Perjuangan seorang wanita sederhana, yang bersuamikan seorang direktur sebuah perusahaan besar, penampilannya yang sangat sederhana dan termasuk ketinggalan jaman, membuat sang suami menjauhinya, sang suami yang selalu menghina dan membanding-bandingkan fisik istrinya dengan pacar-pacar nya yang dulu.
akankan perjuangan seorang Berliantina Febrianti berhasil merebut hati sang suami untuk mencintainya?
kisah yang penuh lika liku dan perjuangan seorang istri yang dianggap hina oleh sang suami.
HAPPY READING💖💖💖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LichaLika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlian dalam lumpur
Zain tengah menemani Zoya berbelanja dan jalan-jalan, Zain mengajak adiknya itu jalan-jalan sepuasnya, hingga akhirnya Zoya memberanikan diri untuk bertanya kepada kakaknya itu.
"bang...Zoya boleh nanya sesuatu nggak?" tanya Zoya
"hm...apa yang ingin kau tanyakan adikku?" tanya Zain sembari menyetir mobilnya.
"bang Zain jatuh cinta sama mbak Lian? aku lihat akhir-akhir ini kalian berdua mesra sekali, padahal dulu abang benci banget kan sama mbak Lian!" seru Zoya sembari menatap wajah kakaknya.
"Zoya...entah kenapa abang sangat nyaman bila berada disamping mbak Lian, memang abang tidak bisa pungkiri, dulu abang sangat membencinya, bahkan abang jijik melihat wajahnya, namun tidak semua orang harus terima dipandang buruk oleh orang lain, apalagi abang adalah suaminya, mbak Lian berusaha menunjukkan kilauan berlian yang sebenarnya, mata abang telah tertutup selama ini, abang tidak menyadari bahwa berlian dalam lumpur itu, ternyata memiliki kilauan yang sangat indah, mbak Lian adalah permata abang, dan dia akan selalu bersinar menerangi hidup abang" ucap Zain penuh perasaan.
Zoya melihat ekspresi Zain yang begitu bahagia saat membicarakan Lian, entah kenapa Zoya merasa abangnya telah menemukan cinta sejatinya, Zoya sendiri pasti tahu bahwa sang kakak adalah seorang players, dan pastinya seorang players akan mudah begitu saja melupakan wanitanya, tap tidak untuk Zain yang sekarang, Zoya melihat keseriusan dimata kakaknya.
"bang Zain benar-benar mencintai mbak Lian?" tanya Zoya sekali lagi.
Zain tersenyum pada adiknya.
"abang sangat mencintainya" jawab Zain dengan wajah yang berbinar.
"lalu...bagaimana dengan mbak Terry?" tanya Zoya secara tiba-tiba.
"bagiku Terry adalah masa lalu, yang tak perlu abang ingat, abang sudah bahagia dengan mbak Lian, sudah kamu jangan membicarakan tentang dia lagi, abang sudah memecatnya dari kantor" seru Zain
"apa? abang memecat mbak Terry, bang...abang sadar nggak sih dengan yang abang lakukan?" seru Zoya khawatir.
"apa abang harus mempertahankan orang yang sudah mencoba menghancurkan perusahaan abang, yang benar saja, dia sudah membuat perusahaan abang rugi, kamu tahu tidak, kalau saja mbak Lian tidak mengetahui rencana Terry, entah apa yang akan terjadi pada perusahaan kita, dan tentunya kamu tidak akan bisa bershopping ria seperti ini" ucap Zain kesal mengingat perbuatan Terry terhadap perusahaannya.
Zoya tertunduk, namun tak bisa dipungkiri ada kecemasan pada Zoya.
"abang telah memecat mbak Terry, secara tidak langsung abang sudah menegakkan bendera perang dengan mas Andi" seru Zoya mengingatkan.
"abang tahu sendiri kan, mas Andi itu seperti apa, ia tak akan berhenti membuat keluarga kita gelisah, mas Andi masih menyimpan dendam dengan keluarga kita bang" ucap Zoya.
"bang Zain masih ingat! bagaimana perlakuan mas Andi kepada mbak Brenda, dia sengaja pergi meninggalkan mbak Brenda, dan kemudian menikah dengan mantan kekasihnya, mas Andi hanya ingin menyakiti mbak Brenda, hanya karena dendam mas Andi kepada mami" seru Zoya mengingat perlakuan Andi, mantan suami Brenda
"Zoya tidak mau bang, mas Andi menghancurkan keluarga kita, maka dari itu Zoya mendukung hubungan bang Zain dan mbak Terry, agar dendam mas Andi menjadi luntur, jika bang Zain membahagiakan mbak Terry, maka tentu saja mas Andi tidak akan menaruh dendam lagi pada keluarga kita, mas Andi sangat menyayangi mbak Terry, hanya mbak Terry yang mampu meluluhkan hati mas Andi" ungkap Zoya
Zain menghela nafasnya, sejenak ia memandang wajah sang adik yang tampak gelisah.
"kamu tidak usah khawatir, abang pasti bisa menghadapinya, abang sudah memutuskan untuk memulai hidup abang bersama mbak Lian, Zoya...abang tahu kekhawatiran mu, abang yakin dengan bersama mbak Lian, abang pasti mampu melewati segala cobaan, termasuk dendam mas Andi" ucap Zain mencoba meyakinkan adiknya.
Hingga akhirnya tibalah mereka di rumah, sejenak Lian melihat mobil suaminya terparkir di halaman rumah, sedangkan ia masih menemani Rosa yoga.
setelah beberapa saat Zain dan Zoya masuk ke dalam rumah mewah mereka, Zoya langsung masuk ke kamarnya, sedangkan Zain mulai naik keatas dan mencari istrinya.
"sayang...kamu dimana?"
"kok sepi"
Zain mencari keberadaan Lian yang tak terlihat didalam kamar, kemudian tak sengaja ia melihat ruang tengah yang nampak terdengar ada orang yang sedang berbincang-bincang.
Zain perlahan berjalan kearah ruang tengah, dilihatnya Rosa dan Lian tengah melakukan yoga yang dituntun oleh seorang instruktur handal.
Zain memperhatikan istrinya yang sedang konsentrasi mengikuti sang instruktur, Zain tersenyum berdiri dengan menyandarkan tubuhnya pada dinding sembari menyilangkan kedua tangannya.
Setelah membuang nafas, Lian menyadari bahwa Zain tengah memperhatikannya, Zain tersenyum menggoda, membuat Lian salah tingkah.
Zain mengisyaratkan kepada Lian agar ia segera menyudahi aktivitas nya, namun Lian menolak dengan menggelengkan kepalanya, dan tanpa sengaja Rosa melihat tingkah Lian yang aneh.
"Lian, kamu kenapa sayang, ayo konsentrasi" seru Rosa.
"i...iya mam, oh ya mam, masih lama nggak sih" tanya Lian
"sebentar, tinggal 10 menit" ucap Rosa tersenyum.
"oh...iya" ucap Lian sembari melihat keberadaan Zain, namun sayang Zain sudah tak nampak disana lagi.
"mas Zain kemana, apa dia marah?" gumam Lian
Hingga akhirnya Lian dan Rosa selesai melakukan yoga.
"baiklah Lian, untuk hari ini mami senang sekali kamu sudah mau menemani mami" ucap Rosa senang.
"iya Mam, Lian juga senang, kalau begitu Lian pergi dulu ke kamar" pamit Lian kepada ibu mertuanya.
dan Rosa pun tersenyum.
"pergilah"
******
Hingga akhirnya Lian sampai di kamar pribadinya, ia membuka pintu dan mencoba mencari keberadaan Zain.
"mas...kamu dimana?...mas?" seru Lian memanggil nama suaminya, namun tak ada jawaban dari Zain.
"mungkin saja dia masih diluar hm" pikir Lian sembari menghela nafasnya.
Akhirnya Lian memutuskan untuk pergi mandi, karena badannya lengket oleh keringat setelah aktivitas yoga tadi.
Lian dengan santai masuk ke dalam kamar mandi, ia mulai menutup pintu dan kemudian menanggalkan pakaian olah ratanya satu persatu, tanpa ia sadari ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasinya.
Ruang kamar mandi yang cukup luas, membuat seseorang dengan mudah bersembunyi.
Lian mulai menggulung rambutnya keatas, tampaklah tubuh polos Lian terekspos sempurna.
Lian masih belum sadar bahwa kedua mata itu mulai buas ingin menerkamnya, Lian sibuk menyabuni tubuh indahnya, sesekali ia meniup buih sabun dengan penuh kesenangan, setelah ia rasa cukup, kemudian Lian beranjak memutar keran shower.
Namun tiba-tiba tangannya tertahan oleh tangan seseorang yang tentu saja Lian kenali.
"mas Zain "
gumamnya saat ia sadar Zain berada di belakangnya.
"kamu terkejut baby" bisik Zain yang membuat Lian sedikit memalingkan wajahnya, karena tangan Zain sudah meraih pinggang ramping sang istri yang masih berlumur buih sabun.
BERSAMBUNG
💖💖💖💖💖