Azalea yang tidak mau dijodohkan dengan pria bernama Agam, anak dari teman ayahnya mencoba berbagai cara agar perjodohan itu tidak jadi dilaksanakan.
Segala macam cara pun dilakukan oleh Alea agar membuat Agam membenci dirinya dan mundur dari perjodohan itu.
Agam yang tidak ingin membuat Alea semakin terjerumus ke hal hal yang negatif hanya karena tidak ingin dijodohkan dengan dirinya pun akhirnya memutuskan untuk pergi menjauh dan menghilang dari kehidupan Alea.
Namun, disaat Agam sudah pergi, Alea baru menyadari jika di hatinya sudah terpaut kepada pemuda baik itu dan Alea pun merasa sangat kehilangan.
Lalu, bagaimana jadinya, jika sepuluh tahun kemudian keduanya pun kembali dipertemukan dengan Agam yang akan dijodohkan dengan wanita.
Akankah Alea merelakan Agam untuk bersama dengan wanita lain di saat dia sendiri sudah jatuh cinta kepada pria itu? Atau, Alea akan berusaha untuk mendapatkannya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Bertemu
“Kenapa diam saja?”
Suara bariton Agam membuat Alea tersadar. Refleks, Alea mengangkat wajah dan menatap ke arah Agam.
“Iya?” tanyanya bingung. Membuat Agam tersenyum tipis.
“Kenapa diam saja? Tidak nyaman, ya?”
“Ah… Tidak apa-apa kok.”
“Yakin?”
“Tentu saja.”
“Tapi kamu terlihat tidak nyaman.”
“Tidak apa-apa. Aku akan mencoba menahannya.”
“Mau jalan-jalan keluar?”
Seketika, Alea kembali menoleh, menatap Agam dengan tatapan bingung.
Kini, keduanya sudah berada di satu meja VVIP yang sudah disediakan oleh penyelenggara acara.
Dan selama duduk di meja bundar itu, Alea terlihat sangat tidak nyaman dan gelisah.
“Memangnya boleh?” tanya Alea sedikit ragu.
“Tentu saja. Tidak ada yang melarang.”
“Tapi… acaranya baru saja dimulai.”
“Tenang saja. Ini acara untuk para orang tua dan kita bisa menunggu di luar.”
“Benarkah? Boleh seperti itu?”
“Tentu saja boleh.”
Agam pun bergegas bangkit dari kursinya, kemudian ia mengulurkan tangan kepada Alea.
“Ayo, ikut aku.” ucapnya santai.
Alea sempat menatap tangan itu beberapa detik. Ada sedikit keraguan di wajahnya, namun akhirnya ia pun menerima uluran tangan Agam, lalu berdiri dan mengikuti langkah pria itu, meninggalkan ruangan tersebut.
Keduanya berjalan keluar dari ruangan acara. Udara malam yang sejuk langsung menyambut mereka.
Agam membawa Alea menuju area taman hotel yang berada tidak jauh dari ballroom. Taman yang cukup luas untuk sebuah taman yang dibuat di atas gedung tinggi.
Lampu-lampu kecil menghiasi pepohonan dan jalan setapak, menciptakan suasana yang jauh lebih tenang dibandingkan ruangan acara tadi.
Beberapa kursi dan meja kecil juga tersedia di sepanjang taman.
Alea menghembuskan nafas panjang, seolah tengah melepaskan sebuah beban yang selama berada di dalam ballroom ia tahan.
“Ah…” ucapnya menghembuskan nafas lega.
Tanpa sadar, bahunya yang sejak tadi tegang perlahan mengendur. refleks Agam langsung menoleh.
“Gimana, jauh lebih nyaman, kan?” tanyanya.
“Iya, dan jauh lebih tenang juga.” jawab Alea sembari mengangguk pelan.
“Sepertinya kamu tidak nyaman berada di acara seperti ini.”
“Benar. Aku memang tidak pernah merasa nyaman di acara seperti ini,” jawab Alea sedikit ragu, namun tetap mengatakannya.
“Apa karena terlalu banyak orang?”
“Entahlah. Aku juga tidak tahu.”
“Kalau begitu, kenapa ikut?”
“Bunda sakit dan aku tidak tega membiarkan Ayah pergi sendiri.”
Agam langsung terdiam.
Benar juga. Alea adalah anak tunggal, jadi pantas kalau akhirnya, dia yang jadi andalan kedua orang tuanya.
Berbeda dengan dirinya yang masih memiliki seorang adik yang kadang bisa membantunya menjalankan tugas perusahaan maupun urusan keluarga lainnya.
Jujur, sejak mereka duduk di meja VVIP itu, Agam sama sekali tidak bisa berhenti memperhatikan Alea. Bahkan, setiap gerak gerik wanita itu, tidak luput dari perhatiannya.
Namun, beberapa detik kemudian, Alea baru menyadari sesuatu. Jika Agam, ternyata memperhatikan dirinya.
“Tunggu.”
Seketika, keduanya pun menghentikan langkah secara bersamaan. Alea menatap Agam dengan tatapan penuh selidik
“Kakak memperhatikan aku?” tanyanya.
Agam memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju ke salah satu kursi panjang tanpa meja, yang ada di sana.
“Sulit untuk tidak memperhatikanmu.”
Deg.
Entah kenapa, jawaban sederhana itu justru membuat jantungnya kembali berdetak lebih cepat.
Demi mengendalikan dirinya, Alea pun bergegas mengalihkan pandangan ke sudut taman lainnya, lalu berdehem beberapa kali demi menormalkan debaran jantungnya yang kembali berpacu dengan sangat cepat.
“Kenapa masih di situ? Ayo, sini. Duduk di sini.” ajak Agam, meminta Alea untuk duduk bersamanya.
Alea sedikit tersentak saat Agam membuka suara nya lagi. Dan setelah menghela nafas panjang, Alea mulai melangkah, mendekati kursi yang diduduki oleh Agam. Ia duduk tepat di samping Agam dengan jarak aman.
Tidak ada percakapan diantara keduanya. Hanya terdengar suara gemericik air dari kolam kecil di salah satu sisi taman dan suara angin yang berhembus pelan menerpa dedauanan.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di acara tersebut, Alea merasa benar-benar tenang dan nyaman.
“Terima kasih.” ucap Alea setelah beberapa saat terdiam, menikmati suasana sunyi disana. Membuat Agam menoleh cepat.
“Untuk apa?”
“Karena sudah membawaku kesini. Rasanya tenang sekali.”
“Sama-sama.” jawab Agam sembari kembali menatap ke depan.
“Lain kali kalau tidak nyaman, bilang.”
“Memangnya boleh?”
“Tentu saja boleh. Tidak ada larangan untuk berkata jujur dengan apa yang kita rasakan.”
“Baiklah. Akan aku usahakan.”
“Loh, kok akan diusahakan? Kenapa tidak langsung mengiyakan?”
“Takut menjadi beban orang lain.”
“Kamu terlalu sungkan.”
Alea kembali menatap Agam. Pria itu terlihat sangat santai seolah kalimat yang baru saja diucapkannya bukan sesuatu yang istimewa.
Namun, entah kenapa, kalimat sederhana itu kembali membuat hati Alea terasa hangat.
Beberapa detik kemudian, Alea pin mengalihkan pandangannya. Menatap langit yang dihiasi beberapa bintang.
“Indah sekali.” gumamnya.
Agam mengikuti arah pandang Alea, lalu tersenyum lebih lebar dari sebelumnya.
“Iya. Cantik.” jawab Agam sambil merubah pandangannya, menoleh ke arah Alea.
“Cantik sekali.” lanjutnya dengan suara yang jauh lebih rendah.
“Di Jakarta jarang bisa melihat langit seperti ini.” ucap Alea, tanpa menyadari jika saat ini, Agam sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit di aetikan.
“Makanya sesekali keluar dari ruangan.” jawab Agam yang langsung mengalihkan kembali pandangannya ke langit.
“Kok tahu kalau aku jarang keluar?” tanya Alea dengan nada kaget karena merasa Agam tahu tentang dirinya.
Padahal selama sepuluh tahun ini, mereka benar-benar putus komunikasi dalam bentuk apapun.
Agamenoleh, begitu juga dengan Alea. Tatapan keduanya akhirnya bertemu. Untuk beberapa detik, tidak ada satupun dari mereka yang bersuara.
“Eemm… itu… aku hanya menebak. Tidak disangka kalau tebakanku benar ternyata.” jawab Agam terbata karena gugup.
Pria itu bahkan sampai berdehem beberapa kali demi menutupi rasa gugupnya.
Agam terdiam beberapa saat. Wajahnya masih menyimpan sedikit rasa gugup setelah ketahuan memperhatikan Alea.
Namun, berbeda dengan Alea yang kembali terlihat gelisah. Tatapan qanita itu perlahan turun. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan, memainkan ujung jarinya sendiri.
Seolah ada sesuatu yang sejak tadi ingin ia katakan, tetapi masih terlalu berat untuk diucapkan.
“Kak Agam…”
“Hmm?” jawab Agam tanpa mengalihkan pandangannya dari langit.
“Aku mau minta maaf.” lanjut Alea membuat Agam langsung menoleh.
“Minta Maaf? Untuk apa?”
Alea menarik nafas panjang dengan tatapan yang masih tertunduk.
“Untuk kejadian sepuluh tahun yang lalu.”
Seketika, ekspresi Agam berubah.
Senyum tipis yang sebelumnya masih tersisa di wajahnya perlahan menghilang.