Lily terjebak dalam sebuah pernikahan yang tidak bahagia. Dante tidak pernah mencintainya. Dante menikahi Lily hanya untuk membayar hutang Budi orang tuanya kepada orang tua Lily.
Namun sebuah kecelakaan membuat keadaan berubah. Dante didiagnosa menderita cedera otak parah yang membuatnya kehilangan ingatan jangka pendek.
Dante hanya mengingat apa yang terjadi hari ini, lalu setelah dia tertidur dia akan melupakan semua. Begitu setiap harinya.
Inilah kesempatan bagi Lily untuk membuat suaminya bisa menerima dan mencintainya sepenuh hati.
Inilah kesempatan bagi Dante untuk memperbaiki kesalahan besar yang telah dia perbuat.
Namun, kehidupan tidak semudah itu untuk memberi mereka kebahagiaan.
berhasilkah mereka membangun Rumah tangga bahagia atau bahkan perceraian adalah jalan terbaik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tata Tetott, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Dante : I Feel Like Crazy
Tok ... tok ... tok.
Suara ketukan pintu. Siapa lagi itu? Siapa lagi Yang berani mengetuk pintu. Tidak paham kah orang-orang itu bahwa aku saat ini sangat marah? Kenapa mereka terus saja mencoba masuk ke kamarku, memintaku untuk minum obat yang bahkan tidak ku ketahui itu obat apa dan untuk apa.
Aku baik-baik saja! Kenapa harus minum obat?
Oke, ku akui memang aku merasakan sedikit sakit kepala dan nyeri di kaki, tapi aku bisa mengatasinya tanpa harus minum obat-obatan yang banyak yang sebelumnya di bawakan oleh seorang perempuan yang bahkan aku tidak tahu dia siapa.
Aneh sekali!
Kenapa hari ini aneh sekali?!
Kenapa mereka terus mengganggu dengan ketukan-ketukan pintu yang menjengkelkan itu? Aku hanya ingin istirahat lagi, tidur lagi, dengan begitu aku yakin sakit kepalaku akan hilang dan badanku akan terasa fit kembali.
Tapi, mereka terus mengganggu, membuatku kesal dan marah hingga membuat sakit kepalaku yang sebelumnya biasa saja menjadi semakin sakit dan sangat sakit.
Dan yang paling mengejutkan adalah, saat aku berdiri, kakiku terasa sakit sekali dan saat aku mencoba untuk melangkah, kesakitan itu berkali-kali lipat. Kakiku sangat sulit untuk digerakan, seperti kaku. Semakin aku coba untuk berjalan semakin besar kesakitan yang kurasakan hingga aku tak kuat dan meraung karena merasakan sakit yang luar biasa itu.
Kenapa ini? Apa yang terjadi dengan diriku? Apa benar aku sedang tidak baik-baik saja? Apa benar aku sedang sakit? Tapi apa? Aku sakit apa? Aku benar-benar tidak bisa mengingat apa yang terjadi padaku, tidak bisa mengingat hal apa yang menimpaku hingga aku bisa begini.
Semakin ku paksakan diri untuk mengingatnya, semakin besar juga tekanan rasa sakit di kepalaku.
Tak ayal, rasa sakit yang menjadi-jadi ini membuat ku semakin marah dan tempramen. Aku melempar barang-barang apa saja yang bisa ku jangkau ke arah pintu agar membuat mereka berhenti mengetuk pintu.
Upayaku sepertinya berhasil, untuk beberapa lama, suasana menjadi hening, tidak ada lagi suara ketukan pintu atau suara-suara panggilan dari Bi Aluh, Pak Anang dan perempuan yang ku tak tahu siapa.
Sampai kemudian ada suara ketukan pintu lagi.
Tok ... tok ... tok.
Tak ku gubris sama sekali. Aku masih membenamkan tubuhku di bawah selimut dan menekan kepalaku dengan bantal.
Suara ketukan pintu itu berlangsung berkali-kali kali sampai akhirnya aku mendengar suara dari balik pintu.
"Dante ... loe baik-baik aja kan di dalam?"
Aku kenal suara itu. Itu suara Revan. Revan temanku. Apa benar itu dia?
"Te, Ini gue Revan," ucap suara dari balik pintu itu.
Pelan, ku pindahkan bantal yang sebelumnya ku pakai untuk menekan kepalaku, ku sibak juga selimut yang menutupi tubuhku.
"Te, gue masuk ya, boleh, kan?"
Belum sempat aku menyahut, terlihat pintu kamar terbuka perlahan di susul kemudian sosok Revan menyembul di balik pintu.
"Hi," sapanya.
"Hi," balasku menyapanya dengan nada malas.
"Boleh masuk?" tanyanya.
"Hhhmmm ...," gumamku mempersilahkannya masuk.
Dia mengerti dan membuka pintu sedikit lebar untuk masuk. Saat pintu terbuka, aku mengedarkan pandangan, melihat dan mencari apakah perempuan asing itu berada di sana.
Tidak ada. Revan sendirian di depan kamarku.
Ah, mungkin dia sudah pergi.
"Tutup kembali pintunya," perintahku saat revan sudah masuk kedalam kamar.
"Oke bos," katanya seraya menutup pintu kamar.
Revan duduk di tempat tidur, di sebelahku. Dia mengedarkan pandangan melihat kamarku yang berantakan seperti kapal pecah.
"Apa yang terjadi di sini?" tanyanya.
"Entahlah. Bencana kurasa," jawabku.
"Mengerikan," komentarnya singkat.
"Memang," balasku.
"Well, bagaimana kabarmu?" tanyanya.
"Kacau," jawabku singkat.
Dia diam saja.
"Saking kacaunya, gue bahkan ga tau gue kenapa, kayak gue sama sekali nggak ingat apapun. Tiba-tiba aja gue ngerasain rasa sakit yang parah banget."
"Loe beneran enggak ingat apa-apa?" tanya Revan.
"Asli. Kayaknya tadi malam gue mabuk banget, sampai-sampai gue lupa apa yang gue lakuin yang nyebabin badan sama kepala gue sakit banget kayak abis terpental jatuh ke jurang."
Revan menatapku dengan wajah datar dan tatapan aneh.
"Loe mau tau apa yang sebenarnya terjadi pada diri loe?" tanyan Revan.
"Ya, iyalah, loe tahu apa yang terjadi? Kalo iya, tolong loe jelasin sekarang juga," perintahku.
"Oke, gue bakalan jelasin, tapi dengan syarat, loe harus percaya, karena apa yang bakalan gue omongin adalah kenyataan dan mungki menurut loe agak nggak mungkin dan enggak masuk akal. Tapi yang bakalan gue ceritain adalah apa yang sebenernya terjadi dengan loe, jadi, loe jangan mendebat, loe harus percaya, loe tau, kan, gue enggak suka di debat kalo gue berkata benar," kata Revan.
"Oke, oke, gue ngerti dan gue bakalan percaya apapun yang loe katakan," kataku untuk meyakinkannya.
Revan tersenyum sedikit, lalu dia menarik napas dan menghembuskannya secara kasar sebelum mulai berbicara.
***
Perlu waktu lama untuk Revan menyelesaikan ceritanya, perlu waktu lama juga bagiku untuk mencerna, menerima dan mempercayai apa di ucapkan Revan.
"Jadi, aku hilang ingatan?" tanyaku dengan ekspresi tidak percaya.
"Ya." Dia mengangguk, "hilang ingatan jangka pendek lebih tepatnya," tambahnya.
"Dan aku sudah menikah?" tanyaku lagi.
"Ya, tepat sekali. Dan istri loe temen gue juga," kata Revan sambil tersenyum.
"Tapi gue sama sekali nggak kenal sama dia," ucapku.
"Kan, gue udah bilang, ingatan loe mundur ke empat tahun yang lalu, Lily belum ada di hidup loe empat tahun yang lalu."
Aku mencoba untuk mencari setidaknya sedikit saja ingatan tentang Lily, pasti ada sedikit saja ingatanku tentangnya, mustahil sekali jika aku benar-benar mengingat istriku sendiri, atau momen berkesan kami, barang sedikit saja.
Sayangnya, aku tidak mengingat apapun, justru kesakitan yang luar biasa yang aku dapatkan hingga membuatku meringis.
"Kenapa?" tanya Revan ketika melihatku memegangi kepala dan mendengar ringisanku.
"Kepalaku sakit sekali," keluhku.
"Makanya, loe harus minum obat loe. Kalo loe enggak minum obat loe, loe bakalan kesakitan gini terus. Kenapa sih lo, bebal banget nggak mau disuruh minum obat? Kasian Lily tau enggak? Dia sedih lo omenlin mulu, padahal dia cuma pengin lo minum obat lo," omel Revan.
"Gue bukannya enggak mau, Van. Gue cuma curiga aja kalo-kalo itu racun atau apa gitu, gue kan enggak tau kalo tu perempuan istri gue, gue kira dia prang asing."
"Ya udah, loe makan dulu terus minum obat." Revan melihat ke lantai, "duh mana makanannya udah berantakan semua, lagi. Bentar gue suruh Lily buat bawain makanan ke sini buat loe."
Saat Revan berdiri, aku memanggilnya.
"Van, gausah. Aterin gue aja ke ruang makan. Gue bosan di kamar," kataku.
"Ide bagus, bentar gue ambil kursi roda loe dulu," kata Revan, lalu dia berjalan ke sisi lain kamar untuk mengambil kursi roda.
Dia membantuku memindahkan diri ke kursi roda. Lalu mendorong kursi rodaku keluar kamar menuju ruang makan.
Di ruang makan, ada Bi Aluh dan perempuan bernama Lily. Istriku. Bi Aluh langsung melihat ke arah kami, sementara Lily menghadap ke arah lain membelakangi kami, dapat ku lihat dia sedang menelpon seseorang.
"Hay, Ly, lagi nelpon siapa?"
Lily seketika berbalik begitu mendengar suara Revan menyapanya.
"Mas Dante, Revan," ucap Lily.
"Lagi nelpon siapa?" tanya Revan lagi.
Bukannya menjawab pertanyaan Revan, Lily malah berbalik dan kembali berbicara pada seseorang di sambungan telponnya.
"Iya, Lily bakalan segera ke sana secepatnya, Lily matikan dulu, ya." Begitu ucapan Lily yang ku dengar.
Begitu menutup telonnya, Lily berbalikdan berjalan kearah kami.
"Hi," sapanya canggung.
Lily tersenyum pada kami walau terlihat jelas ekspresi khawatir terlukis di wajahnya.
Aku ingin bertanya mengapa, atau ada apa, namun rasanya canggung sekali.
"Ada apa, Ly." Revan mendahuluiku menanyakan pertanyaan yang sama dengan yang aku pikirkan.
"Mama aku tadi nelpon, katanya papah jatuh pas sepedaan sama temen-temennya," ucap Lily dengan ekspresi sedih.
"Terus?" tanya Revan.
"Sempat di bawa ke rumah sakit, tapi sekarang udah di bawa ke rumah. Mama nyuruh aku buat datang ke rumah buat liat sendiri kondisi Papah. Tapi kamu tau kan, aku enggak bisa ninggalin Mas Dante." Lily memelankan suaranya di kalimat terakhir, namun aku masih bisa mendengarnya.
"Kamu pergi aja jenguk orang tua kamu, aku enggak pa-pa kok," ucapku pelan yang tenyata membuat Lily melongok.
"Mas serius?" tanyanya.
"Iya, kamu pergi aja, nggak maslah kok, lagian kan ada Revan juga." Aku melihat ke arah Revan, di tersenyum.
"Iya, Ly, nggak pa-pa kok, aku yang jagain Dante, kamu jengukin Papah kamu deh, pasti dia seneng kalau kamu datang."
Lily masih nampak ragu.
"Kamu tenang aja, aku bakalan makan dan minum obatku kok," ucapku untuk meyakinkannya.
Lily menatapku, aku juga menatapnya, beberapa detik seakan waktu berhenti saat kami berdua saling menatap. Aku suka matanya. Aku suka caranya menatapku.
"Aku janji nggak akan lama, aku bakalan pulang secepatnya," kata Lily.
~Bersambung~
...--------------------------...
Untuk para pembaca yang masih setia mengikuti kisah Dante dan Lily, aku mau bilang makasih banget. Semoga kalian tidak bosan untuk mengikuti cerita ini hingga akhir.
Jangan lupa, like, komen, vote dan kasih bintang 5 ya.
See you on next part
Tata Tetott