NovelToon NovelToon
Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Patahhati / Tamat
Popularitas:47.4k
Nilai: 5
Nama Author: dheselsa

Indah Della Safitri, wanita yang kini tak muda lagi harus melewati hari-harinya bersama penyakit yang baru saja ia ketahui.
Sklerosis Ganda adalah penyakit yang divoniskan oleh Syadam pada Della. Penyakit sklerosis ganda atau multiple sclerosis adalah gangguan saraf pada otak, mata, dan tulang belakang. Multiple sclerosis akan menimbulkan gangguan pada penglihatan dan gerakan tubuh.
Penyakit itu mulai menyapa Della, hingga membuat Della sangat menderita. Perjuangan Della untuk tetap hidup melawan rasa sakit itu juga menjadi poin utama pada cerita ini.
Yang lebih menyakitkan lagi bagi Della panggilan akrabnya yakni dokter yang menangani kondisi tubuhnya adalah mantan kekasih yang selama ini pergi meninggalkan Della. Dan apesnya, Della tak berdaya menghadapi dokter Syadam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dheselsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hold Me On

Ada sesuatu yang menggelitik namun bukan klenik. Sebuah perasaan unik juga cukup menarik untuk dikulik. Siapa sangka orang yang paling tak kusukai berani melakukan itu padaku? Saat aku benar-benar merasa tak diinginkan lagi di dunia ini, ia hadir dan menguatkan aku melalui kehangatan itu. Kenyamanan? Tentu saja bukan! apa aku tampak seperti ****** yang selalu mengharapkan sentuhan kasih sayang?

Ingin segera 'ku akhiri drama konyol ini. Agar aku tak lagi jatuh pada lobang yang sama, terperosok pada kubangan dosa dan nestapa. Karena menyukai saudara sendiri.

Dengan sekali gerakan saja dari dokter yang menangani diriku ini, tubuh ini tak kuasa bergerak. Bukan karena gejala multipel sclerosis-ku, tapi pada dasarnya Syadam lah yang tak ingin melepaskan jeratannya. Binatang berwujud pria ini sungguh tak memiliki etika serta rasa malu sedikitpun.

Barulah ia melepaskan pelampiasan yang selama ini ia pendam padaku kala terdengar suara ketukan pintu ruang fisioterapi ini. Buru-buru aku membetulkan posisi duduk serta penampilanku. Aku takut seseorang menyadari dosa apa yang telah kami lakukan dalam ruang terapi tubuh ini.

"Belum selesai ya Dok? Waktu terapi sudah habis sepuluh menit yang lalu!" tegur Ana begitu ia memasuki ruangan ini. Semoga saja wanita yang mengenakan seragam khas perawat tersebut tidak menyadari perubahan ekspresi di antara kami berdua.

"Sudah ... bila saya perlu menangani pasien lagi, saya akan langsung menemuinya di ruang rawat inapnya."

Syadam segera beranjak dari posisinya saat ini. Pria menjengkelkan itu tempak sibuk menulis laporan dari hasil yang ia lukukan pada terapi kali ini. Asal jangan melaporkan hasil dari ciuman kami saja! Karena aku sungguh keberatan. Demi apapun, aku tak menyangka bila pria itu akan melakukan hal tak terduga seperti tadi. Dia sangat terampil menyembunyikan tindakannya tadi padaku, Syadam memang cukup profesional hingga dengan cepat mengatur suasana untuk menutupi perbuatanya barusan.

"Baiklah, kalau begitu saya akan mengantarkan pasien kembali ke kamarnya." Ana membantuku keluar dari ruang fisioterapi tersebut. Dengan bantuan berupa dorongan pada kursi roda yang kududuki serta membawakan botol infusku, Ana mengajakku Kembali ke kamar inap yang kutempati.

"Kak, sepertinya dokter Syadam memberikan perhatian khusus pada Anda!" celetuk Ana sambil mendorong kursi roda tempatku duduk.

Apa Ana menyadari perasaan kami berdua? Ataukah ia sempat melihat sesuatu yang tak layak dikonsumsi oleh publik tadi? Ah ... betapa malunya diri ini? Ingin ku sembunyikan wajah ini dalam, sedalam mungkin agar Ana tak mampu menangkap ekspresi ini. Ekspresi yang bisa membuat orang salah padam pada aku dan Syadam, karena menang tak ada sesuatu apapun di antara kami berdua.

"Maafkan aku Indah, aku baru saja mendengar kabar ini!" ucap sosok Andrian yang baru saja tiba di hadapanku sambil mengatur nafasnya karena terengah-engah.

"Santai saja! kamu 'kan sibuk!" jawabku, tak lupa ku sunguhi Andrian dengan senyum paling manis yang pernah kumiliki.

"Aku benar-benar minta maaf!" Andrian berjongkok agar mampu menatap kedua mataku lebih dekat. Bukan hanya itu saja, dokter gigi idola semua pasien tersebut juga mengelus lembut kepalaku. Manis sekali!

Tapi tanpa kusadari ada hati yang terluka menatap kehangatan yang kami berdua ciptakan. Sungguh, saat ini aku hanya ingin tenang. Agar mampu berpikir positif untuk menggapai kesembuhan dari penyakitku ini. Aku jua tak ingin terlalu larut dalam kesedihan yang orang tuaku timbulkan. Bisakah aku tenang?

Andrian dan Ana mengantarku kembali ke kamar inapku. Di sela kesibukannya, ahli gigi itupun masih bersedia menunjukan kepeduliannya padaku. Sangat bersyukur! itulah yang saat ini kurasakan. Aku cukup tersentuh dengan sikap baik teman dekatku ini.

Teman dekat, seperti itulah hubungan di antara kami berdua. Memang tak pernah ada prosesi penembakan seperti Anak Baru Gede pada umumnya, namun Andrian dan aku cukup intens menjalin hubungan yang berharap menemui muaranya yakni pernikahan.

Aku menyukai pria itu, dokter gigi yang mampu meluluhkan kokohnya hatiku dengan semua pesona serta kepribadiannya. Semoga Tuhan merestui hubungan kami berdua. Agar aku benar-benar bisa melupakan Syadam yang kini kutahu bahwa ia adalah saudara laki-lakiku.

Karena dokter gigi itu adalah secercah harapan bagiku, harapan yang mampu melintasi segenggam sinar rembulan.Menghiasi sangkakala langit ketujuh, dan ia juga dapat menghidupkan hatiku yang sendu. Tatkala dalam duka dia adalah cahayaku yang menerangi jiwaku yang gelap. Meraih mimpi indahku bersamamu.

Akankah dia tercipta untukku? Maukah Andrian hidup dan mati bersamaku? Dan benarkah ia mencintaiku?

Disaat langit mulai gelap membuatku membisu. Membiusku dengan kata-kata manis dibibirnya. Membuatku tak berdaya akan sosok Andrian. Lalu ia menggenggam tanganku.

Menatapku dengan hasrat. Mata itu seakan menggantikan kekasihku yang lalu. Mata yang indah tuk dipandang itu menyentuh setiap relung belung hidupku. Dialah bintangku,

Menyinari hari-hariku yang sunyi. Mengisi kebahagiaanku tersendiri, yang terlukis dalam deru nafas hidup ini.

"Nanti sore aku akan kembali lagi ke sini!" ujar Andrian padaku tepat setelah ia mengantarku ke dalam kamar rawat inap ini.

"Iya, aku akan menunggumu hingga selesai piket!"

**

Andrian lalu pergi meninggalkan aku sendirian di dalam kamarku. Aku paham seperti apa kehidupan Andrian, di luar penatnya jam kerja dokter gigi itu masih bisa menyempatkan diri menemuiku. Meski harus kuakui, aku cukup merindukan perhatiannya padaku.

Kini, waktu telah berlalu begitu cepat. Janji Andrian yang kala itu mengatakan sore ini akan menemuiku ia urungkan karena sebuah keadaan darurat yang memerlukan penanggung jawabannya. Aku harus puas dengan apa yang telah kupilih, hidup memang kadang tak adil.

Malam kian datang merayu, menggantikan siang yang penuh harapan. Meski kutahu ia tak mungkin datang namun, tetap ku besarkan hati ini agar menerima kenyataan.

Kesunyian malam ini sedikit terganggu dengan adanya suara keributan tepat di depan kamar rawat inapku. Kulirik ponsel di atas nakas yang terletak tak jauh dari bed rumah sakit ini guna mengetahui pukul berapa saat ini.

Belum ada pukul tujuh malam dan di luar sana terjadi keributan. Hal ini bisa menganggu kenyamanan pasien lain. Jadi, kuputuskan untuk keluar dan mencari informasi tentang apa yang sesungguhnya terjadi.

"Ayah ... !" seruku pada pria paruh baya yang kuanggap ayah kandungku itu.

Tampak dua orang sedang menghadang ayahku. Dua pria gagak perkasa itu melarang ayah melintasi pintu masuk kamar ini. Entah apa yang sebenarnya terjadi kali ini. Aku juga tidak seberapa paham sebab aku baru saja bangun dari tidur singkatku.

"Ada apa ini?" tanyaku memulai percakapan. Percayalah bila bukan karena mendengar suara keributan dan mampu mengganggu istirahat orang lain, sungguh enggan aku beranjak dari tempat tidur nyamanku dan membawa serta tiang infus dengan tangan kiri ini.

"Della, kenapa kamu bangun?"

"Aku mendengar keributan, dan itu ayah!"

"Kedua pria ini menghalangi ayah untuk menemui dirimu Nak."

"Ha? Benarkah itu?" tanyaku dengan pandangan menyelidiki ke arah kedua pria tinggi besar tersebut.

"Kami diperintahkan untuk menjaga kamar ini, tak seorangpun yang boleh masuk ke dalam selain bos kami!" jelas salah satu di antara mereka.

"Bos? Siapa yang berani bercanda padaku?"

"Bapak Syadam."

...****...

1
Ersa
Luar biasa
Ридван Касид 💞
bagus akak ceritanya
Nurhartiningsih
sukaaaa sm yg melow2
Tio
b
Ivanka Anata
puitis bgt, cukup berat kalau tidak suka mapel bahasa jaman sekolah dulu, untungnya sy suja bahasa 😁😁😁😁
dheselsa: Kamsia, Kak.
Ikuti semua novel saya ya
total 1 replies
Hasni Jaya Almahdaly
kuu menangis membayangkan betapa sakitnya hati ku padamuu
Hasni Jaya Almahdaly
masih menerawang jauh dii ujung timur 🤔🙄😅😅

akuuu datang TOOR 🥰
semangat 💪🏻
Amin Tohari
tuh kan sultan syahdam🤣
Amin Tohari
muke gile si syadam
Amin Tohari
wih dokter opo sultan ...
Amin Tohari
tersentuh oleh bang syat,🤣
Amin Tohari
thor apa itu anaknya shadam??
Amin Tohari
aih si shadam😈
Jess ♛⃝꙰𓆊
next
𝕸𝖆𝖘𝖎𝖙𝖆𝖍 𝕬𝖟𝖟𝖆𝖍𝖗𝖆
semangat Della, g usah ragu2 lanjutkan aja, toh selama ini terbukti syadam masih terus menunggu kamu
Risfa
mangat Della 💪
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNOL💘 ¢ᖱ'D⃤
baper akut😎😎😎😎
𝕸𝖆𝖘𝖎𝖙𝖆𝖍 𝕬𝖟𝖟𝖆𝖍𝖗𝖆
emang bajunya kamu taruh dimana Della 😂😂😂 apa jatuh dan basah 😂😂😂
𝕸𝖆𝖘𝖎𝖙𝖆𝖍 𝕬𝖟𝖟𝖆𝖍𝖗𝖆
jatuh cinta untuk ke 2 kali dengan pria yg sama tp dalam rentang waktu yg berbeda 🥰🥰🥰
Risfa
lahh, bajunya ketinggalan dimanaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!