"Siapa?!" Sebuah suara berat, serak, dan penuh ancaman terdengar di kegelapan.
Rayyan langsung mencengkeram pergelangan tangan Aira. Napas pria itu memburu, aroma maskulin yang bercampur dengan hawa panas menguar dari tubuhnya. Obat bius di dalam tubuh Rayyan bergolak hebat saat merasakan kulit halus seorang wanita menyentuhnya.
"S-sakit... panas..." Aira tidak menjawab pertanyaan Rayyan. Gadis itu justru meracau, air matanya menetes karena rasa tidak nyaman yang asing di sekujur tubuhnya. Sentuhan tangan Rayyan yang dingin di pergelangan tangannya justru terasa seperti penawar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian
Rayyan menatap Aira dengan tatapan yang dalam. Detik setelah dia menyatakan janjinya untuk menjadi pelindung bagi Aira dan janin di rahimnya, hal pertama yang melintas di benak sang CEO adalah kepastian hukum. Sebagai pria yang terbiasa bergerak cepat dan taktis, dia tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi.
"Besok kita daftarkan pernikahan kita secara resmi," ucap Rayyan tegas, menggenggam jemari Aira. "Aku tidak mau anak kita lahir tanpa nama Wijaya yang melekat sah di belakang namanya. Aku akan mengurus semua berkasnya malam ini."
Aira tersentak. Kecepatan keputusan Rayyan membuat jantungnya berdesir aneh. Menikah dengan Rayyan Wijaya adalah sesuatu yang tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Namun, melihat tangan kekar pria itu yang masih mengusap perut buncitnya dengan penuh kasih sayang, Aira tahu ini adalah jalan terbaik untuk masa depan bayinya.
Namun, ada satu ketakutan besar yang mendadak menyerang pikiran Aira sebagai mahasiswi magang. Jika semua orang di kantor tahu dia menikah dengan sang pemilik Wijaya Group, hidupnya yang tenang akan berakhir. Dia akan dipandang sebelah mata, dianggap menggunakan cara kotor untuk memikat bos besar, dan semua prestasi akademiknya akan dianggap sebagai hasil "bantuan" Rayyan.
Aira menarik napas dalam-dalam, lalu menatap langsung ke dalam manik mata elang Rayyan.
"Aku mau, Pak... aku setuju untuk mendaftarkan pernikahan kita," ucap Aira pelan namun terdengar tegas. "Tapi, aku punya satu syarat. Dan Bapak harus menyetujuinya."
Rayyan mengangkat sebelah alisnya tebalnya, sedikit terkejut mendengar gadis polos ini mengajukan syarat padanya. "Syarat apa, hm?"
"Tolong merahasiakan identitas hubungan kita di kantor," pinta Aira dengan mata bulatnya yang memohon. "Jangan sampai ada satu pun karyawan, staf, bahkan kepala divisiku yang tahu kalau kita sudah menikah. Di kantor, aku ingin tetap menjadi Aira Kirana, anak magang biasa dari jurusan Akuntansi. Hanya kita berdua yang tahu rahasia ini."
Rayyan langsung terdiam. Rahangnya mengeras sejenak. Sebagai konglomerat terkaya, dia sebenarnya ingin mengumumkan pada dunia bahwa wanita ini adalah miliknya, agar tidak ada lagi bajingan seperti teman-teman kampus Aira atau ibu tirinya yang berani menyentuhnya. Dia ingin Aira berjalan di sisinya dengan kepala tegak sebagai Nyonya Wijaya.
"Kenapa harus dirahasiakan?" tanya Rayyan, suaranya memberat, menuntut alasan.
"Aku ingin menyelesaikan masa magangku dengan kemampuanku sendiri, bukan karena belas kasihan atau status sebagai istrimu," jawab Aira jujur, menyentuh lengan jas Rayyan dengan lembut. "Aku juga belum siap menghadapi gosip orang-orang. Tolong, Pak... demi ketenanganku dan dedek bayi."
Mendengar kalimat terakhir Aira, benteng pertahanan ego Rayyan runtuh seketika. Keselamatan mental dan ketenangan Aira adalah prioritas utamanya sekarang. Jika bersembunyi di balik status "anak magang biasa" bisa membuat Aira merasa aman, maka Rayyan akan mengabulkannya.
Rayyan menghela napas pasrah, lalu mengecup kening Aira dengan lembut. "Baiklah. Aku setuju. Di luar ruangan ini, kita adalah atasan dan bawahan. Tapi ingat, Aira..." Rayyan menjauhkan wajahnya sedikit, menatap Aira dengan senyum tipis yang penuh dominasi. "...perjanjian ini hanya berlaku di lingkungan kantor. Di dalam rumah, kamu adalah istriku seutuhnya, dan tidak ada rahasia di antara kita."
Aira tersenyum lega, mengangguk kecil dengan pipi yang merona merah. Kesepakatan rahasia itu pun terkunci, menandai awal dari babak baru kehidupan pernikahan rahasia antara sang CEO terkaya dan gadis magang yang polos.