Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kertas Formulir 4
Di ruang tamu yang sederhana, di atas tikar plastik yang digelar bapaknya, Reza duduk bersila. Di hadapannya tersaji dua piring gado-gado porsi jumbo dan es teh manis. Suasana rumah itu begitu hangat, begitu penuh dengan harapan dan doa orang tua yang menggantungkan masa depan keluarga pada pundak anak lelakinya yang berkuliah di universitas top.
Menyaksikan kebanggaan di mata bapaknya, dada Reza terasa seperti ditikam pisau berkali-kali. Ia mengaduk-aduk gado-gadonya tanpa selera. Map merah berisi formulir Disnaker itu terasa membakar punggungnya dari dalam tas ransel.
"Gimana kuliahmu, Za? Nilai ujian lisan Mandarin yang kamu ceritain di telepon minggu lalu udah keluar belum?" tanya bapaknya santai sambil menyesap kopinya. "Bapak cerita ke tetangga sebelah, anak Bapak bentar lagi cas-cis-cus bahasa Cina, eh malah pada nitip dibeliin obat gosok dari sana kalau kamu dapat beasiswa."
Mendengar itu, Reza menelan ludah yang terasa seperti kerikil tajam. Ia melirik Poltak. Pemuda Batak itu menghentikan kunyahannya, memberikan tatapan tajam dan anggukan penuh makna kepada Reza. *Sekarang waktunya, Kawan. Maju kau,* isyarat mata Poltak.
Reza menarik napas panjang, sangat panjang, hingga paru-parunya terasa penuh. Ia meletakkan sendoknya, menyingkirkan piring gado-gado dari hadapannya, lalu kembali bersimpuh di depan bapaknya.
"Pak... Bu..." suara Reza bergetar hebat. "Reza pulang... bukan mau kasih kabar baik. Reza... Reza bawa kabar buruk."
Bapaknya mengerutkan kening, senyum bangganya perlahan memudar. "Kabar buruk apa, *Le*? Kamu nggak lulus ujiannya? Nggak apa-apa, ngulang semester depan kan bisa. Bapak masih sanggup cari pinjaman."
"Bukan, Pak." Reza menundukkan kepalanya dalam-dalam, air matanya menetes mengenai tikar plastik. "Reza udah dikeluarin dari kampus, Pak. Reza di-DO."
Hening yang sangat memekakkan telinga seketika jatuh di ruang tamu kecil itu. Sendok di tangan ibu yang sedang merapikan meja terjatuh berdenting ke lantai. Bapak mematung, cangkir kopi di tangannya berhenti di udara.
"Di-DO? Maksudmu... kamu diusir dari UI?" suara bapak terdengar parau, separuh jiwanya seakan ikut tercerabut. "Kenapa, Za? Kamu bolos? Kamu nggak bayar SPP? Atau kamu ikut demo tawuran itu?!"
Dengan suara terbata-bata, diiringi isak tangis yang tertahan, Reza menceritakan semuanya. Mulai dari insiden warkop yang hancur, pengejaran ke Teater Lama, hingga fitnah keji yang dijatuhkan kepadanya oleh dosen dan teman-teman Dini. Ia bersumpah atas nama Tuhan dan orang tuanya bahwa ia tidak pernah menyentuh gadis itu, bahwa ia hanya berniat menolong.
Saat Reza selesai bercerita, ruangan itu masih diselimuti keheningan yang menyesakkan. Ibu sudah menangis tersedu-sedu, memeluk bahu Reza. Namun bapaknya tetap diam membatu. Wajah pria paruh baya itu memerah, rahangnya mengeras. Kecewa, marah, dan hancur lebur bercampur aduk di matanya. Motor *Astrea* yang ia jual, keringat yang ia peras setiap hari di kelurahan, semuanya lenyap dalam sekejap karena sebuah fitnah di kota yang kejam.
"Bapak... Reza minta maaf, Pak. Reza gagal jaga amanah Bapak..." ratap Reza, tak berani mengangkat wajahnya.
Tiba-tiba, Poltak bergeser dari duduknya. Pemuda bertubuh gorila itu ikut bersimpuh di samping Reza, menatap bapak Reza dengan sungguh-sungguh.
"Bapak, Ibu," suara Poltak memecah ketegangan, tegas namun penuh hormat. "Saya berani bersumpah di atas Alkitab saya, Reza anak Bapak ini orang baik. Dia difitnah, Pak. Malam sebelumnya dia bertaruh nyawa ngelindungin Ibu warung dari preman. Dia rela di isir demi ngelindungin kehormatan perempuan. Jangan marahin dia, Pak. Kalau mau marahain saya, yang enggak becus ngerjar preman."
Bapak Reza menatap Poltak, lalu menatap anaknya yang bersujud dikakinya. Perlahan tangan keriput Bapak itu terulur, mengusap kepala Reza yang basah karena keringat dan air mata.
"Bapak percaya sama kamu, Le." Dengan suara bergetar dan air mata yang akhirnya mengalir dipelupuk matanya. "Bapak tau, anak yang Bapak besarkan dari uang halal tidak akan melakukan hal sekeji itu, Kamu anak baik Za, fitnah ini ujian dari Gusti Allah".
Reza mendongak, menatap bapaknya dengan tidak percaya. Tidak ada pukulan. Tidak ada usiran. Hanya ada pelukan hangat seorang ayah yang percaya penuh pada integritas anak lelakinya. Tangis Reza meledak lebih keras, memeluk bapak dan ibunya erat-erat, seolah semua beban dunia yang menghimpit dadanya selama seminggu terakhir menguap ke udara. Poltak yang melihat adegan itu ikut mengusap matanya yang mulai gatal, terharu melihat besarnya kasih sayang keluarga ini.
Setelah tangisan dan luapan emosi mereda, Reza duduk kembali. la mengambil ranselnya, merogoh map plastik merah dari Disnaker, dan meletakkannya as meja dengan tangan gemetar.
"Pak, Bu," kata Reza, menyeka sisa air matanya, suaranya kini kembali mantap. "Reza mungkin udah diusir dari kampus. Tapi Reza belum kalah. Reza nggak akan biarin fitnah ini ngancurin hidup Reza. Reza mau tepatin janji Reza buat pergi ke Cina."
Bapaknya menatap map merah itu, mengerutkan kening. "Ini apa, Le?"
"Ini formulir pendaftaran Tenaga Kerja Indonesia, Pak. Kalau Reza nggak bisa ke Guangzhou pakai jas almamater kuning, Reza bakal ke sana pakai seragam buruh memperlihatkan selembar kertas
bermaterai. "Reza butuh restu dan tanda
tangan Bapak buat berangkat kerja ke luar negeri."
Mata bapak membelalak kaget. la menatap lekat-lekat wajah anak lelakinya itu. Di balik memar dan tubuh kurusnya, pria paruh baya itu melihat sebuah tekad yang tak bisa dipatahkan oleh siapapun. Tekad baja yang ditempa oleh kemiskinan, kesetiaan, dan kini, oleh ketidakadilan.
Di tempat lain yang jauh, di sebuah rumah sakit di Depok, detektif polisi sedang mewawancarai seorang tukang parkir fakultas sastra yang mengaku melihat mobil Honda Jazz perak keluar dengan tergesa-gesa di jam kejadian, sementara Kevin mengurung diri di toilet rumah sakit, memukul cermin hingga tangannya
berdarah karena panik rencananya mulai terbongkar.
Namun di ruang tamu sederhana di Kota J, sejarah baru sedang ditulis. Bapak Reza mengambil pulpen dari saku kemejanya, menarik kertas bermaterai itu, dan tanpa ragu, membubuhkan tanda tangannya di atasnya.
"Pergilah, Le. Kejar mimpimu. Buktikan pada mereka yang memfitnahmu bahwa anak kampung ini nggak bisa
dihancurkan," kata bapaknya, tersenyum bangga, melepaskan anak lelakinya
menuju medan perang yang baru, di negeri seberang lautan sana.