NovelToon NovelToon
Cincin Pengkhianatan

Cincin Pengkhianatan

Status: tamat
Genre:Mafia / Action / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Its Efa

Vincent Lawson rela meletakkan pistolnya demi menggenggam tangan wanita yang ia cintai. Ia percaya, cincin itu akan menjadi awal dari selamanya. Namun pada malam yang sama, wanita itu mengganti janjinya dengan sepasang borgol.

Di tengah raungan sirene dan hancurnya seluruh impian, Vincent tak lagi mempertanyakan mengapa ia ditangkap. Ia hanya ingin tahu...

“Di antara ribuan senyum yang kau berikan selama dua tahun... adakah satu saja yang lahir karena cinta, bukan karena tugas?” 💔

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Efa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 ( Final )

> Cincin yang Kembali Bersinar (End)

Hujan turun semakin deras.

Zhava berdiri di depan Vincent dengan kedua tangan terbentang. Napasnya memburu, seragamnya basah kuyup, sementara flashdisk yang berisi pengakuan Leon Ardian masih ia genggam erat.

"Aku membawa bukti baru!" teriaknya. "Kalau eksekusi ini tetap dilaksanakan, kalian akan menghukum seseorang tanpa seluruh kebenaran!"

Komandan regu memandang Zhava dengan wajah tegang.

"Letnan Zhava, minggir! Ini perintah pengadilan!"

Zhava menggeleng.

"Aku tidak akan mundur."

"Ini pembangkangan!"

"Kalau membela kebenaran adalah pembangkangan..."

"...maka hari ini aku siap menerima hukumannya."

Semua orang terdiam.

Tak seorang pun menyangka polisi yang dulu menangkap Vincent kini justru menjadi orang pertama yang melindunginya.

Komandan akhirnya memberi isyarat.

Flashdisk itu segera dibawa kepada jaksa dan hakim yang hadir untuk menyaksikan eksekusi.

Seluruh lapangan dipenuhi keheningan.

Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.

Tak lama kemudian, seorang penyidik berlari menghampiri hakim dengan wajah pucat.

"Yang Mulia..."

"Rekaman ini asli."

"Ada pengakuan langsung Leon Ardian."

"Seluruh data transaksi juga cocok."

Hakim langsung berdiri.

"Eksekusi dihentikan!"

Semua orang menarik napas lega.

Vincent perlahan membuka matanya.

Ia masih hidup.

Dua bulan kemudian...

Pengadilan kembali dibuka.

Kali ini, Leon Ardian duduk di kursi terdakwa.

Seluruh bukti baru diputar di hadapan majelis hakim.

Rekaman suara.

Dokumen transaksi.

Kesaksian para mantan anak buah Leon.

Satu demi satu tabir akhirnya terbuka.

Terbukti bahwa sebagian besar pembantaian yang menjadi dasar hukuman mati Vincent dilakukan atas perintah Leon dengan memanfaatkan nama Black Raven.

Namun hakim juga menegaskan satu hal.

Vincent tetap bukan orang yang tidak bersalah.

Ia tetap memimpin organisasi kriminal.

Ia tetap melakukan penyelundupan senjata, pencucian uang, dan berbagai kejahatan lainnya.

Karena itu, hukuman mati dibatalkan...

Tetapi diganti menjadi hukuman penjara selama dua puluh lima tahun.

Ruangan sidang kembali sunyi.

Vincent menganggukkan kepala.

"Saya menerima putusan itu."

Kali ini, Zhava akhirnya mampu mengembuskan napas panjang.

Setidaknya...

Vincent masih memiliki kesempatan untuk hidup.

Lima belas tahun kemudian.

Banyak hal telah berubah.

Zhava memilih mengundurkan diri dari kepolisian beberapa tahun setelah kasus itu selesai. Ia tidak sanggup lagi menjalani pekerjaannya setelah semua yang terjadi.

Sebagai gantinya, ia membuka kembali toko bunga kecil yang dulu menjadi tempat pertama Vincent mengenalnya.

Nama tokonya tetap sama.

Rhea Azlyn Florist.

Bukan karena ia ingin terus berbohong.

Melainkan karena nama itu adalah tempat semua kenangan mereka bermula.

Setiap pagi, Zhava selalu merangkai mawar putih.

Dan setiap minggu...

Ia mengirim satu buket ke penjara.

Tanpa pernah absen.

Karena sikap baik selama menjalani hukuman, membantu program pembinaan narapidana, serta mengungkap jaringan Leon Ardian, Vincent beberapa kali memperoleh remisi.

Hari itu...

Pintu gerbang penjara perlahan terbuka.

Seorang pria berambut sedikit lebih panjang melangkah keluar.

Wajahnya tidak lagi setajam dulu.

Namun senyumnya...

Masih sama.

Ia menghirup udara bebas untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.

Lalu langkahnya terhenti.

Di seberang jalan...

Seorang wanita berdiri sambil membawa buket mawar putih.

Rambutnya kini sedikit lebih pendek.

Matanya masih sama.

Zhava.

Mereka saling memandang dalam diam.

Tak ada satu pun yang bergerak.

Seolah keduanya takut...

Bahwa semua ini hanyalah mimpi.

Perlahan Zhava berjalan mendekat.

Air matanya mulai mengalir.

"Selamat datang..."

"...di rumah."

Vincent tersenyum.

"Aku pikir..."

"...kau sudah melupakanku."

Zhava menggeleng pelan.

"Lima belas tahun."

"Aku tidak pernah berhenti menunggumu."

Vincent menatap tangan kanan Zhava.

Jari manis itu...

Masih mengenakan cincin yang sama.

Cincin yang dulu ia pasangkan di hari pertunangan.

Air mata Vincent akhirnya jatuh.

"Aku bodoh..."

"Kenapa?"

"Karena membuatmu menunggu selama ini."

Zhava tersenyum di balik tangisnya.

"Penantianku tidak sia-sia."

Vincent perlahan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil dari saku jaketnya.

Kotak itu tampak tua.

Sedikit pudar.

Namun masih terawat.

"Aku membuat ini di bengkel pembinaan penjara."

Ia membukanya.

Di dalamnya terdapat sebuah cincin sederhana dari perak, dengan ukiran kecil berbentuk mawar putih di bagian dalam.

Vincent menarik napas panjang.

Dulu...

Ia pernah berlutut di hadapan wanita ini.

Namun beberapa detik kemudian...

Cincin itu berubah menjadi borgol.

Hari ini...

Ia kembali berlutut.

Bukan sebagai mafia.

Bukan sebagai narapidana.

Melainkan sebagai seorang pria biasa yang masih mencintai wanita yang sama.

Dengan suara yang bergetar, ia berkata,

"Zhava Vianzya..."

"Bolehkah aku melamarmu sekali lagi?"

Zhava menutup mulutnya.

Tangisnya pecah.

Kali ini...

Bukan karena harus mengkhianati.

Bukan karena harus melepaskan.

Melainkan karena akhirnya...

Takdir memberi mereka kesempatan kedua.

Sambil menangis, Zhava menganggukkan kepalanya.

"Iya..."

"Aku mau."

Vincent tersenyum.

Perlahan ia menggenggam tangan Zhava.

Tidak ada sirene.

Tidak ada polisi.

Tidak ada borgol.

Hanya dua insan yang pernah dipisahkan oleh hukum, kebohongan, dan takdir...

Kini dipersatukan kembali oleh cinta yang tidak pernah benar-benar padam.

Perlahan Vincent memasangkan cincin itu ke jari manis Zhava.

Untuk kedua kalinya.

Dan kali ini...

Tidak ada seorang pun yang akan menggantinya dengan borgol.

Di bawah langit sore yang cerah, mereka saling berpelukan.

Mawar-mawar putih berguguran tertiup angin, seolah menjadi saksi bahwa cinta memang bisa terluka, bisa hancur, bahkan hampir berakhir.

Namun...

Selama masih ada keberanian untuk memperjuangkan kebenaran...

Selalu ada harapan bagi dua hati yang memilih untuk tidak saling melepaskan.

TAMAT. 🖤🌹

1
Anne Soraya
lanjut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!