NovelToon NovelToon
Monster Apocalypse

Monster Apocalypse

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Dunia Lain / Light Novel / Tamat
Popularitas:1.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: PenaKertas

[Kembali dilanjutkan. Hanya saja slow update. Harap maklum]

Apa yang akan kau lakukan jika seluruh kota telah dipenuhi oleh monster?

Natan Alexander. Pemuda yang menjadi player pertama di Bumi karena tidak sengaja menginjak serangga dan membunuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PenaKertas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 027 : Bermalam di Hutan

Ayumi dan Erina berjalan menghampiri Natan yang bersandar pada batang pohon, kemudian mengelap semua keringat yang membahasi wajah.

Natan tersenyum tipis saat mendapatkan perawatan semacam ini, namun tidak ada perasaan khusus. Bagaimanapun, mereka berdua adalah Adik kecilnya yang ia rawat selama dua tahun.

"Aku berterimakasih, karena kalian berdua membersihkan wajahku. Tapi ..." Natan terdiam untuk beberapa saat karena sulit untuk berbicara. "Janghan, menekan wajahku, denghan ke ... ras."

Keduanya hanya terkekeh kecil dan tidak berhenti memainkan wajah Natan. Hingga karena sedikit kesal, Natan mulai membalas mencubit pipi mereka berdua bersamaan.

Natan berdiri setelah cukup beristirahat dan memberi pelajaran pada Ayumi maupun Erina. Ia menoleh melihat sekitar, dan membuka salah satu kemampuannya yang dapat mencari keberadaan makhluk hidup dalam radius 100 meter darinya. "Tidak ada Bateng Bertanduk Pedang di sekitar, meski ada beberapa hewan kecil seperti kelinci."

"Kelinci?!" Ayumi dan Erina berdiri, memperlihatkan mata berkilauan menjelaskan ketertarikan.

Natan menaikkan sebelah alisnya melihat ekspresi itu. Ia tahu keduanya sangat suka dengan hewan kelinci, tapi kelinci di sini bukan seperti pada umumnya, karena memiliki nama Kelinci Bertaring. "Ini bukan kelinci biasa, kelinci ini bisa membuka mulutnya selebar mungkin, memiliki taring besar dan dapat menelan manusia."

Ayumi dan Erina tertegun, kemudian menundukkan kepalanya lesu. Mereka sedikit lupa tentang fakta bahwa dunia telah berubah, dan tentu saja itu akan memengaruhi hewan-hewan yang ada.

"Ini memang baru jam dua siang, tapi kita harus pergi ke tengah-tengah daratan aneh ini, dan mencari tempat beristirahat yang nyaman. Kita juga mungkin akan menghabiskan berhari-hari di sini, mengingat seberapa luas tempatnya."

Keduanya berdiri dan berjalan di belakang Natan yang memimpin jalan.

Natan menengadahkan kepalanya melihat langit, kemudian mengalihkan perhatiannya pada pepohonan sekitar. "Ayo tebang beberapa pohon, dan membuatnya menjadi papan. Kita akan membuat tempat beristirahat di pohon tertinggi." Ia menunjuk jarinya pada pohon yang menjulang tinggi, yang ia lihat saat masih berada di atas tebing.

"Baik."

Ketiganya mulai menebang pohon di sekitar, dengan Kuro yang menjaga keadaan agar tidak ada hewan yang mengganggu.

Pohon-pohon di sini sangat besar, setidaknya setinggi sepuluh meter dengan diameter satu meter. Jika ada Job Pengrajin Kayu, mungkin akan sangat mudah untuk mengubah semua batang pohon menjadi kayu panjang maupun papan.

Dalam menebang pohon, Natan tidak tanggung-tanggung dan menebang ribuan pohon besar. Ia tidak peduli dengan alam di sini, karena pastinya akan kembali seperti semula, atau menghilang setelah Dungeon Tower ditaklukkan.

Puluhan menit berlalu, semuanya telah selesai, termasuk membuat batang kayu dengan papannya sekali. Dengan ini mereka bisa membangun rumah di atas pohon untuk tempat beristirahat, dan untuk paku, Ayumi bisa membuatnya dengan mudah.

Hanya perlu meletakkan biji besi di telapak tangan, kemudian mengalirkan Mana, dan biji besi itu akan berubah bentuk, seperti clay yang dapat diubah menjadi apapun.

Setelah selesai melakukan pekerjaan, mereka mulai berlari ke tengah-tengah wilayah, dan hanya membutuhkan hitungan menit saja untuk sampai ke sana.

Terlihat, sebuah pohon yang sangat besar, berdiameter tiga meter dengan tinggi sekitar tiga puluhan meter. Di sebelah pohon itu terdapat sungai yang cukup deras dan sangat jernih, di tepi sungainya juga ada sebuah batu besar yang cocok untuk tempat duduk.

Natan menengadahkan kepalanya melihat bagian pohon yang tertinggi. "Dahan-dahan pohonnya terlihat kokoh, dan bermekaran, sangat cocok untuk dibangun sebuah rumah ..."

Natan mengalihkan perhatiannya pada dasar pohon. "Kita tidak bisa beristirahat di bawah, mengingat monster yang dilawan adalah banteng yang memiliki kecepatan tinggi, terlebih tanduknya adalah pedang."

"Ayo naik." Natan melompat dari tempatnya, pergi menuju dahan yang hampir berada di puncak pohon.

Untuk Ayumi dan Erina, mereka melompat dengan bantuan Kuro.

Tanpa berlama-lama lagi, Natan mulai bekerja untuk membangun tempat beristirahat. Ia meletakkan beberapa batang kayu yang telah dibuat seperti yang ada di toko bangunan, kemudian melekatkannya pada dahan pohon dengan paku.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk membuatnya, hanya butuh setengah jam dan sudah menyelesaikan membangun lantai kayu seluas 100 meter² yang mengelilingi batang pohon.

"Kalian berdua silakan pasang tenda atau terpal di bagian atasnya, kita tidak mungkin benar-benar membangun rumah." Natan memberi perintah pada Ayumi dan Erina, sebelum ia pergi ke puncak pohon.

Natan yang sudah berada di puncak pohon itu melihat ke arah utara, ia mengetahui itu arah utara karena Matahari mulai turun ke sebelah kirinya. Ketika ia melihat apa yang berada di sana, ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya terhadap monster banteng yang dilihatnya.

Dua ratusan meter dari pohon besar ke arah utara, ada hamparan rumput yang luas dan terlihat puluhan Banteng Bertanduk Pedang, yang besarnya seperti truk.

"Untungnya, Heatlh mereka tidak terlalu banyak, meski serangan yang ditimbulkan tentunya sangat mengerikan, mengingat STR tertinggi mereka mencapai lima ratus Point."

Natan mengeluarkan tali tambang dan mengikatkannya pada pinggangnya serta batang pohon, kemudian ia mengeluarkan Sako TRG untuk menembak Banteng Bertanduk Pedang dari jauh. Jika ia bisa membunuhnya dengan satu kali tembak, maka ia akan menghabisi semua bantengnya hari ini juga.

"Increase Shot!"

Tujuh peluru Mana melesat bagaikan kilatan cahaya yang sangat cepat, mengarah pada salah satu banteng terbesar yang memiliki serangan terkuat, namun darah paling sedikit, tidak sampai 50.000 Point.

Dengan damage tembakan Mana Natan yang mencapai 88.200 per tembakan, tentunya dapat membunuh monster itu dengan mudahnya, terlebih menggunakan Increase Shot yang menambahkan enam peluru tambahan.

Bang! Bang! Bang!

Natan terus menembak Banteng Bertanduk Pedang, hingga belasan menit berlalu, ia sudah membunuh 68 banteng. Hanya tersisa tujuh lagi untuk dapat menyelesaikan misi yang diberikan.

"Ayumi, Erina. Kalian berdua tunggu di sini, aku ingin mengambil Item Drop sebentar saja."

"Baik, Kakak."

Natan melepaskan ikatannya, dan mulai melompat dari satu dahan ke dahan lain yang tempatnya lebih rendah dari pohon saat ini. Untuk sampai ke hamparan rumput, ia hanya membutuhkan waktu hitungan detik saja.

Banyak daging merah yang segar tergeletak di atas rerumputan, bersama dengan tulang besar di tengah-tengah dagingnya, tidak seperti sebelumnya yang tidak ada tulang. Dengan melihatnya saja, itu benar-benar seperti daging yang ada pada game.

[Pedang Tanduk Lv.100]

[Bilah pedang yang terbuat dari tanduk Banteng Bertanduk Pedang]

[+10 STR, %10 STR, +10 DEX]

[Bull Meat 10 Kg (R)]

[Daging berkualitas tinggi yang hanya bisa ditemukan dari monster tertentu, dan memiliki level yang lebih dari 100]

[Recovery Health 5000/m dan Recovery Mana 500/m]

Natan puas dengan pendapatannya, bukan hanya pedang dan daging, ia juga mendapatkan kulit, tulang, maupun Inti Monster dari Item Drop Banteng Bertanduk Pedang.

"Aku tidak tahu di mana banteng yang lain, mungkin mereka sedang berada di sana." Natan melihat hutan lain yang berada di seberang, hutan yang tidak terlalu besar namun terlihat air terjun yang cukup tinggi.

"Tapi, meski kami berhasil membunuh semua monster, aku tidak ingin cepat-cepat pergi sebelum mengambil semua sumber daya di sini. Tanaman herbal, buah-buahan, ikan, kelinci, sayur, dan lain sebagainya ..."

"Lalu untuk lantai selanjutnya, aku harap kami tiba di persawahan, yang ada banyak padi maupun gandum."

Natan memasukkan semua Item Drop yang didapatnya ke dalam Inventory Guild, karena di sana slot penyimpanannya lebih banyak dan mudah untuk ditingkatkan. Ia yang masih berjalan-jalan di hamparan rumput itu memberi pesan pada Ayumi, untuk memasak makan malam mereka.

Natan berkeliling untuk mencari tanaman-tanaman di hamparan rumput, entah rumput yang terlihat aneh maupun bunga-bunga yang berada di sana. Ia mengambil apapun yang bisa dibaca melalui Appraisal, dan membiarkan Erina mengembangkan kemampuan Alkimianya.

"Sudah cukup." Natan berdiri dari posisi berjongkok seraya berkacak pinggang berkali-kali, mencoba menghilangkan pegal pada bagian tulang belakangnya.

Natan berbalik dengan kecepatan tingginya menuju pohon pusat. "Hari sudah mulai petang, dan aku harus kembali untuk makan. Aku juga belum melihat hadiah dari membunuh King Lizardman, serta menanyakan kabar pada Mayor Arief ..."

Natan terdiam sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya, "Melihat dari levelnya, sepertinya dia tertekan dan mendapatkan hukuman karena tindakanku di sana."

Walupun ia sangat tidak menyukai sikap Mayor Arief yang membiarkan Ayumi terluka, tapi karena Mayor Arief jugalah ia bisa menggunakan senjata api. Namun ia tidak berkeinginan untuk mengajaknya bergabung dengan Guild Armonia.

Ia sudah memiliki satu kandidat untuk bergabung menjadi anggota kelima Guild Armonia, itu adalah Guru B.K saat ia masih sekolah menengah pertama, dan Guru itu harus pindah karena melanjutkan pendidikannya.

"Seharusnya, dia belajar Psikologi. Itu adalah bidang yang tepat untuk saat ini. Bagaimanapun, aku berencana untuk membuka penerimaan anggota guild."

...

***

*Bersambung...

1
Janu Ary
27 meter kubik itu 27x27x27 sangat besar itu volumenya kenapa jadi ukuran kamar normal ?
Janu Ary
untung bukan indodesi atau indoagus 🤭
muhadsa
367
muhadsa
mana skill meteor fall
muhadsa
ini baru keren..harusnya mc juga punya skill tipe aoe yang badas..
muhadsa
lah..langsung level 340..
muhadsa
mo lian ini mirip namanya dengan novel sebelah..mo lian si perampok makam..
muhadsa
miskin nama..kenapa gak bikin aja meta 1,meta 2 dan seterusnya..😄😄
muhadsa
kelihatannya skil kedua adiknya lebih keren dan op daripada skill mc sendiri yang hanya mengandalkan sniper..padahal kan mc punya job mage tapi gak pernah dipakai..
muhadsa
ngapain diubah,langsung tambah lagi saja..mage kan juga keren buat kerusakan aoe..
🔱⚜㊗️Raden J. Budi. H㊗️⚜🔱
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣dasar bocil 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Game Game
kok 0 kan udh naik level
Game Game
ini mah hitungannya skill aktif
Eva
ᵘᵏᵘʳᵃⁿ ᵏᵃᵐᵃⁿ 200ᵃⁿ ᵐᵉᵗᵉʳ...2 ᵏᵃˡⁱ ᵘᵏᵘʳᵃⁿ ˡᵃᵖᵃⁿᵍᵃⁿ ˢᵉᵖᵃᵏ ᵇᵒˡᵃ ᵈᵒⁿᵍ...ᵃᵖᵃ ⁿᵍᵍᵃᵏ ᶜᵃᵖᵉᵏ ᵗᵘʰ ʲᵃˡᵃⁿ ᵈᵃʳⁱ ᵖⁱⁿᵗᵘ ᵐᵉⁿᵘʲᵘ ᵗᵉᵐᵖᵃᵗ ᵗⁱᵈᵘʳ...
Robby Tom
salah satu novel terbaik di NT 👍
Robby Tom
cerita yg bagus tapi author kenapa tidak membuat karya yg baru lagi ?
Jack Strom
2x nanggung... 😁😅😂🤣
ali maxsum
ada Lampung segala ini cerita nya negara apa Tiongkok apa Indonesia
ali maxsum
judulnya kok Sumatra padahal ini tinggal nya di Tiongkok 🤣
🔱⚜㊗️Raden J. Budi. H㊗️⚜🔱: kan mreka baru nyampe sumatera, klo g salah bird island adanya di wil sumatera island jg, msih jauh dri penyebrangan ke batam & singapura😄😄
total 1 replies
ali maxsum
kok ada kota cina juga ada jakarta,Lampung, Sumatra ini yg jelas negara apa ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!