Aqila dan Arga adalah sepasang suami istri yang terpaksa menikah. Ini adalah keinginan dari Sherly sahabat dan juga calon istri dari Arga.
"Kumohon ini adalah permintaan terakhirku." Kata kata itu yang membuat mereka bersatu. Meskipun awalnya mereka terpaksa untuk menikah. namun lama kelamaan meraka merasa nyaman satu sama lain.
Apakah mereka akan selalu bahagia? Bagaimana jika Sherly kembali? Siapa yang akan di pilih Arga pada akhirnya?
Yuk simak cerita selengkapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhila dila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 27
Aqila terbangun saat pagi hari. Ia terlihat sangat pucat. Arga yang melihat pergerakan dari Aqila langsung menghampirinya.
"Mas kenapa aku disini? bukannya kita lagi di jalan mau ke rumah ibu. aku juga mimpi buruk mas. aku mimpi rumah Ibu tertimpa longsong." Ucap Aqila.
Arga tidak menjawab Aqila. ia langsung memeluk Aqila. Aqila yang mengerti dengan keadaan ia langsung menangis dan mengeratkan pelukannya.
Rendi dan Ben yang berada di luar ruangan Aqila ikut terdiam mendengar tangisan pilu dari Aqila.
"Mas antar ke rumah Ibu. Aku mohon mas. aku ingin berada disana. aku mohon mas. aku mohon." Ucap Aqila sambil menangis.
Arga menyetujui keinginan Aqila. Ia mendatangi dokter dan membicarakan keinginan Aqila. Setelah mendapatkan izin dari dokter mobil Aqila dan Arga menuju desa. di ikuti mobil Rendi dan Ben di belakang mereka.
Rendi terkejut dengan keadaan rumah Ibu dari sahabatnya itu. Aqila hanya berbaring di jok depan mobilnya sambil menangis sesegukan.
"Sayang kamu makan dulu ya." Tawar Arga sambil menyodorkan sendok yang berisi makanan ke arah Aqila.
Aqila hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu harus makan sayang. kamu demam ini. kalo kamu gak mau makan kita kembali ke rumah sakit." Ancam Arga.
"Iya Qila kamu harus makan ya." Rendi ikut membujuk Aqila agar mau makan. Rendi berdiri di dekat pintu mobil Arga. ia berdiri tepat di samping Aqila.
Akhirnya Aqila membuka mulutnya. hanya beberapa suap yang Aqila makan.
"Udah mas. Aku udah kenyang." Jawab Aqila.
Banyak orang yang berbisik bisik melihat ketampanan ke 4 lelaki. Apalagi dengan 3 mobil mewah yang terparkir disana.
"*Qila beruntung ya. di sekelilingnya ada pria pria tampan dan mereka terlihat menyayangi Aqila."
"Iya. saya jadi sedikit tenang karena meskipun ia kehilangan orang tuanya. banyak orang yang sayang padanya."
"Iya. malang sekali ya nasibnya. Padahal Aqila adalah anak yang baik. ia juga sangat ramah dengan penduduk desa*."
Terdengar bisik bisik tak jauh dari tempat Aqila berada. Mereka adalah Ibu ibu tetangga Aqila.
Arga sesekali mendekati tim penolong untuk menanyakan perkembangan pencarian dari mertuanya itu.
"Gimana?" Tanya Dimas.
"Belum ada tanda tanda." Jawab Arga.
"Lebih baik kamu bawa Aqila ke vila. biar kita yang berjaga disini." Rendi berkata.
"Iya kasian. dia juga demam." Ben menimpali.
"Aku bujuk dulu semoga dia mau." Balas Arga.
Arga lalu membujuk Aqila agar ia mau ke vila untuk sekedar beristirahat disana.
"Gak mas aku disini saja." Balas Aqila.
"Kalau begitu lebih baik kamu pindah ke belakng sayang. di belakang lebih nyaman. kamu bisa tiduran. Atau kita diam di mobil Rendi. Kebetulan ia sedang memakai mobil alphard nya. Ayo sayang. disana pasti lebih nyaman."
Arga membopong Aqila setelah meminjam kunci mobil Rendi. Aqila masuk ke dalam mobil Rendi saat Arga hendak menutup pintunya Aqila menahan Arga.
"Ga usah ditutup mas pintunya. Biar kalo Ibu sama Ayah pulang mereka bisa melihat aku di sini." jelas Aqila.
"Dingin sayang kalo gak di tutup. gimana kalo jendelanya aja yang terbuka. biar pintunya tetap di tutup." Aqila menggelengkan kepalanya.
Arga tak bisa berbuat banyak. Ia hanya menemani sang istri. Arga lalu mengubah posisi kursi Aqila menjadi lebih nyaman. ia juga tak lupa menyelimuti tubuh Aqila dengan selimut yang di berikan Faisal padanya.
Tak terasa ini sudah hari senin. Dimas kembali ke kantor ia akan menggantikan Arga untuk bertemu klien. Arga lebih memilih meminjam mobil Rendi. dan mobilnya di bawa oleh Rendi. karena Rendi pun ada pertemuan penting hari ini.
"Qila. Kakak ke kantor dulu ya. jangan sedih terus. kamu juga harus makan. jangan sampai kamu sakit." Ujar Rendi.
Arga segera memindahkan barang bawaan mereka ke mobil Rendi. begitupun sebaliknya. Setelah selesai mereka pergi. hanya tertinggal Arga dan Aqila yang masih menunggu evakuasi. Waktu menunjukkan pukul 8 pagi. tiba tiba salah seorang tim penyelamat berteriak bahwa ada korban di sana. Aqila segera keluar dari mobil dan berjalan mendekati tim penyelamat yang membawa 2 kantung mayat.
Aqila mengulurkan tangannya yang bergetar dengan maksud untuk membuka kantung mayat itu. Saat terbuka ia langsung menangis histeris. ia melihat Ibunya sudah terbujur kaku di dalam kantung mayat itu. Ia juga membuka kantung mayat yang lain nya dilihatnya Ayahnya yang juga sudah terbujur kaku. Aqila menangis sejadi jadinya. Ia histeris sampai ia tak sadarkan diri. Banyak yang ikut menangis mendengar tangisan pilu dari Aqila.
Saat hendak di bawa ke rumah sakit. Faisal menahan tim penyelamat dan meminta agar kedua jenazah itu di antarkan ke rumahnya saja. Dengan tujuan agar Aqila bisa sedikit lebih lama dengan ke dua orang tuanya.
Saat sampai di rumah Faisal Jenazah mereka di mandikan dan di solatkan terlebih dahulu. sedangkan Aqila masih belum sadarkan diri di kamar Faisal.
"Nak. Aqila masih belum bangun?" Tanya Ibu Faisal ke Arga.
"Belum Ibu. Maaf kami merepotkan. tadinya jenazahnya akan saya bawa ke Vila saya tidak jauh dari sini. tapi Faisal memaksa agar di bawa kesini. karena di desa ini tempat mereka." Jelas Arga.
"Gak perlu sungkan Nak. Aqila udah ibu anggap seperti anak ibu sendiri. Karena Faisal dan Aqila selalu bersama semenjak mereka TK." Ucap Ibu Faisal. "Jika membutuhkan sesuatu kamu bisa memanggil ibu Nak." Lanjutnya.
"Terima kasih bu."
Arga memberitahukan kepada Dimas bahwa Orang tua Aqila sudah di ketemukan namun sudah tidak bernyawa. Dimas, Rendi dan Ben kembali ke desa menggunakan mobil Dimas. Saat sampai di rumah Faisal Mereka bertiga segera masuk ke dalam. Ia melihat Aqila hanya terdiam dengan tatapan kosong. Arga selalu berada di sampingnya mendampingi Aqila.
"Kamu yang sabar ya Qila." Ucap Rendi.
"Terima kasih kak." Jawabnya.
Waktu pemakaman sudah tiba. mereka semua berangkat menuju tempat peristirahatan terakhir orang tua Aqila.
"Ayah.. Ibu.. kenapa kalian meninggalkanku secepat ini? Aku sudah tidak punya siapa siapa sekarang. bagaimana aku akan melanjutkan hidupku tanpa kalian.. Hiks.. Hiks.. Aku ingin ikut dengan kalian." Ucap Aqila di samping makan Orangtuanya.
Arga ikut berlutut di hadapan makam mertuanya. Ia segera memeluk Aqila.
"Jangan berkata seperti itu sayang. Ada aku di sini." Ucap Arga menenangkan. ia pun menangis mendengar perkataan Aqila.
"Kakak juga ada di sini Qila. kita semua ada untuk kamu. kamu gak sendirian. kamu harus kuat Qila." Rendi menambahkan.
"Qila aku sedih liat kamu kaya gini. kamu harus kuat Qila. Ada aku, Dewi dan Kak Faisal yang mendukungmu disini." Icha ikut berbicara.
Akhirnya Aqila sedikit lebih tenang. Ia kembali ke rumah Faisal untuk mengambil barang barangnya dan kembali ke rumahnya sendiri. Di dalam mobil menuju rumah. Aqila hanya melamun dan sesekali menghapus air matanya. Arga hanya bisa menenangkan Aqila.
cuman kurang greget ceritany,tp tetap semangat ya thor,dan semoga banyak yg baca ceritamu 😊😊😊
pahit ditengah
ending yg maies