Seina dan Sora adalah saudari kembar yang dibuang oleh orang tua kandung mereka. Takdir membawa Seina diadopsi keluarga kaya, sementara Sora tumbuh dalam kemiskinan.
Diliputi iri hati, Sora berusaha merebut kehidupan adiknya. Namun, ambisinya berakhir tragis. Seina pun tewas setelah diracuni oleh kakaknya.
Ketika waktu berputar kembali, Seina memilih menyerahkan semua yang dulu menjadi miliknya.
"Kalau memang itu yang kau inginkan... ambillah semuanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
"Adikku, sini. Kakak bersihin debu di wajahmu."
Sambil berkata demikian, Sora mengambil segenggam tanah lalu mengusapkannya ke wajah Seina.
Seina hanya memandanginya, kemudian ia tersenyum tipis.
'Jadi begitu ya.. Sepertinya Kak Sora juga kembali ke masa lalu dan ingin merebut kehidupanku yang dahulu..'
"Kenapa senyum?" tanya Sora sambil terus mengotori wajah Seina.
Seina menggeleng pelan dan menjawab "Tidak apa-apa."
Dalam hati, ia justru merasa lega.
'Kalau Kak Sora memang begitu menginginkan kehidupan mewah itu, silahkan saja ambil.. itu lebih bagus..'
"Kakak..." Seina menatap wajah Sora dengan mata polos. "Orang tua kita sudah membuang kita. Tapi aku masih punya Kakak, kan?"
Sora mengangguk sambil tersenyum.
"Tentu saja. Mulai sekarang kita hanya punya satu sama lain." Meski bibirnya berkata demikian, dalam hatinya ia mencibir.
'Sebentar lagi kita akan berpisah. Kali ini aku yang akan menjadi putri keluarga kaya. Sedangkan kau... rasakan sendiri hidup miskin yang pernah ku alami.'
Selesai mengotori wajah Seina hingga tampak seperti pengemis kecil, Sora tersenyum puas.
Dalam kehidupan sebelumnya, Samuel memilih Seina karena wajahnya bersih dan cantik, tapi sekarang ia yakin pilihan itu akan berubah.
"Kenapa Kakak nggak ikut mengotori wajah sendiri?" tanya Seina polos.
Sora tersenyum tipis.
"Kakak harus melindungimu. Kalau ada orang jahat, biar Kakak yang menghadapi mereka."
Mendengar alasan itu, Seina berpura-pura terharu.
"Kakak baik sekali." Sambil berkata demikian, ia mengambil segenggam tanah lalu mengusap wajah Sora.
"Kakak juga harus aman."
"Apa yang kamu lakukan!"
Sora langsung mendorong tubuh Seina hingga terjatuh ke tanah. Dengan panik ia mengusap wajahnya menggunakan lengan baju.
Seina segera menangis keras.
"Jadi... Kakak bohong ya.. kakak sengaja mengotori wajahku.. Kakak sebenarnya nggak mau melindungiku..."
Sora hanya mendecakkan lidah.
'Syukurlah.. Sepertinya Seina tidak ikut terlahir kembali. Kalau tidak, rencanaku pasti akan gagal.'
Tepat saat itu, dari kejauhan terdengar suara derap roda kereta.
Klak... klak... klak...
Mata Sora langsung berbinar, dengan cepat ia membersihkan wajahnya hingga kembali bersih, lalu berdiri di tepi jalan sambil menangis tersedu-sedu.
Tak lama kemudian, sebuah kereta mewah berhenti tepat di hadapan mereka lalu seorang pria paruh baya mengenakan jubah mahal turun dari dalam kereta.
Itu adalah Samuel Hartono, ayah angkat Seina pada kehidupan sebelumnya.
Samuel berjongkok di hadapan gadis kecil itu dengan tatapan yang dipenuhi rasa iba.
"Anak kecil... kenapa kamu sendirian di tempat seperti ini? Hari sudah mulai gelap. Di mana orang tuamu?"
Air mata menggenang di pelupuk mata Sora. Dengan suara bergetar, ia berkata, "Aku... sudah tidak punya rumah."
Ia menunduk pelan, lalu menatap Samuel penuh harap.
"Aku lapar... Bolehkah Paman membawaku pergi?"
Samuel Hartono menatap gadis kecil di hadapannya dengan mata berbinar. Entah mengapa, hatinya dipenuhi kebahagiaan yang sulit dijelaskan. Dalam benaknya terlintas sebuah pikiran sederhana.
'Mungkinkah anak ini adalah berkah yang dikirim Tuhan untukku?'
Tanpa ragu, ia mengambil keputusan.
Mulai hari itu, ia akan mengangkat anak perempuan tersebut sebagai putrinya.
Orang-orang tua sering berkata bahwa pasangan yang belum dikaruniai anak sebaiknya mengadopsi seorang anak terlebih dahulu. Siapa tahu, setelah itu rezeki keturunan akan datang dengan sendirinya.
Samuel tersenyum kecil. Hari ini benar-benar membawa keberuntungan. Ia hanya berniat mengubah rute perjalanan agar tiba lebih cepat di ibu kota, tetapi tak disangka justru menemukan seorang anak perempuan.
Ia berjongkok di depan gadis kecil itu.
"Siapa namamu?"
Gadis itu mengangkat wajahnya perlahan.
"Sora."
Samuel mengangguk sambil tersenyum hangat.
"Kalau begitu, mulai hari ini kau adalah putriku. Namamu tetap Sora Hartono."
Saat hendak mengajak Sora pergi, Samuel baru menyadari masih ada seorang anak perempuan lain yang berdiri tak jauh dari sana. Tubuhnya kurus, pakaiannya lusuh, dan wajahnya dipenuhi debu.
Ia menoleh kepada Sora dan bertanya, "Siapa anak itu?"
Seina menggeleng pelan.
"Aku tidak mengenalnya. Tapi dia terlihat sangat kasihan. Ayah... kenapa tidak membawa dia pulang bersama kita?"
Ucapan itu sengaja diucapkan Sora agar terlihat berhati lembut di mata ayah angkatnya.
Ia masih mengingat dengan jelas kehidupan sebelumnya.
Saat itu, adiknya menangis sambil memohon agar ikut dibawa oleh Samuel. Namun pria itu menolak mentah-mentah.
"Di keluarga Hartono hanya boleh ada satu putri."
Benar saja.. detik kemudian, Sora pergi bersama Samuel. Sementara itu, Seina malah tersenyum.
"Akhirnya.. Selamat berjuang Sora!"
cerita nya juga seru