Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.
Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.
Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"
Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.
Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....
Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10. Jalan Menuju Emei
..."kami belajar berdiri di puncak. Kami beljar merendah di tanah. Sekarang kami pulang... Untuk jadi tempat orang lain berteduh"...
Pagi itu salju turun dengan pelan, dan Tetua Xuan Bing mengantar Jing yue serta Bai Ling sampai ke depan gerbang es biru Kunlun tanpa banyak bicara.
Tetua xuan bing hanya meletakkan tangan di bahu Jing yue dan berkata bahwa giok bunga salju harus di gantung di tempat paling tinggi di Emei agar semua orang ingat bahwa kehormatan itu dingin tapi juga bersih.
Jing yue melakukan sujud tiga kali di atas salju sebagai bentuk penghormatan, lalu berdiri dan menerima restu terakhir dari Kunlun dengan mata yang tetap tenang.
Sebelum mereka pergi, murid Kunlun memberikan mereka mantel bulu tebal dan kantong kulit berisi teh jahe kering agar mereka tidak kedinginan saat di jalan.
Bai Ling menyimpan giok salju di dada nya, bersebelahan dengan lencana pedang Hua Shan dan kantong biji teh Wudang, karena sekarang mereka membawa tiga pusaka dari tiga sekte besar.
Jing yue menatap puncak Kunlun sekali lagi dan berbisik pelan bahwa gunung itu telah mengajari mereka cara menjadi kuat tanpa harus menjadi sombong.
Mereka turun dari Kunlun butuh waktu empat hari melewati lembah, padang rumput, dan desa-desa kecil yang warga nya menatap heran melihat dua orang berjubah Emei membawa lambang tiga sekte.
Di malam hari mereka tidur di kuil tua, dan Jing yue selalu menyeduh teh Wudang terakhir untuk menghangatkan badan mereka sebelum tidur.
Bai Ling mencatat di buku journal perjalanan nya bahwa semakin jauh dari gunung, semakin banyak orang yang bertanya tentang "gadis Emei yang jalan kaki keliling dunia persilatan".
Di hari ketiga perjalanan, mereka bertemu pedagang yang membawa kabar tentang shaolin, bahwa Shaolin sedang mengadakan "Hari Pintu Terbuka" untuk semua utusan.
Bai Ling bilang ini merupakan kesempatan yang bagus karena Shaolin tidak suka di uji dengan pedang, tapi mereka suka di uji dengan hati dan ketekunan.
Jing yue hanya mengangguk pelan sambil merapikan mantel nya, karena dia tahu ujian Shaolin tidak akan semudah salju atau air.
Pagi hari, di mana matahari belum menampakkan wujud nya, dan kabut tipis yang menutupi pandangan sekitar.
Mereka tiba di depan gerbang merah besar shaolin. Hening. Tidak ada satu penjaga pun di depan gerbang. Hanya ada suara lonceng dan suara sapu yang menggesek batu.
Di bawah pohon yang terlihat sudah tua, duduk seorang biksu tua. Shifu De Yuan. 90 tahun.
Botak. Dia mengenakan Jubah lusuh. Di tangan nya memegang sapu bambu.
"Utusan Emei?" tanya nya tanpa menoleh.
Jing yue sujud. "Benar, Shifu. Kami datang untuk belajar." Shifu De Yuan menunjuk ke atas. "Lihat."
Seribu anak tangga. Basah oleh embun. Penuh dengan daun yang berguguran.
Shifu De Yuan menyerahkan 2 sapu bambu kepada mereka. "Aturan nya cuma satu. Sapu dari bawah sampai ke Aula Besar. Sebelum matahari berada di tengah."
"Tidak boleh pakai tenaga dalam. Tidak boleh pakai jurus. Cuma pakai tangan dan punggung kalian."
Bai Ling terkejut. "Shifu, itu seribu tangga..."
Shifu De Yuan tersenyum. "Maka nya di sapu. Biar tahu capek nya menjadi orang."
Jing yue tanpa banyak bicara menerima sapu itu. Mengangguk datar. "Baik."
Tangga 1-100 di lewati dengab Mudah. Jing yue dan Bai Ling menyapu dengan cepat.
Tangga 200-500 mereka sudah mulai kesulitan, Punggung mereka mulai panas, dengan Keringat bercampur dengan debu.
Menuju tangga 600-800 Bai Ling mulai terhuyung. Jing yue langsung menopang nya. Membantu nya dan berbagi sapu.
Di tangga 777, mereka bertemu murid Shaolin muda yang lewat. Murid itu mau membantu. Jing yue menggeleng pelan. "Ini ujian kami."
Tangga 900-999 Napas mereka mulai berat, di tambah dengan tangan mereka juga lecet.
Jing yue mengeluarkan biji teh Wudang terakhir. Dia mengunyah nya untuk mengisi tenaga dan menghangat kan tubuh. Dia memberi setengah nya ke Bai Ling. "Sedikit lagi, Kak."
Tepat saat matahari berada di tengah, mereka sampai di Aula Besar, dengan wajah pucat dan nafas yang berat.
Kepala Biara Zen Shi sudah menunggu mereka. Dia berdiri dengan mengenakan Jubah kuning. Menatap mereka dengan mata teduh nya.
Di samping nya ada Shifu De Yuan.
Zen Shi melihat lantai. Bersih. Tidak ada 1 daun pun. Kemudian dia melihat tangan Jing yue yang berdarah karena pegang sapu.
"Kau tahu kenapa di suruh nyapu?" tanya Zen Shi.
Jing yue sujud. Napas masih ngos-ngosan. "Biar tahu, Tetua. Biar tahu rasa nya jadi orang paling bawah. Biar tahu, tanah ini di pijak siapa setiap hari nya."
Zen Shi diam. Dia mendekat dan mengangkat Jing yue berdiri. Mengambilkan air dan perban sendiri. "Bagus. Mount hua memberikan mu tulang. Sedangkan Wudang memberikan mu air. Serta Kunlun memberikan mu es.
Shaolin... akan memberikan mu tanah."
Kepala biara Zen shi mengeluarkan 1 tasbih kayu. 108 butir. "Ini. Bawa. Kalau nanti Emei marah, putar ini. jing yue kau harus selalu ingat ini 'semakin tinggi jabatan seseorang, semakin rendah juga hati harus nya."
Malam nya di kamar tamu Shaolin. Jing yue menulis dengan tangan di perban:
"Hari ini kami tidak bertarung. Kami menyapu. Dan ternyata, menyapu lebih sakit dari bertarung."
Saat pagi tiba. Lonceng Shaolin berdentang 108 kali.
Di Aula Besar sudah menunggu Kepala Biara Zen Shi dan Shifu De Yuan. Tidak ada upacara. Hanya ada teh dan 4 benda di atas meja.
Zen Shi menunjuk satu-satu. "Ini jalanmu."
Lencana Pedang Mount hua - Tulang
Biji Teh Wudang - Air
Giok Bunga Salju Kunlun - Es
Tasbih 108 Shaolin - Tanah
"Kau sudah kumpulkan 4 unsur. Sekarang bawa pulang ke Emei." Jing yue melakukan sujud paling dalam. Dahi nya menyentuh lantai dingin.
"Terima kasih, Kepala biara. Shaolin mengajari kami untuk selalu merendah."
Shifu De Yuan menyerahkan sapu bambu yang kemarin di pakai oleh mereka. "Bawa. Biar kalian selalu ingat, pemimpin juga harus mau kotor tangan nya."
Sebelum mereka turun, Zen Shi menarik tangan Jing yue ke samping. "Anak Emei. Dengar kan." suara nya pelan. "4 sekte besar sudah kau lewati. Tapi ujian terberat bukan di gunung. Ujian terberat ada di rumah sendiri. Di saat kau harus pakai semua pelajaran ini... bersamaan."
Jing yue mengangguk. Menyimpan sapu bambu di tas. Bersama dengan 3 pusaka lain. Sekarang dia bawa 4 warisan.
Bai Ling menggenggam tangan jing yue lembut "Ayo, jing yue. Jalan pulang kita madih sangat jauh." Mereka berdua membungkuk untuk terakhir kali nya, lalu turun melewati 1000 tangga yang kemarin mereka sapu.
Jalan pulang ke Emei butuh 7 hari. Lewat sungai, hutan, dan desa.
Malam ini mereka bermalam di perahu. Sungai tenang. Jing yue mengeluarkan 4 pusaka. Menatap satu-satu. Mount hua. Wudang. Kunlun. Shaolin. Lalu dia mengeluarkan buku. Menulis lama.
Bai Ling menatap sungai dengan gelisah "Takut?"
Jing yue menutup buku. Menatap Datar bai ling tapi berucap lembut. "Takut. Tapi kita sudah tidak bisa mundur. Emei menunggu kita pulang dengan jawaban."
Hari ke-5 sudah mereka lalui. Dari kejauhan, terlihat kabut putih tebal. Itu Gunung Emei. Rumah.
Angin nya masih sama. Bau nya juga sama. Tapi hati Jing yue beda.
Dia menggenggam tasbih Shaolin. Memutar 1 butir. "Berangkat bawa 1 lencana. Pulang bawa 4 pusaka."
"Bukan untuk gagah. Tapi biar Emei tidak jatuh lagi."
Bai Ling tersenyum. "Selamat datang kembali, Pemimpin Emei."
Di buku Jing yue tertulis:
"Kami pulang. Bukan sebagai murid lagi. Tapi sebagai orang yang harus menjaga rumah."