NovelToon NovelToon
Salahkan Aku Mencintaimu

Salahkan Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

SALAHKAN AKU MENCINTAIMU

​Sinopsis

Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.

​Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

​Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: DI BAWAH PENGAWASAN

Sejak malam percakapan di ruang keluarga itu, kecurigaan Ibu bertransformasi menjadi pengawasan ketat yang tak kasatmata namun sangat terasa menghimpit. Suasana hangat di dalam rumah berlantai dua tersebut tak lagi sebebas dulu. Aturan-aturan baru mulai diterapkan secara halus: pintu kamar Aluna dan Devan yang biasanya boleh tertutup kini diminta untuk tetap sedikit terbuka, dan setiap interaksi kecil di antara mereka berdua seolah berada di bawah pendar lampu sorot yang tak pernah padam.

Di sekolah, Devan tetap bertindak profesional sebagai siswa teladan—tenang, santun, dan tak tersentuh. Namun di mata Aluna, ketegangan pria itu justru kian menumpuk bagaikan bom waktu. Devan membenci pembatasan ini. Bagi Devan, setiap jarak yang dipaksakan dan setiap tatapan curiga dari Ibu justru makin memicu gejolak kepemilikan liar di dalam dadanya.

Sore harinya, hujan gerimis membungkus area belakang SMA Garuda dengan hawa dingin yang menusuk. Kegiatan ekstrakurikuler sekolah telah lama usai, menyisakan koridor lantai dua yang sepi dan remang. Aluna, yang baru saja selesai menjalankan tugas piket membersihkan kelasnya, melangkah sendirian membawa tas sekolahnya.

Saat melangkah melewati ruang laboratorium Biologi yang sudah tidak terpakai dan terkunci rapat dari luar, sebuah tangan kokoh mendadak menjangkau lengannya dari balik celah kegelapan. Dengan gerakan yang sangat cepat dan presisi, tubuh mungil Aluna ditarik masuk ke dalam celah lorong tangga darurat yang gelap dan jarang dilalui.

Srett.

Tubuh Aluna terdorong pelan ke dinding beton tangga darurat yang dingin. Sebelum ia sempat menjerit atau melepaskan diri karena kaget, aroma kayu cendana yang amat familiar menyergap seluruh inderanya.

"Kak Devan..." bisik Aluna terengah saat mendongak menatap sosok yang berdiri memblokir jalan keluar.

Devan mengurung Aluna sepenuhnya di antara kedua tangannya yang mengunci dinding beton. Wajah Devan terlihat sedikit lelah, tetapi iris matanya yang cokelat gelap berkilat memancarkan intensitas gairah dan amarah terselubung. Tanpa membuang waktu untuk berbasa-basi, Devan memajukan wajahnya dan menyambar bibir Aluna dengan ciuman yang langsung membakar.

Ciuman Devan kali ini terasa begitu menuntut, dalam, dan tanpa jeda—sebuah penumpahan rasa frustrasi akibat pembatasan jarak dan pengawasan ketat dari rumah selama beberapa hari terakhir. Devan menekan pagutannya, menuntut kepasrahan penuh dari adiknya demi membuktikan bahwa gadis itu masih sepenuhnya berada di bawah kendalinya.

Aluna meremas kuat-kuat kain kemeja seragam Devan di bagian bahu, membalas perlakuan itu dengan desah napas tertahan yang mereda di dalam keremangan lorong tangga. Sensasi bahaya jika ada guru atau siswa piket yang melintas justru membuat jantung Aluna berdegup gila-gilaan.

"Aku benci harus pura-pura asing dan menjaga jarak sama kamu saat di rumah," bisik Devan serak tepat di depan bibir Aluna yang merona basah dan sedikit bengkak. Jemari Devan yang hangat merayap naik, mengusap leher halus Aluna dengan kelembutan yang sangat posesif. "Aku benci cara Ibu menatap kita seolah-olah kita sedang berbuat dosa."

"Kak... Ibu cuma curiga," bisik Aluna pelan, matanya menatap Devan dengan binar khawatir yang membuncah. "Kalau kita makin nekad dan bertindak gegabah di luar, Ibu sama Ayah bisa makin yakin kalau rumor itu benar."

Devan terkekeh dingin—sebuah kekehan rendah yang terdengar berbahaya. Ia menunduk, mengecup garis rahang Aluna perlahan hingga membuat gadis itu menengadah pasrah.

"Biarkan mereka curiga sesuka hati mereka, Aluna," ujar Devan tegas dengan nada rendah yang tak terbantahkan sedikit pun. "Terserah apa pun yang mereka lakukan atau aturan apa pun yang mereka buat... tidak akan ada satu orang pun di rumah itu yang mampu memisahkan kamu dari aku."

Devan mempererat rengkuhannya di pinggang Aluna, menarik tubuh mungil adiknya menyatu dalam dekapan hangat di balik bayang-bayang lorong tangga darurat, menegaskan bahwa tidak ada pengawasan, aturan rumah, atau norma apa pun yang sanggup meretakkan ikatan rahasia mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!