Vivian Adison adalah seorang agen yang diutus ke Amerika untuk mencari seorang penjahat paling berbahaya dari Amerika. Selama penyelidikan, targetnya tertuju pada seorang Mafia yang ada di Amerika dan tanpa sengaja, dia bertemu dengan orang yang dia curigai.
Pertemuan pertama mereka begitu tak terduga apalagi pertemuan kedua mereka, semakin membuat Matthew tergoda tapi Vivian tidak tertarik dengannya karena Vivian memiliki masa lalu yang kelam.
Demi membuktikan diri jika dia bukan target yang dicari Vivian, Matthew membantu Vivian dalam misinya dan tanpa mereka sadari mereka punya musuh yang sama.
Seorang penghianat yang ada di organisasi selalu menggagalkan misinya dan pil pahit harus Vivian telan saat mengetahui siapa sebenarnya target yang sedang dia cari. Cinta yang dia pertahankan, hancur berantakan.
Akankah Matthew memenangkan hati Vivian? Bagaimana kisahnya? Jangan lupa dengan Michael, dia selalu membantu kakaknya dari belakang. Apa dia juga akan mengalami kesulitan dalam percintaan seperti kakaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni Juli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semakin penasaran
Disebuah restoran Vivian sudah menunggu Matthew, gadis itu hanya temenung memandangi orang-orang yang berlalu lalang dari kaca jendela besar yang terdapat di restoran.
Dia masih punya waktu satu jam sebelum rapat dimulai jadi dia akan menikmati waktunya sejenak bersama dengan Freddy, lagi pula dia tidak punya teman di sana?
Selain rekan yang dia kenal hanya Freddy satu-satunya orang luar yang dia kenal dan entah mengapa dia iba dengan pria itu karena hutang-hutangnya dan mau menampungnya.
Hidup memang sangat keras apalagi tinggal di kota Metropolitan seperti Amerika, biaya hidup yang besar dan pekerjaan yang sulit didapat. Freddy pasti punya alasan kuat sehingga dia memiliki banyak hutang dan Vivian bisa maklum sehingga dia tidak mau menanyakan hal ini lebih lanjut apalagi ini adalah privasi.
Mungkin mereka bisa menjadi teman baik selama dia di Amerika, lagi pula persahabatan antara pria dan wanita tidak buruk bukan?
Setelah beberapa menit menunggu, Matthew sudah tiba dan mencari Vivian di dalam restoran. Saat melihat gadis itu, Matthew segera mendekatinya dengan senyum di wajahnya.
"Sory babe, apa kau sudah lama menunggu?" tanya Matthew basa basi seraya duduk di depan Vivian.
"Tidak, jangan dipikirkan!"
Vivian melihat Matthew sekilas dan setelah itu dia kembali memandangi orang-orang yang lewat di luar sana.
"Apa yang sedang kau pikirkan babe?"
"Tidak ada," jawab Vivian lagi.
"Jadi? Apa kau sudah bertemu dengan Matthew Smith?" tanya Matthew. Dia ingin melihat reaksi Vivian, apakah Vivian masih mencurigainya setelah melihat pria tua yang menyamar menjadi dirinya?
Vivian menghela nafasnya dengan berat dan berusaha tersenyum.
"Kenapa? Apa kau tidak bertemu dengannya?" tanya Matthew lagi.
"Aku bertemu dengannya," jawab Vivian.
"Lalu? Kenapa kau tampak tidak puas? Apa kau gagal menendang bokongnya?"
"Bukan begitu."
"So?" Matthew pura-pura penasaran.
"Ternyata dia hanya pria tua gendut dan jelek!"
Matthew sangat ingin tertawa tapi dia berusaha menahannya, untungnya dia tidak meminta James yang berpura-pura menjadi dirinya.
"Memangnya kenapa jika dia pria tua gendut dan jelek?"
"Karena dia sudah tua aku jadi tidak bisa menendang bokongnya! Jika aku menendangnya jangan-jangan dia langsung mati!" jawab Vivian asal.
"Hahahahaha!" Matthew tertawa sedangkan Vivian kembali memandang keluar jendela sambil menghela nafas.
"Babe, bolehkah aku tahu kenapa kau mencurigainya?" tanya Matthew dan dia harap Vivian mau menjawab pertanyaannya sehingga dia tahu kenapa Vivian mencurigainya.
Sebelum menjawab, Vivian kembali menatap Matthew penuh selidik, Kenapa pria itu ingin tahu?
"Aku tidak hanya mencurigainya saja, aku mencurigai banyak orang dan besok, kau juga bisa jadi targetku!" jawabnya.
Matthew terkekeh dan meraih tangan Vivian yang ada di atas meja tapi tanpa dia duga, Vivian langsung menarik tangannya dan tampak gugup. Reaksi yang Vivian tunjukkan hampir sama saat mereka berdansa di pesta. Ada apa dengan Vivian? Kenapa reaksinya seperti ibunya dulu sewaktu didekati ayahnya?
Sungguh hal itu membuatnya penasaran, apa Vivian pernah mengalami hal yang tidak menyenangkan? Atau itu hanya gerakan refleks saja karena dia tidak suka disentuh?
"Percayalah padaku babe, rahasia aman dan aku tidak akan membocorkannya," Matthew mencoba menyakinkan Vivian. Apapun caranya dia harus tahu kenapa Vivian mencurigainya.
"Tidak Fredd, ini tidak ada hubungannya denganmu!" jawab Vivian.
Matthew mengumpat dalam hati, sepertinya Vivian orang yang sangat berhati-hati tapi dia tidak akan menyerah dan akan terus mencari tahu kenapa Vivian mencurigainya.
"Baiklah, aku tidak memaksa dan aku harap kau mau mengatakannya padaku, mungkin aku bisa membantumu."
"Akan aku pikirkan nanti Fredd tapi aku tidak janji, sebaiknya kita segera memesan makanan karena aku sudah lapar dan aku juga tidak punya banyak waktu karena setelah ini aku ada rapat penting."
"Baiklah, aku harap kau mau mempercayaiku dan mau mengatakkannya padaku, siapa tau aku bisa membantumu untuk balas budi."
Vivian mengangguk dan memanggil pelayan untuk memesan makanan, sedangkan Matthew tersenyum dan memandangi wajah cantik Vivian. Matanya tidak lepas dari wajah Vivian bahkan sekarang matanya fokus ke bibir seksi Vivian yang sedang berbicara dengan pelayan.
Dia jadi penasaran, bagaimana rasanya saat mencium bibir Vivian? Sungguh rasanya sudah sangat ingin menerkam Vivian dan mencicipi bibir seksinya bahkan tangannya sudah terasa gatal. Dia juga sudah tidak sabar menjadikan Vivian miliknya dan membuat Vivian mengerang nikmat di bawah kendalinya tapi sepertinya untuk mewujudkan hal itu tidaklah mudah dan butuh perjuangan.
"Fredd.....Freddy!" panggilan Vivian menyadarkannya dari pikiran mesumnya.
"Hm, ya?" Matthew berusaha tersenyum, sedangkan Vivian menatapnya dengan heran.
"Apa yang ingin kau makan?" Vivian memberikan buku menu untuknya.
Matthew mengambil buku menu yang diberikan Vivian dan memesan makanan yang dia inginkan dan setelah itu dia kembali memandangi Vivian.
"Babe, berapa usiamu?" tanya Matthew saat mereka sedang menikmati makanan mereka.
"Dua puluh lima tahun," jawab Vivian singkat.
"Apa kau punya saudara?"
"Punya."
"Siapa nama ayahmu?"
Vivian langsung menatap Matthew dengan tajam, "Selain nama ayahku jangan katakan kau juga ingin mengetahui nama ibu, paman, bibi dan kakekku!" jawabnya dengan sinis.
Matthew hanya terkekeh, sebenarnya dia sengaja bertanya demikian karena jika dia tahu siapa nama ayah Vivian maka dia bisa mencari tahu gadis itu dengan mudah tapi sungguh, Vivian orang yang sangat berhati-hati.
"Aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh babe."
"Tidak perlu Fredd, aku hanya pendatang dan aku tidak akan lama berada di kota ini. Selama aku masih ada di sini, Kita cukup jadi sahabat saja dan tidak perlu terlalu mengenal satu sama lain."
"Kenapa?" Matthew menatapnya dengan tajam.
"Tidak apa-apa, karena setelah aku pergi maka kita tidak akan bertemu lagi!" jawab Vivian seraya bangkit berdiri sedangkan mata Matthew tidak lepas darinya.
"Aku sudah harus pergi karena rapatku sudah mau dimulai, aku yang akan bayar makan siangnya jadi kau tidak perlu khawatir."
Setelah berkata demikian, Vivian melangkah pergi sedangkan Matthew diam saja memperhatikan kepergiannya bahkan dia belum beranjak saat motor Vivian melesat pergi di luar sana.
Matthew mengetukkan jarinya di atas meja, sungguh dia semakin penasaran dengan sosok Vivian. Datanya yang tidak ada dan sosoknya yang sedikit misterius, ditambah dia gadis yang sangat berhati-hati. Sungguh semakin hari dia semakin penasaran dan orang yang telah membuatnya penasaran seperti ini jangan harap bisa lepas darinya.
"Semakin kau membuatku penasaran semakin kau tidak bisa lepas dariku Angel, tidak mau memberitahuku tidak apa-apa karena aku punya seribu satu cara untuk mengetahui siapa dirimu sebenarnya dan tunggu saja, aku pasti akan mendapatkan kartu identitasmu!" ucapnya.
"Aku sangat menginginkanmu maka aku akan mendapatkanmu dengan caraku!" ucap Matthew lagi.
Selama dia tinggal dengan Vivian akan dia manfaatkan untuk mendapatkan gadis itu tapi dia tidak tahu jika dia punya saingan dan orang itu selalu ada di hati Vivian.
As far as
Pecundang