Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Selasa pagi, pukul 06:15 WIB. Untuk hari kedua berturut-turut, area parkir belakang SMA Garuda menjadi saksi bisu transformasi budaya organisasi paling tidak masuk akal dalam sejarah kenakalan remaja. Seluruh staf Unit Manajemen Krisis atau yang dulu dikenal sebagai Geng Bone Breakerz sudah berbaris rapi, tidak ada yang terlambat. Tono dan Bono bahkan sudah tiba sejak pukul 06:00 WIB karena rasa takut yang membakar akibat Surat Peringatan (SP-1) yang bersandar di kantong seragam mereka kemarin.
Bella Anastasia berdiri di depan mereka, memegang empat lembar kertas HVS yang baru dicetak dari printer rumahnya tadi malam.
"Selamat pagi," tegur Bella.
"Selamat pagi, Bos!" sahut keempatnya kompak, reflek yang terbentuk seketika akibat instruksi intensif kemarin.
"Agenda Morning Briefing hari ini adalah pembagian Key Performance Indicator (KPI) individual untuk Kuartal Pertama," kata Bella, membagikan lembaran HVS tersebut satu per satu.
Dion menerima kertasnya, membaca judul tebal di bagian atas: KARTU SKOR KINERJA INDIVIDUAL (Q1). Di bawahnya terdapat tabel rapi berisi poin-poin dengan bobot persentase dan target kuantitatif.
"Bos... ini angka-angka apa lagi?" tanya Rindi, gadis itu memegang kepalanya yang mendadak pusing.
"Itu adalah indikator keberhasilan kerja kalian," Bella menjelaskan sambil menunjuk poin-poin di kertasnya sendiri. "Dalam sistem manajemen profesional, kinerja seseorang tidak dinilai berdasarkan 'perasaan' atau 'pencitraan', melainkan berdasarkan metrik yang terukur (SMART: Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound)."
Bella membaca poin-poin KPI umum yang berlaku untuk seluruh anggota:
...Kehadiran Akademis (Bobot 30%): Tingkat kehadiran di kelas minimal 95%. Toleransi membolos: 0 jam....
...Kepatuhan Kedisiplinan (Bobot 30%): Bebas dari teguran guru BK dan bebas dari keterlibatan dalam perkelahian fisik yang tidak mendapatkan persetujuan eksekutif....
...Pencapaian Nilai Minimal (Bobot 20%): Seluruh mata pelajaran wajib mencapai batas Nilai Ketuntasan Minimal (NKM) 75....
...Kontribusi Fungsi Jabatan (Bobot 20%): Eksekusi tugas harian sesuai Job Description masing-masing....
"Evaluasi akan dilakukan di akhir setiap bulan," lanjut Bella. "Karyawan em maksud saya, anggota dengan skor akhir di atas 85% akan menerima Performance Bonus berupa tunjangan dana tunai ekstra dari kas pimpinan. Anggota dengan skor di bawah 60% akan masuk ke dalam Performance Improvement Plan (PIP) atau program pembinaan intensif, dan jika tidak ada perbaikan, akan dieksekusi pemutusan hubungan."
Tono mengangkat tangannya ragu-ragu. "Bos, kalau nilai Matematika saya cuma dapat 40 gimana?"
"Artinya kamu gagal mencapai KPI Divisi Akademik," jawab Bella dingin. "Dan untuk mencegah hal itu terjadi, mulai sore ini kita mengimplementasikan program Training & Development internal: Bimbingan Belajar Kelompok Mandatori setiap hari Selasa dan Kamis jam empat sore di perpustakaan."
Dion mendesah berat, namun tatapan matanya menunjukkan kepatuhan. "Bimbel, Bos? Kita... anak geng... nongkrong di perpus buat belajar?"
"Kita bukan anak geng, Dion. Kita adalah organisasi terstruktur dengan diferensiasi kompetensi," tegas Bella. "Preman yang tidak terpelajar hanya akan berakhir menjadi alat politik murahan atau narapidana. Aku tidak memimpin calon narapidana."
Rindi menatap angka bonus di kertas KPI-nya. Matanya berbinar. "Bos, kalau nilai gue 80, bonusnya bisa langsung dicairkan cash?"
"Pasti. Transparan dan tepat waktu," jamin Bella. "Sekarang, simpan kartu skor kalian. Kita akan melakukan audit eksternal terhadap liabilitas keuangan terbesar kita saat ini: Warung Mang Asep."
~Pukul 15:30 WIB, setelah bel pulang sekolah berbunyi~
Warung Mang Asep, sebuah warung makan dan tempat nongkrong kumuh yang terletak lima puluh meter dari tembok belakang sekolah terlihat sepi. Mang Asep, seorang pria paruh baya berkumis tebal dengan kaos singlet kusam, sedang mengelap meja kayu saat lima orang berseragam rapi melangkah masuk.
"Eh, Den Dion, neng Rindi..." tegur Mang Asep, tersenyum lebar. Namun senyumnya memudar saat melihat sosok paling depan. "Loh... Neng Bella? Neng... rambutnya kok jadi item manis gitu? Meja biasa kosong tuh, Neng. Mau ngutang rokok sama mi instan lagi kayak biasa?"
Bella melangkah mendekati meja kasir. Ia tidak duduk, ia memandangi meja yang lengket oleh minyak dan lantai penuh puntung rokok dengan rasa jijik yang tersaring rapi di balik wajah datarnya.
"Selamat sore, Paman Asep," sapa Bella dengan sopan santun birokratis yang formal. "Kedatangan saya dan jajaran manajemen hari ini adalah untuk melakukan verifikasi utang dan rekonsiliasi laporan keuangan."
Mang Asep mengedipkan matanya berkali-kali. "Hah? Rekon... apaan Neng? Neng ngomong apa?"
"Buka buku utang Paman," potong Rindi dari belakang Bella, mencoba mempraktikkan perannya sebagai Financial Controller. "Bos kita mau bayar bon."
Mendengar kata 'bayar bon', wajah Mang Asep seketika cerah, ia dengan cepat mengambil sebuah buku tulis bersampul cokelat yang sudah lecek dan penuh noda kecap dari bawah meja kasir.
"Ini Neng! Catatan utang Geng Bone Breakerz dari tiga bulan lalu. Mang Asep catat rapi kok!" kata Mang Asep sambil membalik-balik halaman buku.
Bella menerima buku catatan tersebut. Ia mengeluarkan pulpen hitam dan kalkulator saku yang sengaja ia bawa dari tasnya. Proses audit forensik dimulai. Mata tajam Bella berjiwa Sarah Paramitha meneliti setiap baris tulisan tangan Mang Asep yang cakar ayam:
12 Okt: Mi rebus + rokok 3 batang (Dion) \= Rp 18.000
15 Okt: Es teh 5 + nasi goreng 4 (Bella dkk) \= Rp 85.000
20 Okt: Bon gabungan \= Rp 450.000
"Paman Asep," Bella mengetukkan jarinya di atas buku. "Item tanggal 20 Oktober bernilai Rp 450.000 ini ditulis tanpa rincian barang. Apa basis kalkulasinya?"
Mang Asep tergagap. "Y-ya... itu... waktu itu kan Neng Bella bilang 'catat aja semuanya Mang', ya Mang Asep totalin aja sama anak-anak yang nongkrong hari itu..."
"Pernyataan 'catat aja' tanpa rincian spesifik tidak sah secara akuntansi," tegas Bella. "Itu adalah potensi kebocoran anggaran dan pencatatan ganda (double counting). Selain itu, di halaman lima, ada penjumlahan angka 15.000 ditambah 25.000 yang Paman tulis totalnya menjadi 50.000. Ada kesalahan kalkulasi sebesar 10.000 rupiah yang merugikan pihak kami."
Mang Asep mengusap keringat dingin di lehernya. Pria itu tidak pernah menyangka anak SMA yang biasanya datang hanya untuk marah-marah dan makan gratis ini tiba-tiba bermutasi menjadi auditor pajak tingkat tinggi. Setelah lima belas menit melakukan audit ketat, Bella menemukan kesalahan pencatatan total sebesar Rp 120.000.
"Total utang riil berdasarkan bukti transaksi yang valid adalah Rp 1.350.000, bukan Rp 1.470.000 seperti yang Paman klaim," Bella menyimpulkan sambil menunjukkan layar kalkulatornya.
Ia mengambil dompetnya, mengeluarkan tiga belas lembar uang seratus ribuan dan satu lembar lima puluh ribuan yang baru dan krispi, lalu menatanya dengan sangat rapi di atas meja kasir.
"Ini adalah pelunasan total utang kami. Hak Paman telah ditunaikan 100%," ucap Bella.
Mang Asep mengambil uang itu dengan tangan gemetar. "N-nuhun, Neng Bella... Nuhun pisan."
"Namun," Bella menahan ujung lembaran uang itu dengan telunjuknya sebelum Mang Asep menariknya penuh. "Ada Term of Service (syarat dan ketentuan) baru untuk hubungan bisnis kita ke depan. Pertama, mulai hari ini, tidak ada lagi sistem piutang atau bon untuk anggota saya. Seluruh transaksi wajib dibayar cash on delivery (COD). Kedua, jika anggota saya datang di jam pelajaran sekolah, Paman dilarang melayani mereka dan wajib melaporkannya kepada saya. Jika Paman melanggar, saya akan memindahkan titik konsumsi organisasi kami ke warung sebelah."
Mang Asep mengangguk-angguk cepat bagai ayam mematuk beras. "Siap, Neng! Siap! Apapun buat Neng Bella!"
Bella melepaskan uang tersebut, merapikan tas jinjingnya, lalu berbalik menatap keempat anak buahnya yang melongo melihat bagaimana sang Bos menyelesaikan masalah keuangan yang biasanya selalu berakhir dengan pertengkaran mulut.
"Liabilitas bersih," ujar Bella tenang. "Manajemen kas kita kini berada pada posisi zero debt (bebas utang). Ayo bergerak ke perpustakaan untuk sesi Training & Development."