Kisah cinta yang terhalang dengan keegoisan orang tua. Namun kembali dipertemukan oleh takdir setelah semuanya berubah.
Cerita hanya fiktif belaka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Wita tidak mampu menahan airmatanya. Janda satu anak itu berlari cepat memasuki kamar. Ia larut dalam kesedihan setelah melihat sang bunda yang tidak pernah lelah mendoakan kedua putrinya walau tengah mengalami kondisi sakit yang serius.
Sejenak Wita memandangi wajah Alika yang sudah tertidur pulas. Banyak ancaman ketakutan yang Wita rasakan setelah kematian sang Ayah. Sampai harus memaksa tubuhnya bangkit dan membuka sebuah laci rahasia mereka bersama Mila.
Tangan Wita bergetar ketika mengambil selembar berkas penting yaitu fotokopi peralihan sertifikat surat lahan dari milik Heru kepada Reno.
Pada waktu silam Heru pernah memakai uang Reno sebesar 50 juta dan Reno tidak ingin rugi, ia lantas meminta paksa sertifikat lahan sebagai jaminannya.
Heru yang dalam kondisi sakit-sakit pada saat itu tidak memiliki pilihan selain menuruti keinginan sang menantu.
Lama kelamaan otak licik Reno berencana akan segera memindahkan hak milik sertifikat itu dengan kesewenang-wenangan dalam berbagai ancaman keselamatan terhadap Wita dan Mila bahkan ibunya.
Wita dan ibunya terpaksa menandatangi surat itu karena tidak ingin menambah beban dan masalah besar mereka tetapi Mila satu-satunya hak waris yang masih bertahan tidak rela memberikan persetujuan tanda tangan. Ia berjanji akan menebus hutang Ayahnya.
Mila membiarkan Reno dan para mafia pendukungnya mengambil semua hasil kebun sawit Heru. Walau perjanjian sebenarnya Reno tetap memberikan bagian hasil untuk Heru atau keluarganya.
Wita berusaha tetap menabung setiap uang yang dikirim oleh Mila. Adik kakak itu sepakat akan terus berjuang mengambil kembali lahan sang Ayah.
"Kasihan adikku itu. Dia harus bekerja keras sendiri. Semua ini salahku?" Wita mengutuk dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa terhadap perbuatan jahat Reno.
*
Yoga Hardian tidak tinggal diam. Pelan-pelan dikala waktu sibuknya. Ia mulai mencari tau tentang sertifikasi kepemilikan resmi setiap lahan perseorangan di desa itu dan mulai menyusun strategi tindakan apa yang harus ia hadapi untuk menghadapi Reno di ranah hukum.
"Seharusnya aku menikahi Wita terlebih dulu agar proses ini semakin mudah!"
"Tapi sebaiknya aku tidak boleh terburu-buru, takutnya ceroboh dan justru balik menyerang keluarga Heru!"
"Setelah Bagas sembuh, ini akan menjadi pembahasan topik utama kami!" gumam Yoga malam itu belum tidur, masih terlihat sangat sibuk dengan berbagai laporan lahan dan program tani berjalan miliknya.
"Tling!" Seseorang mengirimkan sebuah gambar dan pesan singkat kepada Yoga.
"Mas Yoga pesanan sepasang cincin pernikahan telah selesai?"
"Ok, terima kasih. Besok pagi, saya akan ke toko."
"Baik Mas! Kami tunggu?"
"Bisa-bisanya aku nekat sudah pesan cincin pernikahan dengan Wita. Sementara orangnya juga belum tentu mau." Yoga terkekeh sendiri membaringkan tubuhnya diatas kasur.
*
Pukul 23.20 wib malam hari. Bagas tiba di klinik kecantikan. Gerai jasa kecantikan itu, 10 menit lagi akan tutup dan tidak menerima pelanggan baru.
"Kami minta maaf Mas. Untuk perawatan kewanitaan seharusnya Mbak Mila harus dirawat inap satu malam disini. Namun karena Mas nya memaksa untuk dibawa pulang, kami akan persilahkan. Tetapi dengan syarat, Mbak nya tidak boleh dibangunkan secara paksa. Tubuhnya membutuhkan waktu istirahat penuh minimal 8 jam," ungkap sang dokter spesialis itu dengan ramah kepada Bagas.
Bagas sedikit menahan malu saat berhadapan dengan dokter yang khusus menangani kewanitaan Mila.
Mila akhirnya di dorong dengan bed pasien sampai dengan berada lobi klinik. kemudian Bagas menggendong Mila masuk ke dalam mobil dan menidurkan wanita itu dengan baik.
Setelah semua selesai.
Merasa cukup lelah, sejenak Bagas menyandarkan tengkuknya di jok mobil.
Bagas mulai ngomel dengan tingkah Hartati.
"Huft. Beginilah kalau ibu sudah di Jakarta pasti ada saja ulahnya terhadap menantu. Kemarin Tyas dipaksa belajar masak sampai keduanya saling tidak cocok! Sekarang Mila??? 'Anu' nya yang dipermasalahkan. Dan aku lah yang menjadi korbannya?"
"Diapain coba, sampai anak orang harus tertidur begini tidak boleh dibangunin?"
"Sekali debit 100 juta? gila! Kebutuhan perempuan memang enggak tanggung-tanggung. Pikir si nyokap cari uang itu gampang?"
Saat Bagas menghidupkan mobilnya dan menyentuh persneling gigi mobil.
Aksinya terhenti dan salfok melihat wajah Mila yang sedang tertidur tepat menghadap ke arah dirinya. Bagas mulai memperhatikan detail wajah Mila yang memang memiliki perubahan yang semakin cantik dan menarik. Tak bosan untuk dipandang. kulit putih Mila tampak bersih dan sangat mulus.
Bagas cukup serius memperhatikan Mila sampai jakunnya naik turun. Karena tak punya banyak waktu terlalu lama. Akhirnya ia melajukan mobil dan menuju pulang.
Setiap lampu merah berhenti. Bagas sejenak memandangi wajah Mila.
Di tengah perjalanan. Dua sepeda motor gede tidak dikenal mulai mengikuti Bagas dan ia berpikir cepat untuk mencari tempat parkir di lokasi ramai dan terang. Bagas memilih lokasi cafe dan pengisian bahan bakar.
"Siapa mereka? Apakah mereka ingin merampok? Tapi sangat lucu jika mereka melakukan tindakan perampokan di tengah kota? Hal ini bahkan tidak pernah terjadi," gumam Bagas merasa tidak habis pikir dengan motif orang-orang yang tidak dikenal yang mengikuti mobilnya.
Bagas menelpon dan meminta bantuan kepada staf dua pengawalnya yang merupakan pasukan elit militer agar dikawal sampai ke rumah.
Suasana rumah sudah sepi. Bagas terus berjalan mengangkat Mila sendiri menuju kamarnya walaupun penjaga keamanan sudah menawarkan diri untuk mengangkat Mila.
Lelaki itu berhasil membaringkan istrinya di atas kasur dan duduk sejenak memperhatikan Mila.
"8 jam dari pukul 10 malam. Artinya ia akan terbangun pukul 6 atau 7 pagi!"
"Arg. Apa mereka tidak paham jika ini adalah malam pertama kami yang kedua!"
"Jhon lu musti puasa lagi malam ini?" ucap kocak Bagas kepada kejantanannya.
Bagas perlahan membuka kemejanya dan bangkit membersihkan diri kemudian tidur di sebelah Mila.
Sebelum tidur. Bagas lagi-lagi puas memandangi wajah Mila yang semakin menarik. Ia kepo dan penasaran sampai menyentuh tipis ujung hidung wanita itu dengan tersenyum-senyum sendiri.
"Dulu aku sangat berhasrat ingin menikahi kamu tapi setelah kegagalan itu membuatku tak ingin mengenal mu lagi. Sekarang kau justru datang dengan mudah. Tapi tidak segampang itu Mila. Tidak semudah itu kau menaklukkan cintaku?" gumam Bagas masih menatap wajah sang istri dan memilih tertidur.
Pagi kembali bersinar.
Hartati bernyanyi kecil merapikan sarapan yang telah dihidangkan koki baru Bagas sebagai pendamping Sari.
"La..la..la..!"
"Kira-kira, malam ini Bagas sudah berapa ronde melakukannya dengan Mila?" batin kocak Hartati yang tidak mengerti jika Mila harus rehat lebih dari delapan jam setelah melakukan perbaikan kewanitaannya.
"Wah kalau tiba-tiba Mila Hamil gimana yah? Enggak apa-apa deh artinya tambah cucu lagi?" senyum bahagia Hartati.
trimakasih banyak kaaaaa🙏🙏🙏🙏 akhir'y pecah telor
bikin karya baru yoook
Doa Bu Wirda tembus ke langit sehingga anak² beliau bisa mendapatkan kebahagiaan,,,
Very cepat datang dong tolong bos Bagas jangan sampai terlambat,,,
Mila jangan keluar nurut apa kata Bagas tetap di dalam mobil saja
Emang paling susah ngurusin anak mertua di lawan takut dosa, sudah bawel ya apalagi monster biawak😂😂😂