Warning!!! (21+)
Selamat membaca!!!
Dicampakkan begitu saja oleh sang kekasih hingga pada akhirnya sang kekasih diketahui telah berselingkuh dengan sahabatnya sendiri, membuat Laras Nugraheni depresi. Pertemuan antara Laras dan seorang bos mafia bernama Alex Fernando menjadi awal perjalanan hidup yang akan membawanya menemukan cinta sejatinya.
Apakah yang akan terjadi dengan Laras selanjutnya?
Yuks baca novel baruku ini!!!!
Jangan lupa like, komen dan favorit ya guys!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
Laras telah selesai dengan urusannya di kampus dan segera kembali ke rumah. Setelah memarkir mobilnya di garasi, dia masuk ke dalam rumah. Ia terkejut saat kedua orang tuanya dengan pandangan penuh amarah menatap matanya. Dia tidak perduli dengan tatapan itu dan langsung melewati kedua orangtuanya.
"Apakah kau akan menjadi kurang ajar seperti ini setelah bertemu dengan mafia itu?" Ucap Tuan Hans yang membuat langkahnya terhenti.
Laras kemudian berbalik dan menatap kedua orang tuanya yang sudah siap memberikan banyak ceramahnya hari ini. Dia melihat amarah yang membara di mata kedua orang tuanya, tetapi dia mencoba tetap tenang dalam menghadapi sikap keduanya.
"Apa yang ayah inginkan?" Tanya Laras.
"Duduk dan jawab pertanyaan kami dengan jujur." Jawab sang ayah.
Laras menuruti keinginan sang ayah. Ia duduk di antara dua orang yang kini sangat ingin memakannya hidup-hidup karena kecewa dengan keputusan sang gadis yang tetap mempertahankan hubungan dengan bos mafia itu.
"Sejauh mana kalian berhubungan?" Tanya sang ayah.
"Tuan Hans, anda ingin jawaban yang jujur atau benar-benar jujur?" Jawab Laras yang sebenarnya malas menjawab pertanyaan basa-basi sang ayah.
"Katakan apapun yang menurutmu itu kejujuran, nona Laras." Ucap Tuan Hans.
"Aku dan Alex saling mencintai. Apa anda menerima kejujuran yang saya sampaikan?" Jawab Laras.
Tuan Hans mengepalkan tangannya karena sangat kesal dengan sikap sang putri yang berubah setelah bertemu dengan Alex. Sebelumnya Laras sangat penurut dan tidak pernah membantah, tapi kini sikap sang putri semakin kurang ajar.
Dengan segala kerendahan hati yang Tuan Hans miliki, Ia mencoba menahan amarahnya dan membujuk sang putri agar segera meninggalkan bos mafia itu. Laras tidak bergeming, gadis cantik itu masih saja keras kepala. Dia tidak mau mendengarkan perkataan sang ayah dan memilih untuk mengabaikannya.
"Apa kau tidak memikirkan reputasi keluarga kita di masyarakat umum yang akan semakin buruk jika kau masih mempertahankan egomu itu? mereka akan mengganggap ayah penegak hukum tidak berguna yang telah membiarkan seorang penjahat menjalin hubungan dengan anak seorang kepala polisi. Apa kau tidak berfikir sejauh itu?" Ucap Tuan Hans sembari menghela nafas panjang.
"Hanya reputasi? itu saja alasan yang mendasari ayah dan ibu melarangku berhubungan dengan mafia itu? kalian bahkan tidak memikirkan bagaimana perasaanku. Sudahlah, mari hentikan perdebatan tidak berguna ini. Maaf aku harus masuk ke kamarku, lain waktu saja kita bahas."
Sang Ibu mencegah langkah sang putri dengan pertanyaan yang tegas kepada Laras. Dia ingin sang putri menyadari kesalahannya dan segera meninggalkan bos mafia itu.
"Kau lebih memilih dia daripada kami?"
"Jika itu pilihanku, mana mungkin aku bisa kembali ke rumah ini? harusnya aku tidak meminta Alex mengantarku pulang, agar kalian berdua tahu apa keputusanku yang sebenarnya." Jawab Laras yang tetap tidak bergeming meski ibunya dan sang ayah terus saja melontarkan banyak pertanyaan kepadanya. Laras memilih untuk mengakhiri perdebatan ini dan masuk ke dalam kamar.
Dia membanting pintu kamarnya, dan melemparkan tubuhnya ke ranjang. Suara sang ayah yang mengedor-gedor pintu kamarnya membuat sang gadis pusing. Dengan masih terus mengomel, kedua orang tuanya mengatakan Laras harus segera meninggalkan sang mafia. Jika sang putri tidak mengikuti permintaan kedua orang tuanya, mereka akan mengambil tindakan tegas.
Laras menutup kedua telinganya dengan bantal saat mendengar ceramah kedua orangtuanya. Hingga suara mereka perlahan menghilang. Laras melepas bantal yang menutupi telinganya tadi. Kini Ia bisa bernafas lega karena kekacauan telah usai.
"Sejak kapan ayah dan ibu menjadi perhatian kepadaku? biasanya pekerjaan saja yang mereka pikirkan. Di saat aku menemukan cinta sejatiku, mereka menggunakan perannya sebagai orang tua untuk di jadikan tameng. Luar biasa Tuan kepala polisi dan Nyonya Ceo itu." Gumam Laras kesal.
Di tengah kekesalan yang sedang merundung hati dan pikirannya, sebuah panggilan dari ponsel miliknya membuat hatinya senang. Sang kekasih yang di nantikan akhirnya menghubungi dirinya.
"Tuan Alex." Ucap Laras dengan suara parau. Dia tidak mampu menahan tangisnya lagi.
"Ada apa gadis cantikku? apa kau menangis? ada sesuatu yang terjadi kepadamu?" Tanya Alex.
"Tak bisakah kau berhenti menjadi bos mafia, Tuan Alex? semisal menjadi pria dewasa yang menjalani hidup normal seperti yang lainnya?" Ucap Laras.
Pertanyaan Laras terdengar tidak biasa. Alex sudah memahami apa yang membuat sang gadis menanyakan hal itu. Ia mencoba menjelaskan kepada sang gadis tentang pekerjaannya itu.
"Sayang, dengarkan aku. Menjadi bos mafia bukan pilihan hidupku. Aku hanya menjalankan peran yang di takdirkan untukku. Alex Fernando adalah seorang putra dari bos mafia di masa lalu. Apakah kau tahu maksud perkataanku? aku tidak mampu melawan takdirku sendiri." Jelas Alex.
Laras menangis semakin keras, membuat sang mafia kebingungan dan menggunakan segala cara untuk menenangkan gadis itu. Dia mengatakan jika dirinya selama ini tidak pernah berfikir untuk mencintai ataupun menikah, tetapi saat bertemu dengannya, Ia menjadi lebih bersemangat untuk menjalin hubungan yang serius. Jika kedua orang tua Laras melarang hubungan mereka, itu semata demi kebaikan sang gadis. Alex meminta Laras untuk memahami kekhawatiran kedua orang tuanya.
"Kau lebih setuju kita berpisah Tuan?" Tanya Laras sambil masih menangis sesenggukan.
"Sayangku, gadis cantikku. Kau terlalu polos untuk menghadapi kerasnya kehidupan ini. Ada banyak hal yang harus kita pertahankan ataupun lepaskan, tapi aku memilih mempertahankan hubungan ini. Aku masih tetap menjadi milikmu. Tidak pernah sedikitpun terbesit di dalam hati dan pikiranku tentang mengakhiri hubungan denganmu." Jelas Alex.
"Tuan, aku takut sekali." Ucap Laras.
"Apa yang kau takutkan?" Tanya Alex.
"Berpisah denganmu." Jawab Laras.
"Kalau kau disini sudah ku makan kau gadis cantik. Kau terlalu imut untuk mengatakannya." Ucap Alex menggoda kekasihnya.
"Pikiranmu harus sering-sering di bersihkan Tuan, hal itu saja yang kau pikirkan." Ucap Laras yang sudah mulai merasa tenang.
"Kau yang membuat otakku tidak bisa berfikiran jernih lagi karena kau terlalu cantik untuk di lewatkan." Goda Alex.
"Huft!! pria mafia ini menyebalkan sekali. Tuan, terima kasih telah menghiburku."
"Sudah tugasku sayang. Sudahlah, jangan terlalu memikirkan hal itu. Fokus saja pada pendidikanmu. Kau beristirahat lah, aku harus segera pergi ke suatu tempat." Ucap Alex.
"Baik, Tuan. Berhati-hatilah." Jawab Laras.
" Ya, aku akan berhati-hati, selama kalung keberuntungan ini bersamaku, tidak akan terjadi apapun denganku."
Setelah mengucapkan salam perpisahan, Alex menutup panggilan telefonnya. Laras mulai memikirkan tentang masa depannya dengan sang kekasih, hatinya masih sangat rapuh untuk kembali menghadapi sebuah perpisahan.
"Semoga kisahku ini tidak berhenti ditengah jalan. Aku masih terlalu muda untuk menyerah dengan takdir. Lebih baik aku mendengarkan Tuan Alex dan segera istirahat saja." Gumam Laras.
* * *
cerita nya sangat bagus
cuman nama
klan nya kayak komplotan
bocil².....
kan mafia tuh sangarr dan pembunuh berdarah dingin...
misalnya
1-red scorpion
2-killer
3-black evil
pokonya se sangarr munking...