Tama, cowok baik-baik, kalem dan jago olahraga yang jatuh cinta dengan Raina si gadis yang terkenal dengan reputasi buruknya. Suka dugem, mabok, merokok, bahkan gosipnya dia pun jadi sugar baby simpanan om-om.
Tama menghadapi banyak tantangan agar bisa bersama Raina. Teman dan keluarganya yang tak menyukai Raina, rumitnya latar belakang keluarga Raina, juga cintanya yang penuh gairah yang amat sulit dikendalikan oleh cowok itu.
Kisah mereka terajut sejak masa di bangku kuliah. Saat mereka lulus, Tama berjanji akan menikahi Raina satu tahun kemudian. Tapi dengan banyaknya pihak yang menginginkan mereka untuk berpisah, bisakah mereka bertahan? Apalagi mereka terpaksa harus berpisah demi mempersiapkan masa depan untuk bersama?
Author masih belajar, tetapi selalu berusaha memperhatikan ejaan dan penggunaan huruf kapital yang benar sehingga nyaman di baca. Silahkan mampir😂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabina nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran
Pertemuan yang diharapkan Raina itu akhirnya terjadi juga. Tama mengajak ia bertemu ibunya di sebuah resto Jepang yang letaknya tak jauh dari tempat kosnya.
Tama dan Bunda Dayen telah tiba terlebih dulu. Lima belas menit kemudian Raina tiba, dan Tama merasa jengkel sekaligus gemas melihat penampilan gadis itu.
Raina datang dengan gaun pendek berlengan sabrina favoritnya yang mengekspose bahu mulusnya. Panjang gaun nya yang jauh di atas lutut menampakkan kaki jenjangnya yang dibalut heels, nampak sangat menggoda. Beberapa pengunjung lelaki tadi langsung menoleh ke arah Raina saat gadis itu memasuki restoran.
Membuat Tama hampir meledak dan menahan dirinya sekuat tenaga agar tak menghajar lelaki-lelaki kurang ajar itu. Belum lagi entah bagaimana pendapat ibunya melihat penampilan Raina.
Bunda Dayen berdiri menyalami Raina, senyumnya tipis saja. Mau tak mau mengakui betapa menawannya gadis di hadapannya ini. Pesona nya sulit ditolak. Dia mulai paham sekarang kenapa putra bungsunya tergila-gila dengan gadis di hadapannya.
"Siang, Tante. Saya Raina," sapa Raina. Agak heran dengan Tama yang memasang wajah dingin padanya.
Bunda Dayen menanggapinya dengan mengangguk. Matanya menelisik gadis di depannya. Gadis ini punya rasa percaya diri yang tinggi. Sikapnya tenang dan tidak terpengaruh oleh sikap Bunda Dayen yang tak sepenuhnya ramah.
"Yuk, silakan duduk. Kita pesen makanan dulu. Kamu mau makan apa, Nak Raina?" tanya Bunda Dayen lembut. Perempuan paruh baya itu pintar menyembunyikan ekspresi.
"Sama kayak pesenan Tama aja, Tan."
Dayen mengangguk lagi dan segera memanggil pelayan. Selesai dengan urusan memesan makanan, Bunda Dayen kini sepenuhnya memperhatikan Raina.
"Sudah lama jalan sama Tama?" tanya Bunda Dayen langsung.
"Baru sekitar dua bulan ini, Tan." jawab Raina. Masih merasa sikap diam Tama adalah sesuatu yang aneh. Cowok itu duduk di sebelah ibunya, sibuk sendiri dengan ponselnya. Tak melirik Raina sama sekali.
"Kamu tinggal di kota ini dengan siapa, Nak?"
"Sendirian, Tante."
"Ngekos atau di rumah sendiri?
"Tinggal di rumah sendiri, Tan," jawab Raina. Melarikan pandangannya ke cowok yang duduk di hadapannya, yang masih acuh padanya.
"Orangtua kamu?" telisik Bunda Dayen.
"Papa-Mama saya sudah berpisah, Tan. Sudah punya kehidupan sendiri-sendiri. Saya tinggal sendirian di rumah pemberian Kakek." jawab Raina tanpa ragu.
Pembicaraan mereka terjeda saat pesanan makanan mereka datang. Tama kecewa karena Raina tak mau mendengarkan sarannya. Ia masih tak habis pikir, bagaimana gadis itu dengan santainya memakai baju sependek itu untuk bertemu ibunya. Tama tak keberatan Raina berbaju minim, asal hanya dikenakan saat bersamanya. Bukan di tempat umum macam ini.
Raina sebenarnya paham kenapa Tama nampak sangat geram padanya. Namun ia memang sengaja, ia tak mau berpura-pura agar disukai oleh Bunda Tama. Ia akan jadi dirinya apa adanya.
"Nak Raina suka masak?" tanya Bunda Dayen lagi. Gadis itu menggeleng tanpa ragu.
" Nggak bisa, Tan," jawab Raina. Tama merasa kepalanya mendadak pening.
Bunda Dayen pun tampak tak berselera menyantap makan siangnya. Kekasih Tama ini jelas sangat jauh dari kriteria menantu idamannya. Latar belakang keluarganya rumit, hidup bebas, tidak bisa memasak, kelihatannya hanya pintar berdandan dan menghabiskan uang saja. Ia sungguh tak rela putra kesayangannya memilih perempuan macam gadis di hadapannya ini untuk menghabiskan usia.
Makan siang itu berakhir dengan cepat karena Bunda Dayen mendadak tidak enak badan. Sebelum berlalu, Tama memberinya tatapan tajam yang dibalas Raina tanpa takut.
Malam harinya Tama datang ke rumah Raina. Raina langsung tahu kalau Tama sedang murka karena gestur tubuhnya yang kaku serta rahangnya yang mengeras. Setelah Raina menutup pintu, lelaki itu segera menghimpit tubuh Raina ke tembok. Memerangkap tubuh gadisnya dengan badan tegapnya.
"Maksud kamu apa bersikap nggak sopan di depan Bunda?" cecar Tama. Ingin sekali ia mengumpat, namun ia menahan diri. Raina yang ditanya, hanya mengangkat alis, pura-puta tak mengerti.
"Nggak sopan gimana?" kata Raina malas. Menggeliat berusaha melepaskan diri, namun sia-sia. Tama mencengkram lengan Raina, menghentikan segala perlawanan gadisnya.
"Pakai baju sependek itu, bertingkah seenaknya dan nggak sopan! Apa sih susahnya bersikap kalem sedikit saja? Kamu tahu kan betapa pentingnya pertemuan tadi buatku?" suara Tama meninggi.
"Aku nggak mau berpura-pura. Aku ingin ibu tahu kamu kenal aku yang sebenarnya. Raina yang broken home, Raina yang tidak bisa masak, Raina yang suka pakai baju seksi. Buat apa aku diterima sama ibu kamu tapi dengan cara berbohong?" jawab Raina.
"Menghargai orang lain itu berbeda dengan berbohong.Aku cuma ingin kamu menghargai Bundaku dengan sedikit kompromi. Apa sih susahnya memakai baju yang sedikit tertutup?"
"Kamu pengen aku pake baju tertutup karena Bunda kamu suka dengan perempuan yang alim dan kalem? Kalau gitu silakan jalan dengan gadis yang kamu kencani semalam, buat ibumu senang! Buat apa kamu buang waktu disini?" Raina tersulut emosi. Bodohnya, matanya mulai basah. Gagal sudah tekadnya untuk tidak menangis lagi di depan Tama.
Tama tertegun. Apa yang gadisnya bicarakan? Almira? Bagaimana bisa Raina tahu tentang Almira?
"Maaf tentang yang semalam. Almira itu anak teman Bunda. Aku nggak ada perasaan apapun sama dia. Kalau aku bilang aku serius sama kamu, itu artinya aku bakalan lakuin apapun untuk memperjuangkan hubungan kita. Kamu paham, kan?" suara Tama melembut.
Cengkeraman Tama pada Raina melunak, dan cowok itu kini menarik Raina ke dalam pelukannya. Mendekap erat gadis yang telah menjungkirbalikkan hidup tenangnya.
"Aku pikir kamu ingin aku berubah agar bisa diterima ibu kamu, berubah menjadi seperti Almira-Almira itu. Aku ngga suka berpura-pura, Tam. Aku sudah terbiasa ditolak. Biasa jadi orang luar. Akan lebih baik kalau aku tahu dimana posisiku sekarang daripada nanti saat aku mulai berharap lebih. Lebih baik kamu lepasin aku sekarang karena aku nggak akan bisa menuhin harapan Bunda kamu."
Tama mendekap Raina tanpa kata. Memikirkan ucapan gadis itu, menyadari bahwa hubungan mereka memang mendapat halangan besar. Karena halangan itu datang dari orang yang paling dihormati Tama dalam hidupnya, Bundanya.
Ia mencintai gadis itu, sangat. Tama yang dulunya dingin terhadap perempuan, bahkan teman-temannya sempat meragukan kenormalan Tama, berubah menjadi cowok bucin dan mesum saat bersama Raina. Segala yang ada pada Raina membuatnya kecanduan. Omelannya, sikap manjanya, kulit mulusnya, harum rambutnya, aroma tubuhnya, mampu membuat Tama tak ingin jauh-jauh.
Raina mendesah lirih, dan Tama baru tersadar kalau bibirnya telah menyusuri garis leher Raina sedari tadi, sementara telapak tangannya yang besar menyusup di balik kaus Raina, mengelus perut rata gadis itu.
Raina tak menolak, meski otaknya menyuruh Tama untuk menjauh. Pembicaraan mereka belum menemukan titik sepakat, tapi nampaknya perhatian cowok itu sudah sepenuhnya teralihkan. Tama kini sedang asyik mengecupi bibirnya, menciumi leher dan tulang selangkanya, menghadiahi nya gigitan-gigitan kecil yang membuat kaki Raina lemas macam agar-agar.
"Tama," cicit Raina. Yang dipanggil hanya menyahut tanpa mengangkat muka. Kembali asyik berkutat dengan dua gundukan kenyal yang tak pernah gagal membangkitkan gairahnya. Membuat Raina menggigit bibirnya menahan desahan.
"Kita belum selesai," ucapan Raina terputus karena ia keburu memekik kecil ketika salah satu puncak dadanya menghilang di dalam mulut Tama.
"Memang. Kita kan baru mulai," jawab Tama, puas melihat gadisnya merona karena perbuatannya.
"Bukan itu. Pembicaraan tadi. Aku belum bilang sepakat jalan lagi sama kamu," protes Raina. Tama menatap Raina lurus-lurus. Mata elangnya semakin gelap karena kemarahan dan hasrat.
"Nggak masalah. Setelah ini, akan aku buat kamu nggak mau lagi lepas dari aku."
Setelah mengucapkan itu Tama membungkam segala protes yang hendak dilontarkan bibir Raina dalam satu ******* liar. Menggoda Raina sedemikian rupa hingga gadis itu membuka bibirnya dengan rela sehingga Tama bisa menjajah lebih jauh. Raina tahu ia tak bisa melawan Tama kali ini.
ada kah didunia nyata lelaki seperti mas tama😁
sukurinnnn
,seru dan terlalu bagus😍
sedih bnget jdi Raina dan Tama😭
mungkin ini udah brpa x aku baca ulang.gk pernah bosan, apa kabarnya ka?buat karya tulis mu yang sebagus ini lg dong ka 🙏