**Kirana Ayu Prawira**, putri keluarga pengusaha ternama Surabaya yang cantik dan berbakat, dijebak oleh kakak tirinya, **Melati**, di satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Ia terbangun dalam keadaan sudah terikat pernikahan dengan **Bagas** — seorang perwira miskin yang selama ini ia pandang sebelah mata — sementara Melati diam-diam merebut tunangannya, **Rangga**, sang "tuan muda" keluarga konglomerat **Adiningrat**.
Belum sempat bangkit dari malu, keluarganya bangkrut dan namanya hancur berkeping-keping. Dan ketika Kirana menyadari dirinya mengandung anak kembar, tak ada lagi jalan pulang. Dengan harga diri yang tersisa, ia mengejar Bagas hingga ke kota kecil tempatnya bertugas, memintanya bertanggung jawab.
Yang tak pernah Kirana duga — pria dingin berpangkat rendah yang ia remehkan itu justru memujanya diam-diam. Dan ia menyimpan satu rahasia yang akan mengguncang dua keluarga: **Bagas adalah anak yang tertukar sejak lahir, pewaris sejati konglomerat Adiningrat yang dibesarkan di sebuah desa.** Sementara Rangga, pria yang diperebutkan Melati, sama sekali bukan darah daging keluarga itu.
Saat kebenaran perlahan terungkap, Bagas bertekad merebut kembali segala yang seharusnya menjadi haknya. Demi istri dan anak-anaknya, ia rela berjuang mati-matian meniti puncak — dari perwira desa menjadi tuan muda yang disegani. Tapi Melati tak pernah sudi mengalah, Rangga menyimpan sisi gelap yang mengerikan, dan seorang pria dari masa lalu Kirana datang membawa dendam...
_Akankah "salah nikah" ini justru menjadi jodoh yang ditakdirkan? Dan ketika sang perwira miskin akhirnya berdiri sebagai tuan muda sejati — siapa yang akan menyesal seumur hidup karena pernah memandangnya rendah?_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27: Rumah Kecil dan Topi Biru
Minibus berhenti tidak jauh dari kantor layanan kota.
Bagas turun lebih dulu, lalu berdiri di sisi pintu sampai Kirana menapak trotoar. Prapti dan rombongan dari Girimulyo melanjutkan perjalanan menuju pasar.
"Kamu masih memikirkan topi itu?" tanya Bagas.
"Aku memikirkan kenapa satu pesanan bisa membuat banyak keluarga bekerja lagi."
"Kita datang untuk mengambil dokumen."
"Aku bisa memikirkan dua hal sekaligus."
Di meja layanan, Kirana menunjukkan KTP dan nomor dokumen keluarga yang memakai namanya. Ia meminta salinan resmi riwayat alamat korespondensi setelah akad pertama.
Petugas memeriksa hak aksesnya sebelum mencetak dua halaman.
"Nama Ibu tercatat sebagai pemilik data," katanya. "Tapi nomor kontak dan alamat penerima surat menggunakan data penghubung keluarga."
Jari Kirana berhenti pada satu baris.
`Kontak penghubung: Melati Prawira.`
Nomor di bawahnya berbeda dari nomor Melati sekarang, tetapi empat angka terakhir sama dengan petunjuk nomor pemulihan pada surel palsu.
"Apakah catatan ini membuktikan dia mengirim surel?" tanya Bagas.
Petugas menggeleng. "Tidak. Ini hanya membuktikan nomor tersebut pernah didaftarkan sebagai kontak penghubung pada tanggal itu. Untuk membuktikan pengiriman perlu data dari penyedia layanan atau pemeriksaan yang berwenang."
"Kami mengerti," jawab Kirana. "Tolong beri cap dan nomor salinan."
Ia tidak membutuhkan petugas itu untuk menuduh siapa pun. Satu fakta kecil sudah cukup menutup satu celah dalam garis waktu mereka.
Dari kantor layanan, mereka berjalan sepuluh menit menuju rumah sewa yang ditemukan Gunawan. Bangunannya berdiri di gang yang cukup lebar untuk mobil kecil. Cat luar memudar, tetapi halaman depannya bersih dan halte minibus hanya berjarak satu tikungan.
Pemilik rumah membuka pintu. "Dua kamar, satu kamar mandi, dapur belakang. Air sumur pompa lancar."
Kirana masuk perlahan. Ruang depan tidak luas, tetapi dua jendelanya membuat udara bergerak. Ia memeriksa kunci pintu, bekas lembap di langit-langit, stopkontak, dan lantai kamar mandi.
Bagas hanya menatap dinding kosong. "Cukup."
"Belum," kata Kirana.
Ia meminta pemilik menyalakan semua keran. Air dapur mengalir kecil. Kait jendela kamar belakang longgar, sedangkan noda di langit-langit menunjukkan atap pernah bocor.
"Kalau kami menyewa, kunci depan diganti, kait jendela diperbaiki, dan atap diperiksa sebelum uang jaminan dibayar," katanya.
Pemilik rumah tampak tidak senang. "Penyewa sebelumnya tidak pernah protes."
"Mungkin mereka tidak sedang hamil dan tinggal sendiri saat suaminya bertugas."
Bagas menoleh kepada Kirana saat mendengar kata suaminya. Ia tidak mengoreksi.
"Sewanya sudah murah," ujar pemilik.
"Karena catnya lama dan dapurnya perlu perbaikan. Saya tidak minta harga turun. Saya minta rumah aman sesuai harga yang Ibu tetapkan. Semua ditulis dalam daftar serah terima."
Setelah tawar-menawar singkat, pemilik setuju memperbaiki tiga hal dalam dua hari. Uang jaminan baru dibayar saat mereka memeriksa hasilnya dan menandatangani kontrak.
Di luar rumah, Bagas memandang Kirana dengan ekspresi aneh.
"Kenapa?"
"Aku hampir membayar tadi."
"Aku tahu."
"Kalau kamu tidak ikut, dua hari lagi mungkin aku baru tahu atapnya bocor."
"Karena itu rumah tidak dipilih hanya dari jumlah kamar."
"Kamu sering memeriksa rumah sewa?"
"Aku pernah belajar desain ruang. Dan keluarga Prawira dulu punya banyak bangunan."
Kirana tidak menambahkan bahwa ia juga memiliki satu rumah atas namanya sendiri. Itu masih menjadi jalan keluar yang belum siap dibuka.
Bagas mengeluarkan buku kecil. Ia menulis tiga syarat perbaikan dengan rapi.
"Kalau semuanya selesai, kamu mau tinggal di sini?"
"Aku mau melihat sekali lagi. Setelah itu baru jawab."
"Baik."
Mereka melanjutkan ke koperasi untuk membeli kebutuhan sederhana. Bagas mengambil seprai, ember, kunci tambahan, dan ketel. Kirana mengembalikan dua barang yang menurutnya belum perlu.
"Kalau semua dibeli sekarang, uang makan bulan depan dari mana?" tanyanya.
"Aku sudah menghitung."
"Hitunganmu tadi hampir memasukkan deposit rumah sebelum ada kontrak."
Bagas meletakkan kembali rak piring plastik tanpa membantah.
Di dekat kasir, sebuah meja penuh topi anyaman membuat Kirana berhenti. Bentuk dasarnya sama dengan topi yang pernah ia beri pita biru, tetapi ukuran pinggirannya tidak seragam. Beberapa pita dipasang terlalu tinggi hingga bagian kepala tampak pendek.
Tangannya mengambil satu topi dan membaliknya.
"Anyamannya kuat," gumamnya. "Tapi pola pinggirnya harus dibuat satu ukuran. Pitanya juga terlalu kaku."
"Mbak topi biru!"
Seorang perempuan berlari dari balik meja. Napasnya terengah, kedua tangannya masih memegang buku stok.
"Nama saya Sri. Saya sudah mencari Mbak Kirana sejak topi itu habis terjual."
Kirana menatap deretan topi. "Ini pesanan dari Girimulyo?"
"Tiga puluh buah. Sebagian sudah dipesan orang, tapi Pak Haryono bilang kami harus memastikan sisanya juga laku." Sri merapatkan buku ke dada. "Mbak baru melihat sebentar saja sudah tahu masalah pitanya."
Bagas berdiri di samping Kirana, membawa ember dan ketel seperti seorang penjaga toko yang terlalu serius.
"Kami sedang terburu-buru," katanya.
Sri langsung cemas. "Lima menit saja. Kalau topi ini gagal, saya benar-benar dipindah ke gudang."
"Kenapa membeli sebanyak ini sebelum modelnya diperiksa?" tanya Kirana.
"Dua belas topi lama habis setelah Mbak memakainya. Dua puluh tujuh orang meninggalkan nama, lima membayar uang muka. Saya pikir model yang sama pasti cukup."
"Tapi pembeli melihat topi setelah kamu mengubahnya," kata Bagas kepada Kirana.
Sri mengangguk cepat. "Itu yang baru saya pahami. Di foto, pinggir topinya terlihat lebih ringan dan pita birunya jatuh lembut. Barang dari desa masih memakai bentuk lama."
Kirana menekan bagian mahkota dengan dua jari. Anyaman itu lentur dan rapat. Kesalahannya bukan pada tangan para pembuat, melainkan tidak adanya pola ukuran dan pilihan bahan hias yang tepat.
"Siapa yang menentukan harga dari desa?"
"Pak Haryono. Kami hitung bambu, waktu kerja, ongkos kirim, dan keuntungan perajin. Dia melarang saya menawar karena mereka sedang butuh uang."
Jawaban itu membuat Kirana menatap Sri lebih lama.
"Berapa keluarga yang membuat?"
"Awalnya satu nenek. Sekarang enam rumah membantu karena tenggatnya pendek. Kalau pesanan lanjut, lebih banyak orang bisa ikut."
"Dan kalau sisanya tidak terjual?"
"Koperasi rugi, saya membersihkan gudang, dan orang Girimulyo mungkin mengira pasar menolak pekerjaan mereka lagi."
Sri membuka buku stok. Di sana ada nama pembuat, jumlah barang, ongkos, serta tanda penerimaan. Catatannya sederhana, tetapi setiap topi memiliki asal yang jelas.
Kirana membayangkan Prapti membawa gulungan pita di minibus dan keluarga-keluarga yang kembali duduk menganyam setelah lama tidak mendapat pesanan. Ia mengenal rasa ketika keahlian dianggap tidak berguna hanya karena tidak menemukan bentuk yang disukai pasar.
"Aku tidak bisa menjanjikan semuanya laku," katanya.
"Saya hanya minta Mbak menunjukkan apa yang harus diperbaiki. Kalau perlu, saya bayar waktu Mbak dari uang saya sendiri."
"Jangan bayar dari uang pribadi sebelum pekerjaannya jelas."
Bagas menatap Kirana. Nada itu sama dengan saat ia melarang pembayaran deposit rumah tanpa kontrak.
Kirana mengangkat topi yang pinggirannya miring. Naluri yang lama ia simpan bergerak lagi di ujung jari.
"Mbak Kirana," kata Sri, "mau membantu kami?"