Naoto Raiden, seorang tentara yang tewas dalam konspirasi militer, bereinkarnasi ke masa perang klan di dunia Naruto sebagai bagian dari keluarga Senju. Namun, identitas aslinya jauh lebih agung: ia membawa darah murni Otsutsuki beserta mata Tenseigan yang legendaris.
Memilih untuk hidup santai namun tetap melindungi keluarga angkatnya, Raiden tumbuh sebagai kakak dari Hashirama dan Tobirama. Setelah melewati hibernasi panjang demi berevolusi di planet asing dan mengalahkan Momoshiki, ia kembali ke era Naruto dengan kekuatan yang melampaui dewa. Kini, dengan identitas sebagai suami Tsunade dan mentor rahasia bagi Naruto, Raiden bergerak di balik bayang-bayang untuk membersihkan Konoha dari kegelapan dan menghadapi ancaman klan Otsutsuki yang mulai mengintai bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orpheus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
unknown
Di kantor Hokage, tumpukan dokumen setinggi gunung tampak memenuhi meja.
Tsunade duduk di kursi Hokage dengan senyum kemenangan, sementara Raiden duduk di hadapannya dengan wajah yang terlihat sangat menderita.
" Sayang... ini masih ada tiga tumpuk lagi. Semangat ya, kan kau sendiri yang membuat tagihan ini membengkak fufufu, " ucap Tsunade sembari menyodorkan satu bundel laporan anggaran keamanan.
Raiden menghela napas panjang, ia memegang pulpen seperti memegang senjata yang paling ia benci. " Tsuna... membunuh dewa itu jauh lebih mudah daripada harus membaca rincian harga kayu per batang ini. Kau benar-benar kejam menjadikanku asisten dadakan begini. "
Tsunade bangkit dari kursinya, berjalan mendekat dan tiba-tiba memeluk leher Raiden dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu pria itu. " Ini namanya tanggung jawab, Raiden. Lagi pula, aku senang kau di sini. Ruangan ini jadi tidak terasa membosankan kalau ada kau. "
Raiden menoleh sedikit, hidungnya bersentuhan dengan pipi Tsunade. " Kau hanya ingin menjadikanku kuli tinta agar kau bisa bersantai, kan? "
" Hehehe, ketahuan ya? " Tsunade mengecup pipi Raiden sekilas. " Ayo cepat selesaikan. Kalau selesai sebelum tengah malam, aku akan memberimu 'hadiah' spesial di rumah. "
Mendengar kata 'hadiah', mata Raiden seketika berkilat. Ia melepaskan sedikit tekanan cakranya, bukan untuk menghancurkan, tapi untuk mempercepat gerakannya. Tangannya bergerak secepat kilat, menandatangani dan memeriksa dokumen dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi manusia biasa.
... Srat-sret-srat-sret! ...
" Selesai! " Raiden meletakkan pulpennya dengan gaya dramatis.
Tsunade melongo melihat tumpukan dokumen yang tadinya setinggi gunung kini sudah rapi dalam waktu kurang dari sepuluh menit. " Kau... kau menggunakan teknik tingkat tinggi hanya untuk administrasi desa?! "
Raiden menyeringai nakal sembari menarik pinggang Tsunade agar duduk di pangkuannya. " Waktu adalah uang, dan waktu bersamamu jauh lebih berharga daripada kertas-kertas ini. Sekarang, mana hadiahku? "
Tsunade merona hebat, ia menyembunyikan wajahnya di dada Raiden. " Dasar Otsutsuki mesum... "
Sementara itu di sebuah atap gedung rumah sakit Konoha, suasana sangat mencekam. Sasuke berdiri berhadapan dengan Naruto. Kebencian dan rasa frustrasi meluap-luap dari tubuh remaja Uchiha itu.
' Kenapa?! Kenapa dia bisa menjadi sekuat itu?! ' batin Sasuke sembari menatap Naruto.
Ia teringat kejadian di danau sore tadi. Visi yang diberikan Raiden tentang pembantaian klan-nya masih menghantui setiap embusan napasnya. Rasa sakit itu, trauma itu, bukannya membuat Sasuke tenang seperti yang diharapkan Raiden, justru memicu kegelapan yang lebih dalam di hatinya.
" Naruto! Aku menantangmu! " teriak Sasuke.
Pertarungan pecah. Chidori bertemu dengan Rasengan di atas tangki air raksasa. Namun, sebelum kedua jurus itu berbenturan, Kakashi muncul dan melempar mereka ke arah yang berbeda.
Sasuke menatap tangki air yang dihantam Rasengan Naruto. Bagian depannya hanya lubang kecil, namun bagian belakangnya hancur berantakan.
' Kekuatannya... melampauiku? ' Sasuke gemetar. ' Pria berambut putih itu benar... dendam ini tidak akan hilang, dan aku tidak akan pernah bisa mendapatkan kekuatannya jika aku masih selemah ini! '
Malam itu, Sasuke duduk sendirian di bawah pohon tua. Pikirannya kacau antara kata-kata Raiden dan rasa haus akan kekuatannya sendiri. Tiba-tiba, empat sosok muncul dari kegelapan ,Oto no Yonshun (Empat Ninja Bunyi).
" Kau terlihat menyedihkan, Uchiha, " ucap Sakon sembari menyeringai.
Sasuke mencoba melawan, namun ia dengan mudah dikalahkan oleh kekuatan Cursed Seal mereka.
" Jika kau ingin kekuatan yang sesungguhnya, datanglah kepada tuan kami, Orochimaru. Di sana, kau tidak akan mendapatkan khotbah tentang 'ketenangan hati' seperti yang dikatakan pria sombong di danau itu, " bisik Sakon tepat di telinga Sasuke.
Sasuke terdiam. Ia mengingat tatapan dingin Raiden di danau. “Jika dendammu telah hilang... datanglah padaku.”
' Tidak... aku tidak bisa menunggu sampai dendam ini hilang. Aku butuh kekuatan SEKARANG! ' pikir Sasuke dengan mata yang berubah menjadi merah pekat.
Dengan langkah mantap namun penuh kegelapan, Sasuke berjalan menuju gerbang desa di tengah malam. Di sana, ia bertemu dengan Sakura yang mencoba menghentikannya dengan tangisan, namun Sasuke hanya mengucapkan terima kasih sebelum memukulnya hingga pingsan dan meninggalkannya di bangku taman.
Sasuke resmi meninggalkan Konoha. Ia memilih jalan kegelapan, jalan yang menurutnya adalah satu-satunya cara untuk membalas dendam, mengabaikan peringatan Raiden tentang ketenangan hati.
Kembali ke Kediaman Senju
Raiden sedang berbaring di tempat tidur dengan Tsunade yang tertidur lelap di pelukannya setelah "latihan" panjang mereka. Tiba-tiba, Raiden membuka matanya. Ia merasakan cakra Sasuke yang perlahan menjauh melewati batas gerbang desa.
Raiden hanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan datar.
" Jadi kau tetap memilih jalan itu ya, Bocah? " gumam Raiden pelan.
Ia bisa saja melompat dan membawa Sasuke kembali dalam sekejap mata, namun ia memilih untuk diam. Bagi Raiden, hidup adalah tentang pilihan, dan Sasuke harus merasakan sendiri betapa pahitnya pilihan yang ia ambil.
" Raiden... ada apa? " tanya Tsunade dengan suara khas orang bangun tidur, ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Raiden.
Raiden mencium rambut Tsunade dan kembali memejamkan matanya. " Tidak ada apa-apa, Tsuna. Tidurlah lagi. Besok pagi akan menjadi hari yang sibuk untukmu sebagai Hokage. "
' Biarlah sejarah berjalan sebagaimana mestinya. Aku hanya akan ikut campur jika si ular itu berani menyentuh apa yang menjadi milikku lagi' batin Raiden sebelum akhirnya ikut terlelap bersama istrinya.