NovelToon NovelToon
SISTEM DI DUNIA KULTIVASI

SISTEM DI DUNIA KULTIVASI

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Time Travel
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Chen Yiyi adalah pelayan di Puncak Sakte. Namun nyaris tak ada satu pun murid atau Tetua Sekte yang pernah melihat wajahnya. Dia tak pernah turun ke bawah, tak pernah bergaul, tak pernah meminta apa-apa.

Selama ini dia hanya mengurung diri di gubuk tua itu, merawat taman bunga obat dan menjaga tempat ini untuk orang yang pernah memberinya tempat bernaung — Tetua Puncak Sakte.

Hingga hari itu, kabar datang bagaikan badai: Tetua Puncak telah meninggal dunia. Tanpa pelindung, tanpa nama, tanpa keluarga, Chen Yiyi merasa tak ada lagi alasan baginya untuk tetap hidup. Di tengah malam yang sunyi, di dalam gubuk tua itu, dia memilih mengakhiri hidupnya sendiri.

Darah menetes ke lantai kayu yang lapuk. Matanya perlahan tertutup. Napasnya berhenti.

Namun kematian bukanlah akhir.
Saat kesadaran asli Chen Yiyi lenyap, seketika itu juga cahaya menyelimuti ruangan. Sebuah jiwa dari dunia lain, seorang manusia dari zaman modern yang baru saja meninggal, tersentak masuk ke dalam tubuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Plakat Jiwa Yang Hancur

Di kediaman keluarga Shui — sebuah kediaman luas dan megah di Wilayah Selatan — suasana yang biasanya penuh kemewahan kini terasa gelisah dan tidak tenang.

Di ruang utama, keluarga besar Shui berkumpul. Hari berganti hari, namun tiga pembunuh bayaran yang mereka kirim ke Hutan Kelabu untuk memastikan kematian Shui Ying, sama sekali tidak muncul.

Di kursi utama duduk Kakek Shui — kepala keluarga. Di sebelahnya berdiri Shui Mei, gadis yang merebut Tulang Suci itu. Wajahnya cantik namun penuh kesombongan dan ketidaksabaran.

"Sudah tiga hari berlalu," ucap Shui Mei dengan nada tidak sabar sambil berjalan mondar-mandir. "Mengapa mereka belum kembali? Apakah gadis itu begitu sulit dibunuh? Padahal tanpa tulang sucinya, dia hanya orang biasa yang lemah!"

Paman Shui — ayah Shui Mei — mengerutkan kening, wajahnya juga tampak gelisah. "Tiga orang pembunuh bayaran yang sudah berpengalaman puluhan tahun. Bahkan jika targetnya kultivator tahap awal, seharusnya selesai dalam sekejap. Tapi sampai sekarang tidak ada kabar sama sekali..."

"Jangan-jangan..." suara salah satu kerabat terdengar pelan dan ragu. "Jangan-jangan sesuatu terjadi pada mereka?"

"Mungkin saja mereka malas dan menunda pekerjaan," potong Shui Mei dengan ketus. "Atau mungkin mereka menikmati penderitaan gadis itu terlebih dahulu sebelum membunuhnya. Siapa tahu."

Kakek Shui mengetuk meja dengan pelan, namun setiap ketukan terdengar berat. "Sudah cukup. Tidak ada gunanya menunggu di sini. Kirim seseorang untuk menemui pemimpin kelompok pembunuh bayaran itu. Tanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa belum ada laporan."

"Baik, Kakek," jawab seorang kerabat sambil menunduk. "Aku akan pergi sendiri."

***

Siang itu juga, utusan dari keluarga Shui bergegas menuju kediaman pemimpin pembunuh bayaran. Namun sesampainya di sana, ia disambut dengan wajah bingung dari pemimpin itu sendiri.

"Mereka belum kembali?" tanya pemimpin itu dengan nada heran. "Itu mustahil. Tiga orang itu adalah yang terbaik di kelompokku. Tidak ada target yang tidak bisa mereka selesaikan."

"Sudah empat hari sejak mereka berangkat," ucap utusan Shui dengan wajah cemas. "Dan tidak ada kabar sama sekali. Apakah mereka pergi ke tempat lain?"

Pemimpin itu menggeleng kuat. "Tidak mungkin. Mereka selalu melapor setiap kali tugas selesai. Dan jika terlambat, pasti ada pesan yang dikirim. Tapi sejak hari itu... tidak ada satu pesan pun yang masuk. Seakan-akan mereka lenyap dari muka bumi."

"Hmm.. Kalau begitu aku balik dulu untuk menyampaikan informasi. Jika ada kabar, kalian segera ke kediaman Shui!"

Utusan itu kembali ke kediaman Shui dengan hati yang berat. Berita itu disampaikan kepada keluarga besar, dan seketika, ruangan itu menjadi hening dan gelisah.

Setelah utusan itu pergi, pemimpin pembunuh segera pergi ke suatu tempat. Entah kenapa hatinya tiba-tiba gelisah.

Mereka salah satu kelompok pembunuh bayaran yang paling terkenal di wilayah tersebut. Mereka bekerja tanpa ada jejak sama sekali.

Meski orang ingin menuduh, tapi mereka tidak punya bukti sama sekali. Tapi kenapa kali ini terasa sangat berbeda. Seolah-olah terjadi masalah besar, dan itu akan mempengaruhi organisasinya di masa depan.

***

"Tidak ada yang tahu ke mana mereka pergi?" Kakek Shui berdiri perlahan, suaranya berat dan penuh kekhawatiran. "Tiga orang pembunuh bayaran yang kuat... lenyap tanpa jejak?"

Paman Shui menelan ludah, matanya menatap ke arah Hutan Kelabu. "Hutan Kelabu itu terkenal berbahaya. Di dalam sana banyak binatang roh buas yang dijaga ketat oleh roh purba. Mungkinkah... mereka bertemu dengan salah satu binatang roh itu?"

Mata Shui Mei terbelalak. "Maksudmu... binatang roh itu membunuh mereka semua? Dan Shui Ying juga?"

"Itu satu-satunya penjelasan yang masuk akal," ucap kerabat lain pelan. "Tanpa tulang sucinya, Shui Ying tidak bisa berkultivasi. Dia pasti sudah menjadi mangsa binatang roh buas di sana. Dan ketiga pembunuh itu... mungkin kalah saat mencoba melindungi diri atau melawan."

Semua orang terdiam. Penjelasan itu terdengar paling masuk akal — namun entah mengapa, hati mereka tidak tenang.

"Kalau begitu... dia sudah mati," gumam Shui Mei, namun suaranya tidak terdengar lega seperti yang ia bayangkan. Justru ada rasa cemas yang tidak menentu.

Kakek Shui menghela napas panjang, wajahnya penuh penyesalan yang tiba-tiba muncul. "Andai saja... andai saja kita membuatkan plakat jiwa untuknya sejak awal."

"Plakat jiwa?" tanya Paman Shui sedikit bingung.

"Ya," jawab Kakek Shui pelan namun berat. "Kita semua tahu apa itu plakat jiwa. Setiap anggota keluarga yang sah pasti memilikinya dan terhubung langsung dengan jiwa pemiliknya."

Suasana hening seketika. Semua orang mengerti — mereka semua sudah punya plakat jiwa masing-masing di Altar Leluhur.

 Tapi Shui Ying? Mereka tidak pernah menganggapnya cukup penting untuk dibuatkan satu plakat jiwa.

Mereka terlalu yakin dia pasti akan mati, sehingga tidak perlu repot. Dan sekarang, justru karena kelalaian itu, mereka tidak tahu apa-apa.

"Kita semua punya plakat jiwa di altar," ucap Paman Shui dengan suara penuh penyesalan. "Tapi dia... tidak pernah ada di sana. Andai saja kita membuatkan satu untuknya sekarang... kita tidak perlu menebak-nebak seperti ini. Kita akan tahu dengan pasti apakah dia masih hidup atau sudah mati."

"Tanpa plakat itu, kita tidak bisa memastikan apa pun," ucap Shui Mei pelan, matanya penuh keraguan. "

"Jangan berpikir yang tidak-tidak," potong Kakek Shui, namun wajahnya juga tidak tenang. "Hutan Kelabu itu berbahaya. Tidak ada yang bisa keluar dari sana dengan selamat. Dia pasti sudah mati. Dan ketiga pembunuh itu juga."

Namun kata-kata itu tidak menenangkan siapa pun. Tanpa bukti apa pun — semuanya tetap menjadi teka-teki. Dan ketidakmampuan untuk memantau keadaannya dari jauh justru membuat mereka semakin gelisah dan tidak tenang.

Di kediaman yang penuh kemewahan itu, kecemasan dan penyesalan bercampur aduk. Mereka menebak Shui Ying dan ketiga pembunuh itu telah dimangsa binatang roh buas di Hutan Kelabu — namun tidak ada yang bisa memastikannya.

Penyesalan mereka bukan karena belas kasihan, melainkan karena kelalaian sendiri — tidak membuat plakat jiwa yang bisa memantau hidup dan matinya dengan pasti. Dan ketidaktahuan itu justru menjadi beban yang terus menghantui mereka.

Dan kecemasan itu bertambah saat utusan dari pihak pembunuh bayaran datang memberi informasi.

Plakat jiwa rekan mereka bertiga sudah hancur. Dilihat dari sisa jejak jiwanya yang tersisa, ketiganya sudah mati dua hari yang lalu.

Sementara itu, jauh di Gunung Langit, Shui Ying sedang berlatih dengan tekun. Ia tidak tahu bahwa keluarganya sedang menebak kematiannya. Yang ia tahu — ia hidup, ia kuat, dan suatu hari nanti ia akan kembali. Dan saat itu tiba, mereka akan tahu bahwa semua tebakan mereka salah sejak awal.

.

.

1
Alia Chans
Hadirr Thor
cerita nya seru banget.... singgah juga di karya baru aku ya🤭🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!