Bu Dosen cantik.
Kisah ini menceritakan perjalanan cinta dua anak manusia, antara seorang Mahasiswa yang jatuh cinta dengan Dosen nya sendiri.
Mahasiswa itu bernama Gavindra putera wijaya, sedangkan Dosen itu sendiri bernama Ratih puteri gayatri. Bu Ratih pernah mengalami trauma soal asmara, karena tunangannya meninggal sebelum mereka menikah.
Setelah itu, Bu Ratih bertemu dengan Gavindra saat mengajar di kampus dimana Gavindra kuliah.
Gavindra langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Dengan penuh perjuangan Gavin terus mendekati Bu Ratih. Setelah itu, gayung pun bersambut, cinta Gavin diterima.
Tapi perjalanan cinta mereka tidak mulus, karena sebelumnya Bu Ratih sudah dijodohkan dengan laki-laki lain. Sampai akhirnya suatu hari Bu Ratih mengalami kejadian memalukan yang dilakukan oleh laki-laki yang dijodohkan dengannya.
Meskipun Bu Ratih telah mengalami kejadian yang tidak terpuji, Gavindra tetap bersikukuh untuk tetap menikahinya. Akhirnya mereka berdua menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evy erviyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part : 27 (Pernikahan kilat Bagas)
...........................
Sudah hampir seminggu Bagas susah menghubungi Irene, padahal dia ingin menyatakan perasaannya serta ingin segera menikahinya. Seperti sekarang mumpung hari minggu, dia ingin mengajak Irene keluar, tapi apa daya Irene nggak bisa di hubungi.
Akhirnya dia memutuskan untuk jalan kerumah temennya. Diambilnya kunci mobil serta dompet yang tergeletak di nakas kamarnya. Penampilannya sangat santai, pakai jeans dipadu tshirt wangki warna putih. Keliatan ganteng.
Dilajukannya mobil dengan santai, hari minggu dimana hari keluarga karena semua pada libur beraktivitas. Disusuri jalan raya utama Ibu kota. Ketika melewati sebuah perempatan, samar-samar dia melihat seorang wanita lagi berdiri pinggir jalan. Kelihatannya dia lagi menunggu seseorang.
Tapi setelah mendekat, Bagas tahu siapa wanita tersebut. Irene.! bahtin Bagas. Tapi tiba-tiba dari arah yang lain munculah mobil mewah warna hitam mendekatinya. Masuklah gadis itu kedalam mobil. Diikutinya dari belakang, mau kemana mobil itu membawa Irene.
Setelah lama mengikuti mobil itu. Akhirnya mobil tersebut menuju sebuah rumah makan Padang. Bagas juga menghentikan mobilnya di halamam rumah makan tersebut. Tampak Irene turun diikuti oleh laki-laki paruh baya, dan tak lain laki-laki itu ada Pak Ferry maulana.
Bagas sengaja ambil tempat duduk yang sedikit tersembunyi namun masih bisa mantau dan mendengar obrolan mereka.
"Ren, Gimana rencana kita, soal kamu deketin anak Indra wijaya itu.?" tanya Pak Ferry.
"Maaf, Pak. Saya belum sempet ketemu anaknya Pak Indra." jawab Irene.
"Gimana sih! kamu kan tinggal goda dia terus pepet dan bikin jatuh cinta sama kamu." jawab Pak Ferry.
"Iya, Pak. Saya sudah bekerja sama dengan salah satu temen saya, yang satu kampus sama Gavin. Tapi, susah Pak. Gavin anaknya nggak mudah termakan rayuan sembarang cewek. Menurut info yang saya peroleh kalau si Gavin itu sudah punya pacar." jelas Irene.
"Cuma pacar aja, nggak masalah itu. Yang penting ambil hatinya, lalu bikin dia bertekuk lutut sama kamu." ucap Pak Ferry.
"Tapi, Pak. Saya harus gimana lagi.? saya sudah berusaha semampu saya. Tapi Gavin itu memang anaknya nggak mudah tergoda Pak.!" jelas Irene.
"Gimana kalau kamu jebak dia. Kamu minta tolong teman kamu yang satu kampus dengan Gavin. Buat dia bertanggung jawab dan menikahi kamu.!" ucap Pak Ferry.
Irene terperangah demgan ucapan Pak Ferry. Irene hampir nggak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Demikian juga dengan Bagas yang dari tadi mengabadikan semua lewat ponselnya, ikut kaget. Jahat banget si Ferry maulana itu. Bathin bagas.
"Pak.! apa saya nggak salah denger? setega itu Pak Ferry sama keluarga Indra wijaya!" seru Irene.
"Kamu tahu apa soal Indra wijaya? sekarang kamu itu harus menjalankan apa yang saya perintahkan. Ingat! Ibumu butuh banyak uang untuk perawatan kemo nya." tukas Pak Ferry.
Irene jadi ketakutan setelah mendengar Pak Ferry soal Ibunya. Dia kembali bingung dan dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Bagas yang melihat semua kejadian itu semakin kuat keinginannya untuk mengeluarkan Irene dari jeratan Ferry sialan. Gumamnya.
"Gimana.? apa kamu masih mau kerja dengan saya? atau kamu mau biaya perawatan Ibu kamu saya hentikan.!" ucap Pak Ferry serius.
Wajah Irene memerah dan matanya mulai berkaca-kaca. Bagas menjadi nggak tega dengan Irene. Dimatikannya ponselnya. Dirasa cukup buat bukti ke Polisi.
Kemudian Bagas beranjakndari tempat duduknya dan melangkah menghampiri meja mereka.
Setelah didekat meja itu, Irene terkejut demikian pula dengan Pak Ferry, dia tak kalah terkejutnya dengan kehadiran Bagas.
"Hentikan..!! kalau gadis ini memamg nggak mau, tolong, jangan paksa dia. Saya rasa Bapak mengerti dengan ucapan saya." ucap Bagas dengan nada tinggi.
"Oh..kamu lagi anak muda. Untuk apa kamu ikut campur urusan kami.? sahut Pak Indra.
"Saya kekasih Irene. Jadi saya nggak terima kalau Anda menekannya seperti ini." ucapan Bagas membuat Irene kaget dan mengalihkan pandangannya ke arah Bagas. sebelum gadis itu mengeluarkan kalimat, Bagas langsung menggenggam tangannya dengan mengedipkan matanya.
"Oh, kamu mau jadi pahlawan ternyata. Apa kamu juga nggak terima jika Gavin menjadi milik wanita lain, terus Adikmu nggak jadi nikah dengannya gitu?" sahut Pak Ferry.
Bagas semakin geram mendengar kalimat Pak Ferry barusan. Tangannya sudah mengepal hendak meraih kerah bajunya. Tapi Irene melarangnya.
"Bagas, tolong jaga emosimu. Lebih baik kita mengalah. Biarkan dia meluapkan semua apa yang ingin dia utarakan." sahut Irene.
"Baiklah kalau kamu nggak mau menjalankan semua perintah saya, jangan harap kamu akan menikmati semua fasilitas yang sudah saya berikan. Termasuk biaya perawatan Ibu kamu. Cam kan itu Irene.!" ucap Pak Ferry dengan nada penuh kemarahan.
"Baik Pak Ferry. Kalau memang anda bicara seperti itu, biarlah tanggung jawab itu saya yang gantikan. Saya akan menikahi Irene dan akan menanggung semua kebutuhannya termasuk biaya perawatan Ibunya." jawab Bagas tegas.
Pak Ferry gelagapan mendengar apa yang Bagas ucapkan. Dia nggak menyangka akan melakukan hal ini. Dengan wajah yang dipenuhi kemarahan Pak Ferry akhirnya meninggalkan Bagas dan Irene yang masih berdiri ditempatnya.
Irene masih nggak percaya dengan semua perkataan Bagas. Ditatapnya laki-laki yang menjadi pahlawannya kali ini.
"Bagas, apa yang barusan kamu katakan. aku wanita buruk dan aku nggak pantas jadi istri kamu." ucap Irene.
"Irene, aku suka kamu saat pertama kali kita bertemu. Hati ini terlalu sulit untuk dibohongi. Aku nggak mempermasalahkan masalalu kamu. Yang terpenting sekarang aku akan menikahi kamu secepatnya.
Ayo kita temui Ibu kamu di rumah sakit." ucap Bagas.
"Beneran, Gas? aku nggak mimpi ini kan?" ucap Irene.
"Iya, sekarang kita resmi jadian. Dan sekaligus melamar kamu.?"ucap Bagas.
"Iya, Saya terima kamu, Gas. Dan mau menikah dengan kamu." jawab Irene.
"Makasih sayang, akhirnya aku menemukan tambatan hati." ucap Bagas
Sambil mengecup dahi Irene.
Akhirnya mereka melangkah meninggalkan rumah makan itu untuk menuju ke rumah sakit.
Perjalanan ke rumah sakit nggak terasa karema dari tadi mereka berdua selalu becanda. Bagas terlihat senang sekali karena telah memukan belahan jiwanya.
Sesampainya dia dirumah sakit, mereka berdua menuju ruangan Ibu Irene dirawat. Setelah berbincang-bincang dengan Ibunya Irene, Bagas juga mengutarakan niatan untuk menikahi putrinya. Ibunya Irene menyetujui niat baik Bagas. Sepakat dalam waktu dekat acara nikahannya dilaksanakan. Setelah dirasa cukup. Bagas dan Irene pamit untuk mememui Mamanya Bagas.
.
.
.
"Ma, Bagas berencana menikahi Irene, dan mohon restunya buat kami berdua.?" ucap Bagas saat tiba dirumahnya.
Mamanya kaget campur seneng, akhirnya Bagas mau menikah juga. Winda serta Ratih juga seneng mendengarnya.
"Alhamdulilah Gas, Mama sangat mendukung semua yang membuatmu bahagia." ucap Mamanya.
"Makasih Ma...." sahut Bagas.
"Selamat, ya Mas. Semoga kalian bahagia" ucap Ratih.
"Rencana kamu kapan nikahi Irene, Gas?" tanya Bu Rahma.
"Secepatnya, Ma. mungkin minggu-minggu ini. Acaranya sederhana saja, Ma. keluarga dekat saja." ucap Bagas.
"Woow..kilat banget, Mas. Tapi nggak apa-apa rumah kita nanti banyak ceweknya." seru Winda.
Irene tersenyum. Dia seneng sekali karena keluarga Bagas menerimanya. Mereka keluarga yang hangat dan santai. Beruntung sekali dia bertemu dengan Bagas dan akan menjadi istrinya.
Next................(28)