Menampar si muka dua, menginjak si pria berengsek, cara belas dendam yang berbeda dengan biasanya. Mau liat bagimana sang ratu menyiksa pria berengsek dan si muka dua sampai ketakutan tapi tidak bisa kabur?
Namun kenapa kali ini, dia tidak bersembunyi atau menghindar? Kenapa dia malah terus mengikuti ku?
perhatian!!!
"Ratu" tanda kaya gini artinya itu percakapan bisa
'Ratu' tanda ini tanda nya si tokoh lagi berpikir dalam hati atau bicara di dalam hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelie Valaska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 27
Lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di bawah Vila Cassiopea tampak seperti hamparan permata yang tak berharga di mata Cassiopea. Bagi wanita itu, kekuasaan sejati tidak terletak pada seberapa banyak wajahmu dipuja di layar kaca, melainkan pada siapa yang memegang kendali di balik layar. Dengan hancurnya Star Entertainment dan jatuhnya Silvia ke dasar jurang kehancuran, satu duri dalam kehidupan Elva Kirana telah tercabut. Namun, Cassiopea tahu, musuh yang sebenarnya bukanlah seorang aktris arogan yang bodoh seperti Silvia, melainkan sosok parasit yang bersembunyi di balik topeng kepolosan: Yuni.
Di balik meja kerjanya yang minimalis, Kaeno bekerja dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Sepuluh jari jemarinya bergerak kabur di atas papan ketik mekanis yang mengeluarkan suara ketukan konstan. Di layar monitor melengkung miliknya, data enkripsi dari berbagai instansi pemerintah, basis data perbankan internasional, dan federasi industri hiburan global berkedip bergantian sebelum menyatu menjadi sebuah dokumen digital yang sempurna.
"Selesai, Kak," Kaeno berputar di kursi kerjanya, memeluk boneka kelinci besarnya erat-erat dengan senyum kekanak-kanakan yang kontras dengan kejahatan siber yang baru saja ia lakukan. "Selamat datang di identitas barumu. Mulai detik ini, kau adalah Vespera Vance, seorang investor misterius keturunan konglomerat media asal Eropa yang baru saja mengakuisisi saham mayoritas Aethelgard Pictures—perusahaan produksi film independen yang berbasis di Hong Kong dan kini siap mengekspansi industri hiburan domestik dengan dana tak terbatas."
Cassiopea berjalan mendekat, menatap dokumen identitas barunya di layar. Foto yang terpampang di sana adalah fotonya dengan riasan wajah yang lebih tajam, rambut hitamnya yang biasa digerai kini disanggul modern, memancarkan aura seorang wanita pebisnis berdarah dingin yang tidak tersentuh.
"Bagaimana dengan analisis anomalimu terhadap Yuni?" tanya Cassiopea, suaranya sedingin angin malam yang berembus di luar vila.
Ekspresi Kaeno berubah sedikit serius, sebuah pemandangan langka bagi peretas remaja itu. "Ini sangat menarik, Kak. Aku melacak semua algoritma yang berkaitan dengan Yuni sejak enam bulan lalu. Lonjakan popularitasnya tidak mengikuti kurva organik media sosial. Setiap kali dia menghadiri acara atau bertemu dengan investor besar, ada distorsi frekuensi data di sekitar area tersebut. Seolah-olah... ada medan magnet tak kasat mata yang memaksa sistem dan persepsi orang-orang untuk menyukainya. Dan yang lebih gila lagi, riwayat medisnya menunjukkan perubahan struktur biologis yang tidak masuk akal dalam waktu semalam. Kulit, pita suara, bahkan rasio simetri wajahnya berubah tanpa ada catatan operasi plastik di rumah sakit mana pun di dunia."
Cassiopea menyipitkan matanya. Dugaan tentang 'entitas parasit' atau sistem pembantu yang ia pikirkan sebelumnya semakin kuat. "Sebuah cheat biologis dan psikologis. Menarik. Berarti Kenzie kemarin malam berhasil lepas dari pengaruh itu hanya karena hantaman realitas dari bukti digital yang kau sebarkan?"
"Tepat," Kaeno mengangguk mantap. "Logika murni dan bukti mutlak adalah kelemahan dari manipulasi persepsi. Begitu ilusi itu retak karena syok emosional, otak target akan menolak perintah dari 'sistem' Yuni. Tapi, jalang itu pasti akan mencari mangsa baru untuk memperkuat energinya kembali."
"Maka kita tidak akan memberinya kesempatan," Cassiopea tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan badai yang siap menggulung siapa saja. "Besok pagi, Aethelgard Pictures akan mengumumkan proyek film fiksi ilmiah beranggaran terbesar abad ini, 'The Iron Empress'. Dan aku sendiri yang akan memegang posisi Produser Eksekutif."
Keesokan harinya, industri hiburan diguncang oleh dua berita besar. Pertama adalah pengumuman resmi kebangkrutan Star Entertainment dan penahanan beberapa asisten Silvia atas kasus pencemaran nama baik dan suap. Berita kedua, yang tak kalah bombastis, adalah masuknya Aethelgard Pictures ke pasar domestik dengan menyuntikkan dana sebesar dua triliun rupiah untuk sebuah proyek film tunggal.
Di dalam penthouse mewahnya, Yuni sedang duduk di depan cermin rias yang megah. Wajahnya yang luar biasa cantik memancarkan kecemasan yang mendalam. Di dalam kepalanya, sebuah suara mekanis yang dingin sedang berdengung, memberikan peringatan merah yang terus berulang.
[Peringatan! Target Kenzie Pratama telah terlepas dari efek 'Aroma Keberuntungan' akibat benturan logika tingkat tinggi. Energi sistem menurun sebesar 30 persen. Keberuntungan tuan rumah dalam bahaya jika tidak segera menemukan jangkar energi baru.]
"Sialan!" Yuni memukul meja riasnya hingga botol-botol serum mahalnya bergetar. "Bagaimana bisa Kenzie lepas begitu saja?! Dan siapa peretas sialan yang menghancurkan Silvia dalam tiga hari? Gara-gara jalang tua itu runtuh, proyek 'Mahkota yang Hilang' dibatalkan, dan aku kehilangan sumber poin popularitasku!"
Yuni menjambak rambutnya yang sehalus sutra hasil dari penukaran poin sistemnya tiga bulan lalu. Dia telah merangkak dari bawah, mengorbankan moralitasnya, dan menggunakan sistem ini untuk menyingkirkan Elva Kirana yang selalu menjadi anak kesayangan sutradara karena bakat alaminya. Yuni benci Elva. Elva tidak punya sistem, tidak punya uang, tapi mata semua orang selalu tertuju pada gadis miskin itu.
[Misi Baru Tersedia: Dekati Produser Eksekutif Aethelgard Pictures, Vespera Vance. Amankan peran utama dalam film 'The Iron Empress'. Hadiah: 50.000 Poin Popularitas dan Pemulihan Energi Penuh. Kegagalan: Penuaan Dini sebesar 10 tahun.]
Mendengar konsekuensi kegagalan dari sistemnya, wajah Yuni mendadak pucat. "Vespera Vance? Produser misterius dari Eropa itu? Baik... aku akan menggunakan seluruh sisa energiku untuk memikatnya di acara perjamuan malam ini."
Malam itu, aula hotel bintang lima Grand Hyatt dipenuhi oleh jurnalis, sutradara papan atas, dan jajaran selebriti kelas A. Semua orang berkumpul dengan satu tujuan: menarik perhatian sang penguasa baru dari Aethelgard Pictures.
Elva Kirana hadir di acara tersebut dengan didampingi oleh Kenzie. Meskipun lengan Elva masih dibalut perban tipis di balik gaun satin putihnya yang sederhana namun elegan, kehadirannya menarik simpati banyak orang. Setelah kebenaran terungkap, publik berbalik mengasihani dan mengagumi ketegaran Elva. Kenzie, dengan setelan tuksedo hitamnya yang gagah, berdiri di samping Elva bagaikan perisai hidup yang tidak mengizinkan siapa pun mendekat dengan niat buruk.
"Kau tidak apa-apa?" Kenzie berbisik lembut, mengusap punggung tangan Elva.
"Aku baik-baik saja, Kenzie. Hanya saja... aku merasa atmosfer malam ini sedikit aneh," Elva menatap sekeliling dengan perasaan tidak tenang. Tatapannya tidak sengaja bertubrukan dengan Yuni yang baru saja masuk ke aula.
Yuni mengenakan gaun merah menyala berpotongan rendah yang sangat berani. Di mata orang awam, Yuni tampak memukau, namun bagi orang-orang dengan kepekaan tinggi, ada kabut aneh yang membuat mata mereka sulit beralih dari wanita itu. Yuni mengabaikan Elva dan Kenzie; targetnya malam ini jauh lebih besar.
Tepat pada pukul delapan malam, pintu ganda aula terbuka. Suasana yang tadinya bising mendadak senyap seketika.
Cassiopea—atau kini dikenal sebagai Vespera Vance—melangkah masuk. Dia mengenakan setelan jas wanita (pantsuit) berwarna hitam pekat dengan aksen brokat emas di bagian kerah, dirancang khusus oleh desainer haute couture Paris. Rambutnya yang disanggul rapi menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang luar biasa cantik namun tajam bagaikan belati. Di belakangnya, Kaeno berjalan dengan pakaian formal yang rapi, membawa tablet digital, tampak seperti asisten muda yang sangat efisien.
Aura yang dipancarkan Cassiopea begitu kuat hingga menekan seluruh ruangan. Itu bukanlah aura yang dihasilkan oleh kecantikan buatan sistem, melainkan karisma absolut dari seorang penguasa yang terlahir di puncak hierarki sosial dan intelektual.
Dari sudut ruangan, sistem di dalam kepala Yuni tiba-tiba berteriak histeris, membuat Yuni hampir terjatuh jika ia tidak berpegangan pada pilar.
[Peringatan Bahaya! Mendeteksi entitas dengan kecerdasan mutlak dan ketahanan mental tingkat tinggi. Sistem tidak dapat menganalisis data target. Tingkat keberhasilan manipulasi: 0,01 persen. Disarankan untuk membatalkan misi!]
'Apa?! Membatalkan misi? Kau bercanda! Kalau aku gagal, aku akan menjadi tua dalam semalam!' Yuni berteriak dalam hatinya, menolak perintah sistemnya sendiri karena kepanikan yang teramat sangat. Dia mengabaikan peringatan itu, menegakkan punggungnya, dan melangkah maju memotong jalur berjalan Cassiopea dengan senyuman paling menawan yang bisa ia pamerkan.
"Selamat malam, Madam Vance," Yuni menyapa dengan suara yang telah disuntikkan efek 'Suara Sirene' dari sistemnya, sebuah kemampuan yang bisa membuat pria maupun wanita bertekuk lutut mendengarnya. "Saya Yuni, aktris utama domestik. Sebuah kehormatan bisa menyambut kehadiran Aethelgard Pictures di negara ini. Saya sangat mengagumi visi Anda untuk 'The Iron Empress'."
Cassiopea menghentikan langkahnya. Matanya yang sedingin es melirik Yuni dari atas ke bawah. Melalui lensa kontak khusus yang terhubung dengan program analisis Kaeno, Cassiopea bisa melihat riak energi berwarna abu-abu yang berpendar aneh di sekitar tubuh Yuni—mencoba merayap menuju dirinya untuk memengaruhi pikirannya.
Sudut bibir Cassiopea terangkat, membentuk senyuman tipis yang sarat akan cemoohan. Energi abu-abu itu langsung hancur berkeping-keping begitu menyentuh gelombang mental Cassiopea yang terlalu kuat dan stabil untuk digoyahkan oleh sihir digital murahan.
"Yuni?" Cassiopea mengulang nama itu dengan nada malas, suaranya terdengar jernih namun bergaung penuh penekanan di aula yang sunyi. "Ah, aktris yang terkenal karena merebut peran orang lain menggunakan koneksi internal, dan yang kemarin malam menangis di media sosial membela seorang penjahat seperti Silvia?"
Wajah Yuni langsung kaku. Senyumannya membeku di udara. Dia tidak menyangka bahwa produser internasional yang baru tiba ini akan langsung membongkar aibnya di depan umum tanpa basa-basi sedikit pun.
"Madam Vance... itu hanya kesalahpahaman media..." Yuni mencoba membela diri, keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Di dalam kepalanya, sistemnya terus berbunyi 'Energi terkuras! Energi terkuras! Tuan rumah mengalami serangan balik mental!'
"Di dalam duniaku, tidak ada yang namanya kesalahpahaman. Yang ada hanyalah kompetensi atau ketidakkompetenan," Cassiopea melangkah maju satu langkah, menundukkan wajahnya sedikit agar sejajar dengan Yini. Tekanan absolut yang dipancarkannya membuat Yuni merasa seolah-olah ia sedang ditatap oleh seekor predator puncak yang siap mengoyak lehernya.
"Kau ingin bermain di filmku?" Cassiopea berbisik dengan nada yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, namun setiap katanya bagaikan paku yang menusuk jantung Yuni. "Bahkan menjadi mayat di lantai pun, kau tidak layak berada di set filmku, Nona Yuni. Nikmati sisa waktu popularitasmu yang palsu ini, karena aku telah menyiapkan panggung eksekusi yang sangat megah untukmu dan 'sesuatu' yang bersembunyi di dalam kepalamu itu."
Yuni terbelalak kaku. Dia tahu! Wanita ini tahu tentang sistem! Seluruh tubuh Yuni bergetar hebat, lututnya lemas hingga ia jatuh terduduk di atas lantai marmer yang dingin di hadapan ratusan pasang mata yang menatapnya dengan pandangan menghina dan berbisik-bisik.
Tanpa memedulikan Yuni yang hancur dalam sekali gertakan, Cassiopea melanjutkan langkahnya menuju ke arah Elva Kirana dan Kenzie yang berdiri tidak jauh dari sana.
Saat menatap adik kecilnya, kilat sedingin es di mata Cassiopea melunak sesaat, digantikan oleh kehangatan seorang kakak yang telah kembali untuk menegakkan keadilan. Namun, di depan publik, ia tetaplah Vespera Vance.
"Tuan Kenzie Pratama dari Media Pratama, dan... Nona Elva Kirana," Cassiopea berhenti di depan mereka, mengulurkan tangannya yang ramping kepada Elva dengan gerakan yang sangat formal. "Saya telah membaca seluruh riwayat akting Anda, Nona Elva. Bakat alami Anda terlalu berharga untuk terkubur di industri yang kotor ini. Apakah Anda tertarik untuk menjadi pahlawan wanita sejati dalam 'The Iron Empress'?"
Elva menatap wanita di hadapannya dengan perasaan familier yang aneh, meskipun ia yakin belum pernah bertemu dengan Madam Vance sebelumnya. Namun, getaran hangat yang mengalir saat tangan mereka bertautan membuat air mata Elva hampir menetes tanpa alasan.
"Saya... saya sangat tertarik, Madam," jawab Elva dengan suara mantap, menatap lurus ke dalam mata Cassiopea yang penuh dengan keyakinan mutlak.
Kenzie, yang berdiri di samping Elva, menatap Vespera Vance dengan pandangan penuh selidik dan hormat. Sebagai pria yang memimpin salah satu konglomerat terbesar, ia bisa merasakan bahwa wanita di hadapannya ini bukanlah sekadar investor. Dia adalah badai yang sesungguhnya, penguasa rantai makanan yang baru saja datang untuk merombak total seluruh tatanan industri hiburan—dan entah mengapa, Kenzie tahu, wanita ini ada di sini demi melindungi Elva.
Permainan baru telah resmi dimulai, dan kali ini, sang pemilik Vila Cassiopea sendiri yang memegang bidak utamanya.