Evita Desniati adalah seorang wanita yang sudah menikah selama 6 tahun lamanya dengan Xander Wiryawan. Kehidupan rumah tangga mereka mendadak hancur saat Evita memergoki Xander tengah bermesraan dengan seorang wanita bernama Viola Sanustika di atas ranjang yang biasa ia dan Xander gunakan! Evita menjadi trauma dengan ranjang hingga seorang pria asing dari Tiongkok bernama Ma Yong Hua muncul dan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putusan Cerai
Pagi hari di Pengadilan Agama Jakarta Pusat menyambut dengan cahaya matahari yang menembus celah-celah pepohonan rindang di halaman depan. Udara terasa begitu segar, seolah ikut merasakan kelegaan batin yang luar biasa bagi seseorang yang hendak melepaskan diri dari belenggu neraka rumah tangga.
Di dalam ruang sidang utama yang beratap tinggi, suasana tampak hening dan khidmat. Majelis hakim yang dipimpin oleh seorang ketua hakim berwibawa duduk di balik meja hijau, bersiap membacakan putusan akhir atas perkara gugatan cerai yang diajukan oleh Evita Desniati terhadap suaminya, Xander Wiryawan.
Evita Desniati duduk tegak di kursi penggugat. Mengenakan dress formal berwarna navy yang anggun dipadukan dengan blazer putih bersih, wajah Evita tampak sangat tenang. Tidak ada lagi sisa-sisa kesedihan atau keraguan di matanya. Yang terpancar hanyalah ketegaran seorang wanita yang siap menyambut babak baru kehidupannya. Di sisinya, berkas-berkas pengadilan tertata rapi di atas pangkuannya.
Di kursi pihak tergugat, Xander Wiryawan duduk seorang diri tanpa didampingi oleh pengacara. Penampilannya benar-benar jauh dari kesan seorang CEO kaya raya seperti dulu. Jasnya tampak kusut, rambutnya tidak tertata rapi, dan lingkaran hitam tebal menghiasi kedua matanya. Kebangkrutan total Wiryawan Corporation dan penyitaan seluruh aset pribadinya oleh bank telah menghancurkan mental dan harga diri pria itu hingga tak tersisa.
"Berdasarkan pertimbangan hukum, bukti-bukti otentik, serta keterangan saksi dan ketidakhadiran pihak tergugat dalam upaya mediasi lanjutan, maka dengan ini majelis hakim memutuskan..." Ketua majelis hakim mengetuk palu sidang sebanyak tiga kali dengan suara nyaring yang menggema ke seluruh ruangan.
Tok! Tok! Tok!
"...Mengabulkan gugatan penggugat sepenuhnya. Memutuskan ikatan perkawinan antara Evita Desniati binti Santoso dan Xander Wiryawan bin Wiryawan resmi putus karena perceraian terhitung sejak tanggal putusan ini dibacakan!"
Ketukan palu itu bukan sekadar bunyi vonis hukum biasa; bagi Evita, suara itu adalah bunyi gembok rantai penderitaan yang akhirnya terbuka lepas. Secara de jure dan de facto, pernikahan yang ia jalani selama enam tahun penuh siksaan batin dan pengkhianatan itu kini resmi berakhir.
****
Panitera pengadilan segera menyerahkan selembar dokumen resmi berstempel basah ke tangan Evita—sebuah Akta Cerai yang menandai status barunya sebagai wanita merdeka. Evita menerima akta tersebut dengan tangan sedikit bergetar, lalu menarik napas panjang, membiarkan beban berat yang selama bertahun-tahun menghimpit dadanya menguap lenyap ke udara.
Begitu sidang ditutup dan para pengunjung mulai keluar ruangan, suasana di koridor utama pengadilan mendadak berubah menjadi riuh. Kehadiran sosok yang sangat mencolok di luar ruang sidang langsung menarik perhatian seluruh awak media dan pengunjung yang lewat.
Ma Yong Hua, sang taipan muda berdarah Tionghoa sekaligus CEO Ma Group, melangkah masuk ke area pengadilan dengan penuh wibawa. Mengenakan setelan jas tailored-fit berwarna hitam arang yang dipadukan dengan kemeja putih tanpa dasi, ketampanan dan karisma mutlak Ma Yong Hua langsung membius siapa saja yang melihatnya. Di belakangnya, sang sekretaris setia Feng Zhi berjalan mengawal dengan tatapan tajam mengawasi situasi.
Kedatangan Ma Yong Hua ke pengadilan agama tentu saja bukan tanpa alasan. Sebagai pria yang kini telah mengisi ruang hati Evita, ia datang secara khusus untuk memastikan bahwa proses hukum wanita yang dilindunginya berjalan lancar tanpa ada gangguan dari pihak mana pun.
Evita yang baru saja melangkah keluar dari ruang sidang terperanjat kecil mendapati Ma Yong Hua sudah berdiri menunggunya di dekat pilar koridor.
Ma Yong Hua melangkah mendekat dengan senyuman tipis yang sangat menenangkan. Sorot mata sipitnya memancarkan kehangatan dan kelegaan yang luar biasa.
"Sidangnya sudah selesai, Evita?" tanya Ma Yong Hua dengan suara baritonnya yang lembut dan berwibawa, berhenti tepat di hadapan wanita itu.
****
Evita mendongak, menatap mata pria yang telah menyelamatkan hidupnya dari jurang keputusasaan. Ia mengangkat sedikit dokumen di tangannya sambil tersenyum tulus.
"Sudah, Tuan Yong Hua," jawab Evita dengan suara lembut namun mantap. "Semuanya sudah resmi... Aku sudah memegang akta ceraiku."
Mendengar jawaban itu, Ma Yong Hua menghela napas lega. Ia mengulurkan tangannya dengan sangat sopan, menyentuh lembut bahu Evita. "Syukurlah. Mulai detik ini, tidak ada lagi ikatan apa pun yang bisa menyakitimu, Evita."
Namun, di tengah momen penuh kehangatan tersebut, sebuah suara parau dan bergetar tiba-tiba memecah keheningan di belakang mereka.
"Evita... tunggu sebentar..."
Evita dan Ma Yong Hua menoleh serentak.
Xander Wiryawan berdiri beberapa meter di belakang mereka dengan kepala tertunduk. Pria yang dulunya selalu tampil arogan dan memandang rendah orang lain itu kini tampak begitu mengenaskan. Kakinya sedikit gemetar, dan air mata penyesalan yang tulus mengalir membasahi pipinya yang tirus.
****
Xander melangkah mendekat secara perlahan, berhenti tepat di hadapan Evita dengan gestur tubuh yang hancur lebur.
"Xander... Mau apa lagi kamu?" tanya Evita dingin, menatap mantan suaminya tanpa secercah pun rasa benci, melainkan hanya rasa hampa yang teramat sangat.
Xander mendadak berlutut di lantai koridor pengadilan di hadapan Evita, membuat beberapa pengunjung dan wartawan langsung tertegun kaget melihat aksi dramatis tersebut.
"Evita... kumohon... maafkan aku..." ratap Xander dengan suara parau tersenggak-sengak, mencoba meraih ujung jas Evita namun langsung ditarik mundur oleh Feng Zhi dengan sigap. "Aku benar-benar bajingan... Aku adalah suami paling bodoh di muka bumi ini! Aku dibutakan oleh harta, dibutakan oleh hasutan wanita iblis itu, hingga aku tega memfitnahmu, menyiksamu, dan menghancurkan hidupmu..."
Xander mendongakkan wajahnya yang basah oleh air mata, menatap Evita dengan tatapan penuh permohonan ampun yang sangat menyedihkan.
"Sekarang aku sudah kehilangan segalanya, Evita... Perusahaanku bangkrut, hartaku disita, aku hidup sebatang kara dalam kehancuran total... Aku baru sadar bahwa kamulah satu-satunya istri yang tulus mencintaiku sejak kita belum punya apa-apa... Tolong... beri aku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya, Evita... Kumohon..."
****
Ratapan penyesalan itu terdengar begitu memualkan di telinga siapa pun yang mendengarnya. Enam tahun pernikahan diinjak-injak begitu saja, dan baru ketika semuanya musnah tersapu badai, pria itu datang memohon sisa-sisa belas kasihan.
Evita menatap Xander dengan sorot mata yang datar. Tidak ada lagi amarah yang bergejolak di dadanya, karena kemarahan itu telah lama mati digantikan oleh kekecewaan yang teramat dalam.
"Menyesal sekarang sudah terlambat, Xander," ucap Evita dengan suara tenang namun menusuk tajam ke dalam ulu hati mantan suaminya. "Kamu sendiri yang menghancurkan jembatan di antara kita. Air mata penyesalanmu hari ini tidak akan pernah bisa menghapus luka dan fitnah keji yang kamu tebar untuk menghancurkan harga diriku. Bangkitlah dari lantai itu, Xander. Jalani sisa hidupmu dengan menanggung semua akibat dari kebusukan hatimu sendiri."
Mendengar penolakan mutlak yang diucapkan dengan begitu dingin namun elegan, tangisan Xander semakin pecah menjadi-jadi. Ia membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya di lantai koridor, meratapi kebodohan dan keserakahan abadi yang telah merenggut seluruh kebahagiaan hidupnya.
Ma Yong Hua merangkul pinggang Evita dengan lembut, membimbing wanita itu untuk berbalik melangkah meninggalkan Xander yang masih bersimpuh dalam tangis penyesalan yang sia-sia.
"Mari kita pergi, Evita," bisik Ma Yong Hua penuh kasih. "Tempat ini tidak layak untuk berlama-lama."