Vita adalah seorang gadis jenius yang merupakan anak angkat, yang sering
mendapatkan perkataan tidak bersahabat dari ibunya. Pada kelas tiga SMA dia
pindah dari Surabaya ke Jakarta dan bertemu dua laki-laki populer yang
menyukainya. Andra dan Rafka. Andra adalah penerima juara umum selama
bertahun-tahun, dan Rafka adalah siswa tukang bolos yang tak asing bagi Vita.
Kemudian Vita berteman dekat dengan keduanya, terutama dengan Rafka.
Di sekolah, bersama teman-teman barunya ini, Vita akan mengalami
pengalaman terasa begitu
manis. Vita akan bertengkar dengan sepupunya, dibully oleh teman sekelasnya,
tapi tidak ada yang dapat membuat Vita takut atau berhenti berteman dengan
Rafka juga dekat dengan Andra.
Hingga beberapa bulan kemudian Vita bertengkar dengan Rafka
setelah Vita menolak Andra. Namun, pertengkaran itu
tidak bertahan lama, Vita dan Rafka kembali bersahabat. Dan Vita pun pergi ke
London. Meninggalkan Rafka yang khawatir dan Andra yang menanti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @l_uci_ous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Remah-remah kegembiraan usai liburan masih tersisa pada diri setiap siswa yang antusias menceritakan pengalamannya selama tak saling jumpa satu sama lain. Mereka berkelompok di tepi koridor-koridor, di depan toilet—khusus perempuan, dan memenuhi kursi-kursi kantin, juga halaman belakang yang rindang.
Vita sendiri tak begitu antusias pada liburan ataupun cerita tentang liburan. Ia hanya menghabiskan sebagian besar waktunya duduk mengulangi novel-novel favoritnya atau menonton Drama korea yang baru dirilis. Semuanya aktivitas yang dilakukan sendiri. Tak banyak yang dapat diajak menghabiskan waktu berlibur. Ia sedang bertengkar dengan Tiara, jadi ia tak bisa mengajak gadis itu melakukan hal-hal menyenangkan untuk mempercepat waktu libur yang membosankan. Ia juga hanya bertemu Rafka beberapa kali selama liburan, laki-laki itu sibuk dengan teman-temannya. Jadilah ia *the lonely holliday girl. So pitiable*.
Vita mengeluarkan buku pelajaran Sejarahnya begitu guru bidang studi tersebut memasuki ruangan. Kelas langsung hampa suara. Vita melirik kursi Rafka yang masih kosong dan berdebu. Apa Rafka bolos hari ini?
“Buka bab pertama semester ini!” perintah guru laki-laki di depan.
Sesuatu yang bergerak-gerak mengusik Vita saat tertangkap sudut matanya. Ia memutar lehernya beberapa derajat, menggulirkan matanya sedikit, Rafka melambai ceria padanya. Bibirnya bergerak dengan gerakan yang pada awalnya tak terbaca olehnya. Namun saat ia mengikutinya, ia baru menyadari laki-laki itu mengatakan ‘*have fun*’.
Hari pertama semester terakhir, Rafka sudah bolos... amat tak patut dicontoh laki-laki itu.
\*\*\*
“Raf?”
“Apa?”
“Aku sama Tiara lagi marahan tahu.”
“Aku... gak nanya!” Rafka tertawa sendiri atas lawakkannya. Padahal bagi Vita tak lucu sama sekali.
“Seriusan, loh, Raf!”
“Iya, iya, serius.” Ia beranjak dari posisi berbaringnya di tepi kolam renang. Kelas mereka memang baru saja selesai praktek renang beberapa menit yang lalu. Jadi, hanya tinggal Vita dan Rafka yang masih setia menghuni tempat itu.
Rafka mendekati Vita yang duduk di bangku penonton dengan seragam putih-abu lengkap, tak sepertinya yang masih mengenakan pakaian renang. Vita memang tak mengikuti praktek dengan alasan yang hanya dapat dialaskan oleh wanita.
Sebenarnya Vita bohong. Ia hanya malas, atau lebih tepatnya tak mau berenang. Rafka tahu kenapa. Apalagi kalau bukan karena Vita tak bisa berenang.
“Kamu kenapa marahan sama Tiara? Gara-gara apa?” Ia duduk di sisi Vita.
“Gara-gara kamu.”
Alis Rafka mengernyit. “Gara-gara aku? Bisa-bisanya kamu nyalahin orang yang gak bersalah.”
“Aku cuma bilang gara-gara kamu, gak nyalahin kamu, tahu.”
Rafka memiringkan kepalanya, menatap Vita lekat-lekat dengan kernyitan di antara alisnya yang hitam. “Terserah kamulah.” Ia menegakkan kembali lehernya.
“Tapi kalian berantem karena apa? Ngerebutin aku?” Rafka memamerkan jajaran putih giginya.
“Yang bener aja,” lirih Vita.
“Aku, nih, udah biasa direbutin cewek-cewek.”
“Serius, loh, Raf...”
“Iya-iya. Serius, nih. Kenapa kalian bisa marahan gara-gara aku?”
“Tiara,” Vita memulai.
Rafka menaikan sepasang alisnya.
“Tiara nyuruh aku ngejauhin kamu.”
Kerutan di kening Rafka memudar. Wajahnya yang tadi penuh dengan roman bahagia kini rata tanpa ekspresi.
“Jadi, kamu mau ngejauhin aku?”
“Menurut kamu ‘gimana? Kalo aku ngelakuin apa yang Tiara minta memangnya aku bakalan berantem sama dia?”
“Tapi dia saudara kamu—”
“Kamu juga temen aku. Jadi, jangan berpikiran buat ngejauhin aku. Aku gak bisa bantuin kamu belajar kalo kamu ngejauhin aku.
“Lagian kalo kamu ngejauhin aku supaya hubungan aku sama Tiara membaik, itu jadi kayak cerita sinetron. Korban-korbanan. Padahal gak perlu. Daripada saling korban-korbanan, pilih-pilihan antara temen atau saudara, mendingan bikin yang sikapnya kayak anak kecil jadi lebih dewasa. Udah dapat KTP juga. Sadar umur. Masih mau kayak anak SMP aja.”
Jauh dari dugaan Vita akan reaksi Rafka yang akan terpesona atau sebagainya mendengar jawabannya, laki-laki itu malah berkata, “Aku kira kamu milih aku.”
“*So confiden**t*.”
Memang terlalu berharap mendapatkan kesan terpesona dari Rafka. Laki-laki itu tak akan fokus pada ucapan Vita, dia lebih suka mendengar sesuatu yang berupa pujian untuknya. Beginalah jadinya orang yang diberikan wajah terlalu tampan. Percaya diri berlebihan.
“Jadi aku gak perlu ngejauhin kamu?” tanya Rafka, lama kemudian.
Vita menggeleng.
“Baguslah.”
\*\*\*
Rafka turun dari taksi yang di tumpanginya di depan rumah Tiara, seperti alamat yang diberikan Reina, tentu dengan sedikit paksaan. Ia kira hanya sepupunya itu yang gila, temannya juga begitu. Pantas saja Tiara dan Reina jadi teman. Sama lebaynya, sama alaynya, sama dramanya. Wah, belum pernah ia menemukan pertemanan yang begitu klop seperti mereka.
Rafka mengeluarkan ponsel, menggerakan jarinya sejenak di atas layar yang bersinar, lalu menempelkan benda tipis panjang berwarna hitam itu ke telinga. Kemudian ia menunggu sementara nada sambung berdengung.
“Halo?”
“Lo di mana, Ra?” Rafka tanpa membalas sapaan Tiara.
“Di luar. Kenapa?”
“Kapan pulang?”
“Ini lagi jalan mau pulang,” Tiara berhenti sejenak, “sama Andra. Kenapa?”
“Cepetan. Gue tungguin,” adalah kata terakhir Rafka sebelum memutuskan sambungan.
Sembari menunggu, Rafka bersandar pada dinding pagar rumah Tiara. Ia merasa waktu berjalan begitu lambat. Lebih lambat dari siput yang baru saja mengalami kecelakan. Kapan Tiara sampai?
Rafka mengetuk-ngetukkan sepatunya pada lantai yang menghasilkan nada sederhana yang biasa dikeluarkan banyak orang ketika sedang bosan.
“Rafka!”
Refleks, Rafka langsung menoleh ke sumber suara yang diperkirakan otaknya. Benar saja, ia menemukan Tiara melangkah cepat ke arahnya diiringi oleh Andra. Suasana hati Tiara nampaknya sedang baik hari ini, gadis itu tersenyum lebar sekali padanya.
“Kenapa?” Tiara terengah, berhenti dua langkah di hadapannya, senyumnya masih terkembang.
“Lo bilang lo udah gak suka lagi sama gue.”
Senyum Tiara memudar.
“Lo bilang kayak ‘gitu ‘kan sama gue?!” nada suara Rafka meningkat.
“Eh,” Andra bersuara, ia maju lebih dekat ke arah Rafka. Seolah jika terjadi sesuatu ia akan melindungi Tiara.
Rafka melirik Andra sekilas dengan tatapan dingin. Ia lupa, tak hanya ada dirinya juga Tiara, tapi si Sok-pintar Andra juga ada di sini.
“Lo lebih milih gue dari Vita, Ra?” Kini suara Rafka melemah. Bagaimanapun Tiara dulu teman baiknya, ia merasa tak enak meninggikan suara. “Segitu sukanya lo sama gue?”
Tiara tak mengangkat kepalanya sama sekali. Andra sudah berhenti mencoba menghalingi Rafka. Semuanya sudah lebih tenang. Semua terdiam. Sibuk dengan aktivitas pikiran masing-masing. Tak ada yang saling memandang. Tak ada yang saling melirik. Diam.
Suara motor bodong meraung melintasi jalanan di sisi ketiga orang itu. Semua menoleh, seolah baru terjaga bahwa mereka berdiri di sisi jalan yang hangat—panas.
“Gue...” Tiara yang pertama kali bersuara, “Iya. Gue suka sama lo, Raf. Lebih dari yang bisa lo bayangin. Gue suka sama lo dari pertama kali kita ketemu waktu MOS di SMP. Dari pertama kali lo manggil gue buat gabung sama temen-temen lo karena gue sendirian.”
“Tapi gue gak pernah suka sama lo lebih dari temen. Gak akan pernah. Lo tahu gue suka sama siapa, Ra. Dan harus lo tahu kalo gue gak pernah beneran suka sama cewek manapun, kecuali yang sekarang. Gue benar-benar suka sama dia. Terlalu suka bahkan. Sampai gue takut bilang. Takut kalo dia gak bakalan suka sama gue, kalo dia bakalan ngejauh dari gue.”
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Tiara. Rafka tak suka menyadari itu karena dirinya. Ia tak suka membuat temannya—atau mantan temannya—menangis. Terlebih Tiara seorang gadis, bukan laki-laki. Hahh... ini membuatnya merasa jahat.
“Eh, Raf, bisa gak lo gak usah terlalu terus terang?” Andra mulai ikut campur kembali.
Rafka mengusap wajahnya dengan kasar. “Jangan nangis, dong, Ra,” pintanya. “Kita ‘kan bisa jadi temen kayak dulu, kalo lo udah gak suka sama gue lagi. Gue senang kalo kita bisa temenan lagi. Lo juga gak perlu berantem sama Vita gara-gara gue. Ah—iya,” Rakta teringat tujuannya datang ke mari, “gue sebenarnya ke sini mau minta sama lo buat minta maaf sama Vita. Gue gak bisa minta Vita, karena bukan dia yang salah. Jadi, *please*, baikkan. Gue benar-benar gak enak kalian berantem gara-gara gue. *Sorry* juga tadi gue bentak lo.”
Rafka menatap wajah Tiara. Sudah ada bulir air yang mengalir di pipi gadis itu yang tirus. Ia mengangkat tangannya, bermaksud untuk menghapusnya, tapi tangan Andra mencegahnya.
“Jangan terlalu perhatian biar di bisa ngelupain perasaannya sama lo.” Andra menghempaskan tangan Rafka.
Rafka ingin sekali memukul laki-laki itu. Menyebalkan sekali caranya mengingatkan Rafka, terlebih lagi yang dikatakannya itu benar.
“Gue kira gue ini kasat mata!” ucap Rafka kasar pada Andra. Kemudian, “*Bye*,” ia menambahkan untuk Tiara dengan lebih lembut.
Ia melangkah pergi. Seingatnya ia tadi ingin marah-marah pada Tiara, tapi susah sekali rasanya. Walau hanya sedikit, ia senang mengetahui ada orang yang menyukainya sebegitu dalamnya, namun sisi lain ia merasa bersalah dan tak enak karena membuat dua orang saudara bertengkar karenanya. Susahnya jadi orang baik dan tampan seperti dirinya ini.
“Memang apa kurangnya gue dibanding Vita?!” Tiara berteriak, membuat Rafka berbalik. Tiara datang menghampirinya.
“Enggak ada,” jawab Rafka. Benar. Memang tak ada yang kurang dari Tiara hingga ia lebih menyukai Vita. Tiara jauh lebih cantik, lebih pandai bergaul, lebih ceria, lebih pintar berolahraga, dan lebih-lebih lainnya dari Vita, kecuali─mungkin, otak, Vita lebih unggul dalam hal itu.
“Gue lebih cantik dari Vita. Gue lebih jago olahraga. Gue lebih mudah gabung sama temen-temen lo. Gue lebih asik diajak ngobrol. Dan yang pasti gue gak sakit-sakitan kayak Vita!”
Entah mengapa, meneriakan keunggulan Tiara dibanding Vita membuat emosi Rafka tersulut, ketimbang hanya mengakuinya di dalam benak saja. Apa karena ia tak suka orang lain menyebutkan kekuarangan-kekurangan Vita?
“Yang lebih dari Vita dibanding gue cuma dia punya otak yang sedikit lebih pinter dari gue. Tapi apa pentingnya otak kayak dia kalo gak punya teman dan selalu sakit-sakitan?”
“Vita gak sakit-sakitan,” bela Rafka, menggertakkan giginya. Ia tak terima gadis yang disukainya di jelek-jelekkan. “Dia cuma sakit sekali selama beberapa bulan ini.”
“Itu yang lo tahu. Siapa yang bakalan nyangka salah satu penyakitnya yang dulu bakalan kambuh lagi. Dia itu bisa mati kapan aja!” ucap Tiara panas, matanya memerah. Rafka tak menyangka Tiara akan mengatakan hal mengerikan pada sepupunya.
“Gue juga bisa mati kapan aja! Bahkan lo! Siapa yang tahu mungkin aja lo bakalan mati abis jelek-jelekin sepupu lo?!”
Bugh!
Sebuah tinju menghantam wajah Rafka secara tiba-tiba hingga ia jatuh. Rafka mengusap bibirnya yang berdenyut dengan jari-jarinya. Berdarah. Sialan!
Rafka melompat berdiri. Tangannya terkepal, siap menerjang Andra. Namun sebelum tujuannya tercapai Tiara menghadang jalan Rafka. Gadis itu memandang lurus matanya. Tak ada lagi air mata. Wajahnya pun sudah kering.
Rafka menguraikan jari-jarinya yang menepel di telapak tangan seperti ter-lem. Jika Tiara tak menghalanginya, sudah babak belur si Gila itu.
Ia berkata, “Lega rasanya, ternyata gue gak salah karena gak pernah suka sama lo,” sebelum pergi, tatapannya dingin.
Jauh di dalam hatinya, ia masih menyesal karena mengatakan mungkin saja gadis itu akan mati setelah menjelek-jelekkan Vita.
Seharusnya gue gak emosi. Dia ‘kan tetep teman gue, dan dia cewek.
\*\*\*
“Wah...”
“Privasi tahu!” Vita langsung menutup layar laptop-nya dengan kasar. Lalu menghela benda terlipat itu ke arahnya. Ia dan Rafka sedang berada di halaman belakang sekolah pada jam istirahat untuk mengerjakan tugas makalah mereka yang wajib dikumpul minggu depan. Dan Vita—seperti yang pernah diuraikannya—tipe orang yang tak suka menumpuk tugas.
“Aku gak tahu kamu suka banget nonton drama Korea.”
“Emang kamu mesti tahu segalanya tentang aku?”
“Iyalah.”
“Kenap...” Vita tak meneruskan ucapannya. Seolah ia teringat bahwa kata yang akan diucapkannya bukan sesuatu yang seharusnya dikatakannya.
“Karena aku—”
“Kamu belum jawab pertanyaanku. Kenapa bibir kamu bisa sampe luka, Raf?” sela Vita cepat.
Rafka menyeringai.
“Jangan jawab yang aneh-aneh,” Vita menambahkan.
“Kamu ahli banget nebak apa yang mau aku bilang.”
“Seeenggaknya aku bisa ngontrol apa yang bakal keluar dari mulut kamu.”
“Ya... ya. Aku mulai ngerasa kamu kayak Mamaku.”
Vita tersenyum kecil. Rafka mencoba mengelabuinya. Ah... apa Rafka mengira ia akan terkecoh? Ia kira mereka sudah pada tahap saling memahami dan mengenal satu sama lain dengan baik. Tapi sepertinya Rafka masih merasa ia bisa dialihkan perhatiannya dari pertanyaannya sendiri.
“Aku masih nunggu jawaban kamu, Raf.”
Rafka menghembuskan napas panjang. “Aku kira kamu bakal bisa dialihin perhatiannya,” ucapnya, “Aku jadi agak gak suka punya teman yang terlalu pintar.”
“Raf.”
“Aku dipukul sama si bego Andra. Sialan memang!” umpat Rafka.
“Aku gak suka kamu—”
“*Sorry, sorry*, keceplosan. Besok-besok aku gak akan ngumpat di depan kamu lagi.”
“Jadi kenapa kamu bisa sampe dipukul sama Andra? Dia kayaknya bukan jenis orang yang suka cari masalah.”
“Kedengerannya secara tersirat kamu nyalahin aku tahu, Cha.”
“Enggak. Itu fakta.”
“Jadi apa fakta tentang aku?”
Lurus-lurus Vita menatap Rafka. “Kamu dari tadi motong-motong pokok bahasan terus, Raf.”
“Rasanya kayak lagi di sidang,” Rafka mengeluh.
“Buatku itu pujian kalo aku cocok dibidang hukum. Jadi, kenapa Andra mukul kamu?”
Sejenak Rafka memandangi Vita lamat-lamat, lalu berujar, “Jangan marah, ya?”
“Aku gak bisa janji.”
Memang siapa yang mau berjanji pada hal yang ia tak tahu akan menguntungkan atau merugikan, membahagiakan atau membuat marah? Ia ‘kan tidak seceroboh itu untuk mengiyakan ucapan Rafka. Entah apa saja yang membuat Andra begitu marah hingga hilang kendali. Jadi, ia kira, ada kemungkinan ia juga akan marah pada si Rafka—yang menyebalkan sekali— yang sangat tampan ini.
“Seharusnya aku tahu gak akan semudah itu bikin kamu ngejanjiin sesuatu.”
“Sekarang kamu tahu, ke depannya gak usah nanya hal-hal gak berguna kayak gitu lagi,” ucap Vita datar.
“Kemaren aku ke rumah Tiara,” Rafka mengawali ceritanya.
Vita menegakkan punggungnya. Ekspresinya berubah sedikit, sedikit sekali.
“Awalnya aku cuma mau minta dia buat baikkan sama kamu. Tapi dia bilang sesuatu tentang kamu yang bikin aku marah.”
“Apa?”
“Dia bilang kalo kamu sakit-sakit, dan bisa tiba-tiba mati.”
“Semua orang memang bisa mati kapan aja. Aku gak merasa tersinggung soal itu. Dan apa yang dibilang Tiara itu memang bener. Aku memang sering sakit. Dari yang ringan sampe yang berat. Itu karena sistem imunku gak terlalu bagus. Sistem pernapasanku juga lemah.”
“Kamu gak di sana. Beda rasanya kalo orang itu bahas soal kematian orang lain pas lagi marah, kesannya kayak dia berharap orang yang dibicarainnya cepet mati.”
“Tiara pasti gak maksud ‘gitu.”
“Aku gak suka ngomongin soal kayak ‘gitu,” ucap Rafka lemah. “Ditinggal mati itu rasanya gak enak.”
Vita menoleh, mendapati laki-laki itu tertunduk. Tergesa ia berkata, “Terus kamu bilang apa?”
“Aku... serius abis ngomong aku langsung nyesel. Aku bilang ke Tiara kalo dia bisa aja mati abis jelek-jelekin kamu. Terus tiba-tiba ada tinju aja yang melayang. Sia...” kata-kata Rafka langsung terputus mendengar Vita berdecak.
“Kalo Andra yang bilang ke aku apa yang kamu bilang ke Tiara, kamu bakal ngapain Andra?”
Rafka tak menjawab pertanyaan Vita. Vita yakin Rafka mengerti apa maksud yang ingin disampaikannya. Rafka mungkin sudah menyadarinya sebelum ini. Rafka pasti tahu dengan jelas bahwa Andra melakukan hal yang juga akan dilakukan laki-laki itu jika temannya dikatai seperti itu. Bahkan, Rafka mungkin melakukan hal yang lebih parah, mengingat betapa laki-laki itu tempramental.
“Aku tahu apa yang bakal kamu lakuin, Raf. Kamu mungkin bakal ngelakukin hal yang lebih buruk dari yang dilakuin Andra.”
Rafka menatap Vita lurus-lurus. Matanya yang gelap tenang, tanpa ekpresi. “Geer.” Seketika itu juga ekpresinya berubah.
“Enggak, ya...”
“Iya.”
“Enggak. Aku, tuh, tahu kamu mau bilang apa.”
“Sok tahu.”
“Aku memang tahu.”
Untuk beberapa saat keduanya menghabiskan waktu untuk saling mengelak dan menuduh. Hal yang cukup sering terjadi. Selama itu, di antara mereka berdua tak ada yang menyadari ada Andra, sosok yang berdiri di ujung sana memandangi keduanya dengan pandangan tak suka. Seraya berharap ialah yang ada di sisi Vita saat ini, bukan Rafka. Berharap ialah yang lebih dekat dengan gadis itu, bukan Rafka. Bukan Rafka.
\*\*\*
soal rahasia
gak sebuah rahasia cuma selama ini gak ada yang nanya,jadi gak ada yang tau
ternyata Vita anak angkat,pantes Bu Helena ke vita dah kayak ibu tiri
lihat dr profil nya kak Uci banyak cerita gak sampai ending.
padahal bagus banget lho karya2 dari kak Uci ini....pemilihan katanya oke,penataan kosakata-good,sama perbendaharaan katanya tuh banyak,ceritanya tuh jadi kaya karya penulis2 profesional tau gak.berkelas gitu.
wajib dicetak kedalam buku kak....kaya karya2 kak shephinasera bagus2 semua.
sayang ya q baru sekarang nemu karya sebagus ini....telat banget
jangan lupa feedbacknya 😊🙏😊
semangat up Thor 💪💪