Sebuah pertemuan yang tidak terduga terjadi pada Mariana purnama, yang akan mengubah hidup nya, akibat salah sasaran kebencian dan juga dendam dari seorang bos mafia, yang di kenal sebagai Hansen Deen.yang punya pengaruh dan kuasa besar di negara A.
pertemuan yang awalnya tidak di sengaja untuk Ana malah menjadi pertemuan yang akan membawa nya dalam masalah besar untuk hidup nya.
SELAMAT MEMBACA ,SEMOGA TERTARIK😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shkira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 2
Pagi itu mereka sibuk membantu Ana memasukan barang bawaan nya yang akan di bawa ke kota. Kedalam mobil.
Ana meletakan kunci di bawah pot bunga di samping tersadar rumah nya. Ia sengaja melakukan itu agar, jika ayah dan ibu nya ingin pulang maka mereka akan menemukan kunci yang biasa ia letakan di sana.
Itu hanya harapan kosong yang ia inginkan.
.
.
Ana menatap berat rumah yang tidak pernah ia tinggalkan kini harus ia meninggalkan entah sampai kapan ia akan kembali lagi ke sana. perlahan mobil menjauh dari rumah nya meninggalkan desa.
Perjalanan ke kota memakan waktu yang cukup panjang.
Selama di perjalanan Ana terus menatap ke luar jendela melihat rumah dan pohon-pohon yang di lalui untuk menghilangkan rasa bosan, yang hampir 5 jam di perjalanan.
.
.
.
Tidak lama Om satria
menepikan mobil nya di sebuah rest area untuk beristirahat, ia keluar lalu di susul Tante mei yang juga keluar dari mobil
"kalian tunggu di mobil kami akan membeli beberpa makanan di minimarket!" Ucap Tante mei, sambil berlalu pergi meninggalkan mobil bersama om satria.
Kini hanya tinggal mereka berdua di dalam mobil, ana melirik pada Risa yang sejak Tante mei dan om satria pergi, ia terus menggeliat menekan perut nya.
"Risa kamu kenapa?" Tanya nya, khawatir.
"Aku tidak tau Tiba-tiba perut ku sakit sekali, aku ke toilet dulu, Kamu tunggu di mobil saja!" Balas Risa, bergegas keluar untuk mencari toilet.
Ana menatap jauh Risa yang hilang di balik tembok.
saat ini ia berada di mobil sendiri dan menunggu sampai semua nya kembali.
Pandangan nya menatap keluar jendela Ia larut dalam lamunan.
Dari kejauhan mata nya menangkap sebuah sedan hitam yang berhenti tidak jauh dari sungai. Entah mengapa matanya terus menatap ke arah mobil itu. Tidak lama dua orang pria keluar sambil menyeret paksa seorang pria yang terlihat setengah sadar menuju tepi sungai.
Ana terkejut ketika melihat dua orang itu melempar pria yang ia duga korban kejahatan ke sungai di depan mata nya, ia beruntung saat ini berada di dalam mobil. Jika tidak ia akan mendapat masalah kalau sampai orang-orang itu melihat nya.
Sebenar nya ia tidak ingin melihatnya lagi tapi entah mengapa leher nya terasa sangat sulit untuk berpaling sehingga mata nya terus mengikuti pergerakan mereka yang melakukan kejahatan.
ia sampai di buat bingung lantaran tidak ada orang lain yang melihat kejadian itu, padahal hari itu masih siang hari. 'Ya tuhan.. apa tidak ada orang yang bisa menolong nya?' batin Ana. Kasihan.
Setelah melakukan aksi kejahatan nya kedua pria itu langsung pergi begitu saja meninggalkan pria yang entah bagaimana kondisi nya saat ini.
Hati nurani nya yang lembut membuat ana tidak bisa tenang sehingga ia keluar dari mobil lalu bergegas menuju sungai berniat menolong pria itu.
ia turun ke tepi sungai melihat pria itu terbawa arus air yang untung nya tidak begitu deras.
berlari mengejar tubuh pria itu yang terus hanyut. Ia mencoba memanggil agar pria itu merespon nya " Tuan! Apa kamu masih sadar? kalau, ya. Cepat raih batu besar itu!" Seru nya. Panik sebab. pria itu tidak bergerak.
Lalu ia berusaha memanggil beberpa kali agar pria itu mendengar nya, hingga akhirnya tubuh pria itu merespon panggilan Ana, pria itu meraih batu besar di depan nya yang sedikit lagi akan terlewat oleh nya jika ia masih tidak sadarkan diri, tubuh nya saat ini tertahan oleh batu besar.
Langkah ana terhenti, nafas nya tersengal. ia mengusap kasar keringat di kening nya " baguslah ternyata dia masih sadar!" Gumam nya, mengatur nafas.
Ana memastikan kalau pria itu masih terus sadar agar pegangan nya tidak lepas dari batu
"Tuan, kamu bisa mendengar ku? Apa kamu bisa berenang?" teriak nya.
Pria itu berusaha memutar arah tubuh nya agar bisa melihat orang yang telah menyelamatkan hidup nya, namun luka di perut nya membuat ia kesulitan, " Aku terluka, aku tidak bisa berenang ke sana!" seru nya, dengan suara berat.
"Tuan, Kamu jangan banyak bergerak nanti pegangan nya terlepas! Aku akan cari bantuan kamu harus bertahan sebentar!" ucap nya, berlari kecil meninggalkan pria itu yang sudah berhasil memutar arah tubuh nya sehingga bisa melihat sosok penolong nya. Ia menatap pucat punggung Ana yang semakin menjauh dari nya
ia berusaha menyadarkan diri nya agar pegangan nya tidak terlepas dari batu, hingga Ana kembali.bersama beberpa peria yang di duga warga sekitar yang sedang memancing, tidak jauh dari sana.
Kesadaran pria itu mulai kabur namun saat langkah Ana semakin dekat kesadaran nya perlahan kembali. ia tertegun saat menatap sosok Ana di depan nya, seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Beberpa pria berenang menuju ke arah nya dan membawa tubuh nya ketepian. Kesadaran nya mulai kabur sampai akhirnya ia pingsan setelah berhasil di angkat dari dalam sungai.
Salah satu warga menyarankan Ana agar segera membawa pria itu ke rumah sakit terdekat agar mendapat pertolongan.
"pak apa kalian tidak bisa membawa nya ke rumah sakit?" tanya Ana,
"Maaf nona, kami tidak bisa membantu nya, kami tidak tau asal usul pria ini, kami takut terlibat masalah di kemudian hari!" tolak salah satu warga.
"tapi pak, dia sekarang dalam kondisi kritis, apa kalian tidak kasihan dengan nya?"
"Nona, apa kamu tidak tau di kota ini di kuasai oleh bos X seorang mafia yang tidak bisa kita singgung.
kami tidak tau siapa pria ini, bagaimana jika dia musuh dari bos x. Bukan kah itu akan menjadi Maslah untuk warga di sini.
Ana terdiam bingung, ia tidak mengerti apa yang di katakan para Warga di sana. Ia hanya ingin menolong pria itu, namun ia juga tidak bisa melibatkan om satria dan keluarga nya yang sudah sangat repot mengurus nya. dan malah menambah beban lain dari orang asing yang tidak mereka kenal.
ia menatap pria itu yang tak sadarkan diri, lalu ia berlutut di samping pria itu mencoba mencari kartu identitas milik nya dengan merogoh saku baju serta celana nya namun ia tidak menemukan dompet atau kartu identitas apa pun di sana, sehingga membuat nya semakin bingung ketika melihat kondisi pria itu semakin memburuk.
Ana merogoh saku baju nya ia mengeluarkan beberpa lembar uang yang ia punya dan melepas anting mas yang ia pakai.
"Pak, aku hanya ada sedikit uang, dan ini sebagai tambahan nya," ia memberikan pada salah seorang warga "anggap ini ucapan terimakasih untuk kalian. Jadi aku mohon bantu aku membawa nya ke rumah sakit!" ucap nya, memohon.
"Nona bukan kami tidak mau menolong, tapi.."
"Ini nomer ponsel ku, jika kalian terlibat masalah berikan saja nomer ini. pada mereka!" ucap ana memotong kalimat mereka. Sambil menyerahkan nomer ponsel nya.
Para warga bingung bercampur kasihan melihat kebaikan Ana, sehingga mereka saling berbisik untuk mengambil keputusan. Apakah harus menolong nya atau tidak.
tidak lama salah seorang warga, mengatakan setuju untuk membawa pria itu ke rumah sakit setelah mendapat persetujuan warga lain nya. Ana bernafas lega setelah mendengar nya.
Para warga bergegas pergi membawa tubuh pria itu meninggalkan sungai.
setelah masalah selesai Ana bergegas kembali ke mobil khawatir Risa dan yang lain mencari nya. Namun tidak di sangka ternyata mereka juga belum kembali.
Ana sedikit tenang karena ia sudah di sana sebelum mereka kembali.
tidak lama setelah Ana kembali, mereka pun kembali bersamaan.
Ana tidak mengatakan apapun tentang apa yang telah terjadi tadi. Karena takut membuat mereka khawatir.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju kota. Jarak kota dari perbatasan membutuhkan waktu 2 jam untuk sampai ke tujuan.
Setelah seharian di perjalanan akhirnya mereka sampai di perumahan elit di pusat kota.
Tante mei meminta pengurus rumah untuk menyiapkan kamar yang akan di tempati Ana untuk sementara waktu. Selama mereka mencari tempat yang cocok untuk Ana .
Pengurus rumah membawa ana ke kamar nya untuk istirahat.
Perjalan yang cukup panjang serta kejadian yang tak terduga yang Ana alami. Membuat nya merasa sangat lelah.
Ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena merasa tubuh nya sangat lengket oleh keringat.
Ana berbaring di ranjang setelah selesai mandi untuk meregangkan tubuh nya yang sangat lelah seharian berada di mobil. Ia menatap langit-langit kamar mata nya sayup tertiup angin yang masuk dari jendela yang terbuka tanpa sadar mata nya perlahan terpejam, ia tertidur pulas karena lelah.
.
.
.
.
BERSAMBUNG...