Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.
Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Bayangan tubuh Dion makin memanjang di lantai koridor yang remang, menyapu pilar kayu tempat Kirei bersembunyi. Langkah kakinya yang berat dan teratur bergema pelan di tengah keheningan malam vila yang mencekam.
Jantung Kirei berdegup liar. Jemarinya yang gemetar menekan tombol darurat pada HT di dalam saku cardigan-nya. Satu kali... dua kali... kode darurat untuk Arka.
"Enggak usah sembunyi," suara Dion membelah udara dingin, sangat dekat dari balik pilar. "Gue tahu ada orang di situ."
Dion melangkah satu tindak lagi, siap memutari pilar. Kirei memejamkan mata rapat-rapat, menahan napas.
SET!
Tiba-tiba sebuah tangan tegap merangkul pinggang Kirei dari belakang, menarik tubuh cewek itu dalam satu gerakan cepat dan halus ke dalam ceruk ruang gelap bawah tangga. Sebelum Kirei sempat menjerit, sebuah telapak tangan yang hangat dan beraroma mint menutupi bibirnya dengan lembut.
"Cuma kucing malam, Dion," sebuah suara santai menyela dari arah lorong lain.
Dion menghentikan langkahnya tepat di depan pilar yang kini kosong. Ia menoleh ke arah asal suara.
Farhan—kapten tim basket sekaligus sahabat Arka—berdiri di sana sambil melempar-lempar bola basket di tangannya. Senyumnya terkembang lebar tanpa dosa.
"Lo ngapain malam-malam begini muter-muter koridor sambil bawa koper besi, Dion?" tanya Farhan dengan nada bercanda yang dibuat-buat. "Mau jualan obat herbal?"
Dion menyipitkan mata, raut wajahnya mengeras seketika. "Bukan urusan lo, Farhan."
"Yaaa... siapa tahu kan?" Farhan menyeringai, melangkah mendekati Dion. "Penjaga vila di bawah lagi pada asyik main kartu sama anak-anak basket. Mending lo ikut gabung daripada keluyuran sendirian, bikin curfew sekolah terganggu aja."
Dion menatap Farhan tajam, lalu melirik pilar kayu di sampingnya. Setelah hening yang menegangkan selama beberapa detik, Dion menyunggingkan senyum dinginnya kembali.
"Lain kali... suruh 'kucing' lo jangan bikin gaduh," ucap Dion penuh makna tersirat. Ia memutar badannya dan berjalan cepat menuju kamarnya.
Di dalam kegelapan ceruk bawah tangga, Kirei merenggangkan tubuhnya. Arka perlahan melepaskan tangannya dari bibir Kirei, namun tetap mempertahankan posisinya, mengurung tubuh Kirei di antara dadanya dan dinding kayu.
"Arka..." bisik Kirei dengan suara bergetar, sisa kepanikan masih melingkupi dadanya.
"Lo enggak apa-apa?" suara Arka amat rendah, terdengar cemas dan protektif. Jemarinya yang hangat mengusap pipi Kirei yang dingin. "Gue dapat sinyal darurat dari HT lo."
Kirei menggeleng pelan, mendongak menatap mata cokelat pekat Arka di tengah kegelapan. "Gue enggak apa-apa. Tapi Arka... gue dengar semuanya."
"Dengar apa?"
"Dion sudah ganti lembar soal olimpiade besok pagi," bisik Kirei tegang. "Kunci jawaban di sistem penilaian bakal bikin lembar jawab gue tercatat salah semua. Dia mau tuduh gue curang dan bikin gue terdiskualifikasi!"
Mata Arka menyipit tajam. Kilat bahaya yang sangat pekat terpancar dari iris matanya. Sensasi dingin nan berbahaya mengepul dari aura Arka.
"Dion mau main kotor lewat sistem..." Arka menyunggingkan senyum miring yang terkesan sangat berani dan berbahaya. "Oke. Kalau itu mau dia."
"Arka, kita harus lapor ke panitia sekolah sekarang!" ujar Kirei cemas.
"Tanpa bukti fisik, panitia dari Hartono Corp bakal balik menuduh lo bikin fitnah, Bu Ketua," Arka menunduk, menyejajarkan wajahnya dengan Kirei. "Biarkan Dion pikir jebakannya berhasil besok pagi. Gue yang bakal urus sisanya malam ini."
"Tapi lo mau ngapain?"
Arka menyentil dahi Kirei pelan dengan senyum hangat. "Tugas lo cuma satu: kerjakan soal besok pagi dengan tenang dan jadilah juara seperti biasa. Percaya sama suami lo."
Pipi Kirei memanas mendengarkan kata itu, namun rasa percaya yang begitu besar pada Arka membuat seluruh kepanikannya menguap seketika. Kirei mengangguk mantap. "Gue percaya sama lo."
Pukul 08.00 WIB.
Aula utama vila disulap menjadi ruang ujian Olimpiade Sekolah. Puluhan meja kayu tersusun rapi dengan jarak dua meter. Seluruh peserta duduk dengan wajah tegang, termasuk Kirei yang berada di barisan paling depan.
Di panggung utama, Dion duduk mendampingi panitia penilai dari Hartono Corp. Tatapan Dion yang sangat percaya diri dan penuh kemenangan terkunci pada Kirei.
"Waktu pengerjaan soal dimulai dari sekarang!" seru ketua panitia seraya membunyikan bel.
Kirei membuka lembar soal di mejanya. Jemarinya memegang pulpen dengan mantap. Saat membaca soal demi soal, Kirei menyadari adanya jebakan logika dan angka yang sengaja diputarbalikkan. Jika siswa mengerjakan dengan rumus standar, jawabannya pasti akan melenceng jauh.
Namun, Kirei bukan siswa biasa. Dengan ketenangan yang luar biasa dan analisisnya yang tajam, Kirei mulai menuliskan jawaban beserta cara penyelesaian yang benar-benar akurat di lembar jawaban.
Di sudut aula, Arka berdiri bersandarkan pilar bersama Farhan. Ponsel kecil rahasia di saku Arka bergetar sekali. Sebuah pesan masuk dari hacker tim mereka di Jakarta.
Hacker: [Akses server penilaian Hartono Corp berhasil diretas dan dikunci. Kunci jawaban asli yang dipalsukan Dion sudah diganti dengan data otentik.]
Arka menyunggingkan seringai tipisnya. Ia melirik Dion yang sedang tersenyum puas menatap jam dinding.
Dua jam berlalu. Bel tanda pengerjaan soal selesai bergema di seluruh aula.
Seluruh lembar jawaban dikumpulkan dan langsung dimasukkan ke dalam pemindai digital di panggung utama untuk penentuan nilai secara real-time yang ditampilkan di layar proyektor besar.
"Baik, seluruh data pengerjaan peserta sudah dipindai," panitia berdiri di depan mik. "Kita akan melihat hasil nilai sementara untuk perwakilan sekolah."
Dion bersedekap dada, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan senyum merendahkan. Ia menantikan momen layar menampilkan angka nol di samping nama Kirei Wijaya atas tuduhan ketidaksesuaian sistem.
BZZZT!
Layar proyektor menyala. Daftar nama peserta dan skor mereka mulai bermunculan satu per satu.
1. KIREI WIJAYA (SMA Nusantara) – SKOR: 100 (SEMPURNA)
2. DION HARTONO (SMA Nusantara) – SKOR: 72
Suasana aula mendadak gemuruh oleh tepuk tangan meriah dari seluruh siswa dan panitia!
Dion tersentak kaget, matanya terbelalak lebar menatap layar proyektor. "Apa?! Enggak mungkin!"
Dion berdiri dari kursinya dengan raut wajah yang mendadak pucat pasi. Ia menatap layar proyektor, lalu menatap Kirei yang berdiri tenang dari kursinya sambil melemparkan senyum tipis yang penuh kemenangan ke arah Dion.
Di bawah layar proyektor, sebuah notifikasi merah berkedip kencang di laptop panitia utama:
"SISTEM MENEMUKAN PERCOBAAN MANIPULASI DATA DARI ALAT UTAMA HUMAS SPONSOR. BUKTI DIGITAL DIKIRIM LANGSUNG KE KEPOLISIAN REGIONAL."
Seluruh wajah Dion kehilangan warnanya seketika. Ia menoleh patah-patah ke arah pintu keluar aula.
Arka berdiri di sana bersama tiga petugas polisi berseragam lengkap yang baru saja tiba di vila. Arka melangkah maju dengan gaya tenang dan dominan, menatap Dion dengan sorot mata dingin yang sangat mematikan.
"Gue sudah bilang kan, Dion?" bisik Arka tegas dari jarak beberapa meter, suaranya membelah keheningan aula. "Jangan pernah coba-coba sentuh istri gue."