Hidup tidak pernah mudah bagi Alya, dan menjadi jauh lebih berat sejak *ibunya meninggal saat Alya baru berumur 12 tahun.*
Sejak hari itu, Alya yang masih kelas 6 SD harus langsung menjadi ibu untuk adik-adiknya. Ia yang menyuapi Dinda yang masih balita, ia yang menemani Bima yang masih di dalam kandungan saat ibunya meninggal.
Karena itulah, ia tidak pernah merasakan masa remaja. Tidak ada waktu untuk manja.
Tinggal di rumah sederhana bersama ayah dan kedua adiknya, Alya adalah anak pertama yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sejak ditinggal istrinya semakin sering sakit-sakitan membuat keadaan ekonomi mereka semakin sulit.
Jadi pernikahan kontrak itu bukan hanya untuk pengobatan ayahnya, tapi juga rasa bersalahnya karena merasa gagal menggantikan posisi ibunya untuk Dinda dan Bima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dua Orang
Jam 06.12 pagi.
Dua testpack dengan dua garis itu sekarang udah masuk ke dalam kotak tisu kosong. Disembunyiin Alya di bawah tumpukan pembalut di laci kamar mandi. Biar gak ada yang liat. Biar ART yang bersih-bersih nanti siang juga gak nemu.
Alya dan Rafael masih duduk di lantai. Selimut handuk masih melingkar di bahu Alya. Exhaust masih bunyi nguuung
HP Alya getar.
Nama di layar: Mama.
Alya langsung panik, buru-buru matiin getarnya.
Rafael ngelirik, "Mama?"
"Iya," bisik Alya, "Pasti mau nanya jadi ikut pengajian dak pagi ini."
Rafael narik napas panjang. "Angkat aja?"
Alya geleng cepet, "Jangan! Jangan sekarang! Nanti suaraku kedengeran abis nangis, Mama curiga."
Padahal biasanya, kabar kayak gini tu yang pertama kali dikasih tau adalah Mama. Apalagi Mama Alya. Tapi tadi malem sebelum beli testpack, Alya dan Rafael udah janji.
Janji di atas kasur jam 1 pagi, sambil Alya mual dan Rafael ngusapin punggungnya.
Alya bilang, "Fa, kalau positif, jangan kasih tau siapa-siapa dulu ya. Jangan Ayah, jangan adik-adik, jangan Papa Mama kamu. Aku pengen simpen dulu. Sebentar aja. Aku belum siap dibagi-bagi bahagianya."
Rafael waktu itu kaget, "Kenapa? Bukannya kalau hamil tu harus cepet-cepet kasih tau orang tua biar didoain?"
Alya nangis lagi, "Bukan gitu. Aku takut. Kalau kita kasih tau sekarang, nanti semua orang jadi ngatur. Mama pasti langsung nyuruh ini itu, Ayah pasti langsung ceramah, Mama kamu pasti langsung ngirim suster dari Jakarta, adik-adikku pasti heboh di grup. Aku... aku pengen bahagianya tu punya kita berdua dulu. Sehari aja. Dua hari aja. Boleh ya?"
Rafael ngerti. Akhirnya dia angguk.
Makanya pagi ini, rahasia itu berat nian.
Jam 06.30, Alya keluar dari kamar mandi. Matanya sembab. Rafael bikinin teh anget di dapur. Bukan teh celup sachet, tapi teh tubruk yang disaring. Rafael tu kalau panik malah jadi rajin.
"Masih mual?" tanya Rafael.
"Dikit," jawab Alya, duduk di kursi makan. Kursi makan yang kebesaran untuk dua orang.
HP Rafael juga getar. Grup keluarga: *FAMILY RAFAEL*. Papanya Rafael ngirim foto lagi main golf pagi-pagi. Captionnya: _Morning boys! Rafael kapan nyusul Papa?_
Rafael langsung matiin HP, dibalikin layarnya ke meja. Gak dibales.
"Fa, kamu gak mau kasih tau Papa Mama kamu?" tanya Alya pelan.
Rafael duduk di depan Alya, megang tangan Alya yang dingin, "Kan udah janji. Ini kejutan kita. Nanti kalau udah agak gedean, kalau udah kita ke dokter, kalau udah yakin sehat, baru kita kasih tau rame-rame. Bikin surprise. Aku pengen liat muka Papa yang biasanya jaim itu nangis."
Alya senyum dikit, untuk pertama kalinya pagi itu.
"Terus Ayah gimana?" tanya Rafael, "Ayah kan..."
Alya langsung motong, "Ayah jangan dulu. Ayah tu kalau dikasih tau, pasti langsung sujud syukur terus langsung khutbah panjang di telepon. Terus langsung nyuruh aku pulang ke rumah. Aku belum siap pulang Fa. Aku masih pengen di sini, sama kamu."
Mereka sepakat. Rahasia.
Seharian itu jadi hari paling aneh.
Jam 08.00, adik Alya yang paling kecil, Dinda, video call. Alya angkat, pura-pura ceria.
"Kak! Kak Alya! Ayah nanya kapan Kakak pulang? Kangen pempek Kakak!" teriak Dinda di layar.
Alya panik, nutupin lehernya yang ada bekas merah gara-gara nangis tadi, "Ehm... belum tau Dek, Kakak masih ada kerjaan. Bilang Ayah nanti Kakak telepon ya."
Dinda cemberut, "Kakak kok pucet? Sakit?"
"Dak, kurang tidur bae," Alya buru-buru matiin.
Setelah matiin, Alya langsung lemes ke sofa, "Ya Allah Fa, berat nian bohong."
Rafael peluk Alya dari samping, "Bukan bohong sayang, nahan kejutan. Beda."
Siangnya, Mama Alya telepon lagi. Kali ini Alya harus angkat. Gak mungkin gak angkat dua kali.
"Halo Ma," Alya usahain suaranya normal.
"Nduk, kamu kenapa? Suara kamu serak?" Mama langsung curiga. Insting ibu tu ngeri.
"Dak Ma, baru bangun. Tadi begadang ngerjain laporan," bohong Alya lagi.
Mama di seberang diem sebentar, terus bilang, "Nduk, Mama mimpi kamu gendong bayi semalam. Bayinya cantik. Mama bangun-bangun nangis."
Alya langsung merinding. Air matanya hampir jebol lagi. Rafael yang di sebelah Alya langsung megang tangan Alya kenceng.
"Mimpi bae Ma," jawab Alya, suaranya udah getar.
"Iyo mimpi. Tapi kalau memang beneran, kasih tau Mama ya Nduk. Jangan ditahan sendiri," kata Mama pelan.
Telepon ditutup. Alya langsung nangis ke dada Rafael.
"Ma... Mama tau Fa? Mama mimpi..."
Rafael usap-usap rambut Alya, "Mama tu emang deket sama kamu. Tapi kita tahan dulu ya. Sesuai janji. Biar nanti pas kita kasih tau, doanya lebih kenceng."
Sorenya, mereka ke klinik. Bukan RS besar, klinik kecil di dekat apartemen. Daftar pake nama samaran? Enggak, pake nama asli, tapi minta dokter jangan heboh.
Dokter bilang, "Selamat ya Bu Alya, usia kehamilan 5 minggu 2 hari. Masih kecil banget, sebesar biji wijen. Jantungnya belum kedengeran, minggu depan baru."
Di layar USG, cuma keliatan kantong kecil hitam. Rafael ngeliatin layar itu kayak ngeliatin harta karun. Matanya berkaca-kaca lagi.
Di mobil pulang, Alya pegang foto USG yang hitam putih itu. Foto pertama anak mereka.
"Fa," kata Alya pelan, "Foto ini kita simpen dulu ya. Jangan di-share ke siapa-siapa. Biar jadi rahasia kita berdua."
Rafael angguk, "Rahasia dua orang. Sampai waktunya nanti kita teriakin ke semua orang."
Malamnya, mereka sholat maghrib berdua. Alya yang imamin Rafael? Enggak, Rafael yang imam. Setelah salam, Rafael doa panjang nian. Lebih panjang dari biasanya. Alya dengerin, nangis lagi.
Doanya bukan minta kaya, bukan minta proyek lancar.
Doanya cuma: "Ya Allah, jaga titipan-Mu ini. Jaga ibunya."
Di luar, Jakarta berisik. Klakson, motor, orang teriak.
Tapi di dalam penthouse itu, cuma ada dua orang dan satu foto USG sebesar biji wijen yang disembunyiin di dalam Al-Qur'an, di halaman pertama.
Rahasia yang belum boleh dibagi.
Bersambung...