sebagian dari kisah ini terinspirasi dari kejadian nyata..
Armala Anggun, ingin menguji takdir, sejauh mana takdir mempermainkan kehidupan cintanya.
Menikah dengan seseorang yang bahkan dia tidak tau namanya, apalagi rupanya. tapi dia berusaha menerima laki-laki asing itu sebagai suaminya.
Jemicko Putra Nawar, dan Gama Maziantara Gundala, sama-sama memendam perasaan
kepada Mala. keduanya terus berusaha mendekati Mala.
diantara mereka, siapakah suami Mala yang sebenarnya?
Follow
Ig ➡️ makee949
fb ➡️ Si (Mak Ee)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Ee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 26.
"La. apa kau menyukai mas Micko?"
pertanyaan Dewi membuat Mala tersedak. ia menyemburkan makanan yang ada dimulutnya. untung tidak kena orang.
"kau ini bicara apa Dewi?"
"sejak tadi kau memperhatikannya terus. aku penasaran jika kau juga menyukainya. aku tidak akan heran jika kau juga menyukainya La, kita akan bersaing secara adil."
bagaimana mereka bisa bersaing? sedangkan pemenangnya sudah ditentukan?
"jangan bicara begitu." Mala berusaha menyembunyikan hatinya. ia tidak berani menatap mata Dewi.
"belakangan ini aku jarang sekali bertemu dengan mas Micko. kira-kira dia pindah kemana ya??" Dewi terus melanjutkan makanannya.
Mala tak berani menjawab. ia bukan tipe orang yang mudah berbohong. ia akan menyembunyikan hubungannya dengan Micko tanpa harus membohongi siapapun. sekali berbohong, maka ia akan menutupinya dengan kebohongan lain.
"apa kau sangat menyukainya Wi?"
"ya. aku sangat menyukainya."
"apa yang kau sukai darinya?"
"entahlah. aku tidak punya alasannya kenapa aku sangat menyukainya. kalau aku bertanya kepada orang lain, maka mereka akan menjawab karna mas Micko itu tampan, kaya, dan sebagainya. tapi aku tidak pernah melihat mas Micko melalui ketampanan dan kekayaannya." jawab Dewi. ada pancaran kejujuran dari mata Dewi. dengan sayup ia menatap Micko yang ada diujung sana.
apakah itu yang dinamakan ketulusan? entahlah, Mala masih belum mengerti. ia belum pernah merasakan perasaan seperti itu sebelumnya.
sekarang, apa yang harus dilakukan Mala? bagaimana caranya ia memberitahu Dewi tentang semua ini? Dewi pasti akan sangat terluka nanti. dan Mala seperti tahu bagaimana rasanya.
Mala merasakan relung hatinya nyeri. perlahan air mata nampak mengalir dari matanya. buru-buru ia mengusap pipinya.
"Mala, apa kau sedang menangis?" tanya Dewi.
"tidak. sambal teri nya pedas. ssss hah,, sss hah." Mala mengelak.
"masa sih? perasaan tak sepedas itu."
Dewi,,, maafkan aku. takdir yang rumit ini membawa kita kedalam rasa sakit. maafkan aku yang harus menyakitimu. menyakiti ketulusan perasaanmu kepada mas Micko. aku hanya bisa berharap kalau kita akan baik-baik saja. do'a Mala dalam hati.
diantara mereka, sudah pasti akan ada yang terluka. dan bisa dipastikan bahwa orang itu adalah Dewi. apakah masih ada jalan keluar dari situasi rumit ini?
ddrrtt,, ddrrtt..
sebuah pesan masuk ke ponsel Mala.
"sudah selesai belum? ayo pulang." pesan dari Micko
"sebentar ya mas. aku sedang mengobrol dengan Dewi." balas Mala.
"baiklah. kalau sudah selesai hubungi aku."
"oke."
"kau jadi membereskan barang-barangmu?" tanya Dewi.
"ehmm,, sepertinya lain kali saja Wi. aku harus buru-buru pulang."
"kenapa La? sudah disuruh pulang? waahh,, sepertinya mas mu itu over protektive ya,,
"hehe,, biasalah,, kau mau siaran setelah ini?"
"iya. aku sangat menyukai kegiatan baruku ini."
"baiklah, ayo.."
setelah membayar makanan masing-masing, keduanya pun pergi dari warung kaki lima itu. mereka berpisah saat didepan fakultas. Dewi pergi untuk melakukan siaran radionya, sementara Mala pergi ke arah lain, tempat biasa Micko menurunkannya.
sesampainya ditempat biasa, ternyata sudah ada Micko disana. tanpa disuruh, Mala langsung masuk kedalam mobil.
"ayo mas."
"Mala, bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu.?"
"jalan-jalan? kemana?"
"apa ada tempat yang ingin kau datangi?"
"eeemmm..." Mala nampak berfikir sejenak. sedangkan Micko menunggu dengan antusias.
"aku belum pernah ke Merapi mas. bagaimana kalau kita kesana?"
"boleh. ayo."
Micko segera mnghidupkan mobilnya dan mengarahkan nya ke daerah wisata gunung merapi.
perjalanan tidak terlalu jauh, setelah sekitar setengah Jam, mereka sudah sampai di tempat tujuan. dan merekapun segera turun dari mobil.
dihadapan mereka nampak pemandangan dari sisa puing-puing letusan gunung merapi yang terjadi di tahun 2010 silam. tempat itu sudah disulap menjadi seperti museum. ada benda-benda yang sempat terkena dampak letusan. Mala sempat merinding saat membayangkan betapa dahsyatnya letusan waktu itu.
lama mereka menghabiskan waktu disana. berkeliling kesana memari. sampai akhirnya waktu sudah beranjak sore.
hari sudah hampir malam saat mereka sampai dikota. perut Mala sudah keroncongan minta diisi. begitu juga dengan Micko.
"mau makan apa?" tanya Micko.
"ayam kremes kayaknya enak mas."
"baiklah, aku tau tempat ayam kremes yang enak. tapi tempatnya warung pinggir jalan. apa tidak masalah?"
"tidak masalah mas, yang penting bersih, dan enak."
Micko melajukan mobilnya menuju jalan gejayan. setelah sampai disebuah warung pecel lele yang ada dipinggir jalan, Mobil berhenti. Mala dan Micko langsung turun. Micko memesankan makanan untuk mereka berdua. dan Mala mencari tempat duduk lesehan.
keduanya menyantap makanan mereka dengan lahap, bahkan tanpa bicara. fikiran Mala terus dipenuhi dengan masalah Dewi. dia terus memutar otak, mencari cara agar tidak ada yang terluka.
dia sengaja mungkin ngawal kamu tuh makanya ngikutin trus balik lg 🤣