5 perempuan dengan keturunan setengah Dewa Dewi yang sangat kuat dan darah mereka yang mengalir dengan kekuatan yang melumpuhkan dan petualangan yang akan mereka hadapi di negeri ajaib Euthopia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bsf10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Makhluk Bayangan
Pekikan makhluk-makhluk bayangan itu membelah kesunyian Jembatan Cahaya, menciptakan resonansi statis yang menyakitkan telinga. Retakan ungu gelap di langit semakin melebar, memuntahkan ribuan pelopor pasukan Kronos yang haus akan energi murni. Namun, kelima putri tidak lagi gemetar. Mereka berdiri di pusat paviliun kristal, membentuk formasi pentagram yang sempurna.
Vera melangkah ke garis paling depan, menghantamkan perisai Aegis miliknya ke lantai jembatan. "Kalian tidak akan melewati fondasiku!" teriaknya. Dari bawah kakinya, gelombang energi cokelat keemasan merambat cepat. Di bawah kendali warisan Hades dan Hephaestus, batu-batu kristal jembatan itu bermutasi menjadi duri-duri obsidian setajam silet yang mencuat ke udara, menusuk musuh-musuh yang mencoba mendarat.
Olivia segera menyusul, mengangkat tangannya yang bercahaya hijau zamrud. "Darah Demeter memanggil kehidupan di tengah kehampaan!" Akar-akar pohon raksasa yang diperkuat energi Gaia merambat keluar dari celah-celah obsidian Vera.
Akar itu melilit musuh-musuh asap tersebut, menghisap esensi kegelapan mereka dan mengubahnya menjadi bunga-bunga putih yang mekar di sepanjang jembatan, menetralkan racun The Blight.
Melihat musuh mulai tertahan di darat, Rachel menarik busur peraknya hingga melengkung sempurna. "Angin Aeolus dan amukan Poseidon, pinjamkan aku kekuatanmu!" Ia melepaskan satu panah yang kemudian membelah diri menjadi ribuan anak panah air yang berputar seperti tornado.
Setiap anak panah yang mengenai musuh meledak dalam tekanan air yang dahsyat, membuyarkan wujud asap mereka menjadi uap tak berdaya.
Luna terbang melayang di sisi Rachel, matanya bersinar biru sedingin kutub. "Jangan biarkan mereka menyatu kembali! Khione, bekukan mereka dalam keabadian!"
Dengan lambaian tangannya, Luna menciptakan badai salju mikroskopis yang menyelimuti uap-uap sisa musuh yang dihancurkan Rachel. Seketika, ribuan pelopor kegelapan itu membeku menjadi patung-patung es yang jatuh hancur berkeping-keping sebelum sempat mencapai paviliun.
Melihat pasukan garis depan mulai lumpuh, Azzura terbang tinggi menuju pusat retakan dimensi yang menganga. Ia mengangkat tongkat Aether-nya, memanggil seluruh garis keturunan Zeus dan Apollo.
"Cukup sudah kegelapan ini! Langit adalah wilayahku!"
Kilat biru raksasa menyambar dari puncak menara Ignis-Aetheria, langsung menuju tubuh Azzura. Ia menjadi pusat badai listrik yang menyilaukan. "Teman-teman, salurkan semua energi kalian padaku! Sekarang!"
Vera mengirimkan getaran bumi, Olivia menyalurkan vitalitas alam, Rachel memberikan dorongan badai, dan Luna memberikan stabilitas suhu. Energi empat elemen itu menyatu dalam tongkat Azzura, menciptakan laser cahaya murni yang berpendar dalam warna pelangi yang sangat pekat.
"PENYUCIAN MAGEIA!"
Azzura menembakkan laser itu tepat ke jantung retakan ungu tersebut. Terjadi ledakan frekuensi tinggi yang membuat seluruh Jembatan Cahaya bergetar hebat. Cahaya suci itu membakar habis asap kegelapan dan mulai "menjahit" kembali robekan dimensi dengan benang-benang listrik emas.
BOOM!
Retakan itu meledak dalam sunyi, lalu perlahan menutup sepenuhnya, meninggalkan langit Jembatan Cahaya kembali jernih dengan bintang-bintang yang berpendar damai.
Azzura mendarat perlahan dengan napas tersengal-sengal, disambut oleh keempat sahabatnya. Mereka semua tampak kelelahan, namun kekuatan dewa-dewi dalam diri mereka kini terasa jauh lebih stabil dan menyatu.
"Retakannya hilang," bisik Olivia sambil melihat bunga-bunga di jembatan yang kini mulai bercahaya lembut.
"Tapi ini baru permulaan," sahut Vera, sambil menyeka debu logam dari perisainya. "Mereka tahu kita di sini. Mereka tahu pintu menuju kerajaan kita sudah terbuka."
Azzura menatap teman-temannya satu per satu, lalu melihat ke arah lima kerajaan yang menjulang di kejauhan. "Kita butuh tempat tinggal permanen di sini. Jembatan ini butuh benteng. Kita akan membangun Euthopia di titik ini, tempat di mana tidak ada satu pun kegelapan yang bisa lewat."
Pekikan makhluk-makhluk bayangan itu belum sepenuhnya mereda. Bahkan saat retakan mulai “dijahit”, sisa-sisa energi kegelapan berdenyut seperti jantung yang menolak mati.
Azzura masih melayang, napasnya berat. “Belum selesai…” gumamnya pelan, matanya menyipit menatap titik retakan yang hampir tertutup.
“Jangan bilang—” Rachel menggertakkan gigi.
TIBA-TIBA
Retakan yang hampir sembuh itu berdenyut sekali lagi.
CRACK!
Sebuah tangan raksasa berwarna ungu gelap menerobos keluar, mencengkeram tepi langit seperti kain yang ingin disobek kembali.
“Ah, bagus…” suara berat bergema, dalam, berlapis, seolah berasal dari banyak dimensi sekaligus. “Kalian… lebih kuat dari perkiraan.”
Luna langsung mundur setengah langkah. “Itu bukan pasukan biasa… itu inti kesadaran mereka.”
Vera menghantamkan perisainya sekali lagi ke tanah. “Kalau itu otaknya, kita hancurkan di sini juga!”
“Jangan gegabah!” Olivia menahan. “Energinya tidak stabil—itu seperti… parasit dimensi!”
Makhluk itu mulai keluar perlahan. Tubuhnya tidak utuh—setengah asap, setengah kristal retak, dengan mata seperti lubang gravitasi.
“Aku adalah Vanguard dari Kronos…” katanya, suaranya menusuk kepala. “Kalian… hanya anak-anak dewa yang bermain perang.”
Rachel menarik panah lagi, tapi tangannya sedikit gemetar. “Mainan atau tidak, kita yang sudah menutup gerbangmu.”
Makhluk itu tertawa—suara yang seperti memecahkan kaca.
“Gerbang? Itu hanya celah kecil. Yang sebenarnya… sedang menunggu.”
Azzura turun perlahan ke tanah, berdiri sejajar dengan yang lain. “Kita tidak akan membiarkanmu kembali membuka itu.”
“‘Kita’?” makhluk itu memiringkan kepalanya. “Kalian bahkan belum selaras.”
Kelima putri saling melirik.
Itu benar.
Mereka kuat… tapi belum benar-benar satu.
Makhluk itu mengangkat tangannya. Energi kegelapan berkumpul menjadi bola yang berdenyut liar.
“Biarkan aku tunjukkan… bagaimana kekacauan memakan kerja sama.”
BOOM!
Energi itu ditembakkan ke arah mereka.
“BUBAR!” teriak Vera.
Mereka menyebar—namun ledakan itu tidak meledak secara biasa. Energi itu pecah menjadi serpihan-serpihan kecil yang mengejar masing-masing dari mereka.
“Apa ini?!” Rachel berteriak sambil menghindar.
“Energi pemburu!” Luna menjawab cepat. “Dia mengunci kita satu per satu!”
“Kalau kita terpencar, kita kalah,” Olivia berkata cepat. “Kita harus tetap terhubung!”
“Gimana caranya kalau kita lagi dikejar?!” Rachel membalas.
Azzura menutup mata sejenak. “Dengarkan aku.”
“Sekarang bukan waktu meditasi!” Vera protes.
“Percaya. Sekali ini saja—diam.”
Nada suara Azzura berubah. Lebih dalam. Lebih… tegas.
Anehnya, semua langsung terdiam, meski masih bergerak menghindar.
“Energi kita tadi… masih tersisa,” lanjut Azzura. “Kita tidak perlu serangan besar lagi. Kita butuh sinkronisasi.”
Luna langsung mengerti lebih dulu. “Frekuensi…”
Olivia mengangguk. “Resonansi elemen…”
Rachel menghembuskan napas. “Oke… jadi kita bukan menyerang—kita menyatu?”
Vera menyeringai kecil. “Akhirnya masuk akal.”
Makhluk itu memperhatikan, sedikit tertarik. “Menarik. Kalian mencoba berkembang… di tengah pertempuran.”
Azzura membuka mata—berkilau terang.
“Formasi kedua,” katanya.