NovelToon NovelToon
Ditolak Selama Lima Tahun

Ditolak Selama Lima Tahun

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Selama lima tahun, Vincent Huang tidak pernah berhenti mengejar Stella Mo.
Namun, Stella selalu menolaknya dan memilih menjaga jarak tanpa pernah menjelaskan alasannya.

Ketika rahasia masa lalu Stella akhirnya terungkap, Vincent harus menghadapi pilihan sulit. Tetap menggenggam tangan wanita yang dicintainya, atau menjauh setelah mengetahui luka yang selama ini Stella sembunyikan.

Apakah cinta Vincent cukup kuat untuk menerima seluruh masa lalu Stella?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Ruang Rapat Perusahaan.

Siang itu, jajaran eksekutif dan para kepala divisi telah berkumpul di ruang rapat utama. Di layar besar terpampang proposal kerja sama antara perusahaan mereka dan Huang Group.

Direktur perusahaan membuka rapat.

"Hari ini kita akan membahas kerja sama dengan Huang Group. Mereka akan membiayai proyek pembangunan kompleks komersial baru yang terdiri dari pusat perbelanjaan, hotel, gedung perkantoran, dan kawasan hiburan."

Seorang manajer proyek kemudian berdiri dan membuka dokumen di hadapannya.

"Untuk proyek ini, Huang Group akan menjadi investor utama sekaligus pihak yang memimpin keseluruhan pengembangan. Nilai investasi yang mereka keluarkan juga sangat besar."

Beberapa eksekutif saling bertukar pandang.

"Namun, ada satu persyaratan dari Huang Group," lanjut sang manajer. "Mereka ingin perusahaan kita menunjuk seorang arsitek utama yang bertanggung jawab atas konsep dan rancangan keseluruhan proyek."

Direktur mengangguk.

"Kami sudah meninjau seluruh tim arsitektur. Setelah mempertimbangkan kemampuan dan pengalaman masing-masing, kami telah menentukan siapa yang akan memimpin bagian desain."

Tatapan beberapa orang langsung tertuju kepada Stella.

"Stella Mo."

Stella mengangkat kepalanya.

"Saya?"

"Benar. Mulai proyek ini berjalan, kau akan menjadi arsitek utama."

Stella mengangguk tenang.

"Baik. Saya akan bertanggung jawab atas rancangan proyek tersebut."

"Kau akan bekerja langsung dengan tim Huang Group. Setiap rancangan utama harus melalui persetujuan mereka sebelum masuk ke tahap berikutnya."

Stella membuka proposal yang berada di hadapannya.

"Siapa yang akan memimpin pihak Huang Group dalam proyek ini?" tanyanya.

Ruangan kembali hening sejenak.

"Presiden Huang."

Jari Stella yang sedang membalik halaman proposal berhenti.

"Vincent Huang?"

Direktur mengangguk.

"Benar. Presiden Huang akan memimpin proyek ini secara langsung."

Stella menarik napas perlahan.

"Baik. Saya akan menangani proyek ini."

Direktur tersenyum puas.

"Bagus. Pertemuan pertama dengan Huang Group akan dilaksanakan besok pagi. Pastikan seluruh konsep awal sudah kau siapkan."

"Saya mengerti."

Stella menutup proposal tersebut.

Keesokan harinya.

Ruang rapat Huang Group dipenuhi suasana serius. Beberapa eksekutif dan anggota tim proyek telah duduk mengelilingi meja panjang.

Pintu ruang rapat terbuka.

Stella masuk bersama beberapa anggota tim arsitektur. Ia membawa sejumlah dokumen dan rancangan proyek.

Beberapa saat kemudian, Vincent memasuki ruangan.

Semua orang langsung berdiri.

"Presiden Huang."

Vincent mengangguk singkat, lalu mengambil tempat di ujung meja.

Tatapannya sempat bertemu dengan Stella.

Namun, berbeda dari sebelumnya, Vincent tidak menunjukkan sikap berlebihan. Ia hanya mengangguk kecil.

"Silakan dimulai."

Stella berdiri di depan layar presentasi.

Ia membuka rancangan proyek yang telah disiapkannya.

"Konsep utama proyek ini adalah menciptakan kawasan yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat bisnis, tetapi juga menjadi ruang yang nyaman bagi keluarga dan pengunjung."

Stella menjelaskan setiap bagian rancangan dengan tenang.

"Bangunan utama akan memiliki akses langsung menuju area komersial. Sementara hotel berada di sisi timur untuk mendapatkan pemandangan terbaik. Saya juga menambahkan area hijau di antara gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan agar kawasan ini tidak terasa terlalu padat."

Salah seorang eksekutif mengangguk sambil mencatat.

Ia terus menjelaskan detail rancangan, mulai dari tata letak, pencahayaan, sirkulasi pengunjung hingga pemanfaatan ruang.

Tidak ada keraguan dalam suaranya.

Tidak ada pula rasa canggung meskipun pria yang duduk di hadapannya adalah Vincent.

Stella benar-benar memperlakukannya seperti seorang rekan bisnis.

Sementara itu, Vincent sejak tadi tidak mengatakan apa pun.

Tatapannya tertuju kepada layar, tetapi sesekali matanya berpindah kepada Stella.

Ia mendengarkan setiap perkataan wanita itu dengan saksama.

Bahkan ketika Stella menjelaskan detail kecil mengenai rancangan, Vincent tetap memperhatikannya.

Setelah hampir dua puluh menit, Stella akhirnya menutup presentasinya.

"Itu konsep awal yang saya ajukan. Jika ada bagian yang perlu disesuaikan dengan kebutuhan Huang Group, saya bisa melakukan revisi."

Vincent mengangguk.

"Menurutmu, apa bagian terpenting dari proyek ini?"

Pertanyaan itu membuat Stella menatapnya.

"Bukan kemegahan bangunannya."

Vincent menunggu jawabannya.

"Yang paling penting adalah bagaimana bangunan itu digunakan oleh orang-orang yang berada di dalamnya. Kalau sebuah bangunan terlihat indah tetapi tidak nyaman digunakan, maka menurut saya desain tersebut gagal."

Vincent menatap Stella beberapa detik sebelum akhirnya berkata,

"Aku setuju."

Ia mengambil dokumen rancangan di hadapannya.

"Pertahankan konsep ini. Tidak perlu mengubahnya hanya untuk memenuhi keinginan pihak kami."

Stella sedikit terkejut.

"Presiden Huang tidak ingin ada perubahan?"

"Kalau menurutmu rancangan ini sudah yang terbaik, pertahankan."

Vincent menatapnya.

,,"Aku mempercayai kemampuanmu."

Stella mengangguk.

"Baik."

Rapat kembali dilanjutkan dengan pembahasan teknis.

Tidak ada yang menyadari bahwa bagi Vincent, mendengarkan Stella menjelaskan pekerjaannya dengan penuh semangat sudah lebih dari cukup.

***

Hari demi hari berlalu.

Vincent dan Stella semakin disibukkan dengan proyek besar yang sedang mereka kerjakan. Hampir setiap hari keduanya bertemu dalam rapat, membahas rancangan, mengunjungi lokasi proyek, hingga memeriksa berbagai detail pembangunan.

Namun, tidak ada lagi kecanggungan di antara mereka.

Vincent tidak pernah lagi membicarakan perasaannya kepada Stella. Ia juga tidak pernah menyinggung tentang lamaran yang pernah ditolaknya.

Ia benar-benar menepati perkataannya untuk menjadi seorang teman.

Sementara itu, Stella perlahan mulai terbiasa dengan kehadiran Vincent.

Mereka bisa berbicara tentang pekerjaan, bercanda sesekali, bahkan berdiskusi hingga larut malam tanpa membuat Stella merasa tertekan.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Stella terlihat jauh lebih bahagia.

Ia tidak lagi menghabiskan waktunya untuk memikirkan masa lalu.

Hari-harinya dipenuhi dengan pekerjaan yang ia cintai, rancangan-rancangan baru, dan proyek yang membuatnya bersemangat.

Stella juga semakin fokus pada kariernya.

Ia tidak lagi memikirkan apakah dirinya akan menikah atau menemukan pasangan hidup.

Baginya, untuk saat ini, pekerjaannya sudah cukup membuat hidupnya terasa berarti.

Dan tanpa Stella sadari, ada seseorang yang selalu memperhatikan kebahagiaannya dari dekat.

Vincent.

Pria itu tidak lagi berusaha mengejar hatinya.

Ia hanya berjalan di samping Stella, memberikan ruang ketika dibutuhkan dan hadir ketika Stella membutuhkannya.

Mungkin justru dengan cara seperti itulah, jarak di antara mereka perlahan mulai menghilang.

Willy berdiri di samping mobil sambil memperhatikan Vincent dan Stella yang sedang berada di lokasi proyek.

Dari kejauhan, ia melihat keduanya sedang berdiskusi sambil melihat rancangan yang ada di tangan Stella.

Hubungan mereka justru terlihat semakin dekat sekarang.

"Cara Bos memang tepat. Hubungan mereka malah semakin dekat tanpa beban dan tanpa rasa canggung," gumam Willy.

Ia tersenyum kecil.

"Tapi kapan mereka baru akan benar-benar bersama?"

Willy kembali memperhatikan Stella yang sedang tersenyum saat berbicara dengan Vincent.

"Nona Mo sekarang jauh lebih sering tersenyum. Sepertinya beban yang selama ini dia bawa perlahan mulai menghilang."

Willy menghela napas.

"Kalau begini terus, mungkin suatu hari nanti dia sendiri yang akan menyadari perasaannya kepada Bos."

1
Dian Fitriana
update kelanjutan mnjelang pernikahan ny thor
Dian Fitriana
terima y ...persatukan mereka y thor buat akhir ceritanya Stella dn Vincent bersatu dn bahagia
Kinara Widya
terimalah Stella...Vincent tulus mencintaimu
Kinara Widya
emang sdh d rencanakan sama Vincent sepertinya
Dian Fitriana
update
Maria Mariati
pasti stela mau menerima dirimu Vincent, hanya saja butuh waktu, karena trauma itu masih sakitt di hati stela
Kinara Widya
Frank yg perkosa stella
Dian Fitriana
double up thor...SDH lama nich nunggu up ny
Kinara Widya
lanjut...makin seru
Dian Fitriana
update
Kinara Widya
bagus kak
Kinara Widya
ada Vincent yg akan membantu Stella diam2..
Maria Mariati
yakin Steve lu, penasaran gimana nasib nya nantii, bodo
Dian Fitriana
double up donk thor
Dian Fitriana
update lg
Dian Fitriana
update
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
gilaaa steve manfaatin stella, ohh tidak bisa
Kinara Widya
apa yg akan d lakukan stella
Dian Fitriana
update
Dian Fitriana
kpn thor update ny
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!