Delavar sudah lama memendam rasa pada seorang wanita bernama Amartha. Tapi, Amartha selalu menolaknya karena alasan dia sudah hamil tanpa tahu siapa ayah bayi yang sedang dikandung.
Delavar yang mengetahui hal tersebut pun meminta Amartha untuk bercinta dengannya. Sebagai imbalan, Delavar akan mengakui bayi dalam kandungan Amartha sebagai anaknya.
Apakah Amartha bersedia menerima tawaran tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28
Amartha pun akhirnya menurut dengan Mommy Diora. Dia masuk ke dalam kamar mandi milik Delavar dan meminjam handuk bersih milik pria itu juga.
Delavar tersenyum pada wanita yang sudah melahirkannya dan mengajak Mommy Diora untuk keluar dari area walk in closet. “Thanks, Mom. Kau sudah membantuku agar Amartha semakin lama berada di sini,” ucapnya seraya meninggalkan kecupan di pipi orang tuanya.
Mommy Diora mengacak-acak rambut putranya yang lebih tinggi dua puluh dua centimeter darinya itu. “Mendekati Amartha harus secara perlahan, ku lihat dia banyak menyembunyikan sesuatu. Tapi mata tak pernah bisa berbohong jika sebenarnya dia lelah melewati garis hidupnya.”
“Bantu aku agar bisa lebih dekat dengan Amartha. Dia membangun tembok yang begitu kokoh agar aku tak bisa melewatinya, dan aku tak ingin membuatnya tak nyaman jika terlalu memaksakan kehendak dengan memaksanya untuk menerimaku,” pinta Delavar. Setelah melihat jika mommynya bisa membuat Amartha luluh, sepertinya ide bagus untuk meminta pertolongan pada orang tuanya.
“Gampang, nanti mommy bantu. Sekarang kau bersiaplah ke kantor.” Nyonya di hunian megah itu menepuk pantat putranya sebanyak tiga kali. “Mandilah di kamar Danesh atau Deavenny, daripada di sana kosong terus.” Setelah memberikan perintah pada putranya, dia pun keluar meninggalkan Delavar untuk menyiapkan sarapan.
Delavar pun menuruti perintah mommynya. Dia membawa setelan kerja dan membersihkan diri di kamar Danesh yang nuansa dan model ruangannya sama persis dengan miliknya.
Delavar sengaja mandi sekilat mungkin. Jika biasanya tiga puluh menit dihabiskan dalam kamar mandi karena dia harus membuang calon anak-anaknya, kali ini hanya lima menit sudah selesai tanpa ritual yang membuat pikirannya berfantasi kotor di pagi hari. Tubuh rapi dan tegapnya langsung kembali ke kamarnya sendiri.
Tepat saat Delavar sampai di walk in closetnya, Amartha baru saja keluar dari kamar mandi dengan tubuh terbalut handuk berwarna putih. Matanya bisa menangkap jelas kulit mulus dan rambut yang masih meneteskan air.
“Maaf, aku tak tahu jika kau baru selesai mandi.” Delavar buru-buru mengalihkan pandangan saat Amartha terlihat terkejut dan tegang akan kedatangannya yang secara tiba-tiba.
Amartha memegangi handuk yang menutup tubuh polosnya agar tak merosot ke bawah. “Bolehkah aku meminjam ruanganmu ini untuk berganti pakaian?” izinnya dengan maksud tersirat agar Delavar meninggalkannya sendirian.
“Oh, silahkan.” Delavar tak jadi memakai skincare dan parfum, rahasia kulitnya agar tetap bersih dan sehat karena dia merawat tubuhnya sendiri. Bukan hanya wanita saja yang membutuhkan skincare, tapi pria pun juga perlu.
Delavar mengayunkan kaki dan membiarkan Amartha sendirian. Tak lupa menutup pintu walk in closet dan tak ada niatan untuk mengintip sedikit pun.
Setelah lima menit berlalu, Amartha pun keluar dengan membawa kaus milik Delavar yang semalam digunakan untuk dia tidur dan juga handuk yang tadi dia pakai untuk mengeringkan tubuh. “Aku akan membawa barangmu ini untuk ku cuci, nanti ku kembalikan jka sudah bersih,” ucapnya seraya memperlihatkan dua kain berwarna putih.
Delavar mengangguk. “Silahkan.”
“Apa kau memiliki hair dryer? Rambutku masih basah dan aku tak bisa berangkat bekerja dalam kondisi seperti ini,” tanya Amartha. Dia tak pernah secanggung ini saat berdua di dalam sebuah ruangan bersama mantan kekasihnya.
“Ada, ikut denganku.” Delavar mengajak Amartha untuk masuk lagi ke dalam walk in closetnya tanpa menggandeng ataupun menyentuh wanitanya.