Seorang pemuda dari Klan Lin, Lin Huang mencoba mencari jalannya sendiri di tengah keputusannya. Hingga suatu hari, kejadian tak terduga yang dia alami justru menjadi titik balik baginya untuk hidup di tempat yang hanya peduli pada kekuatan ini... Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluar Dari Jurang
Tangan lentiknya bergerak cepat, menarik tali busur perak dengan keanggunan yang mematikan. Tiga anak panah cahaya hijau murni langsung terbentuk di sela jarinya.
Wush! Wush! Wush!
Anak-anak panah itu melesat membelah kegelapan gua, mengincar sepasang mata dan sendi kaki sang siluman untuk membatasi pergerakannya.
ARRGGHH!
Siluman itu melolong saat salah satu panah Elysa berhasil membutakan mata kirinya. Gerakannya menjadi liar dan tak terkendali.
"Bocah! Tahan bagian depannya, aku akan memotong ekor berbisanya!" teriak Mu sambil melompat ke udara. Sepasang sayap transparan di punggungnya mengepak cepat, memancarkan bilah-bilah angin yang tajam dari sepasang belati hijau yang kini ada di genggamannya.
Huang tidak membuang waktu untuk menjawab. Dia merendahkan tubuhnya, membiarkan energi ungu gelap di dalam meridiannya mengalir ke kedua kakinya.
BOOM!
Tanah tempat Huang berpijak retak saat dia melesat maju bagai kilat hitam. Kecepatannya kini berkali-kali lipat lebih cepat dari sebelumnya. Siluman serigala itu mencoba mencakar Huang dengan kaki kanannya yang tersisa, namun dengan kelincahan yang mustahil bagi manusia biasa, Huang merayap di bawah perut siluman tersebut.
"Hancur!"
Huang menghantamkan kedua tinjunya ke bagian dada siluman yang tidak terlindungi bulu tebal. Energi kuno Ras Iblis melonjak keluar dari telapak tangannya, menembus kulit tebal sang siluman dan langsung menghancurkan organ dalamnya.
Di saat yang sama, Mu meluncur dari udara dengan kecepatan penuh. Belati kembarnya berkilau, menebas pangkal ekor kalajengking siluman itu hingga putus dan menyemburkan darah hitam yang korosif ke lantai gua.
Siluman raksasa itu ambruk, mengembuskan napas terakhirnya dalam genangan darahnya sendiri. Gua itu kembali dilingkupi oleh kesunyian, menyisakan deru napas ketiganya yang terengah-engah.
Mu mendarat dengan mulus, namun tatapannya pada Huang kini tidak lagi meremehkan. Ada rasa waspada yang mendalam, bahkan sedikit ketakutan. "Kekuatan fisik... dan energi destruktif itu. Kau bukan manusia biasa. Siapa kau sebenarnya?"
Huang berdiri tegak, membersihkan debu dari pakaiannya yang compang-camping. "Aku sudah mengatakannya. Aku hanya manusia dari Keluarga Lin di atas tebing ini. Setidaknya... aku yang dulu."
Elysa melangkah mendekat, menyimpan busurnya. Dia menatap Huang dengan pandangan menyelidik yang lembut namun tajam. "Energi yang kau gunakan tadi memiliki kemiripan dengan energi Ras Iblis purba yang tersegel di tempat ini. Jiwamu mungkin manusia, tetapi tubuhmu telah berubah, anak muda."
Huang terdiam. Dia tahu dia tidak bisa menyembunyikan rahasia ini selamanya jika ingin melangkah jauh di dunia kultivasi.
"Namaku Lin Huang," ujarnya, memperkenalkan diri untuk pertama kali dengan kepala tegak.
"Aku Elysa, dan ini pengawal pribadiku, Mu," balas sang putri peri dengan anggukan kecil. "Lin Huang, segel yang hancur ini tidak hanya membangunkan siluman ini. Gelombang energinya pasti telah menyebar hingga ke luar jurang. Jika keluargamu atau sekte-sekte besar di sekitar sini merasakannya, tempat ini akan segera dikepung."
Mendengar itu, kilatan dingin melintas di mata Huang. Jika Keluarga Lin tahu bahwa dia—si 'sampah' yang mereka buang—mendapatkan warisan kuno yang begitu dahsyat, mereka tidak akan membiarkannya hidup. Mereka akan menguliti tubuhnya dan merebut energi ini demi kepentingan mereka sendiri.
"Aku harus pergi dari sini," ucap Huang dingin.
"Ikutlah bersama kami," ajak Elysa tiba-tiba, membuat Mu terkejut. "Kami datang ke wilayah manusia untuk mencari jawaban atas ketidakstabilan energi alam di Hutan Abadi kaum kami. Apa yang terjadi padamu malam ini mungkin adalah bagian dari jawabannya. Di luar jurang ini, duniaku dan duniamu sedang tidak baik-baik saja, Lin Huang."
Huang menatap lorong gua yang gelap, lalu menatap ke atas, ke arah kota tempat dia selalu dihina. Tidak ada lagi yang menahannya di tempat ini. Langit yang luas dan penuh rintangan mematikan kini membentang di hadapannya.
"Baik," jawab Huang mantap. "Aku ikut."
Keputusan telah diambil. Tidak ada jalan untuk kembali.
Mu, meskipun masih menyimpan keraguan mendalam terhadap Huang, tidak membantah perintah putrinya. Dengan lambaian tangan Elysa, sebuah batu permata hijau berukuran kecil di lehernya berpendar. Cahaya itu membungkus tubuh mereka bertiga, menyamarkan hawa keberadaan mereka menjadi seringan angin malam.
Mereka bergerak cepat menyusuri lorong-lorong rahasia di dasar jurang yang hanya diketahui oleh Ras Peri melalui peta kuno mereka. Di belakang mereka, sayup-sayup terdengar suara gemuruh dari atas tebing. Sesuai dugaan Elysa, ledakan energi semalam telah memicu kepanikan di Kedianan Keluarga Lin. Para tetua dan kultivator tingkat tinggi pasti sedang berbondong-bondong menuju jurang.
Namun, mereka hanya akan menemukan puing-puing kristal kosong dan bangkai siluman serigala. Lin Huang yang mereka kenal sebagai 'sampah' telah tiada, menguap bersama kabut pagi.
---
Tiga hari perjalanan menembus perbatasan wilayah manusia membawa mereka ke sebuah tempat bernama Kota Batas Awan. Ini adalah kota pelabuhan terapung yang bertumpu pada tebing-tebing raksasa, tempat di mana empat ras kerap bertemu untuk berdagang, bertukar informasi, atau menyelesaikan dendam berdarah.
Bagi Huang yang seumur hidupnya hanya mengurung diri di paviliun lapuk, pemandangan kota ini begitu menghentak jiwanya.
Di pasar kota yang bising, dia melihat pendekar manusia dengan pedang besar di punggung mereka saling tawar-menawar dengan makhluk bertubuh kekar, bertanduk, dan berkulit merah legam—Ras Iblis tingkat rendah yang bekerja sebagai pengawal karavan. Di sudut lain, siluman rubah dengan ekor yang melambai anggun tampak menjajakan tanaman obat langka kepada para tabib.
"Jangan lengah, Lin Huang," bisik Mu, membuyarkan lamunan Huang. "Kota ini tidak memiliki hukum yang mengikat. Di sini, kekuatan adalah satu-satunya keadilan."
Huang mengangguk pelan. Dia bisa merasakan tatapan-tatapan lapar dan penuh selidik dari beberapa orang di jalanan. Di tempat seperti ini, seorang remaja manusia berpakaian lusuh yang berjalan bersama dua orang peri berpakaian mewah adalah target empuk bagi para penyamun.
"Kita akan beristirahat di kedai depan, sebelum melanjutkan perjalanan menembus Hutan Kematian menuju wilayah kami," ujar Elysa, menunjuk sebuah bangunan kayu bertingkat tiga yang cukup ramai.
Namun, takdir tampaknya enggan memberi Huang waktu untuk bernapas lega. Baru saja mereka melangkah mendekati pintu kedai, aura yang sangat pekat dan berbau darah tiba-tiba menekan udara di sekitar mereka. Langkah para pejalan kaki mendadak terhenti, memicu keheningan yang mencekam.
Dari dalam kedai, keluar sekelompok orang berpakaian jubah hitam dengan lambang tengkorak retak di dada mereka. Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pemuda kekar dari Ras Iblis dengan rambut perak dan sepasang sayap kelelawar yang terlipat di punggungnya. Matanya yang merah darah menatap tajam ke arah Elysa.
"Hahaha! Sungguh keberuntungan yang luar biasa," pemuda Iblis itu tertawa, suaranya berat dan bergetar, memicu rasa ngilu di telinga orang-orang di sekitarnya. "Putri Elysa dari Ras Peri, bertualang begitu jauh dari sarangnya tanpa pengawalan pasukan kerajaan? Tuanku, Pangeran Agung Ras Iblis, akan sangat senang menerima kepala—atau mungkin tubuhmu—sebagai hadiah."
Mu langsung menghunus belati kembarnya, wajahnya menegang. "Kalian... sekte pemberontak Gagak Darah!"
Para kultivator dari sekte hitam itu langsung mengepung mereka, menutup semua jalan keluar. Jumlah mereka tidak kurang dari dua puluh orang, dan masing-masing memancarkan fluktuasi kekuatan yang tidak berada di bawah ranah Kondensasi Qi.
Di tengah kepungan itu, Huang menarik napas dalam-dalam. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena gairah bertempur yang tiba-tiba bergejolak hebat di dalam dadanya. Energi ungu gelap milik Iblis Kuno di dalam tubuhnya seolah merespons kehadiran Ras Iblis di depannya, menuntut untuk dilepaskan.
Huang melangkah maju, memosisikan dirinya di samping Mu dan Elysa. Tangannya perlahan mengepal, siap menghadapi badai pertama di dunia luar.