NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Di Antara Kita: Saudari Tiri

Cinta Terlarang Di Antara Kita: Saudari Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying dan Balas Dendam / Cinta Terlarang / Romansa
Popularitas:926
Nilai: 5
Nama Author: Ruka_21

Aku tumbuh dalam kemiskinan. Pertengkaran, kebohongan, dan skandal di dalam rumah adalah pemandangan sehari-hari. Ayahku yang manipulatif mengajariku satu hal: jangan pernah menggantungkan hidup pada seorang pria. Sejak saat itu, aku berjanji tidak akan menjadi perempuan bodoh yang mudah percaya pada cinta atau kata-kata manis. Namun, semua keyakinanku runtuh ketika dia datang. Tampan. Dingin. Menyebalkan. Dan pria yang seharusnya tak pernah membuatku jatuh cinta… Saudara tiriku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7

Dari kamar.

Setelah menuruni tangga, aku menyadari rumah itu kosong melompong. Kemungkinan besar Ethan sedang bekerja, dan Ibu pergi ke pusat perbelanjaan. Setelah menyapa Margaret, aku melangkah keluar menuju halaman.

Saat turun dari anak tangga, sosok Kai terlihat berdiri bersandar pada mobil Lamborghini hitamnya. Matanya terpaku pada layar ponsel, seolah tak menyadari kehadiranku atau mungkin saja dia hanya berpura-pura.

Aku berjalan mendekat, lalu berdeham pelan. Dia mendongak, hanya mengangguk singkat, memberi isyarat agar aku segera masuk ke dalam mobil.

Aku mendengus kesal. Tentu saja, aku bahkan tak berharga untuk sekadar disapa dengan kata sopan darinya. Bukan berarti aku peduli lagipula aku juga tak ingin berbicara dengannya.

Aku duduk di kursi penumpang depan, menanti mobil melaju. Namun, kendaraan itu sama sekali tak bergerak.

Dahiaku berkerut. Aku menoleh, menatap tajam ke arah Kai.

Dia masih terpaku pada layar ponsel sambil tersenyum bukan senyum biasa, melainkan senyum yang penuh kebuasan.

Aku mendengus kasar sambil memutar bola mata. Pasti dia sedang berkirim pesan dengan perempuan lain.

Suara itu terdengar sampai ke telinganya. Kai seolah baru ingat aku ada di dalam mobil, lalu menoleh perlahan ke arahku.

"Kita berangkat atau tidak?" tanyaku dengan nada tak sabar.

"Tidak. Batalkan saja. Turunlah, aku ada keperluan lain," jawabnya tenang.

Aku terpaku sejenak.

Apa dia gila? Awalnya dia memanfaatkanku, memperlakukanku tak layak, dan sekarang mengusirku begitu saja seolah aku sampah? Padahal aku sudah meluangkan waktu bersiap-siap? Tentu saja aku tak akan membiarkannya. Dia keliru besar jika mengira seenaknya begitu saja.

"Kamu serius bicara begitu?"

"Sangat serius. Turun. Kubilang aku ada urusan. Pergilah main boneka atau kerjakan PR. Apa lagi yang biasa dilakukan anak seusiamu?"

Tanpa sadar aku mencondongkan tubuh ke depan.

"Keperluanmu itu... bertemu perempuan murahan lain yang mau kau ajak tidur?"

Perlahan dia menoleh, senyum menyebalkan itu kembali terukir di bibirnya.

"O-o-oh... ada yang mulai cemburu ya, anak kecil?" godanya. "Soal apa yang pernah terjadi di antara kita... nyatanya tak ada apa-apa. Kamu bahkan tak sanggup memuaskan seorang pria. Lagi pula bukan urusanmu dengan siapa, di mana, dan bagaimana aku menghabiskan waktuku."

Kata-katanya menghantamku keras, namun aku tak berani memalingkan wajah.

"Ih, geer banget! Aku sama sekali tak peduli padamu atau perempuan-perempuan itu! Masalahnya, aku sudah bersiap hampir satu jam, dan kau tak bisa begitu saja membuangku seolah tak berharga. Jika urusanmu memang sepenting itu aku ikut saja. Jika tidak, aku akan melapor pada Ethan. Dia pasti tak akan senang mengetahui anak kesayangannya menyakiti gadis yang tak bersalah."

Aku melontarkan kalimat itu tepat di hadapannya, dengan nada tinggi yang tak sanggup kutahan lagi.

Kai menatapku terperangah. Sepertinya dia tak menyangka aku berani melawan.

"Wah... ini namanya pemerasan, sayang," ucapnya pelan sambil menyipitkan mata. "Baiklah. Jika kau ingin ikut ikutlah. Tapi jangan mengeluh atau menyesal nanti. Aku tak akan mengantarmu pulang."

"Jangan harap aku takut. Aku bukan gadis yang mudah gentar," tantangku, padahal dalam hati aku belum tahu apa yang akan kuhadapi.

Kai tersenyum miring.

"Baiklah... kita lihat seberapa berani dirimu, Catwoman. Pasang sabuk pengamanmu."

Segera setelah itu, mesin menderu hidup. Aku mengencangkan sabuk pengaman dalam diam, dan kami pun melaju.

Sesampainya di lokasi, mataku tak sengaja mengamati sekeliling. Ternyata kami berada di area pabrik tua yang terbengkalai. Banyak kendaraan terparkir rapi di sekelilingnya, dan kerumunan orang tampak berkumpul di sana.

Malam semakin larut, segenap penjuru hanya diterangi nyala api dalam tong-tong besi terang dan hampir membuat orang terpesona. Hal semacam ini hanya pernah kulihat di layar kaca... dan biasanya tak ada hal baik yang terjadi di tempat sepi begini.

Saat aku mengalihkan pandangan, Kai sudah menatapku lekat dengan senyum miring yang sama persis. Seolah dia bisa membaca ketegangan dan kewaspadaan yang kurasakan saat ini.

"Jadi, kau berubah pikiran? Jika takut, aku maklum. Anak perempuan seusiamu seharusnya berada di rumah, mengerjakan tugas atau sekadar memikirkan hal-hal menyenangkan bukan berada di tempat begini."

Dia kembali menatap ke depan, membiarkan kalimatnya menggantung.

Meski hatiku mulai ragu dan waspada, aku tak akan membiarkannya tahu. Aku sempat menduga dia akan bertemu perempuan lain atau pergi ke pesta mewah anak orang kaya tapi kenyataannya, tempat ini jauh dari bayanganku.

"Sudah kukatakan, aku tak berubah pikiran. Lagipula, ini hanya pertemuan di tempat terbengkalai. Kau kira aku tak pernah singgah ke tempat seperti ini saat masih kecil?"

Jemariku meremas ujung kardigan dengan gugup. Aku menatap Kai yang tersenyum aneh, namun yang cukup mengejutkan dia tak menambahkan sepatah kata pun.

Begitu mobil berhenti tak jauh dari bangunan pabrik, sorak-sorai riuh terdengar memecah keheningan malam. Aku menatap Kai bingung, namun dia hanya mengangkat bahu sambil tersenyum miring. Ya Tuhan, apakah dia tak pernah lelah bersikap begitu? Seolah senyum itu tak pernah lepas dari wajahnya, bahkan saat tidur sekalipun.

Kai turun lebih dulu. Saat aku menyusul, dia sudah berjabat tangan dengan dua orang pemuda.

Yang pertama bertubuh jangkung berambut pirang, meski sedikit lebih pendek dari Kai sekitar lima sentimeter. Rambutnya tampak terang, pendek di bagian samping dan agak panjang di bagian atas yang ditata acak namun rapi. Dia mengenakan jaket tebal di atas hoodie, dan kedua lengannya tertutup tato garis hitam yang menjalar hingga ke pergelangan tangan.

Kemudian Kai menyapa pemuda kedua yang berambut gelap, dengan tinggi yang nyaris setara dengannya. Rambutnya tersusun rapi, pendek di samping dan sedikit panjang di bagian atas. Pakaiannya sederhana namun berkelas: mantel gelap dengan kemeja turtleneck hitam di dalamnya.

Keduanya sempat tertawa lepas, namun saat aku melangkah mendekat, tawa itu seketika lenyap. Segala perhatian kini tertuju sepenuhnya padaku.

Tanpa peringatan, Kai merangkul bahuku, menarikku mendekat hingga aku bisa mencium wangi parfum khasnya dan merasakan hangat tubuhnya. Dalam sekejap, kenangan tentang apa yang terjadi di kamar mandi kembali membayangi menimbulkan rasa hangat yang menyakitkan namun nikmat di perut bagian bawah. Namun bayangan tentang apa yang terjadi setelahnya segera datang, melenyapkan rasa itu secepat kilat ia muncul.

Aku segera menepis tangannya, mundur selangkah.

"Ini saudara tiri saya."

"Wah, perkenalan yang tak biasa," ujar pemuda berambut pirang sambil tersenyum ramah.

"Aku Liam. Dan percayalah, aku tak seangkuh dia," tambahnya sambil menoleh ke arah Kai.

Aku langsung merasa nyaman bersamanya.

"Aku Jennie. Senang berkenalan denganmu. Jujur saja, aku terkejut mengetahui dia punya teman yang masih bisa bersikap wajar."

"Hei, aku dengar itu!" protes Kai seketika.

...----------------...

Halo guys bantu suport yahh,jangan lupa like dan komen jika kalian suka buku ini dan biar aku semangat juga nulis nya😊🙏🏻

...----------------...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!