NovelToon NovelToon
Aku Lelah, Mas!

Aku Lelah, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Amie.H

Kehidupan yang tidak mudah harus aku jalani. Aku Nisya. wanita usia 29 tahun, seorang Ibu dari 3 orang anak. Awal pernikahan hidup kami baik-baik saja dengan ekonomi yang cukup. namun, setelah tiga tahun menikah dan gaji suami ku jauh lebih besar di banding sebelumnya, ia mulai berubah. Mabuk, judi hingga perselingkuhan mewarnai rumah tangga kami. Bahkan uang bulanan yang biasanya lebih dari cukup itu kini berubah menjadi serpihan kenangan. Ya.. Suamiku, Gani. Kini memberikan nafkah kepada kami dengan asal-asalan, bahkan tak jarang ia justru memberikan makian disaat aku meminta hak kami.
"Kerja kalau mau uang tuh, kerjaannya minta terus. Kamu gak tau kan kalau kerja itu capek, kamu taunya hanya minta saja!" selalu kata itu yang terucap.
Mulai dari situ, hidupku aku rubah. Aku tak ingin lagi berleha-leha. aku ingin merubah hidupku bagaimana pun caranya.
Mari ikuti kisah perjalanan aku mengubah hidupku kali ini😊

Fb : Adivahalwahasanah
Ig : @Adivahasanah
Tt : A.H Hasanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amie.H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

"Tentu saja Mas, aku nggak mungkin asal-asalan memberikan pendidikan untuk anak. Aku udah lama memikirkan kapan Adila harus mulai sekolah, kapan umur yang pas" kataku dengan mata berbinar.

"Alhamdulillah kalau begitu, nanti Mas akan usahakan biayanya. Kamu ngga perlu khawatir" kata Mas Gani. Aku tersenyum.

"Iya... Aku percaya!" jawabku.

Dalam perjalanan itu hanya ada kehangatan, Adila terus tersenyum sepanjang jalan. Bahkan sesekali dia menunjuk sebuah stand yang ingin ia coba.

"Ayah liat disana ada mochi, Kakak mau mochi" katanya menujuk salah satu stand mochi di bundaran perumahan tempat kami tinggal.

"Iya nanti kita beli ya pas arah pulang, sekarang kita kepasar dulu temani Bunda beli keperluan rumah" kata Mas Gani pada Adila yang langsung di jawab anggukkan.

"Ternyata di sini udah rame juga ya Mas" Kataku.

"Iya, kan aku udah bilang kalau di sini itu udah ramai. Mungkin emang pas di blok kita aja yang udah sepi" kata Mas Gani.

"Iya ya. Mungkin karna ini bukan perumahan baru kali ya Mas, ini kan perumahan lumayan lama juga. Terus mungkin pemiliknya juga sudah agak tua" jawabku.

"iya.. nah kalau didepan depan ini kayanya penghuninya masih agak muda, makanya masih banyak anak-anak kecil. Atau mungkin ini cucu-cucu dari pemilik rumah yang anaknya tinggal bareng" jawab Mas Gani. Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban.

Sambil bercengkrama, tak terasa kami sudah sampai di supermarket yang letaknya tidak begitu jauh dari perumahan.

"Alhamdulillah... Ternyata yang jauh itu keluar gerbang perumahannya, setelah keluar dari perumahan mah semuanya deket ya. Ada klinik, ada pasar, ada supermarket, ada juga minimarket" kataku yang di angguki Mas Gani.

"Iya Bun.. Mas juga baru tau kalau keluar dari perumahan lewat jalur depan itu sejauh itu, lumayan lah ya ada dua kilo meter mah" kata Mas Gani sambil memarkirkan motor di halaman supermarket.

"Iya Mas bener, nanti ke pasar parkirnya di sini dulu aja Mas. Kayanya lebih aman karna ada penjaganya" kataku.

"Iya, lagian ngga mungkin kita bawa-bawa belanjaan ke dalam pasarkan. Pasti berat, apalagi nanti kita bawa belanjaan dari pasar juga" kata Mas Gani.

"Iya Mas, Ayo masuk" kataku sambil menggandeng Adila.

"Ayah... Gendong" kata Adila yang sudah berada didepan Mas Gani.

"Yaampun, udah gede kok minta gendong sih" kata Mas Gani, namun tetap menggendong Adila yang memang sudah lumayan berat.

Kami langsung menuju stand frozen, tanpa membuang waktu. Aku memilih beberapa sosis dan naget kesukaan Adila, juga beberapa frozen food lainnya masing-masing satu bungkus.

"Sepertinya ini aja udah cukup Mas, malahan terlalu banyak" kataku pada Mas Gani yang membawa troli belanja dengan Adila didalamnya.

"Yasudah ayok kita ke kasir" kata Mas Gani sambil mendorong troli itu menuju kasir.

Setelah selesai berbelanja di supermarket, kami menuju pasar tradisional yang letaknya tepat berhadapan dengan supermarket itu.

"Kamu masuk sendiri berani ngga Bun? Ayah sama anak-anak tunggu di warung bakso itu, biar ngga kemalaman" kata Mas Gani. Aku terdiam sebentar.

"Boleh Mas, aku nggak lama kok. Beli beberapa lauk dan juga perbumbuan aja habis itu udahan, jangan lupa pesanin Bunda ya?" kataku sambil menyerahkan Hawa pada Mas Gani yang sudah siap menerima.

"Iya.. kaya biasakan pakai mie putih sama bawang goreng aja?" tanyanya, aku menganggukkan kepala sebagai jawaban.

"Hati-hati ya bun" kata Mas Gani ketika aku mulai melangkah memasuki pasar.

Di dalam pasar. aku membeli satu kilo ayam, satu kilo ikan mujair, satu kilo ikan lele, setengah kilo cumi-cumi, setengah kilo udang yang agak besar, satu kilo telur ayam, lima butir telur asin, satu kilo telur puyuh, setengah kilo cabai, dan satu kilo perbawangan. Tak lupa aku pun membeli bumbu dapur lengkap.

"Kayanya udah semua deh aku beli, untuk sayuran mendingan aku beli setiap hari aja di yang jualan nanti biar lebih fresh" gumamku sambil kembali mengecek barang belanjaanku.

Setelah di rasa semua lengkap, aku kembali menghampiri suami dan kedua anakku. Dalam waktu empat puluh lima menit, aku kembali. Disana, Adila tengah menikmati bakso yang hampir habis. Sementara Mas Gani masih menggendong Hawa yang tertidur di pangkuannya.

"Huh... Capek juga belanja buat stok kaya gini ya, biasanya juga nyetok tapi ngga secapek ini" kataku di hadapan Mas Gani.

"Mungkin karna hari ini kita sudah full beberes setelah pindahan Bun.. Makanya capeknya berasa berkali-kali lipat" kata Mas Gani.

"Bener juga... Eh, kamu udah makannya Mas?" tanyaku yang tidak melihat ada mangkuk di hadapan Mas Gani.

"Belum.. aku baru pesan untuk Adila aja, nunggu kamu lah. Kan ngga tau seberapa lama kelarnya" kata Mas Gani.

"Yaudah kalau gitu aku pesen ya, kamu kaya biasa kan?" tanyaku yang dijawab anggukan oleh Mas Gani. Aku pun memesan dua porsi bakso yang satu campur yang satunya sesuai selera aku, tak sampai sepuluh menit bakso pun terhidang. Aku dan Mas Gani menikmati makanan kami dengan Hawa yang masih dalam pangkuan Mas Gani.

"Ayah nanti kita jadi kan beli mochi pulangnya?" tanya Adila. Mas Gani yang tengah mengunyah makanan pun menganggukkan kepala.

"Iya nanti kita beli" jawab Mas Gani setelah berhasil menelan makanannya.

Lima belas menit kami pun selesai makan, tepat pukul setengah sembilan kami melaju pulang. Sebelum sampai rumah, kami mampir di bundaran perumahan. Ternyata semakin malam justru semakin ramai pedagang.

"Banyak banget tukang jajannya ya?" kataku yang juga di angguki Mas Gani.

"Iyaa Bun... Ramai banget, kaya pasat BKT itu ya jadinya?" kata Mas Gani.

"Iya loh Mas, ini sih kalau ngga masak gampang aja cari makanan ya" kataku dengan senyum mengembang.

"Iya. tuh liat disana ada nasi padang, ada sate, ada ketoprak, ada nasi goreng, bakso... Lengkap bun" kata Mas Gani membuatku menganggukkan kepala.

"Ayah... Itu penjual mochi nya, ayo kesana yah..." kata Adila dengan semangat. Kami pun menghampiri penjual itu dan melihat list harga yang terpampang jelas di sebelahnya. Ternyata harganya sudah perpaket dan tidak dijual satuan.

"Harganya lima belas ribu untuk empat pich ini kak" kataku pada Adila.

"Nggak apa-apa kan Ayah? Empat pich kan bisa buat besok juga, tinggal taruh di kulkas" kata Adila yang di angguki Mas Gani.

"Iya boleh.. Bun, beli ya..." kata Mas Gani memberikan uang pribadi nya padaku.

"Kalau begitu kita beli dua pack ya, ini satu pack uangnya dari Ayah nah Bunda juga belu satu pack. Jadi kita bisa taruh di kulkas buat stok, gimana?" kataku membuat Adila senyum dengan mata berbinar.

"Mau banget Bun... Makasih ya Bunda" kata Adila yang langsung memilih rasa mochi kesukaannya.

"Udah ya.. Kita campur aja" kataku yang pada akhirnya di angguki Adila.

Setelah selesai membeli mochi, tak lupa aku mampir membeli kue pancong kesukaanku dan Mas Gani semenjak kami pacaran.

Setelah selesai membeli dua makanan itu, kami kembali kerumah. Sampai rumah, aku meletakkan belanjaan itu di dapur dan membaringkan Hawa yang sudah tertidur di dalam kamar.

"Kakak, cuci tangan cuci kaki dan sikat gigi ya kalau udah selesai?" kataku pada Adila yang tengah memakan satu mochi coklat.

"Iya Bunda..." jawabnya setelah menghabiskan satu mochi itu, kemudian ia pun berjalan menuju kamar mandi di bagian belakang yang berdekatan dengan dapur.

Sambil membereskan belanjaan, aku memperhatikan bagaimana dia cuci tangan dan juga menyikat giginya.

"Mana Adila Bun?" tanya Mas Gani yang sudah berada di sampingku.

"Itu lagi sikat gigi, Hawa udah pules tidurnya?" tanyaku sambil menyiapkan tupperware untuk tempat di dalam kulkas.

"Ini mau kamu cuci langsung Bun?" tanya Mas Gani.

"Iya Mas, biar langsung bersih taruh dikulkas. Tadi aku juga udah beli jeruk nipis buat marinasi ini supaya bau nya seger" kataku.

"Aku bantu ya? Kamu bersihin itu di wastafel, aku bersihin di kamar mandi. Biar cepat dan kita bisa langsung istirahat" kata Mas Gani. Aku tersenyum.

"Iya Mas. Makasih ya..." kataku.

"Ayah.. Bunda... Aku udah selesai cuci tangan sama sikat giginya, aku tidur ya?" kata Adila.

"Iya sayang... Kamarnya udah dingin kok, tadi Ayah udah nyalahin Ac nya. Kamu tidur sendiri nggak apa-apa kan? Ayah bantuin Bunda dulu bersihin belanjaan" kata Mas Gani.

"Nggak apa-apa Ayah, tapi pintunya aku buka ya? Kakak belum berani tidur sendiri" kata Adila membuatku dan Mas Gani terkekeh kecil.

"Iya nggak apa-apa kok, buka aja pintunya. Nanti kalau udah selesai Ayah temani kakak kok" kataku.

"Aku tidur ya Ayah.. Bunda" katanya sambil berlalu menuju kamarnya sendiri.

"udah besar anak kita ya Bun..."

Bersambuungggggg

****

Haalooo... Ayo dukung novel ku ya guys, aku butuh support kalian semua. Aku nggak masalah view tiap harinya sedikit asal terus berkembang, di banding view stuk di minim. Jujur, itu sangat menyakiti hati penulis seperti outhor😊🙏

1
Jetva
perasaan lia baru masuk SMA..koq udah kuliah..??
AH. HASANAH
Kuat ya kak💪🙏
Jetva
papaq hanya 3 bln melihat cucunya ...beliau meninggalkan dunia ini saat anakq berusia 3 bln....klo mamaq lebih lama..hingga anakq lulus SMA...
AH. HASANAH
Kalau langsung, tamat dong ceritanya kak hehehe😄
falea sezi
cerai sat sset 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!