab Meli.
"Ya, sekarang pulanglah. Jangan lupa untuk ke rumah Kakak nanti malam, di komplek permata. Nanti tanya saja sama pak Paijo di mana letak rumah Kak Aldo," kata Aldo.
"Siap, Kak Aldo." Meli memberi hormat.
Anak gadis itu terlihat sangat bahagia sekali mendapatkan uang yang begitu banyak, dia tidak tahu jika dirinya kini sedang menjadi incaran untuk di tumbalkan.
"Jangan lupa untuk datang, karena nanti Kakak akan memberikan kamu uang lagi dan juga beberapa baju yang layak untuk kamu dan juga Arya," kata Aldo.
"Siap, Kak! Pasti aku akan datang," kata Meli.
"Bagus! Kalau begitu Kakak pergi dulu," pamit Aldo.
Anak gadis itu terlihat merapikan semua barangnya, bahkan dia memasukkan uang yang Aldo kasih ke dalam karung tempat dia mencari nafkah. Lalu dia segera pulang ke rumahnya.
Berbeda dengan Aldo yang langsung melajukan mobilnya menuju pasar tradisional, karena dia ingin segera membeli perlengkapan untuk menghias kamar Nyai Ratu.
Dia juga ingin membeli beberapa bahan makanan yang sudah habis dan juga perlengkapan dapur lainnya.
"Tunggulah kehancuran kamu Reihan, tunggulah kehanncuran kamu tua bangka sialan!" kata Aldo seraya tertawa terbahak.
Dia sudah tidak sabar untuk melihat kehancuran dua pria tampan berbeda usia itu, dia sudah tidak sabar untuk melihat pak Didi mengemis harta di kakinya.
*
*
Masih berlanjut....
Selamat siang kesayangan, jangan bosan untuk selalu menunggu bab selanjutnya ya.