Arka Khontacron adalah pemilik perkebunan anggur terbesar di Buleleng tepatnya di Bali. Arka memiliki saudara kembar laki-laki yaitu Phat Shrabeus kakak nya. Mereka tinggal di Seririt, Nama desanya, Desa Sagara. Desa mereka dalam beberapa bulan ini selalu banyak kasus orang-orang desa yang hilang, terutama wanita. Banyak masyarakat yang komplen ke polisi, tapi hasilnya juga sama. Tapi kasus itu mulai terbuka kembali pada malam itu akibat Arka menemukan mayat Pak Braun Ghum di dalam perkebunan miliknya. Pak Braun ialah pemilik peternakan domba di sebelah perkebunan anggur milik keluarga Khontacron dan juga Arka sering bermain bersama anaknya Sara Mhiomorin waktu kecil. Arka memanggil polisi untuk menyelediki kejadian tersebut, tapi bukannya mencari bukti. Polisi menyeret Arka sebagai tersangka, apakah bisa arka menemukan pelaku yang sebenarnya?
Ini ialah kisah cinta ringan dari Zodiak Taurus, bisakah dia bersabar menghadapi kejadian tersebut atau malah menjadi keras kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DOLPIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2. BAYANG-BAYANG KECURIGAAN
Keesokan paginya, Arka berada di kantor polisi.
Sejak pagi pikiran Arka masih dipenuhi kejadian semalam. Bayangan tubuh Pak Braun terus terlintas di pikirannya.
Seorang polisi duduk di hadapannya sambil membuka buku catatan.
"Tolong, sebutkan nama anda siapa dan berapa umur anda?"
"Nama saya Arka Khontacron dan saya berumur 28 tahun."
"Baik. Dengan Pak Arka."
Polisi itu melirik ke arah Arka. Dan sedikit mencurigai Arka.
"Sekitar pukul berapa anda menemukan korban di kebun anda?"
"Saya menemukannya sekitar pukul 11 malam."
"Anda pergi sendirian pada saat itu?"
"Iya Pak, saya sendirian. Awalnya saya ingin ke kantor pemasaran yang ada di depan kebun saya untuk memeriksa barang bawaan supaya tidak ada yang ketinggalan."
"Dan harusnya saya pergi ke luar kota untuk mengantar pesanan saya hari ini, Pak."
Polisi itu mencatat semua kesaksian Arka supaya menjadi bukti.
"Apakah anda mengenal korban siapa, dimana dia tinggal dan dimana kerabatnya."
"Korban bernama Braun Ghum, dan beliau tinggal di sebelah rumah saya dan juga pemilik dari Peternakan domba, kalau kerabatnya saya kurang tau, tapi Pak Braun punya anak perempuan."
"Siapa nama anak perempuannya, dan dimana dia? Supaya bisa kami hubungi segera."
"Nama anaknya Sara Mhiomorin dan saya dengar Sara ada di kota untuk kuliah."
Alis polisi itu sedikit terangkat.
"Baiklah. Satu pertanyaan lagi."
"Iya."
"Apakah anda memiliki hubungan bisnis bersama korban atau masalah pribadi dengan korban?"
"Kalau hubungan bisnis mungkin ada, karena Pak Braun sering memesan anggur saya."
Arka menarik napas panjang.
"Dan mengenai masalah pribadi mungkin tidak ada, Pak. Sebab saya selalu sibuk untuk mengantar pesanan ke luar kota akhir-akhir ini."
Sebelum polisi itu melanjutkan mencatat, suara langkah kaki terdengar dari luar ruangan.
Tok! Tok!
Pintu terbuka.
"Arka!"
Arka langsung menoleh kebelakang.
"Ayah?"
Ayahnya pun masuk bersama Phat kakak kembarnya. Di belakang mereka, Pak Thom ikut menyusul.
"Arka! Apa kau tau yang kau lakukan itu salah!" Tanya ayahnya dengan wajah marah.
"Bukan aku yang membunuh nya ayah! Aku tidak bohong."
Phat masuk dan langsung berdiri di samping ayahnya.
"Kalau bukan kau! Apakah ada orang lain yang menemukan!?"
"Tidak kan!?" Tanya Phat marah.
"Aku sendiri juga masih bingung dengan kejadian tadi malam."
"Kenapa kalian tidak ada yang mempercayai ku."
Arka memalingkan wajahnya dari kakaknya.
"Cihh!!" Phat mengeriyitkan alisnya.
"beruntung Pak Thom memberitahu aku dan ayah pagi tadi, bahwa kau dibawa ke kantor polisi."
Pak Thom kemudian menatap polisi yang sedang memeriksa Arka.
"Maaf, Pak. Apakah pemeriksaannya masih lama?"
"Sudah selesai, Pak." jawab polisi tersebut.
"Kami hanya tinggal memastikan keterangan Pak Arka mengenai kejadian semalam."
Pak Thom mengangguk.
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama. Tetapi Pak Arka harus menjadi tahanan rumah selama sebulan dan masa pemeriksaan selesai."
"Baik, Pak." Arka kembali melihat ke arah meja.
Lalu saat semuanya ingin keluar dari kantor, Kepala polisi itu memanggil Arka.
"Pak Arka! Tunggu sebentar!"
Arka menoleh ke belakang.
"Ada apa, Pak?"
"Apakah anda mempunyai kontak dari Sara Mhiomorin?"
"Supaya kami bisa menghubunginya."
"Ya saya punya, Pak. Tetapi ini nomor lamanya. Saya tidak tau apakah bisa dihubungi."
"Tidak apa-apa. Kami akan mencobanya dulu."
"Silakan tulis di kertas ini."
"Ini, Pak." Arka memberikan kertas dengan nomor telepon Sara kepada polisi.
Polisi itu menerima kertasnya.
"Terima kasih. Baiklah anda boleh pulang."
"Kalau begitu saya permisi."
Arka pun melangkah keluar dari kantor dan berjalan ke arah Pak Thom dan masuk ke dalam mobil.
Setiba dirumah utama keluarga Arka, tiba-tiba ayahnya turun dari mobil meminta Arka untuk pergi menemuinya setelah selesai makan malam untuk ke ruangan ayahnya.
"Arka!" panggil ayahnya.
"Ya ayah, ada apa?"
"Nanti, setelah makan malam selesai, datanglah ke ruangan ku di lantai atas."
Ayahnya langsung pergi dan masuk ke dalam rumah sebelum Arka sempat menjawab.
Dan tiba-tiba, Phat memukul wajah Arka dan membuat Arka terjatuh.
"BRUKK"
"Aduhh... Kak apa yang kau lakukan?" Arka menatap Phat dengan kebingungan.
"Kau memang pantas mendapatkan nya!"
"Dasar tidak berguna!"
Lalu Pak Thom datang dan mencegah Phat yang hendak memukul lagi.
"Tuan Phat! Hentikan!"
"Tolong jangan bertengkar, jika Tuan besar mendengarnya..."
Phat menatap Pak Thom dan langsung pergi masuk ke dalam rumah. Lalu berhenti dan menunjukkan jari nya ke arah Arka yang jatuh di bawah.
"Sialan! Kau lihat saja nanti."
"Pak Thom ikut dengan ku ke dalam, ada hal yang ingin ayah bicarakan dengan mu."
"Baik, Tuan Phat."
Pak Thom berjalan dan berhenti sejenak menatap Arka.
"Maafkan aku, Tuan Arka."
"Heh? Kenapa anda minta maaf?" Arka menaikkan alisnya dan sedikit bingung.
"Karna... Saya..."
"Heyy!!" ayo cepat! Biarkan dia tidak usah dibantu."
"Tapi, Tuan Phat."
"Kau tidak dengar!! Kubilang tinggalkan saja!!"
"Atau ku pecat kau!"
Pak Thom yang ketakutan akibat di ancam oleh Phat dan langsung masuk mengikuti Phat ke dalam.
Arka bangun dari bawah dan membersihkan bajunya dan sedikit bingung.
"Apa yang sebenarnya Pak Thom ingin katakan tadi." gumam Arka di dalam hati.
Arka pun berjalan ke dalam. Entah kenapa Arka menyadari ada yang tidak beres.