Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 Ketika Lampu Padam
Pukul enam lewat lima, lantai tiga sudah kosong.
Satu per satu staf berpamitan, dan tiap kali Lia mengangkat kepala, ia mendapati tatapan simpati yang sama. Dinda menepuk bahunya sebelum pergi. "Kalau dia macam-macam, teriak saja. Satpam masih ada di bawah."
"Aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Aku tahu. Tapi tetap saja."
Setelah lift terakhir turun, Lia menarik napas panjang dan mengetik pesan pendek ke satu grup.
Lia: Maaf ya, aku lembur mendadak. Tidak bisa datang ke Bu Nur. Kalian berdua nikmati ayamnya. Sukses!
Balasan Basti masuk dalam hitungan detik.
Basti: Kemeja biru sudah kupakai. Doakan aku tidak pingsan.
Nica: Kamu lembur? Kasihan. Nanti kubawakan sambal.
Lia tersenyum kecil dan meletakkan ponselnya telungkup. Sejujurnya, lembur ini justru menyelamatkan rencananya. Dua orang paling penakut yang ia kenal akan duduk berhadapan di warung ayam goreng tanpa penyangga, dan itu sudah cukup. Ia hanya tidak ingin membayangkan siapa yang harus ia temani sebagai gantinya, dan kenapa jantungnya sudah berdebar sejak tadi siang.
Pintu ruangan kaca terbuka. "Ophelia."
"Ya, Pak."
"Kita kerja di ruang rapat B. Mejanya lebih besar."
Ruang rapat B ternyata sudah berubah. Lampu utamanya diredupkan menjadi hangat, dua laptop terbuka di sisi meja yang sama, dan di ujung meja, dua mangkuk sup ayam kampung mengepul di samping bakul nasi kecil dan secangkir kopi hitam pekat.
Lia berhenti di ambang pintu. "Bapak memesan makan malam?"
"Dimas."
"Dimas tidak pernah memesan kopi hitam untuk saya."
"Dia belajar."
Ia duduk dengan hati-hati, seperti orang yang mencurigai perangkap. Sup itu harum, kaldunya bening, dan ia baru sadar betapa laparnya ia. Selama lima menit mereka makan dalam diam. Bunyi sendok, bunyi hujan tipis di luar jendela, dan tiga tegukan kopi yang terasa lebih enak dari seharusnya.
"Enak?" tanya Navin akhirnya, tanpa menatap.
"Enak, Pak."
"Bagus."
Lalu mereka bekerja.
Draf balasan untuk Mitra Nusantara ternyata jauh lebih rumit dari yang Lia kira. Navin duduk di sisi kanannya, mengenakan kacamata baca berbingkai tipis yang belum pernah ia lihat sebelumnya, dan Lia harus menahan diri agar tidak menatap. Kacamata itu membuat wajahnya tampak berbeda: lebih lunak, lebih manusiawi, seperti orang yang seharusnya menghabiskan malam dengan buku, bukan dengan angka dan ancaman.
"Pasal 4.2," katanya. "Kamu menghapus frasa 'itikad baik'. Kenapa?"
"Karena frasa itu yang mereka pakai untuk menahan denda. Kalau kita hapus, mereka tidak punya celah interpretasi."
"Tapi tanpa itu, mereka bisa merasa dijebak dan menolak seluruh revisi."
"Mereka akan menolak juga kalau kita biarkan. Saya lebih suka menolak dengan kejelasan daripada diterima dengan jebakan."
Navin menatap layar, membaca ulang, lalu melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidung.
"Kamu benar."
Lia berkedip. "Maaf?"
"Saya bilang, kamu benar."
"Bisa diulang, Pak? Saya rasa telinga saya bermasalah."
Sudut bibir Navin bergerak. Bukan senyum, tapi bayangan senyum yang ia tahan setengah jalan. "Jangan menikmatinya."
"Saya sangat menikmatinya."
"Saya bisa mengambilnya kembali."
"Terlambat. Sudah tercatat."
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, sesuatu di ruangan itu terasa ringan, seperti jendela yang dibuka di rumah yang sudah lama tertutup. Lia sadar ia tertawa kecil, dan pria itu menatapnya dengan sorot yang tidak bisa ia baca, seperti orang yang baru menemukan sesuatu di kantong lama.
Menjelang pukul sembilan, hujan turun deras. Angin dingin merembes dari sela jendela, dan pendingin ruangan membuat udara semakin menusuk. Lia menggosok lengannya tanpa sadar.
Tanpa berkata apa-apa, Navin berdiri, mengambil jas dari sandaran kursi, dan menyampirkannya di bahu Lia.
Lia membeku. Jas itu berat, hangat, dan beraroma kayu cendana yang mulai ia hafal. "Pak, saya..."
"Kamu kedinginan."
"Saya baik-baik saja."
"Kamu menggigil sejak tadi."
Ia tidak membantah lagi. Ia hanya menarik jas itu lebih rapat, dan mendadak menyadari bahwa tangan pria itu tadi sempat menyentuh bahunya, hanya sedetik, dan bahwa detik itu terasa lebih panjang dari seluruh minggu.
Petir menyambar.
Lia terlonjak. Kursi berderit, jemarinya mencengkeram tepi meja. Gemuruh susulannya menggelegar sampai kaca jendela bergetar.
"Kamu takut petir," ucap Navin pelan.
"Tidak."
"Ophelia."
"Sedikit."
Petir kedua menyambar lebih dekat, dan tiba-tiba semuanya gelap.
Lampu, laptop, pendingin ruangan, semuanya padam bersamaan. Yang tersisa hanya kilat putih di luar jendela dan suara napas mereka. Lia tersentak, dan tanpa berpikir tangannya menyambar sesuatu di sisinya: lengan berlapis kemeja. Ia mencengkeramnya erat.
"Maaf, saya..."
"Tidak apa-apa." Suara Navin, rendah dan dekat, hanya beberapa senti dari telinganya. Sebuah telapak tangan yang hangat menutupi tangan Lia. "Saya di sini."
Kalimat itu sederhana. Tapi Lia merasakan sesuatu di dalam dirinya, sesuatu yang selama ini dijaga dengan rapi, bergeser pelan seperti kunci yang terputar.
Kilat menyambar lagi. Cahaya putih menerangi ruangan sedetik, dan dalam sedetik itu, Lia melihat wajah Navin sangat dekat: rahang tegas, alis yang mengerut cemas, mata gelap yang tidak lagi dingin. Mata itu tidak menatap kilat. Mata itu menatapnya.
Kemudian menatap bibirnya.
Waktu seolah berhenti. Lia bisa merasakan napas pria itu di pipinya. Ia bisa merasakan denyut nadi di telapak tangan yang menutupi tangannya, atau mungkin denyut nadinya sendiri, ia tidak bisa membedakan. Ia tahu ia harus mundur. Tahu, dengan kepala jernih, bahwa ini pria yang menyakitinya, bosnya, seseorang yang seharusnya ia benci. Tapi tubuhnya tidak mau bergerak.
"Ophelia," bisik Navin. Bukan pertanyaan. Bukan perintah. Hanya namanya, diucapkan seperti seseorang yang baru belajar mengeja kata paling penting.
Dahinya hampir menyentuh dahi Lia. Jarak di antara mereka tinggal bisikan, dan Lia merasa matanya menutup sendiri...
Klik.
Lampu menyala. Cahaya putih membanjiri ruangan, membuat keduanya terlonjak mundur seperti dua orang yang tertangkap basah. Kursi Lia menabrak meja. Navin nyaris menjatuhkan laptopnya.
"Generator," ucap Navin dengan suara terlalu keras, mengusap tengkuknya. "Otomatis."
"Ya. Tentu."
"Kamu tidak apa-apa?"
"Tidak. Maksud saya, iya. Saya baik-baik saja." Lia berdiri terlalu cepat. Jas itu jatuh dari bahunya, dan ia memungutnya dengan kikuk, lalu menyerahkannya dengan kedua tangan seperti menyerahkan barang bukti. "Saya... perlu ke pantry. Air."
"Pantry ada di sana."
"Saya tahu."
Ia berjalan keluar dengan langkah yang berusaha tegak. Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia bersandar di dinding koridor yang gelap, memejamkan mata, dan menekan telapak tangan ke dada.
Jantungnya berdegup seperti drum di parade, dan ia tidak bisa menyuruhnya diam.
Apa yang kamu lakukan? tanyanya pada dirinya sendiri. Apa yang hampir kamu lakukan?
Ia tidak punya jawaban. Ia hanya punya kesadaran samar yang mengerikan: seandainya lampu itu menyala tiga detik lebih lambat, ia tidak yakin akan menjadi orang yang menghentikan semuanya.