NovelToon NovelToon
My Cold Husband

My Cold Husband

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:347k
Nilai: 5
Nama Author: maudia

Harap bijak dalam memilih bacaan⚠️
Area 21++

Nadiyya Anita Putri seorang gadis yatim piatu yang kini hidup bersama ibu tirinya yang bernama Ibu Naya dan adik tirinya yang bernama Natasya Amora Silvia dirumah lantai dua peninggalan ayahnya.

Suatu hari ada seorang Nyonya besar dari keluarga Gonz'alez datang. Keluarga kaya raya dan sangat berkuasa di london - inggris.

Kedatangannya ke kediaman mereka karena ingin melamar seorang gadis untuk menjadikannya sebagai menantunya dan itu artinya dia akan menjadi istri dari putranya - Rahim Aditya Gonz'alez seorang yang berwajah dingin datar namun tampan dan sangat kaya raya.

Lantas siapakah yang dipilih oleh Nyonya besar untuk menjadi menantunya? apakah Natasya Amora Silvia atau kah Nadiyya Anita Putri?.

Dan bagaimana kah cerita perjalanan kisah pernikahan mereka yang tanpa adanya cinta sama sekali?.

Apakah ditengah tengah perjalanan pernikahan mereka nanti akan tumbuh benih-benih cinta? ataukah perceraian menjadi jalan terbaik?.

Yukkk ikuti cerita kisah mereka hanya di My Cold Husband

SLOW UPDATE 🙏🏻


NOVEL PERTAMA, MOHON DUKUNGANNYA ♥️
JANGAN LUPA KLIK FAVORIT ❤️, LIKE👍🏻, TINGGALKAN JEJAK 👣.


Tanpa kalian author bagaikan burung tak bersayap💔.

شكرا جزيلا♥️

Terimakasih banyak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 27 - Siraman Rohani

Nita meletakkan pakaian kerja Rahim di atas tempat tidur. Ia berjalan menyingkap tirai kemudian membuka pintu balkon. Mematikan AC menggantinya dengan dinginnya angin pagi yang begitu segar, masuk menyelimuti seluruh kamar.

Di luar masih tampak gelap dengan banyaknya embun pagi yang menyeruak, hanya seberkas cahaya oranye yang melintas tegak lurus dari arah timur.

Sekarang pukul 04.25 WIB. Nita masih berdiri di balkon menunggu adzan subuh.

Gadis itu merentangkan tangannya dengan kepala sedikit menengadah sembari memejamkan matanya lalu menarik nafas dalam, membiarkan udara pagi yang begitu segar mengalir masuk ke alveolus (paru-paru) menarik lagi, kemudian menghembuskannya pelan.

Rahim mandi secepat kilat. Saat tadi ia ingin masuk ke dalam kamar mandi jam sudah menunjukkan pukul 04.22 WIB itu artinya hanya 9 menit lagi adzan subuh. Pria itu keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk sepinggang, dengan rambut yang masih basah.

Rahim mencium ketiaknya beberapakali, memastikan kalau badannya tidak bau karena ia tadi tidak banyak memakai sabun. Dan waktunya untuk mandi pun hanya 5 menit. Mana sempat menyelesaikan semua ritual mandinya. Lalu pria itu menyapu ruangan mencari keberadaan calon Nyonya besar.

Nita masih menikmati segarnya udara di pagi hari. Tapi matanya yang terpejam tiba-tiba terbuka saat merasakan seseorang memeluknya dari belakang.

"Rahim tubuh mu masih basah" Nita menggerak-gerakkan badannya agar terlepas dari Rahim.

Bukannya melepas Rahim malah mengeratkan pelukannya. Dia menyenderkan kepala di bahu Nita kemudian menciumi leher putih istrinya. Nita menggeliat geli. Angin pagi berhembus kencang menerpa kulit, membuat bulu kuduk nya meremang.

Tapi sepertinya tidak dengan Rahim, tubuhnya seperti kebal terhadap dingin. Ia masih asik mengabsen setiap inci leher Nita, menghisap kuat hingga menimbulkan bekas merah di lehernya yang putih.

"Rahim! kenapa kau selalu saja menggigit ku" gerutu Nita sembari menjauhkan tubuhnya.

"Ini bukan menggigit sayang, ini Kissmark. Tanda kepemilikan" jawab Rahim mendekat sembari mengusap lembut leher Nita yang kini memerah.

Nita bergidik geli setiap mendengar kata 'sayang' dari mulut Rahim. Memang ini tidak pertama kali Rahim memanggilnya seperti itu, tapi tetap saja Nita masih merasa aneh dan geli.

Rahim kembali mendekatkan dirinya, ingin mencari kehangatan dari hembusan angin pagi yang menerpa.

Tapi terhenti saat muazin dengan lantangnya mengumandangkan Adzan subuh:

اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ

اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ

أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ

أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ

اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

ااَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ ، اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ

لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ

Sepanjang adzan subuh berkumandang Rahim memilih diam dan memperhatikan Nita yang sepertinya sedang menjawab adzan. Karena setiap lafadz adzan yang muazin kumandangkan Nita membalasnya sampai lafadz adzan selesai. Kemudian Nita membaca doa sesudah adzan:

للهُمَّ رَبَّ هذِهِ الدَّعْوَةِ التَّآمَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَآئِمَةِ، آتِ مُحَمَّدَانِ الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَالشَّرَفَ وَالدَّرَجَةَ الْعَالِيَةَ الرَّفِيْعَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًامَحْمُوْدَانِ الَّذِىْ وَعَدْتَهُ اِنَّكَ لاَتُخْلِفُ الْمِيْعَادَ

"Ayo kita sholat" ajak Nita, setelah selesai mengucap kata 'amin' kemudian berlalu meninggalkan Rahim masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu.

Rahim malah mematung di balkon sendirian. Kegiatannya tadi belum selesai tapi sudah harus selesai. Apa boleh buat?. ia hanya bisa menghela nafas dengan panjang untuk saat ini. Bersabar. Anggap saja dirinya itu adalah seorang petani yang harus banyak sekali bersabar menunggu untuk dapat memanen seluruh hasilnya.

Sekarang Rahim sudah sering sholat berjamaah bersama dengan Nita, dan sekarang Rahim juga sudah bisa lebih melaksanakan sholat tepat waktu tidak lagi melalaikan atau menunda-nundanya seperti dulu. Itu semua akibat dorongan keras dari Nita.

Rahim menarik nafas. Ia mengangkat tangan kanan lalu meletakkannya ke telinga kanan. Rahim mengumandangkan iqomah sama lantangnya seperti muazin yang tadi mengumandangkan adzan.

اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ

أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ

اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ ،قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ

اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ

لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ

"Allahuakbar" Rahim mengangkat takbiratul ihram di ikuti oleh Nita sebagai makmumnya hingga gerakan terakhir 'salam'.

Nita meraih tangan Rahim lalu menciumnya setelah selesai salam dan berdoa. Sekarang Rahim adalah suaminya. Sekarang Rahim juga sudah menjadi imamnya. Sekarang kepada Rahimlah dirinya harus berbakti dan melayaninya lahir bathin. Dan Nita tahu itu, tapi untuk melayani secara bathin, dirinya hanya perlu waktu untuk memantapkan kembali hatinya.

Rahim bangkit dan kembali merebahkan dirinya ke atas tempat tidur tanpa melepas baju koko beserta sarungnya sedangkan Nita membereskan peralatan sholat mereka.

"Apa kau tadi sedang menjawab adzan?" Rahim membuka pembicaraan, lebih mudah berbicara dengan Nita kalau berkaitan dengan agama.

"Iya" Nita bangun lalu masuk keruang ganti baju meletakkan kembali mukena serta sejadah mereka.

Pendek sekali!

Rahim kembali menghela nafas. Jawaban Nita sungguh pendek, padat dan sangat jelas.

"Rahim cepatlah ganti pakaian mu"

"Huuus!" Rahim kaget, ia langsung menjauhkan dirinya.

Sejak kapan Nita sudah berada di sampingnya?.

'Plak'. Satu tepakan mengenai lengan Rahim. "Kau fikir aku ini hantu?!" Nita mendelik. Enak saja!, fikirnya.

"Tidak sayang. Siapa yang berani menyebut mu hantu hemm? siapa siapa? mana sini orangnya?"

Cih!. Nita mencibir.

"Sudahlah cepat kau pakai pakaian mu" titah calon Nyonya besar. Rahim langsung mengganguk tidak membantah.

"Dan ini sepatu mu" Nita meletakkan sepatu yang baru iya bawa di samping kaki Rahim.

"Iya." Rahim menunduk, dia sedikit kesulitan memasukkan kancing kerah kemejanya.

Nita memperhatikan Rahim yang sepertinya sangat kesulitan memasang kancing kemejanya. "Sini biar aku saja" tangan Nita terasa sangat gatel melihat Rahim yang memakai kemeja sangat lama.

"Tadi aku lihat kau hanya memperhatikan ku? kenapa kau juga tidak menjawab adzan?" tanyanya di sela mengaitkan kancing kemeja bagian bawah.

"Itu.... aku lupa" Rahim cengengesan.

"Kau ini!" ckckckck. Nita menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Menjawab adzan itu sunnah karena nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda---"

"Iya aku tahu, aku bilang hanya lupa" potong Rahim beralasan. Kalau tidak siraman rohani dari istrinya hari ini akan panjang dan tidak akan berkesudahan.

"Baiklah. Aku akan mengingatkannya pada mu. Dan kau harus berjanji akan mengingatnya sampai kau mati!"

Rahim menelan salivanya susah. Karena Nita menekankan kata 'sampai kau mati!'.

"Kita menjawab adzan sama dengan apa yang di lafadzkan muadzin. Sebagaimana: Dari Abu Sa’id Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

'Jika kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan muadzin'."

"Contohnya: Allahuakbar, Allahuakbar." Nita menirukan lagam seorang muadzin yang tengah mengumandangkan adzan.

Terdengar begitu merdu di telinga Rahim.

"Nah kita menjawab sama, seperti menuruti lafadz muadzin. Allahuakbar, Allahuakbar. Kemudian setelah muadzin melanjutkan. Asyhaaduanlaailaahaillallaah, Asyhaaduanlaailaahaillallaah."

"Kita juga menjawab. Asyhaaduanlaailaahaillallaah, Asyhaaduanlaailaahaillallaah. Sampai seterusnya."

"Kecuali pada lafadz. Hayya’alassolaah dan Hayya’alalfalaah."

"Kita menjawab dengan Laa hau laa walaa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘adziim." Rahim mengangguk faham. Ya karena penjelasan Nita sangat sederhana, sangat mudah untuk di fahami. Dia bisa mengemas materi penjelasan yang seharusnya panjang lebar. menjadi terperinci, singkat, padat dan jelas sama persis seperti gurunya waktu sekolah SMA dulu.

"Bagaimana dengan adzan subuh?" tanya Rahim. Karena pada adzan subuh berbeda, ada penambahan lafadz yang bertujuan untuk mengajak umat muslim sholat daripada tidur.

"Ah iyaa... pada lafadz Assolaatukhoirumminannauum"

"Kita menjawab dengan Shodaqta wa barorta wa anaa ‘alaa dzaalika minassyaahidiin."

"Shadaqta wab-bbarorrta wa--- apa?" eja Rahim bingung. Nita tadi sangat cepat saat mengucapkannya.

"Bukan... hihihihi" Nita tertawa mendengar ejaan Rahim . "Tapi Shodaq-ta wa baror-ta wa anaa ‘alaa dzaalika minas-syaahidiin." ia mencoba mengeja perlahan, membenarkan. Di ikuti oleh Rahim.

"Shodaq-ta wa baror-ta wa anaa ‘alaa dzaalika minas-syaahidiin. Wahh bisaa" kata Rahim. Matanya berbinar kagum menatap Nita.

Tatapan Rahim kepada Nita berubah. Sekarang Rahim benar-benar mengakui kalau Nita memang pantas menjadi seorang guru. Guru Idaman. Dari caranya merangkum materi untuk menjelaskan sampai cara dia menjelaskannya. Dengan sabar dan begitu detail

"Sejak kapan kau menghafalnya?"

"Aku tidak menghafalnya. Melainkan mengingatnya!. Karena kalau di hafal. Satu bulan, dua bulan, tiga bulan? bisa lupa dan akhirnya hilang. Berbeda dengan mengingatnya. Satu hari, ingat. Dua hari, tiga hari, satu bulan, dua bulan masih ingat. Bahkan sampai bertahun-tahun. Apalagi kalau kau mengamalkannya otomatis kau akan selalu mengingatnya."

"Nah setelah menjawab adzan kita di anjurkan untuk membaca doa setelah selesai adzan. Dalam sebuah hadits mengatakan bahwa orang yang membaca doa setelah adzan maka kita akan mendapatkan syafaat dari Allah SWT di hari kiamat kelak"

Wow! kau selalu bisa membuatku kagum.

Ternyata istrinya mempunyai pengetahuan yang amat luas tentang agama islam. Sesuatu yang hampir tidak ada pada dirinya.

Kalau di rumah tangga orang lain laki-laki lah yang akan menuntun dan membawa istrinya ke surga. Tapi berbanding terbalik dengan dirinya. Di sanalah Nita mempunyai nilai plus. Sungguh Rahim merasa sangat beruntung bagai mendapat bongkahan berlian.

.

.

.

Assalamualaikum

Penjelasan.

Karena tadi di potong Rahim qiqiqi.

Pendapat jumhur ulama – Malikiyah, Syafiiyah, dan Hanbali – bahwa menjawab adzan hukumnya anjuran (sunnah) dan tidak wajib.

Bagi yang bisa dan sanggup untuk menjawab tiap panggilan adzan, maka ada keutamaan dan pahala yang besar untuknya. Dari Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمْ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ…مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Jika muadzin mengucapkan, ‘Allahu akbar… Allahu akbar…’ lalu kalian menjawab, ‘Allahu akbar… Allahu akbar…’ (hingga akhir adzan).. dia ucapkan itu dari hatinya, maka akan masuk surga.” 

Jika tidak bisa maka tidaklah mengapa. Sehingga apabila seseorang dalam kesibukan yang membuatnya tidak bisa menjawab adzan, tidak ada dosa baginya. Karena menjawab adzan adalah amalan sunnah ketika adzan dikumandangkan, bukan sebuah kewajiban.

Lafadz arab menjawab adzan

لاحول ولا قوة الا بالله العلي العظيم

Laa hau laa walaa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘adziim

شودة وبرطه وآنا علاء دزاليقة منسياحيدين

Shodaqta wa barorta wa anaa ‘alaa dzaalika minassyaahidiin

Doa setelah adzan

للهُمَّ رَبَّ هذِهِ الدَّعْوَةِ التَّآمَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَآئِمَةِ، آتِ مُحَمَّدَانِ الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَالشَّرَفَ وَالدَّرَجَةَ الْعَالِيَةَ الرَّفِيْعَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًامَحْمُوْدَانِ الَّذِىْ وَعَدْتَهُ اِنَّكَ لاَتُخْلِفُ الْمِيْعَادَ

Allaahumma robba haadzihid da’watit taammah, washsholaatil qoo-imah, aati muhammadanil washiilata wal fadhiilah, wasysyarofa, wad darajatal, ‘aaliyatar rofii’ah, wab’atshu maqoomam mahmuudanil ladzii wa’adtah, innaka laa tukhliful mii’aadz.

Artinya: “Ya Allah, Tuhan pemilik panggilan yang sempurna (adzan) ini dan shalat (wajib) yang didirikan. Berilah al-wasilah (derajat di surga), dan al-fadhilah (keutamaan) kepada nabi Muhammad. Dan bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempati kedudukan terpuji yang Engkau janjikan.”

Dari Jabir bin Abdullah Ra, bahwasannya Rasulullah telah bersabda: 'Barang siapa ketika mendengar adzan lalu mengucapkan (doa setelah adzan), maka masuklah syafaatku baginya di hari kiamat.' (HR. Bukhari).

Bagaimana dengan kalian? Apa juga mengerti sama seperti Rahim?.

Segitu dulu ya🤗 Nita hanya sedikit berbagi pengetahuannya. lebih kurangnya aku minta maaf🤗 Bagi yang baru tahu bisa di ingat dan coba mengamalkannya. Jangan di hafal ya! karena hafalan bisa saja hilang. Dan Bagi yang sudah tahu mohon untuk mengamalkannya lagi dan meneruskannya. seperti yang Nita katakan. Dengan mengamalkannya otomatis kita akan selalu ingat sampai kapanpun🤗.

Maaf ya kalau bab ini sedikit lebih kental tentang agamanya🤗 Salah khilaf mohon di maafkan 🙏🏻. Jangan lupa kasih hadiah kopi untuk Rahim dan Anita, kalau tidak setangkai bunga mawar pun tidak masalah🌹

شكرا جزيلا♥️

(terimakasih banyak)

1
Dindaa
mantap
Alia Addurrunnafis
kpn di lnjud lg thor??
Febri Ana
aku mampir thor
R.A
seperti cinderela awal ceritanya 👍
Staffs AZ Zahro
tulisanya tamat tapi ceritaya nanggung banget
manda_
👍👍👍👍
manda_
keren 👍👍👍
manda_
👍👍👍
manda_
lanjut thor semangat buat up lagi ya
manda_
lanjut
manda_
nita mulai cemburu ya
manda_
🤣🤣🤣😂😂
manda_
mulai dikit2 ya biar nitanya gak kaget
manda_
pak supir lagi luluran non sama lumpur
manda_
lanjut
manda_
baru liat bibirnya aja udah bangun ya dedeknya 😂😂😂😂🤭🤭
manda_
😍😍😍
manda_
lanjut
manda_
👍👍
manda_
😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!